Bab 1. PROLOG
Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Wening, akhirnya dia menikah dengan pria yang sangat dia cinta, Bondan. Mereka telah menjalin cinta jarak jauh selama dua tahun, dan Bondan yang bertugas di pedalaman Kalimantan, sebagai aparat negara. Wajah-wajah bangga terlihat di kedua belah pihak keluarga, terutama keluarga sederhana Wening, memiliki kerabat aparat negara.
“Ikut suami, Ning?” tegur Bude Siri di pelaminan.
Wening melirik suaminya yang kikuk. “Inggih, Bude,” jawab Wening sopan.
Bude Siri mencium pipi Wening pelan, tidak ingin merusak riasan wajah keponakannya.
Wening tersenyum di sepanjang acara, dia sangat bahagia, dia membayangkan memiliki keluarga bahagia bersama pria yang dia cinta. Sudah ada sepasang anak di dalam benaknya, bahkan sudah memberi nama, Aksa dan Tisha.
Malam pertama yang ditunggu-tunggu Wening tiba. Meskipun gugup, Wening tetap berusaha tenang, karena ini pertama baginya, berduaan dengan Bondan di dalam kamar yang telah dihias secantik mungkin.
“Sebentar, Wen.” Bondan melepas pelan pelukan istrinya saat ponselnya berbunyi.
Menyadari suaminya yang merupakan aparat, Wening membiarkan Bondan ke luar kamar menuju balkon luar dan berbicara di sana. Dia mengira suaminya mendapat panggilan penting dari atasannya. Namun, Wening merasa aneh, karena wajah Bondan yang tampak kecewa. Tidak ingin merusak suasana hati dengan dugaan buruk, Wening memutuskan ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Wening ke luar dari ke kamar dan dia terkejut. Bondan sudah bertelanjang d**a dan tersenyum ke arahnya. Wening membalas senyuman Bondan, lalu dia rebah di atas tempat tidur.
Wening memasrahkan diri, memejamkan matanya.
“Kamu sudah nggak perawan, Wening!” teriak Bondan tiba-tiba.
Wening terkesiap, dan dia refleks mengambil handuk dan menutupi tubuhnya, melihat ekspresi wajah Bondan yang sangar.
“Apa Mas Bilang?”
Malam pertama Wening mencekam, Bondan langsung menceraikannya dan mengembalikan Wening ke orang tuanya, dan mengadukan alasannya.
Proses perceraian yang menguras pikiran dan emosi, juga waktu yang terbuang. Karena proses perceraian dengan aparat negara yang tidak mudah. Namun, pada akhirnya Wening lega karena dia sudah sah menjadi janda.
“Ibu dan Bapak percaya kamu, Ning. Pokoknya kamu yang lurus, jangan macam-macam dan jaga diri, ya?”
Sikap bapak dan ibu memberikan Wening kekuatan, dan dia memutuskan pindah ke Jakarta.
***
“Miss Wen, aku mau pipis, tapi takut.” Seorang anak perempuan mendekati Wening yang bertugas sebagai asisten guru di kelas. Anak itu berujar pelan, khawatir miss Gita tidak membolehkan.
“Miranda, harus bisa sendiri ke toilet, ‘kan deket.” Miss Gita, guru utama kelas, menegur Miranda.
Gita mendadak dipanggil kepala sekolah yang berdiri di depan pintu, lalu dia pun melangkah ke luar.
“Yuk, cepet.” Wening memutuskan tetap menemani Miranda, menggendongnya dan membawanya ke toilet yang berada di sebelah kelas. Wening bahkan ikut menemani Miradan di dalam toilet dan membantu membersihkan Miranda.
Cepat-cepat Wening kembali ke dalam kelas sambil menggendong Miranda.
“Aku sayang miss Wening.” Miranda memeluk dan mencium pipi Wening.
“Kenapa kamu takut?” tanya Wening berbisik, sambil memangku anak perempuan lain.
“Aku liat kemarin ada kelabang di atas lantai toilet, Miss. Hiiii, aku takut.”
“Kok nggak lapor ke miss Gita?”
“Kelabangnya udah pergi.”
Kedekatan Wening dan Miranda di sekolah tidak lantas membuat Wening membeda-bedakan perlakuannya ke murid-murid yang lain. Miranda memang lebih menurut jika berdekatan dengan Wening dan dia merasa nyaman. Sejak Wening mengajar, Miranda lebih rajin datang ke sekolah dan tepat waktu. Sebelum Wening ada, Miranda selalu datang terlambat dan tidak setiap hari datang, kehadirannya hanya dua atau tiga hari dalam seminggu.
Kedekatan Wening dan Miranda tentu sampai ke telinga orang tua Miranda, terutama mamanya.
“Miss Wening?”
Wening baru saja hendak menyalakan motornya, dia menoleh ke belakang. “Oh, hai, Bunda.” Wening menyapa mama Miranda.
“Duh, formal sekali. Panggil saja Donna.”
Wening tampak sungkan. “Bu Donna.”
“Ya, lebih baik. Hm, saya ingin menawarkan pekerjaan.”
Wening terdiam.
Tiba-tiba Miranda ke luar dari mobil sedan hitam mewah dan berjalan mendekati mamanya dan Wening.
“Pengasuh Miranda.”
Tentu saja Wening menolak. “Bu—”
“Dua belas juta. Menginap di rumah saya, mengawasi dan merawat Miranda.”
Wening menelan ludahnya.
“Saya tahu gaji kamu tidak seberapa di sini dan kamu baru. Hm, ada bonus dan tunjangan juga.”
Wening mengangkat kepalanya, mengamati wajah Donna, seketika dia menilai bahwa Donna adalah sosok yang tegas dan kata-katanya yang bisa dipegang. “Dua belas—”
“Ya.”
“Miss, jadi pengasuh aku aja. Yang dulu aku nggak suka, suka main hape dan marah-marah.”
“Miranda,” tegur Donna, dia ingin mendengar jawaban Wening.
“Akan saya pertimbangkan, Bu.”
“Horeee!” Miranda bersorak, seperti sudah yakin Wening yang akan menginap di rumahnya dan menjaganya. Dia mendekati Wening dan meminta Wening menggendongnya. “Aku mau miss Wening saja,” ucapnya seraya meletakkan kepalanya di d**a Wening.
Donna tersenyum hangat melihat kedekatan anaknya dengan Wening. “Hanya dengan kamu dia bisa luluh begini, Miss. Saya adalah orang yang sangat senang jika pekerjaan ini diterima.”
***
Sudah dua minggu Wening tinggal di rumah besar pasangan muda Donna Auliya Dermawan dan Rama Sakti Pramudya, dia bekerja sebagai pengasuh Miranda Ellena Pramudya. Donna yang menjabat direktur perusahaan otomotif ini sangat sibuk, juga suaminya yang bekerja sebagai bankir, sering bepergian ke luar kota bahkan luar negeri. Wening sendiri belum pernah bertemu papa Miranda, tapi dia pernah melihat fotonya yang terpampang di ruang tamu.
Wening betah tinggal di rumah besar orang tua Miranda, kamarnya saja luas dengan fasilitas lengkap. Posisi yang sangat strategis, dekat dengan dapur.
“Akhirnya Cinderella hidup bahagia dengan pangeran impiannya.” Wening menutup buku dongeng. Dia menoleh ke Miranda yang belum mengantuk. “Kamu apa nggak bosan cerita Cinderella,” ujarnya sambil menjawil gemas hidung Miranda. "Ini sudah tiga malam berturut-turut lo."
Miranda menggeleng.
“Hm, besok malam cerita lain ya?”
Miranda menguap, dan dia yang mengantuk. “Baiklah.”
Setelahnya, Wening bersenandung sambil menepuk-nepuk lembut p****t Miranda.
Miranda tertidur beberapa saat kemudian.
Dengan amat sangat pelan, Wening beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan bersungut-sungut ke pintu kamar, membukanya dan menutupnya dengan pelan pula.
“Wening, bantuin saya.”
Wening terkejut, dia yang baru saja menutup pintu. “Bantu apa, Bu?” tanyanya ke Emi, kepala asisten rumah tangga.
“Bawain barang-barang pak Pram. Yuk. Masih ada dua tas lagi di depan.”
Wening langsung mengangguk, mengikuti langkah Emi ke pintu depan.
“Pak Raja sedang di rumah sakit, anaknya masuk rumah sakit, jadi nggak ada yang bantu angkat-angkat. Tapi tenang, nggak banyak, dua tas besar.”
Wening tidak begitu peduli dengan penjelasan Emi, dia hanya ingin cepat-cepat membantu dan pekerjaanya yang selesai.
Berdua Emi, Wening menarik dan mengangkat tas menuju lantai atas, dan dia yang mengangkat tas yang lebih berat.
Emi lalu mengetuk pintu kamar di lantai atas. “Maaf ya, Wen. Kamu jadi repot. Saya tau ini bukan kerjaan kamu.”
“Nggak apa-apa, Bu,” tanggap Wening, yang sedikit jengkel dengan sikap “manja” papa Miranda.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka dari dalam, seorang pria yang sedang menerima panggilan. Dia memberi kode agar Emi dan Wening masuk ke dalam kamarnya sambil membawa dua tasnya.
“Iya, iya. Aku baru nyampe. Baru saja. Haha, ya, sampai jumpa di Jurong. Ya ya. Bye.” Pram lalu mengarahkan Emi untuk meletakkan salah satu tas di dekat ruang meja kerjanya.
“Kamu … jangan diangkat, dorong saja,” ujar Pram ke Wening.
“Tadi tasnya rusak, Pak. Saya takut kebuka.”
Pram terkesiap, seolah tidak menerima penjelasan Wening. “Rusak?”
“Iya, Pak Pram. Pecah dari awal kita ambil di bawah,” ujar Emi, lalu dia menunjukkan bagian tas yang pecah ke Pram.
Pram terkesiap. Dia melirik Wening, lalu berujar. “Nggak apa-apa, dorong saja. Jangan diangkat.”
Wening mendorong tas dengan pelan dan terdengar bunyi roda yang berisik.
“Cukup di sana saja,” suruh Pram.
Entah kenapa, perasaan Wening kurang begitu baik saat melihat papa Miranda untuk pertama kalinya.
Bersambung