Seorang gadis tengah duduk di ruang keluarga dengan sebuah album foto di tangannya. Matanya berkaca-kaca saat melihat foto bahagia sebuah keluarga yang lengkap. Ayah, Ibu, seorang anak Laki-laki yang mungkin berumur 10 tahun dan juga seorang anak perempuan berumur 7 tahun. Mereka tampak bahagia dan tengah tersenyum lebar.
"Bunda, semoga tenang ya di sana! Fika di sini baik-baik saja sama Ayah, kasihan Ayah bu, Ayah kesepian semenjak Bunda nggak ada. Fika kangen sama Bunda," ucap sang gadis lirih sambil membelai foto sang Bunda.
Tangannya lalu beralih ke foto seorang anak laki-laki, membelainya lembut penuh kerinduan.
"Kakak apa kabar? Fika kangen sama Kakak, Kakak dimana? Kenapa nggak pulang, Kak? Apa ada orang yang jahat sama Kakak? Bilang sama Fika Kak! Kita hadapi mereka sama-sama, seperti dulu!" Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata sang gadis. Hatinya perih menahan rindu yang tak berkesudahan.
Boleh jadi ia tampak seperti wanita yang kuat di luar, wanita yang dingin dan tak tersentuh. Namun akankah kalian tau? Jika jiwa itu sangat rapuh, apalagi jika sudah berhubungan dengan keluarganya, ia akan melepaskan seluruh topeng yang ia kenakan. Inilah dia yang sebenarnya, rapuh.
"Fika janji Kak! Fika akan membalaskan dendam kita kepada mereka yang sudah menghancurkan keluarga kita!" Tekat sang gadis, pandangannya menajam dan tangannya terkepal kuat menahan emosi yang siap meledak.
"Sayang..!" Seruan seseorang membuyarkan aktivitas sang gadis. Segera di usapnya air matanya, ia tidak mau air matanya terlihat oleh siapapun. Ia tidak mau terlihat lemah.
Setelah dirasa penampilannya oke, sang gadis segera menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya tengah tersenyum hangat kepadanya, mau tak mau bibir sang gadis pun ikut melengkungkan senyum meskipun tipis.
"Ayah sudah pulang?" Sang gadis berusaha untuk terlihat biasa.
Sang Ayah mengrenyit melihat wajah sembab sang gadis, bagaimanapun ia sangat mengenal anaknya, karena ia lah yang mengasuh langsung semenjak sang Bunda meninggal, meskipun ia harus membagi waktu dengan urusan kantornya yang bisa dibilang sangat sibuk.
"Ada masalah sayang? Kenapa kamu nangis?" tanya sang Ayah dengan lembut.
Sang gadis hanya tersenyum menenangkan, ia sangat terharu dengan Ayahnya yang begitu menyayanginya. Kesibukan kantor tak membuatnya kekurangan kasih sayang. Baginya sang Ayah adalah pahlawan terhebatnya.
"Fika nggak papa kok, Yah," kata sang gadis menenangkan. Sang Ayah hanya menyipitkan matanya tanda tak percaya lalu pandangannya beralih ke meja yang berisi album foto keluarga mereka.
Kini ia sudah paham apa yang terjadi. Dengan tersenyum getir ia pun berjalan ke arah putrinya lalu memeluknya dengan sayang.
"Kamu kangen sama Bunda?" Sang gadis hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan sang Ayah.
Lagi-lagi sang Ayah tersenyum getir, ia juga sangat merindukan orang yang sangat dicintainya, yang kini telah pergi meninggalkan mereka, dan juga putra sulungnya yang kini entah ada di mana.
"Kita ke makam Bunda aja gimana?"usul sang Ayah dan mendapat anggukan antusias dari Fika.
"Boleh, Yah!"sahutnya sambil melepaskan pelukan.
"Ya sudah kalau gitu kamu siap-siap, kita akan ke makam bunda sekarang!" Fika mengangkat tangan dan menghormat ala tentara lalu berlari ke kamarnya sementara sang Ayah terkekeh geli melihat putrinya yang begitu manja padanya.
___
Jalanan pulang dari makam cukup lenggang karena hari sudah agak malam. Lampu-lampu di pinggir jalan pun sudah mulai menyala.
Fika mendengarkan musik dengan earphone di telinganya sementara sang Ayah mengemudi dengan tenang. Fika yang ingin memejamkan matanya terusik dengan mobil yang begitu mencurigakan berada di belakang mereka. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang dan tampaklah dua mobil yang mengikuti mereka.
Melihat tingkah Fika, sang Ayah pun ikut mengintip dari spion mobil.
"Sepertinya kita di ikuti, Yah!" ucap Fika tiba-tiba.
Sang Ayah hanya mengangguk mengiyakan lalu menambah kecepatan mobilnya. Dua mobil di belakang mereka juga ikut menambah kecepatan hingga sampai sebuah tikungan satu mobil berhasil menyalip dan berhenti tepat di depan mereka membuat sang Ayah mengerem mobilnya mendadak.
Fika dengan sigap membuka jok tempatnya duduk dan mengambil dua pucuk senjata api yang disimpan dibalik bajunya serta sebilah belati yang disimpan di saku celananya.
"Apa yang kamu lakukan sayang? Biar Ayah yang hadapi mereka, kamu tetap di dalam mobil!" Perintah sang Ayah saat melihat Fika bersiap untuk turun.
"Tidak Ayah, aku tidak mau Ayah kenapa-kenapa, cukup aku kehilangan Bunda dan Kakak, aku tidak mau kehilangan Ayah juga, jadi aku mohon Ayah tetap di dalam mobil biar Fika yang hadapi mereka!" ujar Fika dengan yakin.
"Tapi sayang...."
"Trust me, Dad!" Sang Ayah hanya mengangguk pasrah sambil melihat putrinya khawatir. Bibirnya komat-kamit memanjatkan do'a untuk Fika. Ini bukan yang pertama kalinya Fika menggunakan senjata api, ia mengijinkan Fika untuk berlatih karena ia tau, dunia bisnis sangat kejam seperti saat ini ia yakin jika mereka adalah orang suruhan dari salah satu musuhnya.
Fika membuka pintu mobil dan berjalan dengan tenang ke depan di mana orang-orang yang berbadan kekar tengah berdiri menghadang mereka.
"Apa mau kalian?" Tanya Fika dengan tenang. Pandangannya menyapu ke sekeliling.
"1,2,3...15 orang," batin Fika menghitung lalu mempelajari keadaan.
Jalanan lengang sehingga tak ada yang tau dengan peristiwa ini.
"Kita ingin nyawamu dan juga kakek tua itu bocah , hahahaha!" ujar seseorang yang berkepala botak sambil menunjuk kedalam mobil dimana Ayah Fika berada.
"Oh, ya? Ambil sendiri kalau bisa!" ucap Fika lalu dengan cepat melayangkan pukulan dan tendangan telak kepada dua orang yang berdiri tidak jauh darinya hingga dua orang itu terkapar tak berdaya karena serangan tiba-tiba dari Fika.
Melihat temannya tak berdaya beberapa orang mulai maju menyerang Fika bahkan ada yang mengeluarkan pisaunya.
BUGH!
BUGH!
Pertarungan sengit pun tak dapat di hindari, 15 lawan 1 bukanlah pertarungan yang seimbang, apalagi Fika tetaplah seorang cewek, meskipun ilmu bela dirinya jauh berada di atas mereka.
Perlahan tenaga Fika mulai terkuras habis menghadapi mereka, tinggal 5 orang lagi sementara 10 orang lainnya sudah tergeletak, entah itu pingsan atau malah sudah mati. Hingga saat Fika lengah, salah satu dari mereka berhasil menggoreskan pisaunya di lengan Fika hingga darah pun mulai mengucur deras.
"Hahahaha! Menyerahlah bocah! Kamu bukan tandingan kami!'' seru seorang preman yang tadi berhasil menggoreskan pisaunya.
Dengan cepat Fika merobek sedikit bajunya untuk menghentikan pendarahan di lengannya.
_____