JOJO
“Ini namanya Eunhyuk, kalo yang di sebelah kiri yang gayanya kaya Ketua DPR itu Babang Siwon.”
Gue menatap jengah kedua kaum hawa yang saat ini dengan santuynya goleran di kasur gue. Membuat gue sang pemilik langsung ditendang ke bawah lantai. Lagi-lagi Helena meracuni adek gue dengan kekoreaan setelah meracuni Jeje dengan One Direction sebelumnya. Gue mengencangkan volume laptop gue supaya lebih afdol. Masih setia memperjuangkan Zuma supaya gak merengek minta makan mulu.
'Bukk' Sebuah guling mendarat di kepala gue sekaligus menghalangi layar laptop gue. Dengan kesal langsung gue balas mereka dengan kotak tisu di meja belajar gue.
“Berisik lo, Jo. Gue buang Zuma lo ke panti asuhan baru tau rasa!”
“Lo berdua gak tau diuntung, udah numpang di kamar gue, menjajah kasur gue juga, udah-udah keluar lo kalau mau kekoreaan, hush hush makhluk halus.”
“Ribet lo, Kak. Kalau gak suka lo keluar aja sih.” Sahut Malin Kundang yang emang omongannya selalu nyelekit ke gue. Senin nanti gue berencana hapus sepihak namanya dari kartu keluarga. Udahlah males gue kalau berurusan sama Jeje. Karena gue pasti bakalan kalah, kalau kata gue Helena juara 1 dunia debat lisan, Jeje ini juara 1 semesta.
“Lo sih gak pernah mau kalau gue ajakin bucinin oppa gue. Coba lo liat dulu wujudnya dijamin lo kesemsem.” Kata Helena.
“Dih, lu pikir gue humu.” Jawab gue kesal. Gue pun memutuskan keluar kamar meninggalkan duo laknat. Biarlah entar kamar gue mau kaya kapal pecah kek jungkir balik kek serah mereka dah. Gue juga tega meninggalkan Zuma gue yang mungkin masih kelaparan minta bola-bola pelangi. Au ah udah gak mood. Gue paling enggak suka kalau teritorial gue diganggu. Anak cowok itu paling banyak perlu privasi karena banyak juga yang harus mereka lakukan. Hehehe.
Gue mengambil air dingin di botol besar Tupperware merah. Langsung meneguknya alih-alih menuangkannya di gelas. Membiarkan bibir seksi ini menyentuh Tupperware kesayangan mommy. Untung aja mommy masih di kantor kalau enggak mungkin leher gue udah digorok terus mayat gue udah ditimbun di halaman belakang buat pupuk tanamannya mommy. Terkesan hiperbola tapi begitulah kenyataannya sobat. Mama lebih mencintai Tupperware ketimbang anaknya sendiri. Mommy juga paling anti ngelihat orang minum langsung dari botol yang dibagi bersama-sama karena jorok. Biarin aja, gue gak peduli, biar satu rumah minum bekasan gue hahaha. Gue menuju ruang baca meskipun minat literasi gue cetek. Soalnya ruang baca di rumah gue itu adalah tempat paling cozy yang memang sengaja disiapkan sofa-sofa dan bantal supaya orang-orang rumah pas baca disitu merasa rileks. Berbeda buat gue yang bisa bikin tidur nyenyak. Tidurlah sebelum tidur itu dilarang.
Daddy memang sengaja membangun ruang baca supaya anak-anaknya gak miskin ilmu. Maklum, S3 Inggris ya jadi pemikirannya selalu ke depan dan gak jauh-jauh dari pendidikan. Padahal anak-anaknya kesini kalau gak baca komik Miiko ya meraih mimpi beralaskan bantal. Entah apa yang merasuki gue, bukannya mengambil posisi siaga buat rebahan gue malah menyusuri rak-rak yang tersusun rapi. Mungkin sedikit di dalam diri gue berharap dapat keajaiban supaya lebih rajin membaca. Gue saat ini menyusuri rak komik yang udah jadi langganan Jeje. Meskipun cuman komik seenggak-enggaknya gue sudah ada niat MEMBACA.
“BAA!!”
“EH AYAM AYAM!” Latah gue. Gue mengusap d**a lega. Berabe kalau bidadari yang memergoki gue latah. Gelar most wanted akan dilepaskan dari gue. “Anj—“
“Shuttt.” Helena menunjuk-nunjuk dinding dibelakang gue yang sudah terpasang papan dilarang ribut dan berkata kasar. Aturan yang dibuat bokap karena waktu itu gue gak sengaja gelut sama Jeje dan terjadilah maki-makian binatang dan sejenisnya terlontar dari bibir seksi gue.
“Ngagetin aja, Nyet.” Helena hanya tertawa terbahak-bahak mengabaikan muka gue yang udah masam. Niat mau menjauhi anjing-anjing di kamar malah ketemu serigala di ruang baca. Helena lagi-lagi mengkorupsi wilayah gue dan langsung terlentang di salah satu sofa yang paling besar. Sial. Kalah gercep gue.
“Udah bucin oppa-oppanya?” Sinis gue. Helena cuman mesem-mesem aja. “Jeje mau ngasih contekan matematike ke temennya katanya. Heran gue kalian ini keturunan Einstein ya? Gak pernah belajar, jarang baca buku pelajaran, tapi otaknya lancar semua kaya air terjun. No sendat-sendat.”
“Lo gak ada niatan balik apa? Udah kayak gelandangan lo.” Mengabaikan pujian Helena yang setinggi gedung pencakar langit. Gue agak aneh dipuji-puji gitu kalau soal kepintaran gue. Soalnya kalau gue dilabeli sebagai orang pintar beban yang gue tanggung akan bertambah banyak. Orang-orang pasti berekspetasi tinggi ke gue. Belum lagi punya daddy yang lulusan S3 Inggris dan mommy yang S2 di Jepang membuat gue gak bisa menghindari ajang dibanding-bandingkan dengan orang tua gue. Mending dipuji ganteng kayak Brad Pitt lah. Udah jelas tanggung jawab gue cuman untuk memenangkan hati wanita. Ceilah.
Helena cuman cemberut. Cih, dipikir kalau dia begitu imut apa, amit-amit iya.
“Males gue, mama sama papa lagi nggak akur.” Gue melihat kesedihan dimata Helena. Udah bukan hal asing lagi kalau hari-hari Helena diwarnai dengan bunyi pecahan beling dan teriakan makian. Orang tuanya Helena itu korban perjodohan sehingga gak ada rasa cinta dihati mereka. Sedari Helena kecil, meskipun tinggal serumah orang tuanya selalu sibuk sama urusan masing-masing. Alasan mereka bertahan di 18 tahun pernikahan adalah sekedar untuk urusan bisnis.
Gue mengusap rambutnya pelan membuat Helena beringsut meletakkan kepalanya di paha gue. Dia memeluk perut gue erat mencari kehangatan. Gue pun gak segan-segan untuk membalas pelukannya tak kalah erat. Gue yakin gak lama lagi baju gue basah karena air mata Helena.
“Hiks, gue salah apa ya sama Tuhan. Kok tega banget ngasih riwayat hidup gue setragis ini.” Gue hanya mengusap bahunya menenangkan. Belum berani buka suara sampai dia merasa puas mengutarakan kegelisahannya, “Rasanya gue mau menghilang aja dari muka bumi, hiks hiks.” Helena makin sesegukan.
“Yah, kalau lo menghilang gue gak ada lawan berantem lagi dong.” Balas gue jenaka. Helena memukul pelan perut gue sambil tertawa, “Seriusan deh gue gak rela. Gue belum pernah menang kalau gelut ama lo.”
“Jadi kalau lo udah menang gue boleh menghilang?” Tanyanya.
“Gue bakalan kalah terus kalau gitu.”
Helena tersenyum senang. Semburat merah muncul dipipinya. Dia lalu memeluk gue makin erat. “Gue sayang sama lo, Jo.”
“Gue juga sayang sama lo, Hel.” Balas gue lembut.
“Promise you’ll never leave me?” Gue merasakan tatapan berbeda dari mata Helena. Entah kenapa tapi gue merasa tersirat ketakutan terbesar dari pertanyaannya barusan. Padahal gue mah gak kemana-mana, masih stay aja di Jakarta. Mana mungkin gue tiba-tiba pindah ke Mars. Gue kan belum bisa nyari duit sendiri. Masih harus menjadi parasit di kehidupan orang tua.
“Ya ya ya. Lo udah tanyain itu berjuta-juta kali ke gue.”
“Iya tapi nyatanya lo pernah ingkar.” Ujarnya. Gue menaikkan alis gue bingung. Mencoba mengingat-ngingat kapan gue pernah pergi jauh selain liburan keluarga.
“Gue gak mau lagi ada orang seperti Nadia di hidup lo.” Selanya cepat.
“Ya jelas lah mana mau gue balikan sama cewek yang udah ninggalin gue.” Balas gue kemudian mengusap-usap kepalanya bermaksud bercanda. Tapi segera dia tepis tangan gue.
“Maksud gue..” Helena beranjak duduk menatap gue lurus, “Gue gak mau lo pacaran beneran sama cewek lainnya. I mean, ketika lo jatuh cinta beneran.” Entah kenapa gue gak suka dengan arah pembicaraan ini. Meskipun gue memang masih suka bermain-main sama perempuan. Tapi bukan menutup kemungkinan kalau suatu saat gue akan serius sama satu cewek.
“Maksudnya lo takut kalau gue bakalan nyakitin mereka?” Gue mulai sinis.
“B-bukan gitu.”
“Gue gak suka lo tiba-tiba posesif gini. Sedangkan disini posisinya lo juga playgirl, gonta ganti cowok udah kayak gajian sebulan sekali.” Ini yang kadang gue gak suka sama Helena. Suka mengekang. Salah satu alasan juga kenapa semenjak kehadiran Farah gue lebih sering cengcengin dia ketimbang Helena. Supaya gue bisa lepas dari jeratan keposesifan ini sih. Gue gak masalah, namanya perasaan takut kehilangan sahabat itu wajar, tapi bukan berarti lo bisa seenak p****t ngatur-ngatur dan sok posesif. Bahkan emak bapak gue aja gak se posesif dia.
“Atau jangan-jangan lo baper sama gue?” Tanya gue. Sebenarnya cuman maksud bercanda doang sih. Tapi ngeliat reaksi Helena yang langsung gelagapan, gue jadi curiga sendiri. Pipinya langsung bersemu merah yang kayaknya gak mungkin karena kepanasan karena ruangan ini ber AC. Gue bisa tebak sih artinya apa tapi gue gak mau menduga-duga dulu. Takut kalau dugaan gue benar dan persahabatan kita jadi canggung. Gue sayang dia. It’s true, sebagai sahabat tentunya.
“G-gak kok. Dih, kok lo jadi geer sih!” Malah dia lebih sewot daripada gue. Ribut lagi kan kita. Mayday mayday saudari Farah harap datang sebagai mediator.
“Ya terus kenapa?!” Gue tak kalah sewot.
“Ya emang salah gue minta waktu lo lebih banyak? Lo kalau udah sama cewek cabe-cabean lo itu pasti selalu lupa temen!” Teriaknya. Untung aja nih ruangan kedap suara. Bebas dah lu mau teriak-teriak mengaum-ngaum kayak harimau kek gelantungan kayak monyet kek kagak ada yang tau.
“Lo kurang apasih kita selama ini sering banget kemana-mana, sama Farah juga. Gue bahkan sering kok ngebatalin janji supaya bisa main bareng lo pada.”
“Ya itu kan bertiga sama Farah gue maunya berdua doang sama lo.”
“Gue pikir lo suka sama Farah.” Sinis gue.
“Gue bukannya gak suka dia. Gue anggap dia sahabat kok, mana mungkin gue sejahat itu. Apalagi Farah adeknya Angga. Gue cuman iri aja sama dia karena lo lebih sering bercandain Farah. Gue merasa tersisihkan.” Lirihnya.
“Lo tau gue gak bakalan begitu. Teman macam apa yang iri sama temannya sendiri?” Sib nasib punya istri dua jadi begindang nih. Pesan buat akhi-akhi sekalian jangan berani poligami kalau belum bisa berlaku adil.
“Lo juga tau keadaan gue gimana, Jo. Keluarga gue hancur. Semenjak kejadian beberapa tahun lalu cuman lo yang gue punya. Gue juga kesepian.” Helena mulai nangis lagi. Duh, kalau udah bawa-bawa masalah keluarganya gue lambaikan tangan ke kamera. Emang gak ada yang bisa menandingi kalau dia udah adu nasib. Gue cuman bisa memeluknya kembali menenangkan.
“Iya iya gue minta maaf. Gue akan lebih memperhatikan lo mulai sekarang. Tapi jangan lagi-lagi lo ngomong kayak gitu tentang Farah. Jangan sampai persahabatan kita hancur lagi.” Helena pun hanya mengangguk. Kemudian gue mengajaknya untuk makan sama-sama. Berantem membuat perut gue sangat keroncongan sampai cacing-cacing gue berdemo minta disuapin.
***
Jam bergambarkan Hello Kitty di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Helena gak ada tanda-tanda bakalan balik. Nih anak kayaknya beneran niat buar kabur dari orang tuanya. Bikin heran lagi karena orang tuanya beneran gak nyari anaknya seharian. Luar biasa sekali. Mommy dan daddy udah standby di depan TV nonton sinetron. Orang tua gue ini sama-sama pemilik perusahaan tapi gak lagaknya gak kayak CEO di novel-novel picisan yang super sibuk 24 jam. Malah jam 5 sore udah pulang ke rumah, katanya jam 5 lewat sedetik itu udah waktunya tidur di rumah, tidak bisa diganggu gugat.
“Helena nginep aja dirumah, jangan lupa ganti baju.” Ujar mommy penuh keibuan. Beda cerita lagi kalau ngomong sama gue pasti kebawa urat terus, “Nanti, pinjam baju Jeje kayak biasa ya.” Helena emang sering nginep di rumah gue. Makanya dia suka semau sendiri kesana kemari berasa dia yang punya rumah.
Gue memasuki kamar dan merebahkan diri di kasur kesayangan gue. Farah lagi ngapain ya. Biasanya gue bakalan BBM dia sekedar iseng. Sambil-sambil nanya kabar Angga juga, soalnya belakangan Angga semakin susah dihubungin. Sebenarnya gue masih cukup dekat sih sama Angga. Gue nganggepnya begitu, enggak tahu bagaimana dengan Angga. Gue coba telepon Farah deh. Panggilan pertama gak diangkat. Panggilan kedua masih belum ada tanda-tanda. Panggilan ketiga akhirnya diangkat tapi uaranya gak ada. Apa jangan-jangan yang ngangkat hantu ya.
“Halo ukhti.” Ucap gue ceria. Masih gak ada suara, tapi gue mendengar bunyi grasak-grusuk. Wah wah ngapain nih anak malem-malem.
“Kijang 1 ada yang mencurigakan nih malem-malem. Ganti.” Kata gue lagi. Dia cuman terkekeh kecil yang suaranya terdengar merdu ditelinga gue. Pengen gue halalin. Becanda.
“Ada apa nelepon malem-malem?” Suaranya terdengar sengau. Kayaknya dia habis nangis. Kalau boleh gue berpikir positif kayaknya habis nonton sinetron.
“Lo nangis?” Akhirnya gue gak bisa memendung rasa kepo gue. Dia cuman diam yang bikin suasana jadi canggung. Kayaknya gue salah ngomong.
“Pilek.” Balasnya singkat. Jiwa kepekaan gue berfirasat dia bohong tapi gue ngeiyain aja. Bukan hak gue untuk ikut campur lebih jauh.
“Eh gue mau cerita.”
“Heem.” Gumamnya mendayu-dayu.
“Tadi gue beli gorengan. Gue ambil 6 gue bayar 3000. Dosa nggak?” Tanya gue.
“Astagfirullah Ikhwan! Bersoda sekali dirimu. Auto masuk neraka jalur akselerasi lo.” Balasnya. Itu orang di rumahnya tidur pada kayak kebo apa ya masa dia teriak-teriak kayak Tarzan gak ada yang bangun.
“Berdosa woy! Ngomong aja masih typo lu.”
“Gue gak mau dekat-dekat sama jelmaan setan. Gue pengin amnesia aja biar gak kenal sama lo.” Sialan nih anak
“Lo yang rugi dong kan lo yang amnesia, masuk rumah sakit terus keluar biaya mahal.”
“Oh iya ya. Emm, kalau gitu gue bikin lo amnesia aja ya. Siap-siap aja kalau malam ni tiba-tiba lo udah di alam kubur.”
“Loh loh katanya niat bikin amnesia doang tapi gue langsung ke alam kubur.” Sinis gue.
“Setelah gue pikir-pikir kayaknya sekalian aja. Supaya lo kena azab.” Gue tertawa mendengar penuturannya. Farah ini sebenarnya asik kalau diajak ngobrol. Dia bisa diajak ngomong hal random apapun sebelas dua belaslah sama Helena, itu juga yang bikin kita jadi akrab karena sama-sama punya kadar otak yang tidak semampai.
“Elah gorengan doang. Koruptor noh korupsi bermilyar-milyar masih bisa ngopi santuy.”
“Ih, mau-maunya disamain sama koruptor. Jelas beda kan dompet mereka lebih tebel.”
“Dompet gue juga tebel.” Sewot gue. Enak aja udah sultan begini masih dikata miskin. Ducati gue emang motor mainan?!
“Yeu, ditraktir batagor 5 rebu aja gas lo.” Sinis Farah. Gue tertawa lagi. Bisa gue bayangkan wajahnya yang cemberut lucu sekarang. Gue jadi pengen teleportasi terus cubit-cubit pipi unyunya.
“Terus gimana ini dosa gue sama mbak-mbak gorengan bisa ilang kagak?” Tanya gue lagi. Cerita gorengan itu cuman akal-akalan gue aja biar dapat topik. Tadinya gue mau acara gombal-gombalan, tapi gue urungkan entar takutnya dia baper. Kan berabe kalau sampe dia baper ke gue, dikira PHPin anak orang lagi. Mana bapaknya kayak raja rimba gitu. Udah kumisnya tebel mukanya judes banget gak kalah ama ibu-ibu komplek.
“Dosa-dosa lo kenapa jadi masalah gue? Malahan gue bersyukur jadi gak usah ketemu lo diakhirat. Mengurangi saingan untuk masuk surga.”
“Halah, kayak masuk surga aja lo. Sholat aja masih bolong-bolong kaya kutang bapak gue.” Seriusan deh daddy tuh orang paling kaya di komplek tapi kalau lagi ngerokok bareng tetangga sukanya pake kutang sama sarung doang. Mana kutangnya bolong lagi, udah cocok dijadiin kain lap di dapur.
Farah tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk. Gue tiba-tiba aja khawatir, takutnya dia keselek ludah terus gue jadi tersangkanya. Divonis bersalah karena telepon anak orang malem-malem buat bahas nyolong gorengan 6 bayar 3000 berakhir meninggalnya Farah Maharani dalam keadaan mulut menganga dan menggenggam hengpon. Gue bergidik ngeri, “Lo nggak papa?” Tanya gue.
“Udah ya gue mau tidur. Makasih udah ngehibur gue malam ini.”
“Gue gak bisa ngasih kata-kata mutiara karena bukan Mario Teguh. Tapi kalau lo ada masalah lo bisa cerita sama gue. Gue mungkin gak bisa ngasih solusi tapi gue yakin bisa bikin perasaan lo lebih baik. Kehadiran gue dihidup lo itu bukan tanpa alasan.” Jiakkhh bisa banget bahasa gue.
Farah cuman terkekeh, tapi bisa gue simpulkan dia kembali menangis. Karena gue dikit-dikit dengar suara dia menghirup ingus.
“Kok tiba-tiba mellow gini. Udah ah mo tidur. Dah, Jo.” Dia menutup telepon bahkan sebelum gue sempat mengucapkan selamat tidur ke dia. Sejujurnya gue khawatir dengan kondisinya saat ini. Padahal gue kepengen banget benar-benar merealisasikan peran gue sebagai sosok kakak buat dia. Memeluknya dikala dia sedih dan menghiburnya supaya berhenti menangis. Dia selama ini selalu tertutup sama gue dan Helena. Gue juga berpikir mungkin karena dia sehari-hari gak punya masalah yang berat seperti Helena. Apalagi dia selalu mendengarkan curahan hati Helena dengan baik. Hampir satu sekolahan tahu masalah keluarganya Helena seperti apa. Itu anak emang ember bahkan dengan masalahnya sendiri. Membuat iba orang-orang yang mendengarnya. Padahal udah gue tegor juga supaya jangan gampang percaya sama orang-orang.
‘Tok tok tok’
“Masuk!” Teriak gue.
Muncul kepala Helena yang mengintip dari balik pintu. Dia pun masuk ke kamar gue dengan santai langsung merebahkan dirinya disamping gue.
“Gue tidur sini ya, Jo.” Ujarnya kemudian memejamkan matanya.
“Enak aja. Dari tadi korupsi territorial gue mulu. Terus lo nyuruh gue tiduran dilantai gitu?” Sinis gue.
“Ya lo tiduran disini juga.” Gue memelotot kesal. Otaknya Helena kayaknya udah pindah ke dengkul.
“Gila lo! Udah sana pergi!” Kesal gue. Helena hanya bergeming diatas kasur. Akhirnya gue geret kakinya sampai menapaki lantai. Gue angkat bahunya dan gue dorong dia hingga terjatuh.
“Aw!” Teriaknya. Dia memandang gue kesal. “Gak bisa lembut sedikit apa?!” Sewotnya. Malem-malem ngajak berantem. Masa gue harus melakukan panggilan darurat ke Farah buat jadi wasit.
“Lo juga aneh-aneh. Masa kita tidur berdua?” Tanya gue gak habis pikir.
“Lebay banget lo dulu-dulu kita juga sering tidur bareng.” Jangan salah paham, ini maksudnya memang tidur bareng secara harfiah.
“Ya beda dulu kita masih kecil. Gue kencing aja belum lurus. Sekarang kita udah sama-sama dewasa. Harusnya lo mikir.” Balas gue enggak kalah sewot juga dong.
“Halah, emang dasarnya lo mah m***m aja. Kebanyakan nonton yang iya-iya lo.” Nada bicaranya makin tinggi.
“Gue gak m***m. Tapi gue cowok normal. Kalau terjadi apa-apa gimana? Lo pelajaran biologi sering absen ya? Pantes bego.” Helena langsung melotot dan menjambak rambut gue. Sialan awas aja kalau sampai botak gue tuntut atas penganiayaan. Teriakan demi teriakan pun tak kuasa gue tahan. Sumpah Helena ini badannya kecil tapi kekuatannya ngalahin Mike Tyson. Seriusan ini kepala gue panas banget.
Pintu pun tiba-tiba didobrak dari luar dan presensi daddy sambil berkacak pinggang memegang kemoceng terlihat. Mama disebelahnya cuman terkikik geli, apa yang lucu elah. Helena langsung melepaskan jambakannya dan berdiri gugup. Padahal ujung-ujungnya juga pasti gue yang dimarahin. Sebenarnya gue anak kandung atau anak pungut sih.
“Jojo nih om nyari gara-gara. Masa aku gak boleh tidur disini.” Sial dasar nenek lampir. Pinter banget cari muka ke bonyok gue.
“Jojo, kamu berhenti gangguin Helena dong. Kasihan dia.” Ujar mommy lembut. Helena pun beringsut maju dan bersembunyi di belakang mommy.
“Dia yang duluan, mom. Dia mau tidur disini bareng Jojo. Etis nggak?” Tanyaku.
“Yaudah sih, dulu juga sering kan. Malah digede-gedein masalahnya. Udah ah jangan ribut lagi daddy ngantuk tuh lihat udah siap kemoceng buar geplak kamu.” Gue hanya melotot tak percaya. Ternyata orang tua gue juga sama gak warasnya. Pintu pun tertutup meninggalkan gue dan Helena yang tersenyum penuh kemenangan. Kalau aja bukan cewek udah gue jadiin ring basket tuh anak.
“Ciee, ngambek nih? Elah yaudah gue tidur ama Jeje. Gue iseng aja tadi.” Helena tertawa terbahak-bahak. Gue masih setia memasang ekspresi bersiap perang. Bercanda katanya? Tadi kalau daddy gue gak ngantuk, bisa aja gue sekarang udah masuk ke peti mati. Orang udah siap-siap bawa kemoceng kaya mau tawuran. Untung aja bawanya kemoceng, jadi kalau kena geplak cuman kerasa debu sama bulu-bulu halus doang nyangkut di wajah mulus gue.
Gue langsung mendorongnya dan menutup pintu. Kunci pintunya juga. Sekalian kunci jendela karena balkon kamar gue nempel sama balkonnya Jeje. Gak menutup kemungkinan kalau Helena gabut dia bisa aja nyebrang balkon. Kayaknya gue juga harus pasang keamanan tingkat tinggi. Apa perlu gue sewa satpam buat jagain kamar gue ya?