9. Dilema Gita

1330 Words
“GIGIIIIIIT! KELUAR WOI!” teriak Lupin lalu melompat ke balkon kamarnya. Cewek manis itu keluar dari kamar dengan rambut lurus panjang lewat sebahu. Membuat Lupin terbengong-bengong sesaat. “GIT? INI LO?” tanya Lupin kaget. Gita tersenyum manis. Membalas dengan kedipan. “WAAAAAAH GITA LO CANTIK BANGET KAYAK GINI!” kata Lupin sambil melihat Gita dari ujung kaki sampe ujung rambut. Bukan rambut aja, cewek itu sekarang udah memakai rok merah ketat yang membentuk tubuh idealnya. Saat Lupin melihat Gita lebih dekat lagi, wajah Gita tampak merona karna efek blus on. GITA? BERUBAH? “Lo ngapain sih liatin gue kayak gitu?” kata Gita terlihat risih. “Sejak kapan lo berubah??? Sejak kapan Gita? Perasaan kemarin lo masih jadi cewek nggak jelas deh!” Lupin penasaran setengah mati. “Jahat lo bilang gue cewek nggak jelas!” cibir Gita lalu duduk manis di bangku panjang yang ada disisi balkon kamarnya. “GITAAAA INI BENERAAN LOOOOO YA? KOK BISAAAAAAA?” teriak Lupin surprise. Gita menarik nafas dalam. “Kepo lo!” kata Gita sambil menoyor kepala Lupin. “Aaaaa, Gita lo cantik deh kayak gini! Kenapa baru sekarang sih berubahnya?” kata Lupin sambil mengacak-ngacak rambut Gita dan menjambaknya. “Ini rambut asli lo, kan?” “Sa-sakit, gila!” kata Gita galak. “Lo berubah kenapa, Git? Gara-gara siapa?” tanya Lupin mengintimidasi. Membuat Gita gelagapan. “Ng…gara-gara siapa maksud lo? Ya ini kemauan guelah! Sekali-kali dong keliatan cantik! Emang nggak boleh?” kata Gita sambil menaikkan alisnya secara bergantian. “Wkwkwkw…cantik lo! Wah, kalah saing nih gue!” “Wkwkwk…najis! Jangan bikin malu ah!” “Ciyeee ciyeee, Gita, ciyee!” “Diam deh, Piiiin,” seru Gita dengan mimik sebal. Pipinya makin merah. Lupin cekikikan lalu duduk di sebelah Gita. “Eh, Git, gue mau cerita nih sama lo! Tapi, lo harus jawab pertanyaan gue ya! JUJUR!” kata Lupin serius. “Hmm, tentang apa?” “Janji dulu! JAWAB JUJUR APAPUN PERTANYAAN GUE!” kata Lupin sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Gita manggut-manggut lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Lupin. “Mau cerita apaan lo? Tentang si songong itu?” Tanya Gita lalu terkekeh. “Bukan. Tapi, Danola…” jawab Lupin dan menatap Gita lekat-lekat. Senyum diwajah Gita memudar seketika, “sekarang jawab jujur pertanyaan gue! Lo suka ya sama…Danola?” Tanya Lupin hati-hati. Matanya nggak lepas dari wajah Gita. Mencoba mencari kejujuran dari raut wajah dan sinar matanya. “Wkwkwkwk, gue kiraan nanya apaan! Ya nggaklah!” jawab Gita sambil tertawa. Lupin diam, mencari-cari ekspresi wajah itu. Belasan tahun dia berteman dengan Gita, dia tau banget Gita paling nggak bisa bohong. Tapi, hari ini… “Woi! Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? WKwkkw risih gue!” kata Gita masih tertawa ngakak. “Sumpah?” tanya Lupin serius. …… Gita diam namun kali ini dia tersenyum manis. “Lo tau, kan? Dari dulu gue paling anti sama sumpah-sumpahan! Tapi, biar lo percaya yaudah gue berani sum_” “Oke. Gue percaya kok!” potong Lupin menurunkan tangan Gita yang berbentuk V. “Emang kenapa lo tanya kayak gitu? Lo lagi, kok lo mikir gue suka gitu sama Danola?” “Hmm..habis…setiap gue perhatiin. Lo kalo ngeliatin Danola itu beda aja.” “Nggaklah! Gue ngeliatin karna kesal!” “Hm? Kesal kenapa?” “Karena dia nggak mau ngakuin perasaan dia ke elo!”  Dan karna dia nggak liat gue… sambung Gita dalam hati. “Lo tau…Danola suka sama gue, Git?” “Ya taulah! Udah lama kali gue tau…hahaha.” “Kok lo nggak bilang sih?” “Gue pikir lo tau?” “Nggak, gue nggak tau. Makanya gue mau cerita ama lo. Gue baru taunya semalam, pas Danola nembak gue di Pulau…” DEG. Gita merasakan sesuatu menusuk hatinya. Danola nembak Lupin? “SERIUS? WAH KAPAN? BERARTI LO SAMA DANOLA UDAH JADIAN DOOONG?” kata Gita teriak kaget plus campur seneng. “Lebay lo! Belum.” “Loh, kenapa? Lo belum jawab?” “Iya, belum. Gue bingung, Git! Gue nggak tau apa gue suka sama Danola apa nggak?” kata Lupin sambil mengayun-ayunkan kakinya. “Lo suka sama Danola?” tanya Gita sambil tersenyum tapi juga penuh selidik. “Itu dia masalahnya! Gue nggak taauuu Gita odooooong!” “Terima ajalah! Daripada lo ngarepin si Dilo gaje itu!” “Kok lo jadi bawa-bawa Dilo?” “Oke sekarang gantian! JAWAB JU_” “Aduh perut gue sakit nih! Tiba-tiba gitu!” kata Lupin bersiap kabur tapi Gita tau itu akal-akalannya Lupin doang. Gita menarik tali b*a Lupin dengan paksa. “DUDUK!” Gita menaikkan alisnya bergantian. “Gue nggak mau jawab!” “Oh, jadi lo MASIH SUKA SAMA DILOOOOOO?” ucap Gita setengah teriak. Lupin buru-buru membekap mulut ember Gita sambil celingukan ke balkon ujung. Takut-takut Dilo ada disana. “NGGAK!” jawab Lupin sambil menggeleng-geleng. “Pin, pin! Sekarang semua tergantung diri lo sih ya. Tanya dong hati lo, sukanya sama siapa? Dilo atau Danola? Beratnya kemana? Dilo atau Danola? Gituuuu oneeeng!” Lupin diam. Matanya mengedip bingung. Detik kemudian pandangan beralih ke toples kaca yang dipegangnya. “Danola bilang, kalau gue terima dia, gue harus lepasin kupu-kupu ini. Itu artinya, gue udah buka hati gue buat dia. Tapi, kalo gue balikin kupu-kupu ini, itu artinya hati gue tertutup untuk dia.” “Yaudaaaaaah lepasin aja sini!” kata Gita lalu merebut paksa toples kaca berisi kupu-kupu bercorak kuning itu. Gita tertegun sebentar, sekarang jari-jarinya bersiap menarik plastik yang menjadi tutup toples itu. “GITA JANGAN PLISSSS!” pekik Lupin panik. “Kenapa? Danola kurang apa coba, Pin? Cakep, iya! Baik, apalagi! Sayang banget lagi sama lo? Nah, Dilo? Dia udah punya pacar, udah gitu susah ditebak pula!” “Iya gue tau tapi…gue…bingung, Git.” “Lo begok kalo nolak Danola! Nggak liat lo si Alodia ngebet banget sama Danola? Belum lagi, teman-teman kita yang lain. Termasuk gu- si Gurita tuh!” “Gurita? Gurita siapa, Git?” “Itu tuh, anaknya pak Amir loh. Gue manggil dia Gurita…” kata Gita lalu nyegir. Hampir aja T.T “Oh, yaudah kalo gitu gue pikir-pikir lagi deh, ya?” “Jangan kelamaan. Ntar kupu-kupunya mati!” kata Gita lalu menyodorkan toples itu pada Lupin. Lupin manggut-manggut. “PIIIN!!!?” Rey berlari keluar balkon dengan wajah panik. Mendekati Lupin dengan wajah tegang. “Kenapa lo, Bang? Di kejar b*****g?” Tanya Gita lalu terkekeh. “WAAH INI GITAA YAAA???” teriak Rey mangap setelah melihat Gita yang terlihat girlie. JAUH BANGET, sama penampilannya yang dulunya kumal abis. “Lebay! Gue masuk dulu ya, Pin. Beresin kamar, si Kenny pagi-pagi dah ngilang nggak tau kemana! Dah, bg Rey?” Gita langsung masuk tanpa menunggu balasan dari Lupin dan Rey. “Ngapain bang? Muka abang kok makin jelek gitu?” “IKUT GUE SEKARANG JUGA! GAWAT DARURAT!" kata Rey sambil menarik paksa tangan Lupin. "Aduh, sabarlah Bang! Ngapain sih!" kata Lupin kesal sambil mencubit tangan Rey yang mencengkram kuat tangannya. Rey nggak menjawab dan terus menyeret Lupin sampai ke ruang TV.  "Di, main sama Lupin dulu, ya? Abang ada panggilan alam nih! PIN, AWAS KALO LO KALAH!" teriak Rey lebay. Sementara Lupin masih terbengong-bengong memandangi Dilo yang duduk bersila sambil memegang stick PS 3.  "Hai?" Sapa Dilo manis. Membuat Lupin tiba-tiba,,,merinding. ♡ Kenny mengendap-endap masuk ke dalam kamar Danola. Dia merasa beruntung karna kamar itu nggak dikunci. Setelah sembunyi di bawah meja dapur biar nggak ketauan Dilo, akhirnya dia bisa masuk ke kamar Danola juga. “Danola…?” bisiknya setelah duduk di sisi tempat tidur Danola. Jari-jari tangannya bergerak menyentuh wajah putih Danola. Matanya, hidungnya, bibirnya. “Aku masih sayang banget sama kamu, Dano…” gumam Kenny dengan mata berkaca-kaca. Dia menunduk saat Danola bergerak tanpa sadar. Kenny menarik nafas dalam lalu perlahan mencium Danola tepat dibibirnya. Berkali-kali dan itu disaksikan oleh seseorang…. ♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD