FARAH
Aku memarkirkan sepedaku di parkiran. Tak lupa ku rapikan juga beberapa sepeda murid-murid lainnya. Aku hanya tidak suka jika melihat sesuatu berantakan, sehingga ini sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi. Parkiran khusus sepeda ini mengarah langsung ke lapangan bola di sekolah kami. Banyak sekali murid yang sudah berkumpul di lapangan, padahal jam masuk sekolah sebentar lagi.
"Ayoo! Ayooo!"
"Hajar War! Jakandor!"
"Anjirr, noob banget lo malu-maluin kelas aja!"
Begitulah kira-kira suara yang memekakkan telinga dari beberapa murid yang berkumpul bersama menonton sparing antar kelas. Ini bukan pertandingan 17 Agustusan atau hari jadi sekolah. Pasti ada yang ribut lagi.
Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang kecil untuk memasuki gedung sekolah kami. "Farah! Sini!" Teriak Helena sembari melambaikan tangannya. Dengan langkah gontai aku menuju ke arahnya dan dia langsung menarikku duduk. "Kelas mana nih?" Tanyaku. Ku keraskan suaraku karena bunyi teriakan anak-anak di sekitarku semakin kencang, ada yang baru saja mencetak gol.
"Kelas kita lawan anak IPA 4. Emang nyari gara-gara tuh Dennis, mau gue tonjok aja!" Ketus Helena, wajahnya memerah menahan amarah. Sepertinya masalahnya cukup berat.
"Masalah apalagi?" Aku mengernyit.
"Dennis tadi pagi dateng-dateng langsung nonjok muka Jojo. Mana main keroyokan lagi, banci banget." Aku ambil botol minum di tasku dan menyerahkan ke Helena. Kasihan juga dia sudah marah-marah sambil panasan, biar otaknya sedikit adem.
"Dia nuduh Jojo selingkuh ama cewenya. Padahal kan cewenya juga yang ganjen. Katanya kepergok jalan berdua minggu lalu."
"Berarti salah Jojo dong kalau mau-mau aja diajak ceweknya."
"Enggaklah, Jojo kan emang baik ke semua orang. Cewenya aja gatel."
Aku hanya diam mencerna pembicaraan kami. Masih belum memahami karena Helena bersikeras membela Jojo. Padahal Dennis hanya berusaha mempertahankan hubungannya saja, meskipun dengan cara yang salah, itu hanya emosi. Tapi, kelakuan Jojo yang suka mempermainkan perasaan perempuan juga gak boleh dibenarkan.
Tiba-tiba suara dari speaker sekolah berkumandang, seketika pertandingan terhenti dan keadaan mulai senyap.
"Diberitahukan bahwa jam pelajaran pertama akan diambil karena akan diadakan rapat di ruang guru di harapkan siswa siswi sekalian bisa menjaga ketertiban. Terima kasih."
Seketika pada murid bersorak gembira dan langsung melanjutkan pertandingan. Aku memutuskan untuk beranjak, sepertinya menuju perpustakaan adalah ide bagus, aku tidak terlalu suka keramaian seperti ini. "Gue ke perpus ya." ucapku padal Helena dan Ia hanya mengangguk. Sepertinya tidak mendengarkanku karena matanya terfokus pada lapangan.
***
Sesampainya di perpustakaan aku langsung menuju rak bagian novel. Jangan kalian pikir aku akan membaca buku sains, matematika, atau apapun itu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan karena aku gak sepintar itu. Bagiku waktu belajar hanyalah di dalam kelas, di luar kelas haram hukumnya untuk belajar.
Saat aku ingin mengambil salah satu novel, tiba-tiba ada satu tangan yang mendahuluiku. "Eh?" Pekikku. Aku menoleh ke samping kananku bersiap untuk berargumen. Laki-laki dengan setelan rapi berjas OSIS itu membolak balikkan novel yang ada di tangannya. "Nih, duluan aja." Dia tersenyum ramah. Aku hanya terdiam memandangi ciptaan Tuhan yang sempurna dihadapanku ini. Ya beginilah kurang belaian ketemu cogan sedikit langsung lupa caranya bernapas. "Eh? Halo?" Suaranya agak keras sambil melambaikan tangan di depan mukaku. Aku mengerjap tersadar, duh malu banget.Tapi kayaknya aku pernah lihat dia. Tapi dimana ya? Sorot matanya tampak gak asing.
"E-eh? Beneran gapapa?" Tanyaku terbata-bata dan Ia hanya mengangguk.
"Santai aja, gue udah baca kok bentar lagi menuju ending, kalau ada lipatan kertasnya jangan dibuka ya, itu tanda punya gue." Balasnya.
Aku hanya mengangguk pelan, membaca sipnosis di belakang cover. Lelaki itu masih setia di sampingku, situasi menjadi canggung dan aku bingung apakah harus pergi begitu saja? Atau diam disini saja menunggu dia pergi?
"Em, rame gak?" Tanyaku berbasa basi.
"Lumayan kok, zombienya bisa bermutasi, jadi sensasi tegangnya lebih kerasa." Aku hanya mengangguk sambil menggumamkan 'Oh' karena pada dasarnya aku memang tidak terlalu pandai mencari topik pembicaraan. "Lo unik ya." Lanjutnya lagi.
Aku mengernyit heran, unik apanih? Mukaku terlalu jelekkah hingga dibilang unik?
"Biasanya cewek sukanya novel-novel romantis gitu tapi lo beda. Nyambung nih kalau kita ngobrol, gue suka baca novel yang berbau thriller, action, atau fantasi gitu." Dia menyenderkan bahunya di rak sambil bersedekap.
"Hehe, suka juga kok sama novel romantik, cuman miih-milih juga sih soalnya kadang novel romantis gitu suka gak realistis, meskipun novel zombie gini gak realistis juga. Tapikan kita udah tahu pasti ini cuman fiksi. Kalau novel romantis tuh suka kebawa real life jadinya berharap kalau kisah cinta kita bakalan seindah itu juga." Tanpa sadar aku mulai berbincang lebar dengannya. Dia orang yang cukup asik, gak kelihatan kayak cowok modus juga. Jadi aku merasa aman tanpa harus takut saat dengannya.
“Wah iya bener, si penulis jadi kayak ngasih harapan bagi pembaca gitu ya?”
“Iya betul.” Sahutku.
"Ngomong-ngomong belum kenalan nih."
Aku menjulurkan tanganku lebih dulu, "Farah anak 11 IPA 1."
"Regi, 11 IPA 2. Masa lo gak kenal sih," Ia kemudian menunjuk jas OSISnya. "Anak satu sekolahan pasti tahu anggota-anggota OSIS."
Dia benar, menjadi anggota OSIS memiliki privilege menjadi terkenal seantero sekolah. Guru-guru di sekolah ini benar-benar mempromosikan seluruh anggota OSIS karena mereka ibarat pahlawan bagi sekolah. Anak-anak OSIS juga rata-rata berprestasi, itulah sebabnya biasanya murid-murid yang mau masuk OSIS karena dua alasan menjadi populer atau ingin ikut kejuaraan, tugas mengabdi kepada sekolah hanya semata-mata karena kewajiban bukan dari hati.
"Yah, gue kuper." Balasku singkat. Ia hanya tertawa dan mengangguk paham.
“Gue juga sebenarnya gak terlalu banyak gaul disini sih. Anak-anaknya high class semua. Berteman cuman buat formalitas.” Kata Regi.
“Tapi kan lo anggota OSIS?” Tanyaku heran. Seharusnya sebagai anggota OSIS harus memiliki jiwa supel. Karena OSIS juga banyak menanggung aspirasi-aspirasi siswa lainnya.
“Iya berteman seperlunya aja sih, sisanya gue akrab sama temen-temen diluar sekolah.” Balasnya.
“Wah rame dong ya?” Aku menutup novel dan memandangnya lebih leluasa. Nikmat melihat cogan gak boleh disia-siakan.
“Haha iya nih, entar kapan-kapan gue kenalin ya.” Aku pun mengangguk semangat. Keinginanku untuk membuka diri sebenarnya gak main-main. Semenjak pertemuanku dengan lelaki itu di pesta ulang tahunnya. Sedikit banyak membuka pendanganku terhadap kehidupan luar. Meskipun keras, masih ada orang baik diluaran sana meskipun dia hanya melakukan kebaikan sekecil apapun.
Lagipula aku juga gak enak kalau harus ngikutin Jojo dan Helena kemana-mana. Terutama kepada Helena, aku pikir mungkin dia gak bakalan suka kalau aku terus ada diantara dia dan Jojo. Merusak formasi pertemanan yang sudah mereka buat bertahun-tahun lalu. Aku gak mau terlalu banyak merepotkan mereka karena kondisiku yang suka sakit-sakitan dan gak bisa ngapa-ngapain.
“Lo udah baca novel apa aja disini?” Tanyaku padanya.
“Baru baca Zombie Hunter aja sih. Soalnya perpustakaan kita nggak terlalu banyak sediaan novelnya.”
“Hm, iya bener juga.”
“Kapan-kapan ke toko buku mau? Biar gue pilihin novel-novel bagus buat lo.” Regi mengusap pelan pipiku, “Ada rambut.” Ujarnya. Duh, dia sadar nggak sih kalau tindakannya bikin aku deg-degan.
"Bo—" Ucapannya terpotong karena tiba-tiba makhluk tak kasat mata bertengger di sebelahku. Seenak jidat dia menumpukan tangannya dibahuku dan merapatkan tubuhnya. Aku hanya memutar bola mataku malas, dasar monyet.
"Astagfirullah, ukhti dan akhi ngapain mojok disini, berdosa tau berdosa." Ia menggelengkan kepalanya menatap kami miris. Kucubit pinggangnya sampai Ia mengaduh kesakitan, seketika seluruh perhatian tertuju ke arah kami, "Ssst jangan ribut!" Ucap salah satu siswi berkacamata. Aku hanya menyengir dan berbisik meminta maaf.
"Jo, apek banget minggir sana. Keringat lo nempel, ih!" Aku mendorong Jojo agar menjauh dariku. Meskipun tampang berantakannya terlihat baddas tapi bau keringat dari tubuhnya tetap tidak terkalahkan. Tapi, bukan Jojo namanya kalau ingin mengalah, Ia malah semakin merapatkan tubuhnya ke arahku.
"Ngapain lo gangguin cewek gua?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Regi hanya menatapnya err—seperti menantang? Apalagi postur tubuh Regi yang sedikit lebih tinggi dari Jojo membuatnya lebih mengintimidasi, tapi Jojo tetaplah Jojo, si biang kerok yang bodo amatan. Aku melotot garang dan mendorong kuat Jojo sampai akhirnya berhasil terlepas, "Gue bukan cewek lo!" Aku kembali menatap Regi dengan perasaan bersalah, "Maaf ya, Reg. Jojo lagi kehabisan obat kayaknya."
"Gapapa, kalau gitu gue balik dulu ya, ada rapat OSIS. Jangan lupa ya lipatannya. Sampai ketemu lagi." Regi pergi sambil tersenyum ramah. Aku balas tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Bertemu dengan Regi lagi bak mimpi indah bagiku. Regi adalah definisi cowok idaman soft boy yang akan menciptakan ending happily ever after di cerita dongeng. Sepeninggalan Regi aku langsung berkacak pinggang menatap Jojo meminta penjelasan.
Aku pun menariknya menuju salah satu bangku, gak enak juga kelamaan berdiri kakiku jadi kebas. Kami masih di perpustakaan dan duduk di bangku paling ujung agar tidak menganggu yang lain. "Ngapain sih lo tadi? Bukannya lagi tanding ya?" Tanyaku heran, masih mempertahankan nada kesalku.
"Udah menang di set 1 males ngelanjutin lagi. Jadi ya gue nyusul lo kesini." Ucapnya tenang. Kaki Jojo saat ini naik ke atas meja, tak peduli beberapa pasang mata sudah menatapnya dengan tatapan menegur ke arahnya, tapi Jojo tetaplah Jojo.
"Lo kok tau gue disini? Apa faedahnya nyusulin gue kesini?"
"Tadi gue liat lo pergi tepat setelah gue cetak gol. Gue nyusulin kesini karena mau istirahat, lo orangnya gak banyak omong jadi gue bisa beristirahat dengan tenang. Tapi malah diinterogasi begini." Ujarnya malas.
"Halah alesan aja, lo. Gue kan lagi PDKT” Balasku membuang muka.
Jojo langsung terduduk tegap dan matanya melotot. "H-hah?! Seorang Farah mau PDKT ke cowok? Dunia sudah terbalik sepertinya."
"Ish! Bukan PDKT yang kayak gitu. PDKT sebagai teman." Ketusku. Bawaannya kalau sama Jojo kebawa emosi mulu.
“Dih emang gue ada bilang apa sama lo? Ck, baru kenal aja udah mau pepet-pepet. Parah lo disakitin tau rasa," Ujarnya. "Lagian Regi gak seperti yang lo kira, dont judge a book by its cover kalau kata orang-orang mah." Lanjutnya.
"Gue gak pernah dengar ada desas desus aneh-aneh dari anak OSIS kok, lo doang yang kayaknya citranya buruk disini. Mendingan suka sama dia lah daripada sama cowok kayak lo!" Balasku pedas.
"Emangnya kenapa kalau sama gue?" Ucapan Jojo tidaklah membentak tapi tatapannya tajam ke arahku. Seolah-olah hanya dengan tatapan itu bisa membunuhku perlahan.
"Y-ya, gak baik. Lo suka mainin perasaan cewek. Lo baik ke semua cewek dan bikin baper cewek. Gue gak suka cowok kaya gitu. Bukan tipe gue." Ucapku pelan sambil menunduk, takut kalau menyinggungnya lagi.
“Loh, apa salahnya kalau gue baik? Lo yang baperan lo yang nyalahin orang?”
“IH GUE GAK BAPER!” Teriakku. Ibu Mala—sang penjaga perpus langsung berdiri menatapku bengis sembari mengetuk-ngetukkan rotan yang aku gak tau faedahnya apa ke papan bertuliskan ‘Dilarang Ribut!’.
“Cih, padahal gue juga gak ngomongin lo.” Sinis Jojo.
Jojo kemudian menghela napas, Ia bangkit dari duduknya. Meninggalkanku begitu saja tanpa menoleh lagi. Tidak ada tatapan jahil seperti biasanya, hanya tatapan kekecewaan yang ku dapatkan. Tapi kemudian tak lama dia kembali lagi duduk dihadapanku. “Sebegitu buruknya gue dimata lo?”
“Lho kok balik lagi?” Tanyaku.
“Jangan ngalihin pembicaraan.” Ujarnya tajam.
“Emangnya seberapa penting pandangan gue terhadap lo?” Tanyaku heran. Padahal mau aku paandang dia jelek ataupun bagus juga gak ngaruh. Dia pasti tetap dengan pedenya mainin cewek lagi.
“Ya penting kalau ada cewek yang bilang gue jelek berarti gue belum seganteng Brad Pitt.” Ujarnya jenaka. Aku pun bersiap-siap ingin melemparkan buku yang ku pegang. Ia hanya menutupi muka melindungi diri sambil tertawa, “Sumpeh muka lo tegang banget kaya kabel listrik. Santuy santuy gue gak ambil hati kok, emang kenyataannya begono.” Tawanya hambar. Dia bohong, mana ada orang yang gak sakit hati dihina seperti itu dan seketika aku menyesal. Duh, Farah b**o banget sih.
“Tapi seriusan deh jangan dekat-dekat sama Regi.” Ucapnya serius.
“Lo mah gitu terus. Jangan deket ini, jangan deket itu.”
“Gue tuh fakboi jadi paham tipe-tipe fakboi tu gimana. Ini demi kebaikan lo juga. Gue gak mau adek kesayangan gue jadi korban patah hati.”
“Ah enggak tuh kemarin malem gue ketemu cowok baik kok. Gue bilangnya sih cowok batman. Baik banget dia, bahkan nolongin gue pas kesusahan, gue berharap bisa ketemu dia lagi.”
“Lo kok nggak cerita ke gue sih?!” Teriaknya.
“Hey kalau ribut mending keluar saja kalian berdua.” Bentak ibu penjaga perpustakaan. Jojo pun menarikku keluar perpustakaan menuju lorong. Aku hanya memutar mata malas, Jojo dengan segala keposesifannya.
“Jadi tadi malem lo nangis gara-gara cowok itu?” Tanyanya menuntut penjelasan.
“Siapa yang nangis sih? Dasar aneh.”
“Halah bohong lo, gue tau lo nangis. Mana tuh cowok biar gue hajar!” Jojo tiba-tiba menggebu-gebu.
“Justru dia yang nolongin gue. Ck, lo gak ngangkep point gue ya? Maksud gue adalah masih banyak orang baik di dunia ini. Dunia gue gak mungkin terus berputar disekitar lo aja, Jo. Gue juga perlu banyak teman.” Jelasku panjang lebar supaya dia paham maksudku. Bukan malah meleber sampai mau ngelabrak si cowok batman.
“Gue sama Helena juga udah cukup buat lo.”
“Gue gak mau ngerepotin kalian terus. Kalian juga punya dunia masing-masing.” Cicitku pelan. Jojo sontak saja langsung memelukku erat. Aku yang terkejut tidak siap menghindar. “Jangan ngerasa rendah gitu.” Ujarnya merasa bersalah. Aku membalas pelukkannya erat.
“Gue gak bermaksud mengekang lo. Gue cuman minta lo lebih memilah milih orang-orang yang bakalan masuk ke hidup lo. Supaya gak ditusuk dari belakang.” Jojo melepas pelukannya dan mengusap pipiku. “Pokoknya kalau ada yang nyakitin lo. Langsung calling gue biar gue hajar.” Dia menampakkan jempolnya ke hadapanku. Aku mengangguk sambil tertawa.
“Btw, cowok mana nih yang udah bikin adek kesayangan gue jatuh cinta?” Goda Jojo yang menoel-noel bahuku centil.
“Ih, gak sampe jatuh cinta juga kali cuman kagum aja.” Balasku mengelak tapi tak juga membuat pipiku gagal bersemu merah.
“Jadi si Regi itu cowok batman?” Dia mengerutkan alisnya. Aku menggeleng pelan.
“Ya bukan, beda lagi di Regi.” Jojo hanya bersiul menggodaku.
“Wah wah si Farah udah ada bibit fakgurl, suka sama dua cowok. Mau berguru ke gue? Hmm”
“Ish, dibilangin enggak kok. Wong cuman kagum aja.” Balasku pelan.
Jojo hanya mengerling nakal. “Nah, dari kedua cowok itu yang bikin lo jatuh cinta yang mana?”
***
Aku dan Jojo memasuki kelas sambil tertawa riang. Cuman Jojo aja sih yang ketawa ketiwi, kalau aku mah udah misuh-misuh siap nampol mukanya yang tanpa dosa itu. Masa dia nanya ke aku kenapa kumisnya Pak Hartono warna hitam. Ya mana aku tau emangnya kumis harusnya warna ungu? Jadi janda dong, Pak Hartono kan laki-laki jadi ya warna kumisnya harus sangar lah kayak coklat misalnya biar ada manis-manisnya gitu.
Yah, apa yang aku harapkan ketika memasuki kelas? Siswa tertib dan rapi? No way! Keadaan kelas udah acak adul karena mejanya berhamburan kesana kemari. Kulihat di depan papan tulis sudah berjejer beberapa meja membentuk panggung dilapiki oleh taplak meja guru. Duh, kasihan banget guru-guru nanti harus meletakkan tangan dan barang-barangnya diatas taplak yang sudah terkena kuman dan bakteri dari kaos kaki para biduan di atas.
Sementara disudut ruangan para lelaki berkumpul menonton yang aku nggak mau repot-repot menebak karena pasti nonton yang iya iya. “Woy! Parah ya kalian nggak ngajak-ngajak!” Teriak Jojo yang langsung terbirit-b***t menuju gerumbulan para cowok m***m itu. Aku hanya memutar bola mata malas dan duduk dibangku ku mulai membaca novel seperti biasa.
“Ah! Kecewa gue pilem horror ternyata! Pantesan Helena ikut nangkring.” Teriak Jojo kecewa.
“Dasar d***u! Bokep aja nobar lo.” Terdengar jitakan Helena yang sampai menimbulkan bunyi ‘Duk’.
“Itu tuh termasuk ilmu pengetahuan. Jadi kan gue keliatan pro kalau lagi malam pertama. Kasihan bini gue entar kalau minta cerai gara-gara gue noob banget jadi cowok.”
“Hiiihh!” Gemas Helena dengan raut seperti ingin memakan Jojo hidup-hidup, “Jorok banget jadi orang.”
“Lah bener juga ya, Jo. Yaudah ganti-ganti cepetan! Mumpung Daddy Hartono kakinya belum menapak lantai kelas kita, masih halal buat ngebokep!” Sahut Randy antusias. Cowok yang lain udah senyum penuh arti. Acil sang operator sudah sigap buat mengganti tontonan, lebih ke siap masuk neraka sebenarnya.
Helena dengan cepat langsung sigap mengambil laptopnya dan menatap garang para cowok-cowok yang mentalnya udah ciut terkecuali Jojo. “Oh, pantesan aja gue liat history gue kok banyak yang aneh-aneh. Lo pada ya pelakunya!” selama ini memang mereka kalau menonton pakai laptop Helena. Karena laptopnya paling mahal dan paling enak buat dipakai nonton. Dia juga rajin banget bawa LCD proyektor sendiri ke sekolah. Bisa kebayang kan bawaan Helena sehari-hari kayak gimana. Apalagi untuk tugas yang memerlukan presentasi LCD dan laptop Helena sangat berguna sehingga guru-guru juga nggak pernah protes. Padahal mereka nggak tahu aja bahwa laptop Helena sudah tidak suci lagi akibat cowok-cowok m***m di kelas.
Helena pun memukuli kepala satu persatu dari mereka, dan memukuli Jojo beberapa kali sampai Jojo meringkuk di lantai kesakitan, “Udah woy! Lo mau gue masuk RS?”
“Iya! RSJ sana sekalian!” Teriak Helena kesal. Ia kemudian melirik tajam pada segerombolan cowok yang siap bubar jalan. “Lain kali kalau mau nonton begituan modal dong. Dasar kutu kupret! Laptop gue ternodai. Huhu” Helena mengentak-hentakkan kakinya kesal. Aku yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya menggeleng maklum. Mungkin prestasiku menurun bukan cuman karena aku malas tapi juga karena aku berteman dengan orang-orang gila.
Aku hanya meringis melihat muka Helena yang keruh. Aku mengusap bahunya pelan menenangkan, “Jangan ajak gue ngomong! Gue lagi bete, huh!” dumel Helena.
“Tapi....gue kan nggak ngomong, Hel.” Ujarku pelan.
“Nah itu ngomong?!” Balas Helena menunjuk-nunjuk bibirku. Aku mengulum bibirku sendiri dan membuat gerakan seolah mengunci bibirku.
“Ish, lo mah temen lagi kesel juga, malah diem-diem bae. Tenggorokan lo kering?”
Ya Allah, gini banget punya teman. “Lagi sariawan.” Aku menyengir pelan. Dia cuman ngangguk-ngangguk kemudian meletakkan kepalanya diatas meja.
“Gue badmood banget hari ini.” keluh Helena. Aku menoleh dan mengangkat sebelah alisku bertanya. “Doi gue sama cewek lain.”
“Loh? Udah ada Aa baru?” Helena kalau pacaran, pasti manggil pacarnya itu Aa meski pacaran dengan anak SMP sekalipun.
“Hmm.” Helena hanya menatapku, “Udah dari lama sih tapi nggak jadian. Makanya gue cari pelarian aja gitu ke cowok lain.” lanjutnya lagi.
“Kenapa nggak jadian?” Tanyaku heran.
“Banyak parasitnya.” Helena menatapku dalam. Aku merasa bulu kudukku merinding. Helena kayak lagi kesambet dan aku bingung kalau dia nanti kesurupan aku harus ngapain. Karena posisiku didekat dinding sehingga kalau dia mulai mengamuk pastinya aku akan terjepit. Apalagi aku nggak ahli ruqyah, sholat aja masih bolong-bolong, ngaji juga belum khatam. Duh, besok-besok minta mama manggil guru ngaji lagi deh. “Hahaha! Komuk lo jelek banget! Lo kenapa dah?” Aku hanya tercengang. Tadinya Helena menatapku sendu dan sekarang malah tertawa terbahak-bahak.
“Jangan dibawa serius gitu ah. Gue gak jadian karena gue maunya sama oppa-oppa korea aja. Hihihi” Helena terkikik dan merangkulku. “Tapi….lo pernah nggak sih merasa kehilangan?”
Aku mengerutkan keningku dalam-dalam berusaha mengingat, “Nggak pernah kayaknya, hidup gue cuman ada keluarga, lo, dan Jojo.”
“Gue pernah kehilangan seseorang, tapi gue berusaha ikhlas karena perasaan gue belum sedalam itu. Tapi untuk yang kedua kali kayaknya enggak deh. Iya kan?” Tanya Helena padaku.
“Jadi lo mau berjuang?” Tanyaku. Sebenarnya aku nggak paham dan nggak tahu apa yang dibahas Helena. Mengenai kehilangan apa yang dia maksud, semoga itu nggak akan menyakiti dirinya sendiri.
“Kalau lo suka sama seseorang terus orang itu nggak suka balik. Lo bakalan gimana?”
“Mundur mungkin? Soalnya kalau gue maksain takutnya malah jadi obsesi. Gue nggak mau menyakiti diri sendiri dan orang yang gue suka. Kebahagiaan itu bukan cuman perasaan kita aja, tapi perasaan dia juga harus bahagia. Kalau bersama gue dia nggak bahagia ya buat apa?” jawabku gamblang. Wow, aku ingin bertepuk tangan dengan diriku sendiri. Sebagai orang yang nggak punya pengalaman pacaran, penjelasanku patut diacungi jempol.
“Yah, ngegampangin banget lo. Belum pernah sih ya.” Helena hanya geleng-geleng kepala, “Nggak sesimple itu sih. Gue harap lo bisa ngerasain jatuh cinta, tapi gue juga berharap semoga lo bahagia.” Lanjutnya lagi.
“Gue belum jatuh cinta sih. Tapi, gue merasa tertarik sama seseorang.” Jawabku malu-malu.
“OMG! Siapa! Ayo cerita!”
“Regi anak OSIS lo kenal?” Tanyaku. Helena membelalak dan menggeleng pelan.
“Gue nggak merestui lo kalau gitu. Dia nggak worth it. Gaya doang anak OSIS.” Sinis Helena
“Ish! Kalian kenapa sih? Tadi Jojo juga bilang begitu.” Desakku
“Lah emang iya. Dia mah anaknya nggak mau pacaran. Mau deket sana sini aja.”
“Kayak lo dong?” ujarku
“Duh, pokoknya dia tuh tukang PHP deh!”
“Bukannya bagus ya kalau dia nggak mau pacaran? Gue jadi tenang kan kalau mau temenan sama dia.”
“Emangnya ada cewek sama cowok temenan benar-benar temenan? Emangnya lo yakin cuman mau temenan doang sama dia?” Tanya Helena sewot. Lah, dia kan selama ini temenan sama Jojo aman-aman aja, nggak ada tuh baper-baperan. Aku hanya diam mengabaikannya sampai seketika Pak Hartono datang membawa setumpuk buku sakti tebalnya. Sial pasti kuis lagi.