Dinda duduk sendirian di kursi taman seorang diri. Di tangannya, ada kue pemberian para suster di dalam yang sama sekali tidak dia potong. Seperti biasa, Dinda selalu menunggu Demian datang. Dan kali ini, sudah hampir jam sepuluh siang, Demian tidak juga menampakkan batang hidungnya. Dinda meraih handphone dari saku celananya. Tidak ada pesan dari siapa pun sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Hanya ada pesan dari Bara yang datang tadi malam, tepat di jam dua belas malam. Dinda menghela napas, memasukkan kembali handphone ke dalam saku celananya, lantas kembali bersandar memandangi taman di hadapannya. "Dia belum datang?" Suara seseorang mengagetkan Dinda. Dengan tetap posisi duduk, Dinda berbalik dan melihat seorang lelaki tampan dengan senyuman menawan hadir mendekatinya. Tak ada

