Kanjeng Ibu Minta Anak

1255 Words
Di ruang tv kanjeng ibu masih mengkhayal rumah menantunya yang ingin mempunyai anak kecil lagi. Tak sengaja menantunya, Afgan lewat ruang tv dan melihat ibu mertuanya yang sedang mengkhayal Afgan segera menghampiri ibu mertuanya. "Bu.." Afgan memanggil ibu mertuanya. 'Andaikan ada anak kecil lagi di rumah ini.' kata kanjeng ibu di dalam hati yang masih mengkhayal. "Mas.." Titah memanggil Afgan yang membuat suaminya kaget. "Astaghfirullahalazim Titah ku sayang, bikin kaget saja untungnya mas Afgan tidak punya penyakit jantung. Kalau punya mau kau jadi janda?" Afgan kaget saat Titah memanggilnya. "Jadi janda?" tanya Titah yang mengulangi perkataan suaminya. "Iya mau kau jadi janda ha..?" "Amit.. Amit.. Jadi janda. Mas Afgan jangan ngomong begitu ah omongan itu doa tau mas." jawab Titah. "Onde mande.. Lupo ambo jan sampai mati mudo ih amit.. Amit.." kata Afgan. "Kenapa sih mas?" tanya Titah penasaran. "Itu loh ibu diam saja di tegur juga tidak menjawab." jawab Afgan. "Mungkin ibu sedang memikirkan sesuatu mas, atau mungkin ibu lagi kangen dengan adikku dan cucu-cucunya yang lain." kata Titah. "Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu aku mau ke dapur ya mau ambil minuman, kamu mau titip tidak?" "Cemilan ya mas." jawab Titah. "Oke.." seru Afgan yang pergi dapur meninggalkan Titah. Titah pun kembali ke kamarnya menunggu suaminya kembali ke kamar membawa cemilan dan minuman ke kamar. "Nonton tv di kamar saja lah sambil menunggu mas Afgan. Eh iya anak-anak sedang apa ya di kamar, kalau sudah masuk ke kamar sudah malas sekali rasanya keluar kamar, saya video call mereka saja deh.." kata Titah yang penasaran kegiatan anak-anaknya di kamar. Sementara itu di kamar Afgan Junior sedang mengerjakan PR, sedangkan Kaamil sedang menghafalkan hafalan Al-Qur'an, sedangkan Citra sedang main game. Sesibuk apa pun mereka di kamarnya masing-masing tetap mengangkat panggilan video dari ibu mereka. Ternyata di kamar juga sudah ada Afgan, ayah meraka yang juga ikut mengobrol lewat panggilan video sambil menikmati cemilan dan minuman di kamar mereka masing-masing. Kembali pada kanjeng ibu yang sudah selesai dari khayalan nya segera menuju ke kamarnya untuk istirahat. Kanjeng ibu yang baru saja ingin bercerita pada kanjeng romo, suaminya. Dia mendengar secara tidak sengaja bahwa besok kanjeng romo harus pergi ke London untuk menemui klien penting untuk meeting. Dan keesokan harinya setelah kanjeng ibu mengantarkan kanjeng romo ke bandara melamun, mengkhayal kembali. Membuat Afgan penasaran dan segera menghampiri ibu mertuanya dan juga menyadarkan ibu mertuanya dari lamunannya. Ketika Afgan dan ibu mertuanya ibu mengobrol tak sengaja Paijo lewat dan mendengar obrolan dari mereka. Paijo pun salah paham pada perkataan yang terakhir dan mengatakan kalau kanjeng ibu pingin punya anak lagi dari menantunya. **Yang maksud kanjeng ibu adalah cucu ya, jangan salah paham ya.** **Kembali ke cerita..** Setelah Paijo mendengarkan percakapan antara kanjeng ibu dan juga Afgan segera mencari Arif dan menceritakan kembali apa yang dia dengar tadi. Tapi Arif masih juga tidak percaya. Sampai pada akhirnya Arif pun percaya yang di katakan oleh Paijo, ya padahal salah paham. "Kanjeng ibu kok melamun lagi sebenarnya ada apa sih, apa karena kanjeng ibu di tinggal kanjeng romo ke luar negeri ya." kata Afgan penasaran. "Kanjeng ibu.." Afgan mencoba menyadarkan lamunan ibu mertuanya. "Iya eh Afgan." kanjeng ibu tersadar dari lamunannya. "Duh Arif kemana sih apa jangan-jangan ikut ke pasar ya." kata Paijo yang tak sengaja lewat ruang tv. "Kanjeng ibu kenapa kok dari tadi melamun saja bahkan kemarin kanjeng ibu juga melamun ada apa sih kanjeng ibu. Cerita saja pada Afgan insyaallah Afgan bisa bantu?" tanya Afgan penasaran. "Oke jadi seperti ini ya Afgan, ibu ini pingin ada anak kecil di rumah ini." jawab kanjeng ibu. "Maksudnya kanjeng ibu?" tanya Afgan masih tidak mengerti yang di maksud dengan mertuanya. "Anak kecil, Afgan." jawab kanjeng ibu lagi. "Oh anak kecil, oh tunggu sebentar ya kanjeng ibu." kata Afgan yang hendak pergi keluar. "Kamu mau kemana?" "Loh kan tadi kata nya kanjeng ibu mau anak kecil kan?" "Iya, terus kok kamu mau keluar rumah gan?" "Ya biar anak kecil main di sini kanjeng ibu, biar kanjeng ibu juga sendirian lagi, gitu kan maksudnya kanjeng ibu, iya kan?" "Bukan anaknya orang lain." "Terus anak siapa?" "Ya anakmu." "Oh cucu?" "Iya.." seru kanjeng ibu. "Tunggu sebentar ya kanjeng ibu." kata Afgan yang akan pergi ke kamar anak-anaknya. "Mau kemana lagi kamu Afgan?" "Lah kan katanya mau cucu ya nanti saya panggilkan Junior, Kaamil dan Citra untuk bermain bersama dengan kanjeng ibu." "Bukan begitu maksudnya ibu, ibu itu ingin cucu lagi Afgan." kata kanjeng ibu menjelaskan maksudnya tadi yang belum di pahami oleh Afgan. "Oh ibu pingin cucu lagi, maksudnya anak kecil kan, loh kan ada Siwi, kanjeng ibu, Siwi juga baru melahirkan." "Jauh Afgan, adik ipar mu kan di Belanda yang ada di sini saja lah, jadi bagaimana boleh ya?" "Boleh apa sih kanjeng ibu?" "Anak.. Tapi ingat anaknya bukan anaknya orang lain atau kalian mengadopsi anak orang ya." "Terus?" "Saya mau anak dari kamu Afgan, ya boleh ya saya mau anak dari kamu boleh ya Afgan?" tanya kanjeng ibu dengan memohon pada Afgan. "Paa..!! Kanjeng ibu meminta anak pada tuan papi tidak bisa di biarkan ini, tapi saya harus bercerita dulu Arif soal ini." kata Paijo kaget mendengar perkataan dari kanjeng ibu dan Paijo sudah paham yang di maksud oleh kanjeng ibu. "Em tunggu Titah pulang kerja ya kanjeng ibu, nanti akan saya diskusikan dulu pada Titah." jawab Afgan. "Oke.." seru kanjeng ibu. **Sementara itu di dapur..** "Loh mas jo kenapa sih?" tanya Arif yang bingung melihat tingkah aneh Paijo. "Kowe delok Arif ra?" tanya Paijo. "Lah iki sapa ta mas jo, aku Arif, Arif, ana apa ta mencari awakku?" tanya Arif lagi. "Awakmu ngerti ora rif?" tanya Paijo. "Awakku ora ngerti mas jo, wong mas jo durung ngomong apa-apa kok karo awakku." jawab Arif. "Oh iya ya, lali aku rif.." kata Paijo. "Kamu tau kanjeng ibu, rif?" "Tau lah itukan majikan ku mas jo." "Iya saya tau rif, awakku durung bar ngomong loh.." keluh Paijo. "Oh ya sudah omongi wae mas jo." pinta Arif. "Kanjeng ibu minta anak pada tuan papi atau pak Afgan." kata Paijo yang bercerita pada Arif. "Oh.. Ya biarkan saja mas jo mungkin dia merindukan tawa anak-anak setelah cucunya sudah besar semua." "Wah jahat kamu rif, membiarkan keluarga majikan saya hancur." "Hancur, maksudnya mas jo?" tanya Arif yang tidak mengerti dengan omongan Paijo. "Masih tidak ngerti juga kamu ya rif, sekarang saya tanya ke kamu, kanjeng ibu minta anak lagi dan yang harus berbuat itu kanjeng ibu dengan siapa?" tanya Paijo juga. "Ya kanjeng romo lah mas jo." jawab Arif lagi. "Nah itu tau kanjeng ibu harus berbuat itu pada kanjeng romo, kok malah ini malah sama tuan papi atau pak Afgan." kata Paijo menjelaskan maksudnya tadi karena dari tadi Arif tidak mengerti yang di bicarakan oleh Paijo. "Oh..!! Ha.." Arif terkejut mendengar perkataan dari Paijo yang tidak percaya. "Aku tidak percaya mas jo jangan ngawur deh." kata Arif yang masih tidak percaya. "Ya sudah gini saja deh kita lihat saja nanti ya, kamu akan percaya pastinya dengan saya." kata Paijo meyakinkan Arif. **Di kamar Afgan dan istri.** "Apaaaa..!! Kanjeng ibu minta cucu lagi dari kita mas?" tanya Titah yang terkejut mendengarkan cerita dari suaminya. "Iya Titah ku sayang." jawab Afgan singkat. "Oh pantas dari kemarin kanjeng ibu melamun, rupanya memikirkan itu. Saya takut mas kalau kanjeng ibu jadi sakit nantinya, saya belum bisa kehilangan kanjeng ibu mas Afgan." kata Titah. "Oh jadi kamu setuju sayang kalau kita punya anak lagi." kata Afgan menggoda Titah. "Iya mas. Tapi.." "Tapi apa sayang?" "Tapi saya harus pura-pura hamil dulu ya mas. Sambil kita program hamil." jawab Titah. "Oke sayang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD