2

3640 Words
JOJO   Cantik. Satu kata yang pas menggambarkan first impression gue ketika bertemu Farah. Gue pertama kali ketemu Farah saat dia join kita nongkrong di Warteg Serba Ada, walaupun pada akhirnya kita cuman numpang ngopi aja karena duit jajan anak SMP di akhir bulan cuman sanggup beli kopi 3000. Gaya banget kan kita kecil-kecil udah tau ngopi padahal kopi good day doang. Sebenarnya waktu itu si Angga aja yang random banget tiba-tiba ngajak ngopi biar ala-ala anak gaul gitu. Farah ini bukan tipe-tipe pendiam, dia lebih ke sombong sih kalau kata gue. Sudah sekuat tenaga gue kerahkan untuk mendapatkan respon dia. Tapi sepertinya Farah baru belajar ngomong, karena kosa kata yang dia punya cuman ya dan tidak doang. Gue juga males kebanyakan berbasa-basi. Meskipun gue buaya, tapi gue juga gak sudi jadi pengemis wanita. Terlebih lagi waktu itu gue udah punya pacar. Yah, meskipun masih sering sepik-sepik juga ke cewek lain. Gue gak nyangka banget bakalan sekelas sama Farah pas SMA. Ternyata dia anak akselerasi yang artinya membuktikan seberapa pintarnya dia. Meskipun kita satu SMP, gue jarang banget ketemu sama Farah. Bahkan gue gak akan menyadari presensinya di dunia ini kalau aja dia bukan adeknya Angga. Satu hal yang baru gue pahami adalah dia introvert yang tentunya beda banget sama Angga yang pinter gaul sana sini. Setengah semester berjalan di kelas 10 dia masih belum ada teman. Bukannya gak ada yang mau temenin sih, siapa yang gak mau sama cewek cantik dan menurut gue dia salah satu cewek paling cantik di sekolahan, paripurna lah pokoknya. Seandainya dia gak seintrovert itu mungkin udah jadi cewek populer juga. Secara fisik dia punya tubuh yang proporsional alisan gak gemuk gak kurus juga enak banget kayaknya dipeluk—becanda. Bagi gue, Farah itu 10/10 eh 9.8/10 aja deh soalnya kesempurnaan hanya milik Tuhan. Dengan Fisiknya itu banyak banget sebenarnya yang naksir sama Farah. Bahkan Helena sampai gondok sendiri karena mesti jadi kurir buat cowok-cowok yang mau ngasih hadiah ke Farah. Mengingat Farah ini orangnya dingin banget kalau sama orang asing yang membuat nyali cowok-cowok itu seketika ciut. Karena kasihan, gue sama Helena pun ngajak dia berteman. Meskipun kami harus mengerahkan segala usaha, tenaga, dan doa supaya dia seenggaknya ngasih kita respon ‘Hey! Gue mau temenan bareng lo pada’ yang mana membutuhkan waktu berabad-abad. Lalu, dengan bantuan gue dan Helena juga akhirnya perlahan-lahan dia pun punya teman meskipun sepertinya dia gak sudi untuk mengakrabkan diri. Jadi ya kalau kemana-mana pasti ngintilin gue sama Helena. Gue juga peka kalau dia sebenarnya gak mau berteman sama gue dan Helena. Satu hal yang gue tau dari Angga, dia paling anti buat jadi populer. So, kesimpulannya dia takut kecipratan benih-benih famous dari kita berdua. Gak paham juga sih gue sama tuh anak. Disaat orang-orang berlomba-lomba menjadi terkenal, dia malah berlomba-lomba untuk menjadi tak kasat mata. Tapi seiring berjalannya waktu dia jadi menerima kehadiran gue dan Helena dengan syarat gak akan membawa dia ikut-ikut menjadi pusat perhatian juga. Walaupun itu sia-sia karena nyatanya dia dituduh jadi pelakor antara hubungan gue dan Helena. Dude, bahkan ‘tidak akan berpacaran dengan Helena’ menjadi list paling pertama dan doa yang gue panjatkan setiap hari meskipun gue bukan sosok yang agamis alias inget punya Tuhan aja syukur. Mengenal Farah membuat gue menjadi sosok yang dewasa. Entah kenapa setiap kali ngelihat dia bawaannya gue selalu kepengen melindungi. Gue bukannya baper sama dia sebagai seorang lelaki kepada perempuan. Bahkan sama sekali gak terbesit dipikiran gue untuk menjadikannya pacar. Hanya saja, mengingat adek gue yang durhakanya melebihi Malin Kundang membuat gue mendapatkan sosok adik idaman didalam diri Farah. Dia orangnya penurut dan nggak banyak tingkah. Apalagi tatapannya yang berbinar disetiap saat itu imut banget dimata gue. Gemas. Seperti saat ini sesaat setelah mengetahui kalau PR Fisikanya dapat 100. Dia langsung mendatangi gue dengan wajah berbinar berterimakasih. Gemas banget pengin gue gigit. “Makasih banget, banget, banget, banget!.” Katanya dengan nada imut. Gue hanya tertawa cool. Sebagai seorang yang dicap most wanted oleh anak-anak sekolah. Gue gak boleh menunjukkan kalau gue menahan diri untuk gak mengunyah pipi tembem yang lucu itu. Tapi gak lama kemudian, gue mengusap kepalanya gemas. Memutuskan bodo amat lah cool t*i kucing. Meskipun gue ganteng tapi gue sudah membiarkan aib-aib gue tersebar luas karena gue gak ada karakter coolnya sama sekali. Gue juga terheran-heran kenapa masih banyak siswi yang menggilai gue meskipun tau gue udah cocok buat jadi salah satu pasien RSJ. “Gue traktir ya!” Ajaknya kemudian membereskan bukunya sampai tersusun rapi hingga barisan buku itu lurus selurus kencing gue. Gue mengabaikan tatapan bertanya Helena yang rasa penasarannya udah mengalahkan reporter gosip. Farah pun juga kayaknya gak mau repot-repot menjelaskan. Ini sebenarnya persahabatan macam apasih. “Eh, kok Jojo doang ditraktir. Gue enggak.” Helena dengan segala nada merajuk andalannya. Farah cuman meringis ngeri aja. “Oh ini Jojo tadi malam ngasih gue jawaban Fisika. Terus gue dapat 100!” Jawab Farah. Helena melotot kemudian menatap gue minta penjelasan, “Lo kok pilih kasih sih. Gue dapat telor, lihat nih, dapat telor mata sapi mau gue kasih nasi kecap aja sekalian.” “Gue kasihan sama Farah semenjak masuk SMA kadar otaknya malah berkurang.” Gue membalas tenang. Berusaha gak menyulut Helena yang kalau udah debat lisan pasti dapat juara 1 dunia. Farah hanya mendelik ke arah gue ingin memprotes, namun kemudian mengangguk-ngangguk pelan membenarkan bahwa IQnya semakin hari semakin berkurang. “Heh Parkimin! Gue tuh lebih b**o ya daripada Farah. Bener-bener gak bisa diasah lagi. Udah mentok tok tok.” Sahut Helena. “Salah sendiri lo gak telepon gue.” Jawabku santai. “Oh jadi ceritanya kalian teleponan? Malam-malam? Wow ada apa gerangan nih?” Helena terkikik geli. Gue menoyor kepalanya keras sampai dia mengaduh kesakitan. “Tolong simpan imajinasi uwu-uwu lo itu ya, Paijo.” Kesal gue. “Iya nih Helena kebanyakan baca novel menye-menye jadi kemana-mana deh. Udah, udah. Kalian berdua gue traktir pokoknya ya.” Lagi-lagi Farah menengahi kami berdua. Sebenarnya keberadaan Farah ini benefitnya adalah bisa sebagai mediator diantara kami berdua. Walaupun baik gue maupun Helena sama sekali gak berniat untuk berdamai. “Nah! Tau aja lo cara meredam amarah gue. Es teler I’m coming.” Gue hanya mendesah malas melihat kepergian Helena yang kurang ajar itu. Bahkan yang rencananya bayarin es teler aja masih bergeming di tempatnya sambil tertawa cantik. “Ayo.” Ajak gue yang hampir aja refleks menggenggam tangannya. Maklum jiwa buaya darat gue masih mendarah daging hingga DNA. Dia hanya mengangguk pelan menampakkan senyum andalannya. Duh lucu banget sih adik kesayangan gue. *** Gue berjalan menyusuri lorong yang tengah diisi oleh keramaian dari beberapa siswa. Ada yang lagi gosip, main kejar-kejaran, bahkan ada juga yang lagi mojok. Cacing-cacing di perut gue pasti lagi tidur nyenyak akibat rasa kenyang karena seporsi batagor ditambah lagi dengan label gratis membuat mood gue bagus banget. Meskipun gue anak orang kaya, gue juga masih memiliki jiwa-jiwa miskin yang terselip diraga gue. Jadi kalau ada yang traktir langsung gas ngeng. Mungkin ini juga karena didikan dari mommy dan daddy yang super duper hemat. Terutama daddy yang dulu sempat hidup susah saat masih kecil karena keluarganya dilanda kebangkrutan. Kebiasaan foya-foya saat masih punya uang membuat harta mereka ludes habis-habisan. Makanya gue bisa membayangkan berapa jumlah nol di rekening bank daddy, saking seringnya dia nabung dengan penghasilan yang luar biasa. Gue pun memutuskan untuk berjalan sendirian mengitari sekolah tanpa dayang-dayang gue. Karena gue berencana untuk modus-modus ganteng ke anak kelas 10. Gue harus memperluas kancah pergombalan ke dede gemes tanpa terkecuali. Semuanya harus terpapar, harus melihat pesona gue pokoknya. Percuma punya wajah ganteng kalau gak bisa dimanfaatkan dengan baik, mubadzir.  Gue memasuki koridor kelas 10, bisa gue rasakan tatapan memuja dari para degem ini. Bukannya hiperbola ya tapi gue beneran lihat sampai ada yang ngeces menatap kadar ketampanan gue. Gue hanya terseyum cool meskipun dalam hati gue menahan geli. Belum aja mereka lihat aib-aib gue yang sengaja dikumpulkan Acil bahkan sampai repot-repot dimasukkan ke dalam flashdisk kesebar. Jangan sampai lah, entar gagal misi permodusan gue. Seenggaknya biarkanlah gue menggaet setidaknya 50 degem dulu buat gue jadikan pacar yang akan berakhir menjadi mantan. Jadi, gue juga gak kalah rekor dari Helena. Gue bersiul sembari memasukkan kedua tangan gue ke dalam kantong celana. Biar karisma gue semakin tajam. “Hai kakak.” “Ganteng banget sih!” “Aduh! Gue mimisan” “Kiw kiw kakak ganteng sudah ada pawangnya belom?” Gue tersenyum penuh kemenangan mendengar beberapa pujaan histeris yang dilontarkan siswi-siswi kelas 10. Gue hanya balas mengedipkan sebelah mata gue bermaksud menggoda. Membuat para degem itu bersorak histeris. Meskipun dibelakang mereka para cowok-cowok udah memasang tampang ngajak gelut ke gue. Halah mana berani mereka sama kaka kelas, bisa-bisa gue jadiin bubur ayam semua tuh mereka kalau berani ngelawan gue. Baru aja gue menemukan satu target, tiba-tiba lengan gue digenggam erat sama seseorang. Gue mengernyit heran seolah-olah berkata ‘Siapa lo?’ namun anehnya cewek itu malah memasang tampang cemberut yang bikin gue mual. Sumpah ini cewek seragamnya kurang bahan banget, roknya pendek hampir memperlihatkan setengah pahanya, belum lagi bajunya yang ketat itu bikin gue sesak sendiri ngelihatnya. Itu d**a udah tumpeh-tumpeh kemana-mana woy. Jangan lupakan make upnya yang super duper menor itu. Udah mirip banci Taman Lawang. “Sayang kok kamu gak ngabarin aku sih? Udah 3 hari loh kamu hilang kabar.” Ucapnya dengan nada manja. Waduh kalau panggilannya udah sayang gini bisa dipastikan dia salah satu pacar gue. Tapi yang mana ya? Pacar ke berapa nih? Sissy? Putri? Marina? Benar-benar t***l nih gue. t***l karena lupa mutusin maksudnya. “Eh? Halo, apa kabar? Engg…” Sapa gue sembari menggaruk kepala. “Tasya!” Teriaknya kesal, “Ih! Kamu aneh banget sih. Jangan-jangan kamu lupa ya punya pacar secantik aku?” Cewek itu hanya terkikik geli. Iya bener gue lupa kalau punya cewek modelan ondel-ondel kayak lo. Tapi gue urungkan karena masih punya hati nurani. Enggak sih lebih tepatnya gue takut kena hajar aja, soalnya gue hapal banget tipe cewek gini tu tipe bar-bar yang biasanya jadi peran antagonis di sinetron-sinetron emak gue di rumah. “Wah iya gue sibuk banget.” Gue jawab seadanya. “Sibuk apa sih? Perasaan basket lagi gak ada turnamen kan.” Balasnya. “Wah gue sibuk tugas. Banyak banget tugas gue. Haha.” Gue sibuk menyelesaikan tugas membuat si kodok Zuma kenyang. “Sekali-sekali kita jalan dong. Temenin aku belanja ya hari ini? Aku bosen sama koleksi sepatu aku. Mau cari suasana baru. Mau ya?” Bujuknya. Halah bilang aja lo mau manfaatin duit gue. Emangnya gue sugar daddy lo apa seenak jidat minta jajanin. Fix banget ini mah harus secepatnya gue putusin bisa bangkrut dan hidup melarat gue. Mana belanjaannya pasti gak kaleng-kaleng. “Sorry gue gak bisa. G-gue…adek gue kena cacar! Iya! Jadi gue harus merawat adek gue yang tercinta supaya cacarnya sembuh.” Anjir dari sekian banyak alasan kenapa harus cacar sih yang bertengger di otak gue. Si Pasya eh Tasya langsung membolakan matanya. “C-cacar berarti kamu bisa ketularan dong. Iyuhh!! Sana-sana jangan deket-deket aku! Hush-hush.” Dia langsung menjauhi gue. Hell, yang dari awal mepet-mepet kan dia kenapa jadi gue yang diusir. Tapi bodo amat lah yang penting gue terbebas dari jeratan nenek lampir. Gue pun mengacungkan jempol ke arahnya kemudian dengan cuek berjalan meninggalkan si Tasya-Tasya itu. Mulai melancarkan aksi modus sembari memancarkan kegantengan gue yang tiada tara. Sial aromanya si Tasya masih ke hirup dihidung gue walaupun kita udah jauh sejauh 1 meter. Itu dedemit kayaknya pakai parfum segede gentong karena baunya menyengat banget. “Eh kalian jauh-jauh dari si Jojo! Dia ketularan cacar!” Teriak Tasya secara tiba-tiba yang tentu saja membuat gue gelabakan. Sontak aja degem-degem langsung pada berlarian menjaga jarak dari gue. Anjir si Tasya! *** Gue memasuki kelas dengan tampang lesu. Gagal sudah rencana gue menggaet dede gemes gara-gara dedemit itu. Kalau aja dia cowok udah habis gue jadiin keripik singkong tuh anak. Beban hidup masyarakat banget. Seperti biasa suasana kelas gak kondusif. Gelar kelas 11 IPA 1 hanyalah gelar tanpa arti. Aslinya mah kita mana ada mencerminkan kelas unggulan. Rata-rata cocok jadi pasien RSJ semua. Helena dan Acil udah duet maut di depan kelas bermodalkan botol Asua dan kursi guru sebagai gendang. Gue heran bakat nyanyi Helena turun darimana. Suara dia fals banget anjir. Bahkan suara monyet terdengar lebih merdu ditelinga gue. Hal yang paling aneh adalah kami semua menikmatinya setiap hari tanpa ada yang protes. Mungkin karena terhibur setelah melalui pergulatan yang panjang dengan jam pelajaran. Meskipun terhiburnya bukan karena suaranya yang merdu nan syahdu sih. Gue pun memutuskan untuk duduk dibangku Helena dan mengambil botol minum berwarna pink. Centil banget sih Helena botolnya warna pink gini mana gambar kuda poni lagi. Gue meneguk air bening yang langsung mengaliri tenggorokan gue. Rasa segar langsung memadamkan kobaran api di dalam diri gue karena tragedi cacar sialan. Kalau gue boleh review ini air rasanya enak banget ada manis-manisnya. Terus dingin gitu kayaknya baru habis dari kulkas. Menyegarkan dan memiliki aroma khas pegunungan, selain itu…. “Hei! Air minum gue kenapa lo minum!” Teriak seseorang disebelah gue. Gue menoleh mendapati wajah Farah yang udah kesal sembari melipat kedua tangannya di d**a. Gue cuman nyengir tanpa rasa berdosa. “Sorry gue gak tau hehe.” Balas gue. “Gak mau tau lo harus ganti 5 teguk air tadi.” “Baru aja tadi dermawan sekarang udah balik pelit lagi.” Sinis gue. “Biarin wlee.” Farah menjulurkan lidahnya mengejek gue. Gue hanya tertawa dan mengacak-ngacak rambutnya gemas. Gak lama Helena kemudian datang sambil ngos-ngosan. Kayaknya barusan itu konser super meganya dia di SMAN 1 Cenderawasih. Helena langsung ambruk di lantai kemudian mengambil botol minum pink bergambar kuda poni. “Ih! Helena minum gue kok diminum juga sih!” Kesal Farah. “Haus banget gue. Kotak suara gue kayaknya udah kayak kaset rusak.” Ucap Helena. Emang ni anak nggak ada kesadaran dirinya, jangankan konser lima lagu, baru satu bait aja udah berdengung kuping gue dengarnya. “Gak mau tau ganti 10 teguk yang lo minum.” Sinis Farah. “Gile lo beneran ngitung tegukannya Helena?” Tanya gue takjub. Kelewat rajin buat hal-hal gak penting giliran ngerjain Fisika aja mager. “Pokoknya hutang ya lo berdua.” Balasnya dengan menunjuk-nunjuk gue dan Helena. “Iya-iya ntar gue ganti. Palingan berapa sih Asua tiga rebu doang.” Helena mengibas-ngibaskan tangannya lelah. Gaya bener tuh anak, orang makan aja sering minta bayarin. “Woy! Woy! Si Jojo kena cacar! Menjauh klean semuah!” Teriak Nino si rambut keriting, salah satu biang gosip di sekolah yang entah datangnya dari mana. Semua murid sontak menengok ke gue dengan pandangan jijik dan takut. Gue memejamkan mata menggeram emosi. Sial, lambenya Tasya cepet banget ngalahin kecepatan turbo. “Eh enggak anjir jangan asal ngomong lo!” Teriak gue tak terima. “Gue tau dari sumber terpercaya. So pasti no hoax!” Helena langsung menarik tangan Farah, “Farah jangan deket-deket sumber penyakit!” Ujarnya. “T-tapi itu…tadi lo minum botol bekasan Jojo.” Balas Farah. “HAH! DEMI APA!” *** Bel jam pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah melalui hari buruk yang panjang dan gue disuruh duduk di pojok belakang sendirian. Gue memutuskan untuk ngejar Helena dan Farah yang udah lari terbirit-b***t ke parkiran sepeda yang mana parkirannya jauh banget dari parkiran tempat motor gue berteduh. Selepas pengumuman gosip dari si Nino bangsul, gue langsung dimintai klarifikasi. Padahal gue udah menjelaskan bahwa itu cuman bercandaan, bahkan gak ada gejala cacar sedikitpun yang harusnya bisa mereka lihat pakai mata kepala mereka bahwa gue sehat bugar. Tapi memang ya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Orang baik akan selalu terdzalimi. Eh, tapi kan gue b******k ya kok terdzalimi juga. Gue melihat Helena udah siap di sepedanya dengan Farah duduk diboncengan. Gue langsung mencegat mereka berdua. “Heh minggir lo! Gue masih mau punya masa depan.” Teriak Helena. Gue hanya memutar bola mata malas. “Tega bener lo sama gue. Lihat nih gue sehat masih waras. Lebih waras dari lo.” Kata gue. Helena mendelik, “Sakit-sakitan masih sempet aja lo menghina gue. Awas! Gue gak mau ketularan cacar. Gue ada ngedate sabtu ini.” “Gue traktir deh!” Tawar gue setengah hati. “Bisa bayar berapa lo?” Tantang Helena. “Sepuas lo dah.” Ujar gue malas “Sip, kebetulan gue lagi kepengen…” “Ih masa baru disogok traktiran lo luluh sih.” Keluh Farah dibelakangnya. “Sorry, Far. Untuk masalah gratisan jiwa-jiwa murahan gue langsung menguar ke permukaan.” Kata Helena. “Emangnya lo gak mau ditraktir?” Tanya gue. “Em,” Farah berpikir sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk kepalang traktiran aja mikirnya keras banget.  “Oke deh kalau gitu. Gue milih jadi murahan aja kalo gitu. Mumpung gratis, hehe.” Gue hanya melongo. Farah ini beneran oon atau pura-pura oon ya. Gue meminta mereka berdua menunggu gue di depan gerbang sekolah. Seperti yang gue bilang, parkiran motor sama parkiran sepeda itu jauh. Entah apa yang ada dipikiran arsitek yang desain sekolahan ini. Parkiran sepeda di taroh di belakang gedung kelas sepuluh. Sedangkan parkiran motor di seberangnya lapangan tapi lebih mendekati gerbang. Membuat sebuah diskriminasi secara tidak langsung antara si miskin dan si kaya. Meskipun nggak semua yang pakai sepeda orang susah sih, contohnya aja Helena dan Farah, tapi emang kebanyakan orang yang nggak mampus beli kendaraan. Mana ini lapangan bola luas banget lagi, seandainya muat di keranjang Helena udah nebeng kali gue. Gue pun mengiringi sepeda Helena. Gue gak pernah kecewa sih sama pilihan Helena karena biasanya apa yang dia pilih semua orang bakalan suka kecuali Sushi Tei kemarin karena gue lagi pengen ayam bakar waktu itu, 100 deh buat Farah. Gak sampai 15 menit kita sampai di warung kecil bertuliskan Bakso Ayam Jago. Maksudnya ini baksonya dibikin dari ayam atau pelayannya kaya ayam ya. Sempat-sempatnya gue kepikiran hal gak penting kayak begitu. Ya maklum kadang suka random sendiri. Kayaknya gue lebih oon daripada Farah maupun Helena. Kita pun duduk setelah memesan bakso yang super banyak itu. Helena benar-benar memanfaatkan kata ‘traktir’ dimana dia langsung request versi jumbo termasuk dengan es jeruknya. Surprisingly, yang jualan ternyata beneran mirip ayam. Jambulnya tinggi banget mengalahkan jambul khatulistiwa ditemani outfit merah berpadukan hitam yang udah siap berkokok. “Jadi lo mau ngejelasin apa?” Tanya Helena to the point. Gue pun langsung menjelaskan dari A sampai Z tanpa terlewat sedikitpun. Dari niat b***t gue yang mau modus-modus manja ke dedek gemes sampai kepada tersebarnya gosip kalau gue kena cacar. Farah langsung tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul Helena sampai mengaduh kesakitan. Cewek nih gak bisa apa ubah kebiasaan kalau ketawa gak usah pake kekerasan. Mana humornya anjlok banget lagi. “Btw Tasya yang mana sih?” Tanya Helena lagi. Gue juga ikut bingung. Emang Tasya ada berapa sih di dunia ini. “Loh emang Tasya ada banyak?” Tanya gue balik. Helena hanya mengernyit bingung. Loh, loh, loh ini opo toh. “Setau gue ada dua yang satunya real Tasya yang satunya nama panggung.” Jawab Helena kemudian nyemilin bawang goreng. Sungguh kasihan hamba Tuhan yang satu ini, cemilannya miskin banget, “Kalau yang real Tasya dia orangnya bahenol anggota cheerleaders juga, kalau yang nama panggung aslinya Jubaedah biang gosip juga satu circle sama Nino.” Lanjutnya panjang lebar kali tinggi. “Jubaedah ke Tasya jauh banget. Kalau nama panggilan kan paling enggak ada nyantol dikit.” Balas gue. “Nah lo gak tau kan kalau si Jubaedah ini suka nyanyi di panggung hajatan. Gue berguru sama dia. Katanya biasanya penyanyi dangdut suka pake nama panggung gitu. Biar beken kali ya.” Balas Helena masih setia nyemilin bawan goreng yang ternyata udah habis setengahnya. Sekarang gue ngerti dari mana asal usul suara kaset rusak Helena ternyata dia salah berguru.  Selain itu, deskripsi dari nama Tasya di imajinasi gue adalah sosok yang imut bukannya biduan yang berusaha menggoda abang penonton. Si Jubaedah salah strategi nih. “Nah kalau Tasya yang ngakunya pacar gue ini dia bahenol dan biang gosip juga.” Balas gue kemudian ikut nyemilin bawang goreng juga. Wah enak ternyata. “Masa pacar sendiri gak tau.” Farah ikut menimpali. Tapi gak ikut nyemilin bawang goreng. “Maklum pacar gue cuman satu (setiap tikungan ada).” Gue terkekeh, “Eh pokoknya kalian kasih ilmu ke gue lah gimana jauhin si Tasya Tasya ini. Mampus kehidupan gue kalau ada dia mulu” Lanjut gue. “Biar pinter?” Tanya Farah. Gue dan Helena mendesah malas. Helena mengusap kepala Farah pelan kemudian mengarahkannya supaya lanjut fokus nonton TV aja. Meskipun TVnya b***k banyak sarang semutnya. “Gue ogah ikut campur ah. Terakhir kali gue ikut campur. Wajah gue yang kecantikannya mengalahkan Miss World ini langsung porak poranda gara-gara mantan lo dulu.” Kata Helena. Gue mengalihkan pandangan ke Farah yang betulan fokus banget nonton TV yang lagi menampilkan berita perselingkuhan artis. Lama gue memandangi wajahnya yang polos situ. Farah masih belum menyadari kalau gue sedari tadi memandanginya bak pemandangan di puncak gunung Everest, indah banget. Tapi kenikmatan itu langsung sirna saat jari-jari lentik yang kukunya tajam kayak nenek sihir itu mendadah-dadah di muka gue. “Jangan sekali-kali bawa-bawa Farah ya. Awas aja, lo yang gue hajar.” Helena menunjukkan kepalan tangannya ke arah gue. Gue pun hanya memasang senyum peace ndoro. Kembali melihat ke arah Farah yang menatap gue balik dengan senyumnya yang adem. Aduh kalau bukan adeknya Angga udah gue sikat nih. Gue emang gak konsisten banget mau nganggap adek tapi terlalu sia-sia kalau cuman buat kakak adek zone. Tapi gue juga gak setega itu buat main-main sama Farah karena gimana pun gue juga punya rasa sayang ke dia. Sebagai seorang kakak dan teman tentunya. Gak lama kemudian bakso yang kita pesan pun datang. Tentu saja acara makan bakso si ayam jago ini gak mungkin anteng, selalu ada aja candaan yang gue dan Helena lontarkan. Gue benar-benar menikmati moment seperti ini. Kabahagiaan bersama sahabat yang gak akan bisa dibayar dengan apapun.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD