Aku menatap bulir-bulir air yang berjatuhan. Suasana tampak sepi sejak orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Dari semua tempat, sialnya aku harus terjebak di halte kumuh ini, hanya berdua bersama sosok yang sama sekali tidak ku inginkan keberadaannya. Meskipun sudah memberi jarak sejauh mungkin, entah kenapa tempat ini terasa sesak.
“Farah…” Lirihnya. Aku memejamkan mata sembari mengepalkan kedua tanganku. Tidak menoleh—lebih tepatnya jangan menoleh. Aku memilih mengabaikannya dan sibuk menggulirkan ponselku asal, pura-pura sibuk. Bisa kurasakan ia mendekatkan dirinya padaku. Jantungku bertalu-talu tak karuan dan tanganku mulai dingin. Aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku atas kehadirannya.
“Apakah kita gak bisa kembali seperti dulu?” Tanyanya pelan.
Entah berapa kali sudah kalimat itu diucapkannya padaku. Jujur saja, dinding pertahanan yang ku bangun telah runtuh semenjak kemunculannya dihadapanku. Ingin rasanya berlari dan memeluknya namun aku sadar diri dengan status kami saat ini.
“Maaf aku nggak bisa…” Lirihku. Sial, aku gak bisa menahan genangan air di pelupuk mataku. Seharusnya ucapan dan reaksiku berbanding lurus, tetapi malah sebaliknya. Belum lagi tangannya yang kini mengusap pelan air yang jatuh di pipiku. “Don’t cry.” Ucapnya lembut.
Aku menepis tangannya pelan. Bahkan disaat seperti ini aku masih memikirkan perasaannya agar tidak tersinggung. Sementara perasaanku telah bercampur aduk tidak karuan.
“Bukannya kamu yang dari awal bilang kita gak bisa bersama lagi?” Aku menatapnya nanar mengingat kejadian beberapa tahun lalu, suasana yang sama, tempat yang sama pula. Pertama kalinya kami menjalin kasih sekaligus berpisah melepas kasih.
“Aku menyesal. Kali ini aku gak akan menyerah lagi. Ayo berjuang lagi sama-sama.” Ia menggenggam kedua tanganku erat.
“Udah telat. Udah terlambat banget buat apapun itu yang mau kamu perjuangkan.” Ucapku tegas.
Aku memutuskan untuk beranjak pergi. Takut kalau-kalau air mata sialan ini malah mengalir lebih deras. Semakin takut jika pertahananku runtuh dan menghambur ke arahnya. Takut kalau merubah pikiran dan keputusan yang ku buat. Aku menoleh ke belakang melihat presensinya. Aku tersenyum miris. Masih sama seperti dulu.
Dia tidak mengejarku.