bc

Vampire Princess And Wolf Prince

book_age16+
12
FOLLOW
1K
READ
princess
drama
tragedy
serious
mystery
icy
vampire
cruel
brutal
vampire's pet
like
intro-logo
Blurb

Sebuah kisah sederhana tentang dia, si vampir yang menjatuhkan hatinya pada seorang manusia serigala. Satu rangkaian cerita hidup yang menolak berjalan lurus mengikuti alur takdir dan memilih menyimpang hanya untuk memperjuangkan keegoisan hati.

Demi menghindari perjodohan Abelle Wilson si gadis vampir melarikan diri dari kastil. Namun, siapa sangka dia memasuki area hutan terlarang dan berlari tanpa arah. Sebuah kabut tebal menghalangi pandangannya sehingga dia terjatuh ke tebing curam yang di bawahnya terdapat lautan.

Air laut membawa Abelle sampai ke negara lain, yaitu Gervicle, negara yang dipenuhi oleh ras serigala, ras yang merupakan musuh vampir.

Akankah Abelle selamat di negara musuh? Bagaimana nasib Abelle saat Sagara sang pangeran serigala ingin menghukumnya?

chap-preview
Free preview
Chapter 1. Negara Gervicle
Abelle mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan pengelihatannya mulai normal. Dia membulatkan matanya dengan sempurna, mendapati dirinya dalam keadaan terpasung di kayu berbentuk huruf silang, dengan kedua tangan dan kakinya terikat hingga tubuhnya berdiri tegak menghadap pintu. Abelle tak sengaja menggerakkan kakinya. Napasnya menderu menahan perih di kakinya yang terdapat rona merah melingkar. Abelle menyangka kalau ayahnya sedang menghukumnya lantaran kabur dari pesta perjodohan. Tidak, Ayah maupun kakaknya tidak pernah menghukum pasung seseorang, apalagi kepada Abelle yang sangat disayangi oleh mereka. Abelle memutar kepalanya melihat sekeliling. Tempat lembab tanpa ada celah lubang satupun, tembok bertekstur batu yang dekil menyisakan bercak darah yang sudah mengering. Perlahan Abelle menggoyangkan satu tangannya, supaya terlepas dari ikatan yang membuatnya kesakitan. "Ayolah, cepat lepas!" pekik Abelle seraya menggesekkan paksa kedua tangannya. Abelle mencium aroma ruangan bawah tanah itu. Bau besi berkarat menyengat ke rongga hidung kala dia mengendusnya. Mungkin karena di kanan kirinya terdapat penjara yang sudah cukup lama tidak digunakan. Jeruji besi itu lumayan rapuh dan berkarat, tembok dalamnya dilumuri lumut hijau. Abelle melihat ke atas, tetesan air keruh jatuh tepat mengenai jidatnya. Ini tempat apa? Kenapa kotor sekali. Dor! Pintu terbuka diiringi suara tembakan yang menggelegar ke seluruh ruangan bawah tanah. Abelle terbelalak mendengar tembakan yang tiba-tiba mengagetkannya. Seorang lelaki bertubuh kekar berjalan cepat menghampiri Abelle, lalu mencengkram lehernya. Mata kuning keemasan lelaki tersebut menyala menatapnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Abelle. "Jangan melawan. Aku yang akan menyelamatkanmu, tidak perlu takut pada mereka. Cukup diam dan tenangkan dirimu." lelaki itu memelankan suaranya. Matanya melototi Abelle. Namun, suaranya terdengar lembut. Dia melepaskan tangannya dari leher Abelle. Tunggu! Dia siapa? Apa dia– Abelle melihat lelaki itu dengan seksama. Lelaki itu memiliki tato berkepala serigala di lehernya, walaupun tertutup oleh mantel bulu, dia bisa melihat bagaimana bentuk tato tersebut. Tadinya Abelle berpikir bahwa lelaki itu berasal dari ras vampir, tetapi ternyata dugaannya salah. Abelle sekarang mengetahui dirinya sedang tidak berada di negara Letopiea, melainkan di negara lain, yaitu Gervicle. Negara yang dipenuhi oleh penduduk ras manusia serigala, ras yang merupakan musuh vampir. Datang lagi seorang lelaki berpakaian kemeja putih yang sama seperti lelaki tadi. Marcel Rodriguez, raja serigala di kerajaan Vandijk. Sedangkan yang berdiri di hadapan Abelle saat ini, adalah Sagara Rodriguez, putra Raja Marcel. Keduanya sama-sama memiliki mata kuning keemasan. Pasukan manusia serigala bersiap di belakang mereka, masing-masing membawa senjata api. "Akhirnya kau sudah sadar. Apa yang harus kita lakukan pada vampir ini?" "Baginda Raja, saya mengusulkan untuk menembaknya saja. Dengan begitu vampir ini tidak akan bisa hidup kembali." ucap salah satu pasukan manusia serigala dari belakang. Mungkinkah mereka tahu cara membunuh vampir? Peluru silver. Ya, itu dia! Benda yang bisa membunuh vampir dalam sekali tembak. Tubuh Abelle bergidik, kala membayangkan peluru silver itu melayang mengenai dadanya. Dia menarik napasnya secara perlahan, lalu menghembuskannya. Abelle berharap mereka tidak benar-benar ingin menembaknya. "Silahkan, tembaki dia sampai jasadnya hancur menjadi abu." ucap Marcel. "Siap, laksanakan!" tangan mereka terangkat lurus ke arah Abelle. Mereka menggenggam pistolnya masing-masing. Berakhir seperti ini? Jauh-jauh aku kabur dari kastil, aku sudah di sini dan bukannya menikmati hidup tanpa aturan. Malah mengantarkan nyawa. "Tembak aku sekarang. Itu kan, yang kalian mau?" ucap Abelle, satu alisnya terangkat. Begitu ditantang mereka langsung menegakkan tangan lurus ke arah Abelle. Mereka memicingkan mata, membidik tepat di dada Abelle. Dia memejamkan matanya dengan kuat untuk menenangkan dirinya, seperti yang diucapkan Sagara. Ketika mereka hendak menarik pelatuk pistolnya. "Cukup! Turunkan senjata kalian!" ucap Sagara. Dia menurunkan tangan pasukannya ke bawah. Abelle membuka kelopak matanya. Setelah itu, Sagara beralih pada Abelle dan membuka tali-tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Sagara berlutut di hadapan ayahnya dengan satu lutut, dan menaruh sikunya di dengkul. "Izinkan saya yang memberinya hukuman, Ayah." "Aku mengizinkannya." "Terima kasih, Ayah." Kemudian, Sagara berdiri menegakkan tubuhnya. Melihat pergelangan kaki Abelle yang memar, Sagara berinisiatif untuk mengangkat tubuh Abelle. Dia bermaksud membantu meringankan rasa sakit di kakinya. Abelle menyentuh punggung leher lelaki itu, bola mata birunya memandangi wajah Sagara lekat-lekat. Kukira dia akan benar-benar menyelamatkan hidupku. *** "Maaf, aku lancang melakukan ini." ucap Sagara seraya menurunkan tubuh Abelle. Sesampainya di balkon utama, Sagara melucuti pakaian Abelle. Jubah hijau yang dikenakannya, gaun pesta yang masih melekat pada tubuhnya. Dilepas oleh lelaki itu, kecuali pakaian dalam. Sekarang Abelle hanya memakai atasan crop top putih tanpa lengan panjang dengan Tali Strap, dan celana rok kulot pendek bergaris berwarna senada. Abelle menutupi sebagian tubuhnya menggunakan satu tangannya. Sagara mengalihkan matanya ke samping. "Berdiri... di bawah sinar matahari." Sagara berucap lagi. Abelle berjalan gontai menuju balkon, di halaman bawah istana sudah banyak penduduk yang berbondong-bondong untuk menyaksikan penghukuman Abelle. Mereka mengacung-acungkan obor api dengan tatapan jijik. Kerajaan Vandijk memiliki hukum yang melarang ras vampir memasuki lingkungan serigala. Apabila tertangkap basah, mereka akan dihukum tembak atau dijadikan budak yang bekerja untuk ras serigala. Namun, itu tidak berlaku lagi saat ini, Marcel Rodriguez hanya menetapkan hukum tembak. Setiap bulannya, Marcel mengutus pasukannya untuk berpatroli di seluruh kota agar mencegah para vampir yang ingin memasuki negara Gervicle. "Diam disitu, jangan melihat ke depan. Lihat ke sini." Abelle segera memutar badannya membelakangi para penduduk warga di bawah teras istana. Sagara masih memalingkan wajahnya, karena tidak mungkin dia melihat Abelle dengan pakaian yang terbuka. Bintik-bintik putih kecil berkilauan bermunculan di seluruh tubuh Abelle, begitu sinar matahari memantul dari atas langit hingga mengenai dirinya. Sesekali dia melihat ke bawah. "Iblis hina! Mati saja!" "Makhluk jahat sepertimu tidak pantas hidup!" "Kembali ke kuburanmu sana!" "Tubuhnya cantik, tapi sayang sekali." Para warga sangat antusias ketika melihat Abelle yang berasal dari ras vampir, ternyata adalah seorang gadis. Ada sebagian dari mereka menyayangkan kodrat gadis itu, tentunya kaum lelaki bermata keranjang. Rasa perih mulai menyengat, otaknya seperti dicelupkan ke dalam minyak panas. Sekujur tubuhnya melepuh dalam sekejap. "Katakan. Kenapa kau datang ke negaraku? Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?" Sagara melontarkan dua pertanyaan pada Abelle. Dia berada di dalam ruangan, sedangkan Abelle berdiri di teras balkon yang terbuka tanpa atap dan tembok penghalang. "Aku... hanya kabur dari perjodohanku. Tapi, tidak aku sangka, sebuah kabut iblis menyeretku sampai jatuh ke tebing." jawab Abelle jujur tanpa kebohongan. Kedua kakinya sudah lemas akibat kelamaan berdiri di bawah sinar matahari. Setelah mendengar penjelasan dari Abelle. Sagara bergerak sembari melepaskan mantel bulu yang dikenakannya. Abelle beruntung karena yang menghukumnya adalah Sagara, bukan Marcel. Jika saat ini yang menghukumnya adalah Marcel, mungkin dia tidak akan mendapatkan kesempatan hidup walaupun mempunyai alasan. "Sudah cukup. Aku percaya, hukuman sudah berakhir. Jika kau punya niat buruk, aku tidak bisa menoleransi keberadaanmu." Sagara mengibaskan mantelnya, lalu meletakkannya di bahu Abelle. Seulas senyum terlukis di bibir lelaki itu. "Semudah itu kau percaya?" Abelle bertanya kepada Sagara, dahinya mengernyit heran. "Matamu menunjukkan kejujuran. Aku menyukai gadis yang jujur." Sagara mengambil jubah dan gaun hitam milik Abelle. Dia memberikannya pada gadis itu. "Kau tenang saja, aku akan memalsukan kematianmu dan menuliskan berita itu di surat kabar, agar masyarakat Gervicle percaya. Terutama ayahku." ucapnya lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Lauchlan The Betrayed (book 2 of Hell in the Realm series)

read
72.9K
bc

The Warrior's Broken Mate

read
206.4K
bc

His Redemption (Complete His Series)

read
5.7M
bc

True Luna

read
1.4M
bc

A Warrior's Second Chance

read
364.0K
bc

Holiday Fling with the Fae King

read
12.2K
bc

Alpha's Rejected Mate

read
1.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook