Surprise Untuk Mami

1218 Words
"Da mau titip sekalian tidak?" tanya Afgan Junior. "Boleh.." jawab Kaamil yang sedang fokus ke layar hpnya. "Apa?" tanya Afgan Junior lagi. "Es jeruk ya." jawab Kaamil lagi yang masih fokus ke layar hpnya. "Oke.." "Buruan ya." "Oke.." ** [Daddy : Kamu dimana?] [Kaamil : Di pos satpam papi sudah sampai sekolah kami?] [Daddy : Sedikit lagi.] [Kaamil : Oh oke.] ** "Chatan sama sih da, serius banget tidak kedip. Pasti sama cewek ya ciye.. Hehe." tanya Citra yang menggoda kakaknya dengan rasa penasaran. "Bukan sama lakinya mami saya hehe.." jawab Kaamil. "Lakinya mami ya berarti papi dong. Em.. Bilang saja dari papi kenapa haduh.." keluh Citra. "Lagi kepo banget sih.." keluh Kaamil juga. "Sssttt.. Diam ya papi balas chat uda nih." "Ya.." kata Citra singkat. "Duh Junior mana sih?" tanya Citra yang mencari keberadaan adiknya. "Tuh papi yuk." "Eh tunggu kan kita masih tungguin adik Junior." "Tidak usah menunggu dia." "Loh kenapa da?" "Tuh.." jawab Kaamil yang menunjuk ke arah mobil ayahnya. Ternyata Afgan Junior sudah ada di dalam mobil sang ayah. Lalu kemudian Kaamil dan juga Citra segera masuk ke mobil ayahnya. Afgan pun kemudian melajukan mobilnya dengan kencang takut istrinya lama menunggu di kantornya. "Lama banget sih." keluh Afgan Junior menunggu kedua kakaknya di luar mobil. "Hehe sorry.." Kaamil dan Citra hanya tertawa mendengar keluhan dari andik nya. Ketika sampai di kantor Titah sudah terlihat di lobby kantor yang rupanya sudah menunggu kedatangan suami dan anak-anak nya. Baru saja Titah duduk di mobil Titah sudah di berikan jajanan sekolahan anak-anak nya oleh suaminya dan anak-anak nya. "Mami.." anak-anak nya berlari dan memeluk Titah ketika melihat Titah. "Iya sayang, papi mana?" "Itu.." jawab Afgan Junior yang menunjuk ke arah ayahnya. "Oke kalau begitu yuk kita makan siang di luar habis ini mami pulang ke rumah." "Yuk.." ajak Afgan masuk ke dalam mobil. "Mami ini.." suaminya dan anak-anak nya memberikan berbagai macam jajanan sekolah. "Terimakasih sayang. Terimakasih juga suamiku muach muach untuk kalian." Titah belum mengetahui ibunya sudah sampai di Malaysia. Ketika sudah selesai makan siang ibunya menelepon untuk memberitahu Titah. Ketika Titah melirik ke arah Afgan, Afgan hanya tertawa, ternyata ibu mertuanya sudah memberitahunya. Makan siang selesai mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Titah segera memeluk ibunya, serta anak-anaknya juga memeluk nenek mereka. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." "Ibu.." Titah berlari kearah ibunya kemudian memeluknya dan mencium punggung tangan ibunya. "Eyang.." Anak-anak Titah mencium punggu tangan nenek mereka. "Iya.. Afgan.." kata kanjeng ibu dan kemudian memanggil Afgan. "Iya bu." jawab Afgan kemudian mencium punggung tangan mertuanya. "Ingat ya mulai besok mereka sudah bekerja di sini dan kamu yang membayar gaji mereka tepat waktu." kanjeng ibu mengingatkan kembali pada Afgan. "Iya bu.." jawab Afgan. "Ini ada sesuatu dari papi untuk kanjeng eyang putri." Afgan memberikan bingkisan pada neneknya. "Kue brownies, terimakasih ya Afgan ternyata kamu menantuku yang baik dan juga tidak lupa dengan kue kesukaan ibu." "Iya bu sama-sama." "Oh ya sayang kamar kita di pakai oleh ibu dan bapak tidak apa-apa kan?" "Iya mas, ya sudah kalau begitu Titah masuk ke kamar dulu ya bu dan juga anak-anak ganti baju dulu gih." "Iya nduk ibu juga mau masuk ke dalam kamar mau istirahat hehe.." "Iya mami.." kata anak-anak bersamaan. "Tuan mami, tuan papi." kata Paijo yang memanggil Titah dan Afgan ketika bertemu dengan Afgan dan Titah. "Inggih jo." jawab Titah dan Afgan. "Enten menapa?" tanya Titah. "Niki kertas daftar belanjaan mohon di isi ya tuan mami." jawab Paijo. "Tidak perlu, biar kanjeng ibu saja yang mengisinya sudah kamu istirahat di kamar sana." pinta kanjeng ibu. "Iya bu, yuk sayang." "Iya mas." "Nanti kamu kemar saya ya." "Jangan kanjeng ibu saya masih perjaka jangan ambil keperjakaan saya." "Alah.. Kamu ini ngomong apa sih ha.. Saya ingin kasih kamu ini loh catatannya lagi makannya saya suruh kamu ke kamar untuk ambil ini. Soalnya saya kalau sudah di kamar males keluar lagi, paham..!!" kata kanjeng ibu. "Pamah kanjeng ibu." jawab Paijo. "Kamu kenapa?" "Muncraatt kanjeng ibu." "Padha jo awakmu juga muncraaattt." kata kanjeng ibu dengan kesal dan pergi meninggalkan Paijo. Sementara itu dapur Jumiati sedang mencuci piring dan Darmi sedang memasak untuk makan siang dan datanglah Paijo. "Sudah selesai mi masaknya?" "Belum jo sedikit lagi." "Oh.." seru Paijo yang akan mengambil piring untuk di tata di meja makan dan di cegah oleh Jumiati. "Eh eh mas!" kata Jumiati mencegah Paijo mengambil beberapa piring di rak piring. "Kenapa Jum?" "Mau ngapain?" "Mau ambil piring Jum ngapa ta emange?" "Aja mas sing iki wae." "Loh kan kamu durung bar umbah-umbah piringe ta, lagian nih lihat piring juga masih banyak di rak piring sayanglah kalau di anggurin Jumiati." "Tapi kan sayang mas piringnya, nanti juga Jumiati cuci lagi mas piringnya." "Haduh Jumiati ya nanti tinggal umbah-umbah meneh ta piringe, wis jo aja mbok ladeni wong iki ambil wae piring sing anyar kuwi neng rak piring." "Iya Darmi." "Eh di kandani aja mas." "Ah mboh-mboh.." Paijo kesal oleh Jumiati dan pergi meninggalkan Darmi dan Jumiati yang masih ribut di dapur. "Eh itu punya ku." keluh Jumiati. "Emboh lah.." keluh Paijo juga. Di teras depan rumah Arif melihat Paijo sedang ngomel sendiri. Lalu Arif memanggilnya dan membuatkan kopi untuknya di pos satpam rumah Afgan. "Duh si Jumiati ya bikin darah tinggi ku naik saja hem.." keluh Paijo yang merasa kesal pada Jumiati. "Loh itu kan mas Paijo, mas Paijo." kata Arif yang memanggil Paijo. "Iya Rif.." jawab Paijo. "Ini minum dulu kopinya mumpung masih panas mas, oh ya mas kenapa sih kok kayanya sedang emosi?" tanya Arif penasaran. "Bukan kayaknya memang saya lagi emosi rif.." jawab Paijo. "Em.. Cecep tau pasti kesel sama Jumiati pan?" tanya Cecep. "Iya cep.. Dari kemarin bikin mendidih terus." jawab Paijo lagi. "Yang sabar ya mas, memang Jumiati itu begitu lemot." "Oh iya kamu sudah lama ta bekerja di keluarga ini rif, cep?" "Kalau Cecep sih baru tiga bulan mas Paijo nya." jawab Cecep. "Oh..!!" seru Paijo. "Iya kalau yang lama itu mas Arif nya mas Paijo nya ya pan mas Arif nya ya?" tanya Cecep polos. "Iya cep, Cecep benar mas jo, saya sudah mengabdikan diri saya sejak saya lulus SMA menggantikan Almarhum bapak saya untuk mengabdi di keluarga ini." jawab Arif. "Oh.. Keluarga ini baik ya saya beruntung mendapatkan majikan yang baik seperti keluarga ini. Oh ya yang satu lagi siapa namanya?" "Siapa siapa ta mas sing endi?" tanya Arif penasaran. "Sing kuwi loh..!! Sing bekerja neng pawon uga padha kaya Jumiati. sing rambute cendhak rif?" tanya Paijo yang masih menanyakan Darmi. "Oh kuwi mbak Darmi mas jo, dheweke kerja neng batih iki kuwi paling suwe ngapa mas jo naksir ya padha mbak Darmi pepet wae mas jo gini-gini mbak Darmi isih single loh hahaha.." jawab Arif yang mengejek Paijo yang menanyakan soal Darmi. "Hus.. Sembarangan kowe yen ngomong ya aku kuwi ora naksir karo dheweke tapi aku kuwi teringat karo seseorang." kata Paijo menjelaskannya pada Arif. "Siapa mas jo, mantan atau pacarnya mas jo?" tanya Arif lagi. "Si embok ku wayah isih enom hehe." jawab Paijo. Dan sedang asik-asiknya Paijo, Arif, dan Cecep mengobrol kanjeng ibu datang dan berlalu pergi ke taman tanpa ingin menganggu obrolan mereka. Di taman kanjeng ibu melihat banyak wanita cantik yang seumuran dengannya yang sedang mengasuh cucunya yang masih balita untuk bermain ke taman. Kanjeng ibu pun mengkhayal bagaimana posisi itu ada pada dirinya. Kanjeng ibu pun pulang dan meminta anak kecil pada menantunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD