3

3517 Words
Farah “Hati-hati ya kalian.” Aku melambaikan tanganku pada Helena dan Jojo. Aku masih tidak bisa mnyembunyikan rasa geliku mengingat Helena yang menantang Jojo balapan. Sudah pasti Jojo menang telak karena dia mengendarai motor Ducati hitamnya. Aku pun memasuki pekarangan rumah kemudian mendapati Ayah sedang memasang kembali sepatu dinasnya. “Assalamualaikum,” Sapaku lalu kemudian menyalami ayah. Ayah hanya mengangguk dan menyambut tanganku. “Ayah berangkat dulu.” Ujarnya. Ayah  adalah sosok yang tegas dan sangat serius. Biasanya Ayah jarang berbicara kecuali untuk hal-hal yang penting. Berbanding terbalik dengan Mama yang 180 derajat berbeda karena suka berkelakuan random. Mama yang selama ini memberi warna di keluarga kami mengingat kedua anak dan suami tercintanya tipe muka tembok semua. Kadang aku iri dengan anak-anak lain yang bisa dekat banget sama ayahnya sendiri bahkan gak ragu untuk melontarkan candaan atau tingkah konyol lainnya. Sedangkan aku sendiri jangankan bercanda menatap wajah ayah saja seringkali aku takut. Ini mungkin ada kaitannya dengan masa kecilku yang selalu di didik keras oleh ayah. Ayah bahkan gak segan untuk main tangan kalau aku berbuat salah. Berbeda perlakuannya pada Kak Angga, ayah gak pernah marah meskipun itu masalah sepele atau besar. Kak Angga pasti selalu dinomor satukan. Seringkali aku merasa gak adil tapi aku berusaha berpikir positif saja kalau rasa sayang yang ditunjukkan ayah memang seperti itu. Namun, ternyata ini berdampak besar bagiku yang kemudian tumbuh menjadi seseorang yang tertutup. Aku akan refleks menunduk saat orang mengobrol denganku terutama jika itu orang tidak dikenal. Beruntungnya aku bertemu dengan Helena dan Jojo yang dengan perlahan mengajakku membuka diri agar jangan merasa takut dan kecil. Mengembalikan sedikit rasa percaya diriku. Aku memasuki rumah dan mendapati mama sedang membuat donat. Mama memang punya hobi memasak. Bahkan mama sampai memohon-mohon sama papa supaya bisa desain kitchen set sendiri dan gak boleh ada yang otak-atik. Pokoknya yang boleh masak disitu cuman mama. Bahkan aku yang cuman pengen bikin mie instan aja disuruh sterilkan diri dulu sama mama. Ujung-ujungnya aku disuruh masak di dapur ART kami karena Bi Ijah emang tinggalnya dibelakang rumah hanya berbataskan taman saja. Dasar mama lebay emangnya aku virus mematikan apa? Biasanya aku cuman boleh menyentuh si kitchen set kesayangan mama kalau mama lagi kerepotan seperti ini. “Farah! Bantuin mama sini!” Teriak mama. Aku melangkah menuju dapur dan mengambil celemek. Bodo amatlah seragamku kotor aku malas banget rasanya untuk sekedar ganti baju. “Eh, eh, eh jangan berani masuk sini kalau kaos kaki durjana itu masih kamu pakai. Kamu gak tau apa berapa ratus ribu kuman yang kamu bawa dari luar? Bebersih dulu sana!” Bentak mama. Aku langsung beringsut menuju kamar tanpa membalas ucapan mama. Saat aku kembali dengan kaos oblong dan hot pants, seisi dapur sudah porak poranda. Bau gosong menyebar kemana-mana. Ini dapur udah kaya diterjang gempa 9 sr. Maha dahsyat. “Bantuin bersih-bersih ya. Itu yang gosong buang aja.” Ujar mama. Aku menurut kemudian mengambil kantong plastik sampah besar. Donat yang gosong banyaknya bukan main. Kira-kira ada 3 loyang donat yang gosong. “Kok bisa gosong sih? Kalau goreng bukannya sebentar aja ya?” Tanyaku. “Mama mau coba pake oven. Soalnya sayang gak pernah dipake. Eh ternyata ovennya rusak, jadilah donat gosong kayak gitu. Mana pesanan lagi banyak.” Mama mengusap peluh dikeningnya. Wajah mama juga ikut-ikutan gosong dan sebentar lagi aku juga kayaknya bakalan ikut gosong karena hawa disini panas banget. “Berapa pesanan emang?” Tanyaku. “Seratusan terus orangnya minta tiap donat di desain beda-beda. Repot banget. Nyesel mama terima pesanannya.” Mama menggerutu dengan bibir mengerucut. Ya beginilah mamaku tingkahnya kadang masih kayak anak-anak. “Ish, gaboleh nolak rejeki gitu mamski. Naikin aja harganya biar afdol.” Jawabku. “Boleh juga tuh ide kamu. Tapi mama tetap bingung nih soalnya mintanya desain super hero.” “Tenang aja nanti aku bantuin.” Berhubung aku juga punya bakat menggambar, jadi mudah saja bagiku untuk menggambar karakter-karakter itu ke atas donat. Aku dan mama kemudian mulai membuat donat kembali. Aku sengaja bikin adonan versi jumbo biar harga yang dinaikkan sepadan. Donat bikinan mama emang tiada dua sih sehingga aku gak heran kenapa banyak orang-orang kalangan atas yang biasanya pengen bikin pesta-pesta besar memilih untuk pesan ke mama. Aku sudah kasih saran supaya mama buka toko kue sendiri. Tapi kata mama buka toko kue seperti itu perlu modal yang besar. Selain itu juga, mama gak mau berpisah sama dapur kesayangannya. Kalaupun nantinya jadi buka toko kue sendiri, mama maunya desain kitchen set harus mirip persis kayak yang di rumah. Nah, itu yang bikin berat ayah karena harga kitchen set itu no kaleng-kaleng. “Jam berapa diambil?” Tanyaku sambil menguleni adonan. Mama melirik jam, “Katanya jam 8 malam soalnya partynya mulai jam segitu. Aduh sempat gak ya?” Mama mengaduh pelan. Aku melirik jam di dinding sudah jam 3 sore. Sedangkan donat yang mama bikin baru 30 donat. Aku berdecak pelan. Ini salah satu kebiasaan mama yang susah buat dibuang. Kalau apa-apa pasti ngerjainnya deadline akhirnya malah bikin stress sendiri. “Yaudah, aku yang hias donatnya mama yang goreng, sempat kok.” Semoga aja sempat. Ayah juga udah kasih saran supaya mama bayar pegawai buat bantu-bantu. Tapi mama menolak karena ada Bi Ijah dan nggak mau mengeluarkan banyak uang lagi buat bayar orang. Akibatnya sekarang kelimpungan sendiri pas Bi Ijah minta cuti karena anaknya melahirkan. “Kamu panggilin Angga dong biar bantu-bantu juga. Dari pulang sekolah tadi di kamar mulu tuh anak.” Aku yang lagi kerepotan mendesah malas, “Mama aja yang panggil. Kan suara mama udah menyerupai TOA masjid.” Ujarku. “Sembarangan!” Mama menggeplak lenganku keras, “Udah cepetan panggil kakakmu.” Aku pun pergi menuju kamar Kak Angga. Belum sempat ku ketuk pintunya tiba-tiba terbuka. Aroma semerbak parfum lelaki mengiringi Kak Angga yang saat ini sudah rapi dengan setelannya. “Apa, De?” Tanyanya. “Rapi amat. Mau jalan gak ngajak-ngajak.” Rajukku. Kak Angga hanya mengusap pipiku dan tertawa pelan. “Temen gue ulang tahun. Biasalah anak muda.” Jawabnya. Kak Angga berjalan meninggalkanku menuju dapur. Aku pun mengikutinya dan mengamit lengannya. “Kok sorean berangkatnya?” Tanyaku. Soalnya party-party anak muda gitu kalau nggak malam ya tengah malam. “Mau nyiapin surprise sama pada dandan duluan soalnya ada dresscodenya.” Ujar Kak Angga sambil mengangkat paper bag. Aku hanya mengangguk-ngangguk saja, selagi dresscodenya nggak aneh-aneh nggak masalah sih. “Jangan minum-minum lagi ya kak.” Pintaku padanya. Kak Angga tersenyum pelan, “Siap!” Singkatnya mungkin malas berdebat denganku. “Ih seriusan kak. Gue gak suka lo bergaul sama teman-teman lo yang sekarang.” Tarikku pada tangannya. Kak Angga pun berhenti dan perlahan-lahan melepaskan peganganku ditangannya. Tatapannya berubah dingin kepadaku, “Jangan suka ikut campur, De. Kita udah sama-sama besar, urus diri sendiri aja." Aku hanya tertegun, dia bukan Kak Angga yang ku kenal. Ia kemudian mengambil langkah menuju dapur bermaksud berpamitan pada mama, “Yah, kamu mah padahal mama mau ngajakin bikin donat sama-sama. Kamu udah jarang lho bantuin mama jualan.” Keluh mama. Kak Angga hanya terkekeh geli dan mencium punggung tangan mama. “Lain kali ya ma, Angga janji.” Jawabnya. “Yaudah hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam.” Kata mama. Kak Angga hanya mengangguk. Kemudian Ia mengambil kunci motor di belakang pintu depan dan menuju garasi. Aku pun bergegas mengikutinya mengabaikan teriakkan mama yang memintaku kembali ke dapur. Aku pun merentangkan tangan di depan Kak Angga sebelum Ia menjalankan motornya. Ia hanya menatapku datar dan seketika aku menelan ludah. “Gue serius kak. Jangan kebanyakan bergaul sama teman lo kalau dia cuman bawa pengaruh buruk.” Lirihku. Kak Angga hanya menghela napas frustasi, “Mau lo apa sih, De? Orang gak ada apa-apa juga.” Ujarnya malas. “Lo berubah, Kak. Semenjak SMA lo jadi sering pulang malam, kadang-kadang mabuk juga, terus-- semenjak kapan lo ngerokok? Gue lihat ada bekas putung rokok di kamar lo. Kalau sampai ayah tau….” “Ya terus lo mau apa? Gue harus jauhin teman gue? Gue harus jadi orang apatis kayak lo?” Sahutnya tajam. Aku terkejut mendengar ucapannya. Kak Angga yang ku kenal adalah orang yang paling lembut. Dia gak pernah sekalipun membentak apalagi berkata kasar kepada orang lain. “Sorry,” Ujarnya pelan, “Dek, gue minta sama lo berhenti ngurusin gue. Gue ini kakak lo. Gue gak harus ngikutin semua perintah lo dan lagi, berhenti masuk sembarangan ke kamar gue. Gue juga punya privasi.” Balasnya. Aku tergagap pelan, “G-gue cuman….” Aduh kenapa mendadak gagu gini sih. “Udah ya teman-teman gue nungguin.” Aku pun menyingkir memberikan jalan pada Kak Angga. Menatap punggung yang perlahan menjauh dengan perasaan yang tak bisa ku deskripsikan.   ***   Aku memasuki rumah dengan langkah gontai dan langsung mengambil tempat untuk menghias donat. Aku masih kepikiran sama sikap Kak Angga yang berangsur berubah. Dulu aku dan Kak Angga itu bagaikan amplop dan surat seperti tak terpisahkan. Tapi, semenjak kegagalan Kak Angga buat masuk SMAN 1 Cenderawasih, dia jadi menjauhiku. Waktu itu jujur saja, aku merasa bersalah karena aku tahu Kak Angga sudah memimpikan untuk masuk kesana. Katanya SMAN 1 Cenderawasih adalah gudangnya para ilmuwan dan dokter, sehingga kalau lulusan situ pasti punya privilege yang besar. Padahal kan kesuksesan tergantung dari pribadi masing-masing. Mau sekolah dimana pun asalkan kamu berperilaku baik dan membanggakan pasti akan sukses kok. Kalau kata mama juga semua orang udah punya garis pantatnya masing-masing. Saat ku tanyakan juga, Kak Angga hanya tertawa dan meledekku bahwa dia nggak kekanakan seperti itu sehingga aku akhirnya tenang-tenang saja. Tapi antara omongan dan realita yang terjadi malah gak sesuai. Kak Angga seperti menjaga jarak dariku. Semenjak itu aku udah mulai merasa ada yang berbeda dari Kak Angga. Cuman waktu itu aku gak mau kepikiran berlebihan karena mungkin dia sibuk. Karena setauku dia ambil banyak ekskul di sekolahnya. Tapi semenjak aku memergokinya pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Aku tahu ada yang gak beres. Dia juga suka marah-marah gak jelas denganku. Dia jadi lebih dingin dan pendiam. Kak Angga yang biasanya paling rajin di rumah, sekarang malah jarang bantuin mama. Anehnya lagi papa hanya diam saja atau mungkin papa yang gak tahu karena papa memang jarang di rumah. “Hei, jangan melamun.” Jentikan jari di wajahku menyadarkanku seketika. Astaga aku bahkan lupa sedang menghias donat. Walaupun hasilnya tetap lumayan sih. Gak kerasa hari sudah berganti malam. Kurang lebih jam 7 lewat donat sudah selesai. Aku dan mama mulai merapikan dapur yang sudah berbentuk abstrak ini. Kok bisa sih pesta ulang tahun untuk anak-anak diadakan jam 8 malam. Itu orang tuanya gak mikir ya jam segitu anak-anak pasti mengantuk. Apa mungkin cuman alibi orang tuanya saja biar mereka yang menikmati pesta. “Ra, nanti anterin ke rumahnya ya soalnya orangnya gak bisa ngambil. Nanti mama tuliskan alamatnya.” Pinta mama. “Tapi aku belum mandi ma. Capek banget mau bergelung di kasur.” Mama hanya berdecak malas. Salah satu alasan juga kenapa mama lebih sering minta tolong Kak Angga karena aku anaknya malas capek. Ini aku punya hati nurani buat bantuin mama karena kasihan aja liat donat yang udah gak karu-karuan tadi. “Yaudah mandi dulu habis itu anter donat. Dekat aja kok naek motor ngengg syutt sampe.” Mama sampai rela memeragakan cara naik motor yang baik dan benar. “Wani piro?” Ujarku. “Pamrih kamu kualat ama orang tua mama sumpahin gak dapat jodoh kamu.” Well aku sih gak khawatir karena aku udah kepalang bucin sama Kim Soo Hyun. Drama My Love From The Star emang lagi hype banget sekarang. Mama pun memberikan 10 ribu ke tanganku. Lumayan lah buat jajan bakso. Aku pun bergegas membawa berkotak-kotak donat dan mengambil motor mama di garasi. Mama benar, alamatnya memang gak jauh dari tempatku hanya beda dua gang dari komplek perumahanku meskipun harus melewati kuburan. Semoga aja gak ada mbak kunti yang nebeng di belakangku. Gak sampai 5 menit aku sudah sampai. Ini bukan kayak pesta anak-anak. Banyak sekali mobil-mobil mewah berjejeran. Rumah ini tampak mewah dengan desain minimalis. Uniknya adalah kolam renangnya terletak di halaman depan sebelah taman, sehingga aku bisa leluasa melihat banyak sekali anak-anak muda memakai kostum super hero. Tanpa sengaja aku melihat Suzuki GSX hitam terparkir di parkiran motor garasi berjejer dengan motor lainnya. Sepertinya aku kenal, tapi ku abaikan saja karena aku tiba-tiba di cegat oleh satpam. “Bawa kartu undangan?” Tanyanya. Satpam yang ku temui tidak seperti di film-film yang bertubuh kekar dan berwajah sangar. Dia malah lebih mirip bapak-bapak kompleks dengan perut buncit, bedanya lebih keren karena memakai seragam biru dongker. “Oh bukan, Pak. Saya cuman ngantar pesanan donat.” “Oh dari Mami Indi ya? Iya dek silahkan masuk aja. Tadi Aden berpesan kalau bisa langsung disusun di etalase yang ada dipojokan itu, Neng. Nanti bayarannya ditambahin.” Aku ingin memprotes namun Ia keburu mendorongku untuk masuk dan mendorong pagar. “Banyak nyamuk, Neng.” Aku hanya mengernyit bingung. Memangnya orang-orang yang ikut pesta disini gak diingetin juga kalau banyak nyamuk. Sudah pestanya outdoor pakaiannya banyak yang terbuka lagi. Itu cosplay superhero atau j****y warung pas. Aku pun berjalan ke etalase bundar yang dimaksud dan mulai menyusun donat satu persatu dengan malas. Mengabaikan tatapan mengejek dari orang-orang sekitar yang menatapku aneh. Huh! Justru merekalah yang aneh pakai baju super hero seperti itu, memangnya mereka bakalan pede kalau pakai begituan ke mall. Masih mending aku dengan piyama dan hoodie kebesaranku ini seenggaknya masih terlihat normal di mata masyarakat. Beberapa remaja lelaki mulai mendekatiku. “Widih donat, nih!” Teriak salah satu remaja itu. Aku hanya meringis saat tangannya tiba-tiba dengan kurang ajar mencomot donat yang ku susun dengan brutal. Seketika ingin menangis melihat susunanku yang akhirnya berantakan. “Jalan ke hawai melewati aspal, hai cewek cantik bolehkah aku mengenal?” Sahut yang lainnya. “Suit suit! Sikat pak haji.” Teriak yang lainnya lagi. “Tumben perawan, biasanya suka janda.” Sahut lelaki yang masih mengunyah donat dengan acak-acakan. Jijik banget aku lihatnya. Aku pun bergegas menyusun donat yang tersisa. Bodo amat lah nggak rapi juga, yang penting aku harus segera keluar dari neraka j*****m ini. “Woy! Jangan ganggu cewek gua. Pergi lo sono!” Teriak seseorang yang tidak ku kenali. Sialan apa katanya tadi? Rasanya aku ingin menampar wajahnya. Bahkan sekarang dia telah lancang merangkulku. Aku berusaha memberontak meskipun usahaku sia-sia karena cengkremannya yang kuat. “Serius cewek lo ini? Udik banget. Turun level lo?” Sahut seorang cewek yang memakai bikini. Cih, dia bahkan salah kostum. Apa perlu aku beliin dia baju obral di pasar. Miskin banget kayaknya sampai gak sanggup beli baju. Lelaki disebelahku hanya menatapnya dingin. Seketika para lelaki yang menggodaku tadi langsung beringsut takut. Sepertinya Ia adalah ketua geng atau apapun itu orang yang berpengaruh di komunitasnya. Lelaki berkostum batman ini langsung melepaskan rangkulannya padaku, “Sorry, gue gak bermaksud apa-apa. Maaf ya temen gue emang rada-rada. Lo pasti gak nyaman.” Ujarnya ramah. Di balik topengnya pun aku bisa membayangkan kalau dia ganteng. Duh jangan terlena Farah, ingat dia orang asing. “I-iya gak papa makasih ya. Maaf juga udah mikir yang enggak-enggak.” Jawabku tergagap. Ia kemudian melihat box-box donatku yang masih berhamburan. Kemudian berjongkok dan mulai menyusun donat di etalase, “Gue bantu ya.” Seketika aku tertegun sejenak. Aku kira satu-satunya cowok yang care di dunia ini cuman Jojo. Ternyata ada spesies makhluk lainnya. Aku pun mengerjap dan menggeleng pelan. Mulai ikut menyusun 100 donat. “Waduh malah bikin repot ya. Nyokap gue emang suka berlebihan kadang, sampe pesan 100 donat gini.” Ujarnya. Oh jadi dia yang ulang tahun toh. Seketika aku ingin mengeluarkan kalimat kebun binatang dihadapannya. Aku nggak pernah berkata kasar sih sebelumnya. Tapi aku sudah berguru dengan Helena dan Jojo jadi aku sudah tahu tekniknya. Tapi aku masih punya adab, belum lagi dia juga ikut membantuku menyusun donat. Meskipun agak kesiangan sih. “K-kenapa lo bantuin gue?” Tanyaku. “Lo gak suka dibantuin? Yaudah deh.” Dia pun tiba-tiba beranjak berdiri. Aku langsung menarik tangannya untuk kembali membantuku. Entah keberanian darimana, meskipun terasa lancing, tapi aku benar-benar nggak sanggup menyusun sendiri. “E-eh bukan gitu...” Ujarku pelan. Ia hanya terkekeh, “Lo lucu.” Ujarnya lagi. Kami pun kembali menyusun donat dengan Ia yang sesekali menimpali candaan. Terus berusaha mencari topik meskipun jawabanku hanya ya dan tidak. Tidak seperti dugaanku, dia adalah orang yang baik dan ramah. Aku jadi teringat perkataan Jojo untuk tidak sembarangan mempercayai orang asing karena dunia itu keras. Menurutku Jojo berlebihan, lihatlah sekarang aku dengan mudahnya menemukan orang baik. Mungkin sudah seharusnya aku mulai membuka diri. “Nama lo siapa?” Tanyanya kemudian. “Farah.” Jawabku ramah. “Kenalin nama gue...” Saat aku ingin menyambut uluran tangannya. Sorak ramai dari yang lain mengejutkanku. “Angga! Angga! Angga! Ayo minum! Woaaahh!” Teriakkan tiba-tiba memekakan telingaku. Aku melihat orang-orang ramai berkerumun di satu tempat. Ada dua orang berkostum superman dan hulk sedang berlomba untuk meminum minuman yang entah apa tapi warnanya sangat aneh. “Mau kesana?” Tawar lelaki disampingku yang bahkan tidak sempat ku ketahui namanya. Tanpa menunggu jawabanku Ia langsung menarikku ke kerumunan. Mataku menyipit karena pencahayaan yang remang-remang. Berusaha mengenali sosok yang sedang digaung-gaungkan untuk memenangkan pertaruhan. Seketika aku membelalak lebar saat mengenal sosok di hadapanku. Kak Angga dengan wajah teler dengan semburat merah di pipinya. Aku mengepalkan tanganku kencang. Aku beranjak maju dan menarik gelas ditangannya lalu melemparnya ke kolam. Para penonton bersorak kecewa, ada pula yang mengejekku upik abu. “APAAN LO b*****t!” Teriak Kak Angga di depan mukaku. Refleks cowok berkostum batman itu sigap menahan Kak Angga, “Jaga omongan lo, Bro. Dia cewek.” Sinisnya. Kak Angga hanya menepis tangannya pelan. “Ngapain lo disini?” Tanya Kak Angga ketus. Mataku seketika memanas. Namun aku mengabaikan air mataku yang mulai mengalir ditemani dengan ejekan yang semakin keras dari orang-orang. Lengkap sudah penderitaanku. Aku pun menarik Kak Angga keluar dari pesta sialan itu. Ia memberontak tetapi karena mabuk Ia pun akhirnya pasrah. Walaupun bahasa kebun binatang tak henti-hentinya dilontarkannya kepadaku. Aku bahkan melupakan donat yang kususun tergeletak dilantai begitu saja juga mengabaikan tatapan bertanya dari cowok itu. Biarlah aku sudah tidak peduli lagi, yang ku pedulikan sekarang hanya bagaimana cara membawa Kak Angga agar tidak ketahuan mama dan ayah. Saat tiba di parkiran motor, Kak Angga langsung menepisku kasar. Aku hampir saja terjerembab kalau saja tidak ada yang menahanku—ah cowok ini lagi. “Jangan ganggu gue sialan!” Teriak Kak Angga. Kak Angga hendak beranjak memasuki rumah lagi, “Ayo pulang! Lo udah mabuk!” Bentakku lalu menariknya menuju motorku. “Ah lo lagi lo lagi. Kenapa sih lo ganggu gue terus.” Bentak Kak Angga tak kalah keras. “Lo keterlaluan, Kak. Lo nggak kasihan sama mama dan ayah kalau tahu anak yang selama ini dibanggakan malah mabuk-mabukkan? Lo nggak tahu gimana perjuangan mama bikin donat supaya dapat uang buat duit jajan tambahan lo itu? Lo bahkan gak peduli, Kak!” Aku menangis sesegukkan. Kak Angga yang biasanya benci melihatku menangis hanya diam tanpa berusaha memelukku atau mencium pucuk kepalaku seperti biasa. Ia hanya menatapku jengah. Sementara lelaki Batman itu masih setia memasang wajah bertanya-tanya tentang situasi yang terjadi. “Buat apa gue peduli sama orang tua kayak mereka. Orang tua yang udah bikin hidup gue hancur.” Kak Angga mulai oleng dan aku sigap menahan tubuhnya agar tidak tumbang—masih dengan tangisanku yang belum mereda. “Ayo kita pulang. Lo udah mabuk parah. Gue bonceng lo.” Ajakku membawa Kak Angga yang sudah mulai tidak sadarkan diri. “Gue anter aja kalian berdua pakai mobil. Takutnya kenapa-kenapa di jalan.” Sela lelaki yang masih setia dengan kostum batmannya itu. Aku menggeleng pelan. “Rumah kita deket kok dari sini. Gue udah bikin hancur pesta lo. Gue minta maaf.” Lirihku. “Hei jangan nangis.” Ujarnya mengusap pipiku pelan yang malah membuatku semakin menangis, “Ck, kayak gini masih mau nyetir motor sendiri?” Tanyanya. Aku mengangguk cepat dan segera menaiki motor. Ia pun sepertinya tidak ingin memaksaku lebih jauh. Kemudian membantu memapah bobot Kak Angga ke atas motor. Kak Angga secara tak sadar reflek memelukku erat membuat perasaan hangat seketika membuncah di dadaku. “Titip motor Kak Angga ya?” Ujarku pelan dan Ia hanya mengangguk. Aku pun meninggalkan pelataran rumah mewah cowok itu. Air mataku sudah mulai mengering namun aku masih bisa merasakan panasnya mata sembabku karena terpaan angin. Kak Angga di belakangku sedari tadi hanya menggumamkan hal yang tidak bisa ku dengar. Sesampainya di rumah aku pun membantunya untuk lewat pintu belakang. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Semoga saja mama sudah tidur. Mobil ayah tidak ku lihat di garasi yang artinya malam ini ayah tidak pulang lagi. Perasaan lega menyelimutiku sepertinya semesta sedang berpihak pada kami berdua. “J-jangan…” Gumam Kak Angga. “Hah? Ada yang sakit, Kak?” “Ayah jahat. Ayah jahat.” Gumamnya lagi. “Kak?” Tanyaku. “Ayah bikin hancur keluarga. Ayah tega bikin hancur kita semua. Jahat, jahat, jahat.” Aku mengabaikan gumaman Kak Angga. Mungkin karena efek mabuk ocehannya jadi tidak jelas seperti ini. Meskipun dalam hatiku ada perasaan gelisah juga. Apa yang sudah ayah lakukan?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD