1

3381 Words
FARAH  "Asolole JOS!!" Fals. Itu yang kupikirkan saat masuk ke kelas. Pagi ini terlalu gaduh padahal di jam pertama ada ulangan matematika. Seperti biasa, setiap pagi ada duet maut antara Helena dan Acil sebagai akang gendang. Helena biasanya konser di depan kelas dengan lagu yang sesuai suara hatinya. Firasatku mengatakan—mungkin pacar Helena kali ini selingkuh. "Udah udah, Cil! Capek gue. Suara gue yang serak basah menggoda ini minta ditidurin dulu." Kata sang biduan—eh Helena. "Jo, madu tiga hayuk." Ajak Acil. "Sikat Pak Ustadz!" teriak Jojo Aku mengambil earphone dan menelungkupkan kepalaku di atas meja. Lelah sekali kakiku. Aku terpaksa harus berlari dari halte menuju gerbang karena bel tanda masuk yang sudah berbunyi. Tiba-tiba saja ban sepedaku bocor karena menginjak paku di perjalanan tadi, untung saja bocornya tepat di depan bengkel kecil, sehingga aku tidak perlu menuntun terlalu jauh sepedaku. Walaupun sedikit curiga juga sih kalau orang-orang bengkel itu yang iseng meletakkan paku disana. Sekarang kan emang lagi heboh-hebohnya paku bertebaran di jalan, katanya sih pelakunya kebanyakan tukang bengkel yang sengaja menebar di jalan agar mendapatkan pelanggan. Aku bahkan tidak sadar Helena—sahabatku sudah berada di depanku mengoceh tidak jelas. "HEH! MARKONAH!" teriak Helena yang membuatku berjengit. "Dari tadi gue curhat lo gak dengerin gue?" Matanya melotot seperti siap keluar dari kandangnya. Aku hanya menatap malas pada Helena yang lagi mode lebay gini. "Gila lo, ludah gue udah nabung sampe bebusa, untuk aja gak muncrat. Bisa mandi ludah kali lo." Tuh kan drama banget. "Apaansi Hel." Ujarku malas. Helena merubah mimik mukanya menjadi lesu. Tak lupa sembari menyelipkan tangannya ke bungkus kuaci teman sebangku ku. Baik keadaan galau sekalipun tak menyurutkan kelakuan Helena yang suka nyolong makanan temannya. "Pacar gue selingkuh dan gak ada kabar sampe hari ini. Ntar liat aja kalo ketemu, gak bakalan lagi dia jalan pake kaki tapi pake udel." Gerutunya. "Lo kan biasanya juga tukang selingkuh?" Heranku. "Justru itu. Dia sudah menodani pencapaian perselingkuhan gue. Harusnya kan gue yang selingkuhin dia, harga diri gue retak coy! Harusnya gue udah dapat Guinness World Record atas pencapaian wanita terbanyak berselingkuh. Tapi si k*****t itu malah menghalangi impian gue. Kan dosa ya? Semoga dia masuk neraka karena udah menghalangi cita-cita gue." Jelas Helena panjang lebar. Aku hanya geleng-geleng kepala. Seharusnya memang aku tidak perlu mendengar apa-apa darinya. Berteman dengan Helena sebenarnya membuang pernapasanku sia-sia. "Gue ada kenalan cogan. Dia tetangga gue pekerjaannya dokter dan Chinese namanya Budi." Tiba-tiba teman sebangku ku datang menginterupsi. Aisyah si perempuan berhijab ini covernya anggun seperti namanya itu tetapi percayalah itu hanya ilusi semata. Kenyataannya dia satu spesies sama Helena. "Loh Chinese tapi nama pribumi?" Tanyaku. "Ya, suka-suka mak bapaknya lah. Kayak bantuin bikin aja lu." Sela Helena. "Biar namanya Budi tapi rumahnya paling mewah di komplek gue. Gedong banget, bahkan pahalanya Helena gak ada apa-apanya dibandingin rumah dia." "Setidaknya dosa gue lebih besar daripada rumah dia!" ketus Helena tak lupa sambil menggigiti kulit kuaci yang habis dimakannya. Dia sangat suka dengan kulit kuaci, katanya lebih kaya rasa daripada kuacinya alias asin-asin sedep. "Yaudah pin BB mana." Aisyah pun memberikan pin BBM dari si om dokter tetangganya. Aku percaya tidak percaya sih sama Aisyah. Terakhir kali dia ngenalin cowok ke Helena ternyata adalah preman Tanah Abang. ‘Tuk!’ Botol berisi air berwarna kuning itu mendarat di kepalaku. Aku tak perlu bertanya-tanya siapa pelakunya. Pasti dia—"Sorry, Far. Gue nggak sengaja. Eh anjirr muke lu jelek banget kalo lagi esmosi gitu, benyek banget anjir." Ucapnya sambil mengusap-usap kepalaku, segera ku tepis tangannya. "Jojo! Lo hobi banget sih gangguin Farah! Gue tau ya lo sengaja ngelempar botol. Caper banget lo kutu kuda!" bentak Helena. "Sorry-sorry gue gak sengaja. Tanggung jawab lu, Cil!” Protesnya. Jojo menunjuk-nunjuk Acil yang saat ini sedang memasang mode memohon, “Ampun-ampun, kalian jangan disitu makanya.” Kata Acil. Aku mendelik tak terima, “Dih, orang ini bangku gue, masa gue disuruh pindah.” Aku mematikan musik yang masih melantun indah di telingaku. Kelas semakin ramai karena sebentar lagi jam masuk pelajaran pertama akan dimulai, aku pun mempersiapkan buku dan peralatanku, beriap-siap untuk memulai kuis matematika. Sebenarnya aku gak belajar sih, seperti biasa rumus-rumus itu hanya sekedar masuk ke mataku dan memantul keluar, gak masuk ke dalam otakku sama sekali. "Ih, jijik banget sih air minum lo. Kuning banget lagi, dehidrasi lo?" Helena mengangkat botol minum Jojo dengan ekspresi jijik. Aku melotot menatap Jojo yang kini terlihat salah tingkah. Sepertinya aku harus keramas kembang tujuh rupa untuk menghilangkan najis di rambutku, karena seingatku, botol minumnya tidak tertutup rapat sehingga airnya sedikit muncrat ke rambutku. "Eh, nggak ya. Jangan salah paham, Ra. Ini tuh kuku bismillah energi! Cium aja baunya." Pelototnya tajam kepada Helena. "Ewhh," ujar Helena memasang muka jijik. "Mendingan gue nyium bangkai mayat lo, Jo." Well, sepertinya itu juga bukan opsi yang tepat sih. Aku pun mengabaikan keduanya yang masih saja berdebat. Jojo masih saja meladeni Helena yang entah kenapa pembahasan mereka semakin absurd. Seketika seisi kelas hening memperhatikan Helena dan Jojo yang mulai adu mulut, tapi jangan sampai berujung gelut. Sebenarnya alasan keheningan yang terjadi bukan karena mereka, tetapi karena kedatangan seseorang tepat dibelakang mereka. "Jojo! Helena! Jangan ikut kuis saya, kalian keluar sekarang!" *** Helena memasang wajah bete saat mendatangiku. Saat ini kami ada di kantin untuk jam istirahat pertama. Jojo berjalan di belakangnya sengaja menubruk punggung Helena dengan santai. Aku hanya diam sembari menyaksikan pertarungan keduanya yang akan segera dimulai. Memang memesan bakso dan es the bukanlah pilihan yang salah. “Mati lo, Jo! Matiii!” Helena sudah naik ke atas punggung Jojo seraya menarik-narik rambut Jojo. Keduanya saat ini sudah menjadi pusat perhatian siswa siswi. Jojo hanya tertawa lebar. Dengan kondisi seperti itu, Ia pun melangkah menuju mejaku, dengan Helena berada di punggungnya. “Gara-gara lo gue gak ikut kuis. Jancokk! Gue jadi gak bisa buka contekan!” Kata Helena. “Ya, makanya gue minta kuis susulan besok di ruang guru. Jancok rambut gue!” Jojo berteriak kesakitan. “Anjir lo, Jo. Lo mah enak pinter matematika gue mah apa, bisa-bisa gue muntah kalo gak pake contekan.” Helena masih bersemangat menjambak rambut Jojo dengan ganas. Aku hanya terkekeh ringan. Berteman dengan Jojo dan Helena tidaklah seburuk pemikiranku saat SMP. Dulu, aku hanya mengenal mereka sekedar tau nama. Meskipun notabenenya mereka adalah sahabat dekat Kak Angga—kakakku, kami jarang untuk sekedar ngobrol dan bertegur sapa, lebih tepatnya aku yang sengaja menghindari mereka. Siapa yang tidak mengenal Geng Cancut—istilah ciptaan Helena untuk grup persahabatan mereka yang bisa dibilang gak ada unsur kerennya sama sekali. Meskipun begitu, mereka menjadi idola siswa siswi di sekolah berkat paras dan prestasi yang gemilang. Namun, sejak salah satu sahabat mereka Kak Yoga meninggal, aku jarang melihat mereka berkumpul bersama lagi. Karena biasanya rumahku selalu menjadi markas mereka saat masih akrab. Aku berusaha mengerti bahwa itu adalah bagian dari siklus hidup. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Tidak bisa mengharapkan bahwa jalinan relasi dengan seseorang akan selalu menjadi rutinitas kita hingga tua. Ada kalanya kita harus bersiap jika suatu saat nanti harus menyesuaikan diri dengan orang baru. Seperti aku saat ini. Siapa yang menyangka dengan program akselerasi yang aku dapatkan, aku akan menjadi sahabat Helena, dan menjadi akrab dengan Jojo. Padahal, dulu aku sangat menghindari mereka. Setiap kali mereka berkumpul di rumahku, aku akan mengurung diri di dalam kamar. Selain karena sifatku yang tertutup, aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian. Menjadi adik Kak Angga semasa SMP dulu menjadi beban tersendiri bagiku, terutama karena orang-orang kerap kali membandingkanku dengan Kak Angga. Kak Angga yang berprestasi menjadikan jiwa ambisiusku tumbuh dengan sendirinya. Tidak berniat ingin menarik atensi, hanya sekedar ingin pembuktian, bahwa salah jika mereka membandingkanku dengan Kak Angga. Namun, seiring masuk SMA jiwa-jiwa ambisiusku menurun. Aku memiliki hipotesis terhadap beberapa hal. Pertama karena tidak adanya Kak Angga sehingga tidak ada yang suka membanding-bandingkanku dengannya lagi, sehingga aku tidak perlu khawatir dengan pandangan orang terhadapku. Kedua, karena aku bergaul dengan Helena yang lemah sekali di bidang akademik sekalipun Ia merupakan ketua cheerleaders. Ketiga, yah mungkin bukan hanya aku yang merasakan jenuh, seiring bertambahnya jenjang pendidikan, semakin tidak peduli kamu dengan nilai asalkan tidak remedial. Helena dan Jojo menghentikan pertikaian konyol yang diciptakan keduanya dengan perjanjian traktiran dari Jojo. Helena mengangguk semangat kemudian duduk di sebelahku. Jojo tersenyum dan mengusap kepalanya lalu pergi memesan makanan untuknya dan Helena. How cute, melihat interaksi keduanya, aku tidak heran jika banyak yang menjodohkan mereka sebagai sepasang kekasih. Ketua cheerleaders dan ketua basket as always selalu menjadi pasangan idola di novel-novel picisan. Tak sadar baksoku telah tandas, aku pun menyeruput the esku tak bersisa, sekarang musim kemarau sehingga hari sangat panas sekali. Pesanan Jojo dan Helena belum datang, sekarang banyak sekali siswa yang mengantre untuk makan es teler Mama Loren. Helena semakin menekuk wajahnya, “Jojo lelet banget sih. Nyesel gue nyuruh dia mesen. Gak ada bakat nyerobot tu anak.” Gerutunya. Helena kemudian menyeruput sisa-sisa es batu yang sudah mencair di gelasku. Aku pun menatapnya iba, saking pengennya minum es. Aku menoleh mendapati Jojo yang masih berdesak-desakkan, tak tega aku pun mendatanginya. Bau apek langsung menyengat hidungku, Peluh Jojo penuh dan rambutnya berantakan, menambahkan kesan hot dari seorang badboy. Aku pun segera menggelengkan kepala mengenyahkan pemikiran kotorku yang tidak pantas. Aku menepuk bahunya dan Ia menoleh, sumpah sekarang mimiknya kayak pengemis di jalanan. “Udah gue aja.” Kataku kemudian memasang posisi mengantre, meskipun itu tidak perlu karena keadaan sangat gaduh sekarang. Jojo memasang wajah protes, “Ah, jangan dong. Gak gentle banget gue ngebiarin cewek secantik lo ikut berburu es teller.” Jojo mengerling menggoda. Aku hanya memutar bola mata sebal. Bisa-bisanya Jojo masih mencuri kesempatan untuk menggodaku, “Berhubung gue lagi kenyang, gue gak berminat untuk nyolok mata genit lo itu pake kuku gue.” Balasku malas. Jojo hanya terkekeh mengusap kepalaku gemas. Aku menepis tangannya segera, tidak ingin membuat orang salah paham. Mencegah tingkat kebaperanku tumbuh, kalau untuk masalah cowok ganteng aku gak bisa mengelak soalnya sekalipun orang itu adalah Jojo. Aku memberi kode Jojo untuk segera duduk tetapi Ia bergeming, “Yaudin lah sama-sama nunggu aja kita disini.” Katanya. Aku gemas sendiri dengan tingkahnya, pantas saja dari tadi gak kebagian es teller. Dia memang ikut antre tapi kerjaannya hanya berdiri diam diantara desakkan para siswa lainnya, gak berniat sekalipun untuk ikut berteriak atau seenggaknya mengambil start untuk maju ke depan. Aku pun segera maju ingin masuk ke dalam kerumunan, tetapi Jojo segera menarik tanganku sehingga aku langsung menubruk dadanya. Aku yang tersadar pun buru-buru menjauh sehingga kakiku tersandung oleh kaki salah satu siswa dan berakhir jatuh, dan lagi-lagi harus berterimakasih karena Jojo sigap memegang lenganku. “Jangan masuk kesitu. Noh liat zombie-zombie masih pada rebutan. Udah loh mah kecil, ntar keinjek lagi, makin kerempeng lo.” Ujarnya sembari mengusap tanganku. Mungkin dia gak sadar melakukannya, itu refleks karena aku hampir saja sekarat jika nekat masuk ke dalam kerumunan yang katanya zombie itu, tapi itu gak bagus untuk kesehatan jantungku, maklum aku gak pernah bersentuh-sentuhan sama cowok selain Kak Angga dan Papa, jadi rasanya agak gimana gitu. “Lo sih gak ada inisiatif buat maju, noh lihat zombie yang di sebelah sana tatapannya udah tajam. Sampe es batu gue aja di emut ama dia.” Aku menunjuk presensi Helena dengan daguku. Jojo berjengit melihat Helena yang seolah-olah mengeluarkan tanduknya, siap menerkam Jojo yang kelewat lamban. Sebenarnya dia itu niat gak sih traktir Helena es teller? Helena pun mendatangi kami, langsung membelah kerumunan dengan brutal. Aku hanya meringis melihat beberapa korban Helena yang langsung siap mundur. ‘Brakk’ Helena menggebrak etalase Mama Loren sehingga buah-buahan didalamnya menggelinding, “Mama! Es teller satu!” Teriak Helena menggelegar. “Aduh, maaf neng, es tellernya habis, sisa jus-jusan aja mau?” Tawar Mama Loren lembut. Mau segaduh apapun kondisinya Mama Loren ini orangnya tetap lembut. Katanya dalam rangka mencairkan suasana hati pelanggan yang lagi emosi—seperti saat ini. “Yah, kok habis Mams?” Keluh Helena, Mama Loren hanya tersenyum tenang. “Mams harusnya sisain dong buat Helena. Saya kan konsumen tetap disini.” Helena mencak-mencak gemas. Helena adalah salah satu tipe orang kalau udah menginginkan A maka Ia harus mendapatkannya. “Yah, maaf ya soalnya anak-anak yang lain sama bar-barnya nih kayak Helena.” Balas Mama Loren sambil cekikian. Helena pun memutuskan pergi dari kantin sambil menghentak-hentakkan kakinya. Aku mengejarnya sementara Jojo ikut berjalan santai menyusul dibelakang. Benar-benar ya itu anak gak ada rasa bersalahnya sama sekali. Padahal aku sudah mencium bau gosong dari kepala Helena yang sudah mengepul. Harusnya aku beli popcorn nih, mencium bau-bau perang dunia ke 3. “Jangan marah dong princess.” Goda Jojo mengayunkan tangan Helena seperti anak kecil. Aku hanya menahan tawa melihat tingkah keduanya dari belakang. “Princess-princess udel lo! Mana es teler gue lenyap sudah, lo sih gak becus banget ngantre doang.” Gerutu Helena. “Gue janji deh! Habis ini gue traktir lo sepuasnya beneran deh. Terserah lu mau minta apapun.” “Wah beneran nih? GI stabil lah.” Helena langsung berbinar mendengar penuturan Jojo. Aku bisa simpulkan kalau ia hanya mendengar bagian ‘apapun’. Aku yakin Jojo udah nyesel tujuh turunan sekarang. Karena yang namanya Helena kalau udah ngemall berasa manusia paling kaya seketika. Kalau lagi belanja semua habis diborong, bisa-bisa sama bangunannya sekalian. It’s not a big deal bagi Jojo yang notabenenya anak orang paling kaya di sekolah. Cuman, cowok sekaya apapun pasti bakalan malas buat nemenin cewek belanja, selain ribet buat bawain belanjaannya, Helena akan belanja sampai berjam-jam lamanya. Jojo hanya mendesah malas menoleh ke arahku meminta pertolongan. Aku hanya memasang tatapan mengejek dan menjulurkan lidahku. “Lo juga harus ikut! Lo juga gak becus mendapatkan es teler gue!” Tunjuk Helena tiba-tiba padaku. Aku hanya melotot tidak terima, ditambah dengan tatapan mengejek dari Jojo. “Bye, babu-babuku. Persiapkan diri buat membawa belanjaan gue.” Helena melenggang bak putri kerajaan. Aku hanya memasang tatapan sebal ke arah Jojo yang hanya dibalas kedipan mata olehnya. Pasti ulahnya lagi nih, membawaku ikut serta menjadi korban Helena. *** Sudah lima jam semenjak jam pulang sekolah jam 2 tadi. Langit menjelang gelap dan Helena tidak ada tanda-tanda akan menyerah sekarang. Total ada dua kantong belanjaan besar ditanganku. Aku melirik pasrah kepada Jojo yang parahnya membawa 6 kantong belanjaan besar. Helena sungguh gak main-main dengan ‘apapun’ yang masuk ke telinganya. “Hel, gila lo! Gak ngotak belanjanya, gua pegel ini.” Keluh Jojo. Helena hanya mendelik malas ke arahnya, “Berisik lo babu! Sekali-sekali traktir temen kek pelit banget lo.” “Iya sekali-sekali tapi sekalinya langsung ngebobol rekening gue.” Sinis Jojo. “Yaelah. Ini tuh simulasi supaya entar kalo lu punya bini udah terlatih mentalnya.” Balas Helena kemudian mempercepat jalannya, sepertinya target selanjutnya sudah terpantau, Bung. “Amit-amit dah gue punya bini kayak lo.” Jojo mendelik jijik, “Heh! Gila lo mau beli kutang?” teriak Jojo yang sudah pasti membuat kami menjadi pusat perhatian. “Sttt! Malu-maluin banget lo! Alay banget beli underware doang.” Helena membungkam mulut Jojo yang gak ke filter itu. Aku hanya menggeleng melihat tingkah keduanya sembari menjaga jarak perlahan untuk menjawab tatapan orang disekitar dengan kode ‘aku gak kenal’. “Gak ada! Udah pokoknya kita pergi. Lo gak lihat tuh Farah udah pucet banget? Gue tinggal lo pokoknya.” Alasan Jojo yang sebenarnya aku yakini mengada-ngada karena dia pasti malu banget buat masuk ke toko underware wanita. Benar juga sih Helena kadang gak ngotak. “Ish! Dasar cowok!” Helena mencak-mencak kemudian menggandengku—lebih tepatnya menyeretku untuk mengikuti Jojo. Aku pun tertatih-tatih mengikutinya. Aku lemas banget rasanya. Bahkan bayangan ayam gulai bikinan Mama dari tadi terus terngiang-ngiang di otakku. Jojo yang melihatku kemudian mengambil alih kantong belanjaan Helena dari tanganku yang membuat bawaannya semakin penuh. “Lo mau makan apa?” Tanya Jojo. “Sushi Tei!” Teriak Helena girang. “Gue gak nanya lo, Nyet.” Jojo memutar bola matanya malas. Lalu beralih ke menatapku menaikkan alisnya. “Aduh gue mah ngikut aja deh.” Pasrahku. “Beneran deh lo mau makan apa. Lo kan pemilih banget orangnya.” Balas Jojo yang memilih menghentikan langkahnya menunggu keputusanku. “Ih, Sushi Tei aja udah! Lama lo! Farahnya juga bilang ngikut.” Sela Helena sambil melipat kedua tangannya di d**a. Udah kepalang kesal kayaknya sama Jojo. “Nih anak pemilih banget soal makanan. Gue cuman mau memastikan aja kita semua tuh makan.” Aku memang pemilih banget soal makanan. Bukan karena perutku sensitif atau apapun. Aku orangnya memang susah banget makan. Aku gak bisa makan daging dan ikan, aku juga gak suka sayur. Selama ini Mama kalau memasak pasti dipisahkan khusus untukku sendiri menu ayam. Bahkan Mama mengaku sampai mual sendiri saking seringnya masak ayam. Apapun yang Mama masak asalkan ayam aku pasti suka. Kalau mau menantangku makan ayam bumbu coklat pun aku pasti akan menghabiskannya, karena itu ayam. Eh, tapi darimana Jojo tahu selera makanku. “Tau banget lo seleranya Farah.” Cemberut Helena. “Penting banget dibahas? Udah jadinya lo mau makan apa, Ra.” Desaknya lagi. “Sushi Tei ada menu ayam kok, Ra.” Bujuk Helena. Sepertinya dia lagi kepengen banget makan disitu. “Maksa banget sih lo. Udahlah ke Taliwang aja kita, jelas disono ayamnya lebih banyak sampe kandangnya juga.” Final Jojo. “Yeu! Bilang aja lo mau ke Taliwang. Sok-sokan care ama selera makannya Farah lo.” Sebal Helena. “Bukan gitu. Ntar kalau makan di Sushi Tei terus Farahnya gak suka, makanannya gak habis. Gue yang rugi, rupiah gue melayang.” Balas Jojo. “Udah-udah kita makan di rumah masing-masing aja.” Aku menengahi keduanya. Kalu sudah begini ujung-ujungnya kami gak akan makan yang ada malah nginep di GI. Aku pun berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya yang ku tahu masih bersikeras melanjutkan perdebatannya. *** Aku merebahkan diri di kasurku. Kenyang. Satu kata yang menggambarkan keadaanku saat ini. Lapar karena harus melihat drama berkepanjangan Jojo dan Helena yang cocok dijadikan berseason-season. Aku bahkan menghabiskan 2 porsi ayam bakar dalam hitungan menit. Tugas fisika masih menganggur di atas mejaku. Gak sedikit pun berniat menyentuh dan membelainya. Kalau lapar otakku akan mandek tetapi saat lapar akan lebih mandek lagi. Alunan lagu Pink-Just Give Me a Reason tiba-tiba berbunyi. Jojo is calling… Aku mengernyit heran. Tumbenan banget Jojo repot meneleponku malam-malam begini. Padahal setahuku Pin BB ku masih sama kok. “Assalamualaikum” Sapaku lembut “Syalom adinda. Kangmas ganggu gak nih?” “Duh, to the point deh.” Aku benar-benar malas meladeni candaan Jojo. Paduan rasa kenyang di perut dan pikiran stress di otakku bukanlah kombinasi yang mantap. “Galak banget, Nyai. Gue cuman mau nanya aja keadaan lo gimana.” “Gue masih bernafas dengan baik.” Jawabku “Yah, padahal gue udah siap nyolatin nih.” “Lo doain gue?!” Sinisku. Jojo hanya terkekeh pelan. Hening seketika menyelimuti kami. Aku pun mengecek panggilanku, masih terhubung. “Serius lo tadi pucat banget. Makanya gue khawatir.” "Seriusan peduli banget lo? Ga jelas banget." "Dih, seriusan gue mah, takut dipecat jadi temen gue sama Angga kalo sampe adek kecayangannya kenapa-kenapa." “Lo sih drama banget sama Helena ketimbang makan doang mesti nunggu berabad-abad.” “Makanya tadi gue tawarin Taliwang gak mau juga lo. Gue kan paham lo suka ayam bakar.” “Gaya banget lo. Bilang aja lo yang mau makan.” Aku memutar bola mataku kesal. “Dih, gue mah gak suka ayam bakar, ayam goreng lebih nikmat, gurih-gurih sedap.” “Yaudah sih, harus banget debat ayam malam-malam gini? Dahlah gue mau ngerjain Fisika” Aku terkekeh mendengar penuturan Jojo. “Gue udah tuh. Mau nyontek gue nggak.” “Gila lo. Gak ada adabnye. Ya jelas mau dong. Hehe.” “Ckckck untung adenya Angga lo, kalau enggak—ya gapapa juga sih soalnya lo cantik. Yaudin, gue kirim fotonya dulu.” Jojo pun menutup telepon kami. Aku mengambil buku tulisku bersiap-siap menyalin jawaban Jojo. Gak penting benar atau salah, yang penting ngerjain. Bunyi notifikasi BBM muncul dan aku bergegas membukanya. Jojo emang kalau soal hitung-hitungan tiada dua sih. Aku masih menscroll beberapa foto yang dikirim Jojo sampai foto terakhir. Aku tersenyum geli melihatnya, foto Jojo dengan wajah sok imut ditemani editan simbol love disisinya. “Asupan semangat dari cowok ganteng buat bidadari anaknya Pak Ramlan yang kumisnya setebal tembok China.” Jojo memang selalu serandom ini, aku benar-benar gak salah memilih teman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD