Wening tersenyum puas melihat Miranda pagi ini yang sudah rapi dan siap pergi ke sekolah. Anak itu yang selalu bersemangat sejak bangun pagi.
Miranda sudah siap, dan Wening mengajaknya keluar untuk sarapan pagi.
"Papi!" Miranda berteriak memanggil papinya, dan berlari ke arahnya.
Wening membiarkan, memilih berdiri menunggu di depan ruang makan. Dia melihat Miranda berpelukan dengan papinya, lalu mereka bersenda gurau, juga Donna yang ikut menyambut Miranda pagi itu.
"Wening, sini!" panggil Donna, mengajak Wening ke ruang makan.
Wening menurut, melangkah mendekat Donna, "Ya, Bu?"
Donna mengajak Wening mendekati kursi suaminya. "Wening, ini papi Miranda." Dia memperkenalkan suaminya ke Wening.
Pram memutar tubuhnya mengarah ke Wening.
"Ini Wening, Pram. Pengasuh baru Miranda," ujar Donna kemudian.
Pram tersenyum kecil, "Oh ya, semalam aku sudah bertemu di kamar."
Jawaban yang membuat Donna terkesiap, juga Wening.
Pram tertawa sebentar. "Haha, semalam Wening dan Emi ke kamarku, membawakan tas-tasku."
"Oh." Donna menoleh ke Wening dan Wening mengangguk.
"Tapi aku belum berkenalan," ujar Pram kemudian, berdiri seraya menyodorkan tangan kanannya ke Wening.
Wening menyambut tangan Pram, mengangguk, "Wening," ujarnya sopan, karena Pram yang sopan kepadanya.
"Wening," ulang Pram.
Berdesir d**a Wening mendengar suara Pram yang menyebut namanya, dan pikirannya berubah drastis sekarang, menilai bahwa Pram sosok yang penuh perhatian. Ah, mungkin semalam papi Miranda ini kecapean, jadi terkesan tidak ramah.
Pram duduk kembali, lalu Wening pamit hendak ke luar menunggu Miranda sarapan.
"Nggak sekalian sarapan?" tanya Pram tiba-tiba.
"Oh, Wening ini ngga biasa sarapan pagi, Pram. Dia biasa makan jam sembilan nanti," ujar Donna menjelaskan.
Wening mengangguk sebentar ke arah Pram, lalu berlalu.
Pram lalu melanjutkan sarapannya setelah menoleh ke Wening sebentar.
"Dulu dia guru Miranda di sekolah," ujar Donna lagi.
Pram mengernyit.
"Guru baru, dan dia sangat dekat dengan Miranda."
"Iya, Papi. Miss Wening itu baik banget, aku suka dan sayang sama Miss Wening."
"Oh ya?" delik Pram, mengusap-usap kepala Miranda pelan, kagum melihat kepangan rambut putrinya yang sangat rapi, yakin Wening yang melakukannya.
"Miss Wening yang kepangin aku, Pi. Cantik, 'kan?"
Pram tertawa renyah, dia beralih ke Donna. "Kok bisa kamu suruh kerja di sini?"
"Dia itu guru baru. Gajinya pasti kecil, dia dekat dengan Miranda dan Miranda nggak mau jauh-jauh, sejak ada Wening, Miranda nggak pernah absen lo."
Pram merasa kagum, dia lalu menoleh ke Miranda yang mengangguk-angguk, seolah membenarkan ucapan mamanya mengenai Wening.
"Nama miss Wening lucu, Pa. Srengenge."
Donna dan Pram tertawa dan pagi itu dan mereka melewati momen sarapan pagi dengan gembira.
***
Wening senang bukan main, gaji pertama mendarat di rekeningnya, dia yang tentu tidak lupa mengirim sebagian ke kedua orangtuanya di kampung halamannya di Magelang. Suara renyah kedua orang tuanya membuatnya bersemangat dan bahagia, sampai lupa masalah terberatnya dulu.
"Loh, Ning. Belum tidur?" tanya Ibu di ujung sana.
"Belum, Bu. Baru selesai nidurin Miranda."
"Duh, senang Ibu kamu kerja di sana, Ibu jadi tenang, mana anaknya nurut sama kamu."
"Iya, Bu. Nurut banget kalo sama aku, beda cerita kalo sama maminya. Apa-apa maunya sama aku."
"Mungkin karena maminya sibuk banget, jadi nggak punya waktu."
"Iya. Bu Donna menyerahkan segala urusan Miranda ke aku. Percayanya sama aku."
"Ya, kamu jangan sia-siakan kepercayaan orang, Nduk."
"Iya, Bu."
"Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya cepat tidur, kamu besok harus bangun pagi-pagi, 'kan?"
Wening mengiyakan dan pamit.
Malam itu dia tidur dengan perasaan tenang.
***
Wening dan Miranda terus saja bercanda saat berjalan memasuki rumah sore itu. Miranda yang terus saja membicarakan tentang momen di sekolah seharian ini yang menyenangkan dan membanggakan. Meskipun Wening tidak lagi mengajar, Miranda tetap bisa belajar dengan baik dan dia bisa menyelesaikan tugas serta mendapat poin tertinggi dalam beberapa hari ini.
"Mamiii!" Miranda berlarian menuju maminya yang berada di ruang tengah, dia langsung bercerita tentang pengalamannya di sekolah, dan Donna yang senang mendengarnya, pujian-pujian pun meluncur deras dari mulutnya.
"Miranda, Mami mau ngobrol sama mbak Wening dulu ya? Miranda masuk ke kamar dulu, nanti Miss Wening Mami kembalikan."
Wening tertawa kecil mendengar ucapan Donna.
"Oke, Mami." Miranda berjalan cepat menuju kamar.
Tak lama kemudian, terdengar derap sepatu dari arah depan, memasuki rumah. Donna dan Wening sontak menoleh, ternyata derap langkah sepatu itu milik Pramudya yang baru saja pulang dari kantor.
Dia menoleh ke Donna sebentar, tanpa senyum atau sapa, acuh tak acuh berjalan menuju anak tangga dan menaikinya dengan langkah berat. Dia terlihat kelelahan.
Donna lalu beralih ke Wening. “Wening, saya besok akan pergi ke Bandung, menginap di rumah orang tua saya, tiga malam. Saya titip Miranda ya?”
“Tentu saja, Bu.”
“Kalo ada apa-apa tentang Miranda segera beritahu saya.”
Wening mengangguk.
Donna menepuk lembut pundak Wening. “Oke, hanya itu yang ingin saya beritahu ke kamu.” Dia lalu pamit masuk ke dalam kamarnya yang berada di dekat ruang tamu.
Wening berbalik badan, dia bertanya-tanya dalam hati. Sudah satu bulan dia bekerja di rumah ini dan melihat keanehan, Donna dan Pramudya yang tidak menginap di satu kamar, Donna di kamar bawah, dan kamar Pram berada di lantai atas. Mereka juga tidak saling tegur atau saling sapa, kecuali di depan putri mereka satu-satunya, barulah mereka yang seolah tidak terjadi apa-apa. Entahlah, dia merasa ada yang tidak beres dalam keluarga ini, tapi dia tidak mau bertanya.
***
Malam ini Wening merasa sangat lapar, dan malam menunjukkan pukul sepuluh. Dia memutuskan masak mi instan di dapur.
Di tengah kantuk yang mendera, Wening memasak mi dengan sayur dan telur rebus. Tidak sampai lima menit, mi rebus sudah masak dan dia yang siap menyantap.
Baru saja Wening meletakkan mangkuk mi panas di atas meja makan, Pram muncul, dan dia yang hanya memakai celana piyama dengan atasan kaus tipis putih tanpa lengan.
Tentu saja Wening terkejut, seketika dia ragu untuk duduk.
Pram tersenyum kecil, dia duduk di depan mangkuk mi instan. “Kayaknya enak,” ucapnya, lalu tanpa ragu menyeret mangkuk mi ke hadapannya, dan menyesap kuahnya. “Hm,” gumamnya sambil mengamati Wening yang terdiam. “Boleh saya minta?”
Wening mengangguk, lalu dia berbalik ke meja dapur dan kembali memasak mi instan untuknya.
Perasaan Wening mendadak kacau, dan dia hanya diam, mendengar suara pelan sendok beradu dengan mangkuk. Sepertinya Pram lebih lapar, karena dalam waktu singkat dia sudah menghabiskannya.
Pram berdiri dari duduknya, dengan membawa mangkuk bekas makannya.
“Biar saya cucikan, Pak,” tegur Wening saat melihat Pram yang hendak mencuci mangkuk dan lainnya.
“Kamu masak saja, biar saya yang cucikan.”
Wening tidak membantah, lanjut masak sampai siap.
Mi Wening sudah matang dan lengkap dengan sayur dan telur, dia membawa mangkuk minya.
“Ke mana?” tanya Pram yang masih mencuci di depan sink. Dia melihat Wening yang seolah ingin pergi dari dapur.
“Saya—”
“Makan di sini saja.”
“Oh.” Wening berbalik dan duduk di kursi seraya meletakkan mangkuk mi panas di atas meja. Sesekali matanya tertuju ke punggung besar Pram, dan entah kenapa dia teringat akan Bondan, mantan suaminya.
“Saya lihat identitas kamu, kamu janda?” tanya Pram tiba-tiba.
Bersambung