Keesokan Harinya..
"Sarapan sudah tinggal taruh di meja makan." kata Paijo yang baru saja selesai membuat sarapan di dapur dan menaruh semua sarapannya ke meja makan.
"Sarapannya sudah siap lik jo?" tanya Kaamil.
"Sudah den." jawab Paijo.
"Sarapan bubur ayam ya lik jo, beli di depan komplek ya lik jo?" tanya Citra.
"Bukan beli non Citra, nyolong." jawab Paijo lagi.
"Ha.." Afgan Junior kaget ketika mendengar jawaban dari Paijo.
"Ya tidaklah non Citra, den Kaamil dan den Junior. Saya bikin sendiri buburnya ya kali nyolong haduh.." keluh Paijo.
"Hehe.." Citra dan Afgan Junior tertawa.
"Wah sarapan pagi sudah siap." kata Afgan yang baru saja datang ke meja makan untuk sarapan.
"Kayanya enak deh, em.. Dari aromanya saja sudah bikin lapar, yuk semua sarapan. Jo kamu juga ikut sarapan ya." kata Titah yang meminta Paijo untuk sarapan bersama dengan keluarganya.
"Inggih tuan mami." kata Paijo patuh.
Dan ketika Titah dan Afgan sudah berangkat bekerja dan anak-anak nya sudah berangkat ke sekolah datanglah kanjeng ibu, kanjeng romo, dan para abdi setia ke rumah Afgan.
"Nyapu sudah, ngepel sudah, tinggal beres-beres di teras depan hehe." kata Paijo.
"Ayo dong kang mas lama sekali sih." kata kanjeng ibu yang buru-buru ingin masuk ke dalam rumah menantunya, Afgan.
"Iya diajeng, cep.."
"Iya bapak bosnya, ada apa?" tanya Cecep.
"Tolong kamu turunkan yang itu ya." jawab kanjeng romo.
"Yang ini bapak bosnya?"
"Bukan yang itu, tapi yang itu tuh, koper yang berwarna hitam kecil."
"Oh oke siap bapak bosnya." kata Cecep.
"Siapa tuh, kok ada bule pasti bule itu nyasar dan mau tanya alamat deh mana saya tidak lancar bahasa Inggris lagi, haduh piye iki." keluh Paijo saat melihat kanjeng romo memasuki pekarangan rumah Afgan.
"Assalamu'alaikum." semua orang yang baru saja masuk ke pekarangan rumah Afgan mengucapkan salam pada Paijo.
"Wa'alaikumussalam." jawab Paijo.
"Maaf mencari alamat ya, boleh saya lihat alamat yang sedang tuan cari?"
"Address, what address is that mean?" tanya kanjeng romo.
"Let me just explain my husband." kata kanjeng ibu.
"Okay my wife." seru kanjeng romo.
"Saya adalah ibu mertuanya yang punya rumah ini. Afgan mana, masih ada di rumah kan, kamu ini siapa?" tanya kanjeng ibu menjelaskannya pada Paijo.
"Oh ibu mertuanya tuan papi, semuanya baru saja berangkat bu."
"Jangan panggil saya ibu." tolak kanjeng ibu ketika di panggil Paijo dengan sebutan bu.
"Oh terus saya panggilannya apa dong bu?"
"Panggil saya kanjeng ibu, suami saya kanjeng romo, paham?"
"Pamah..!!" seru Paijo.
"Bagus.." seru kanjeng ibu juga.
"Kalau begitu saya masuk duluan ya ke dalam."
"Oh nggih mangga bu eh.. Maksud saya kanjeng ibu."
"Oke.."
Sementara itu Afgan sedang menuju ke rumahnya kembali karena ada beberapa berkas yang tertinggal di rumahnya. Begitu sampai di rumah Afgan terkejut melihat ayah mertuanya yang sudah berada di rumahnya sedang duduk di teras depan rumahnya.
Afgan segera datang dan menemui ayah mertuanya dan mengobrol sebentar dengan ayah mertuanya di depan teras baru setelah itu masuk ke dalam rumah.
"Ayah mertua, kanjeng romo." kata Afgan yang baru saja turun dari mobilnya dan melihat ayah mertuanya duduk di teras depan.
"Assalamu'alaikum kanjeng romo."
"Wa'alaikumussalam gan."
"Kapan sampai di Malaysia kanjeng romo?"
"Tadi pagi, kamu sudah pulang?"
"Belum kanjeng romo saya pulang sebentar ke rumah karena ada beberapa berkas yang tertinggal kanjeng romo." jawab Afgan.
"Oh begitu."
"Iya, ya sudah nanti di lanjut lagi ngobrol setelah kamu pulang dari kantor, sekarang kamu masuk saja ke dalam dan ambil berkasmu yang tertinggal."
"Inggih kanjeng romo, amit." kata Afgan yang pamit untuk ke dalam rumahnya.
"Inggih." kata kanjeng romo singkat.
Di kamar Afgan ternyata sudah ada kanjeng ibu sangat merindukan kamarnya yang sekarang menjadi kamar Titah dan juga Afgan. Afgan pun masuk kedalam kamarnya tentu saja membuat keduanya kaget lalu Afgan di minta oleh ibu mertuanya pindah ke kamar yang lain. Karena kamarnya akan di tempati kembali oleh kanjeng ibu.
Dengan cepat Afgan membereskan barang dan pakaian miliknya dan juga milik istrinya ke kamar yang lain.
"Duh kamarku, aku rindu pada kamarku ini tidak ada yang berubah ya dari tatanan kamar ini."
"Hem akhirnya ketemu juga, loh kanjeng ibu." kata Afgan yang kaget melihat ibu mertuanya sudah berada di dalam kamarnya.
"Afgan.. Ngapain kamu di sini, sana keluar." kanjeng ibu mengusir Afgan dari kamarnya.
"Loh kanjeng ibu ini kan kamar saya." tolak Afgan.
"Ini kamar saya, Afgan Syah Reza." kanjeng ibu memperjelas.
"Loh itu kan dulu sekarang kamar ini sudah menjadi kamar saya kanjeng ibu." tolak Afgan lagi.
"Kamar ini masih mau saya pakai Afgan jadi kamu yang seharusnya pindah ke kamar yang lain oh ya Afgan satu lagi." kata kanjeng ibu.
"Apa kanjeng ibu?"
"Itu kamar dua nganggur kan di belakang?"
"Iya kanjeng ibu." jawab Afgan.
"Kalau begitu biar di pakai oleh Arif, Cecep dan Jumiati ya."
"Ha.. Para abdi dalam kanjeng ibu mau tinggal di sini juga?"
"Iya kenapa memangnya kan kamu bisa memanfaatkan jasa mereka."
"Oh iya ya."
"Dan jangan lupa gajiannya setiap tanggal tiga di setiap bulan."
"Iya, loh..!!" Afgan kaget ternyata itu adalah kode dari mertua untuk menyuruhnya membayar gaji para abdi dalem di setiap bulannya.
"Kenapa Afgan Syah Reza, kan kamu juga pakai jasa mereka jadi kamu yang bayar gajinya dong, Do you understand?"
"I-iya kanjeng ibu, I understand." jawab Afgan.
"Good.. Sekarang kamu get out dari kamar ini." kanjeng ibu mengusir Afgan dari kamarnya.
"Tap-tap-tapi kanjeng ibu." kata Afgan dengan gugup untuk meminta sedikit waktu untuk mengemasi barangnya pada ibu mertuanya.
"Tapi apa Afgan Syah Reza?"
"Itu barang-barang saya dan istri saya bagaimana, boleh saya minta waktu untuk mengemasi nya."
"Oh ya tentu saja boleh di hitung mundur dari sekarang, seratus, sembilan puluh sembilan.." kata kanjeng ibu mulai menghitung mundur memberikan waktu pada menantunya untuk mengemasi barang-barang nya.
Beberapa Menit Kemudian..
"Satu.. Dan selesai." kata kanjeng ibu yang selesai dengan hitungan mundurnya begitu juga dengan Afgan yang selesai mengemasi barangnya dan pindah ke kamar yang lain.
Kemudian Afgan kembali ke kantornya lagi untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang belum selesai.
"Haduh.. Mertuaku oh mertuaku pinggang sampai sakit. Sekarang fokus saja kerja." kata Afgan yang baru sampai di kantornya dan juga sudah mulai bekerja kembali di depan komputer miliknya di ruangan kerjanya.
**
[Mon Amour ?? : assalamu'alaikum suamiku lagi apa sudah makan siang atau belum?]
**
"Istriku, oh ya tak terasa ya sudah waktunya istirahat dan jam makan siang." kata Afgan yang melihat chat dari istrinya.
**
[My Love ? : belum sayang, ini baru mau makan siang, kamu sudah makan siang belum sayang ?]
[Mon Amour ?? : belum juga.]
[My Love ? : oke kalau begitu bersiaplah nanti aku jemput ke kantormu dan kita makan siang bareng di luar ya sekalian jemput anak-anak juga ya.]
[Mon Amour ?? : oke pak suami hehe..]
[Mon Amour?? : Assalamu'alaikum.]
[My Love ? : Wa'alaikumussalam.]
**
"Anak-anak sudah pulang sekolah belum ya saya chat w******p saja deh di grup keluarga." kata Titah yang akan keluar kantor dan masih sibuk dengan main hpnya.
**
[Mom : Assalamu'alaikum anak-anak sudah pulang sekolah belum, kalau sudah tunggu sebentar ya papi mau jemput katanya sekalian kita makan siang bersama di luar.]
**
"Eh ada chat masuk oh mami." kata Citra.
"Sama.." kata Afgan Junior.
"Kata mami di suruh nunggu papi di sekolah." kata Kaamil membacakan pesan masuk dari ibunya.
"Ya sudah uda Kamil balas ya." pinta Afgan Junior.
"Oke.."
"Eh loh mbak Citra mau kemana?" tanya Afgan Junior.
"Jajan." jawab Citra singkat.
"Jajan apa?"
"Itu jajanan sekolahan banyak banget mami pasti suka." jawab Citra lagi sambil menunjuk ke penjual jajanan sekolahan pada Afgan Junior.
"Oh ya sudah mbak Citra di sini saja ya biar Junior saja yang membelinya sekalian Junior juga mau beli jajanan kesukaan Junior."
"Oke.."