Bab 1

2036 Words
Malam itu acara puncak perkenalan anggota Lembaga Pers Mahasiswa atau biasa disingkat LPM tingkat fakultas. Al sebagai dosen sekaligus pembina turut hadir dalam acara tersebut. Acara tersebut berlangsung di salah satu villa di Kaliurang. Acara diisi dengan nyanyi bersama dan api unggun. Al dipaksa mahasiswa nya untuk menyumbangkan sebuah lagu. "Oke teman-teman sekalian kali ini kita akan mendengarkan sebuah lagu dari pembina kece kita Pak Alvaro. ucap pembawa acara diikuti tepuk tangan meriah dari peserta diklat Al terpaksa maju ke tengah pentas. Ia menyanyikan sebuah lagu dari The Moffatts yang berjudul I Miss You Like Crazy. Petikan dawai gitar yang dibawakan Al mengiringi penampilan Al malam ini. Selama bernyanyi entah pandangan Al mengarah pada satu titik. Seorang gadis cantik dengan hijab pashmina coklat s**u menarik perhatiannya. Gadis itu tampak tak tertarik dengan dirinya yang sedang bernyanyi. Ia seolah tak nyaman berada dalam acara ini. "Ra gue rasa Pak Al suka sama lu deh." ucap Ellen teman baru Kiara di LPM "Ngasal banget deh lu kalo ngomong, Len." balas Kiara "Ye.... dibilangin ngeyel lu mah. Tuh doi aja liatin lu terus dari awal nyanyi." terang Ellen Kiara hanya memutar bola matanya jengah. Baginya tidak ada pacaran apalagi suka sama cowok. Ia ingin fokus kuliah dan pastinya menunjukkan kepada papa nya bahwa dia bisa sukses. Riuh tepuk tangan mengiringi petikan dawai terakhir dari Al. Acara berlanjut hingga tengah malam. Panitia maupun peserta saling bernyanyi dan berduet menyanyikan segala genre musik. Al ijin undur diri dan beristirahat di villa. Sebelum masuk ke villa khusus untuk dirinya ia tak sengaja mendengar obrolan dua mahasiswanya. "Lu kan temennya si gadis pashmina coklat muda tadi kan?" ucap seorang cowok "Sa...sa... saya baru kenal dia kak." jawab Elen "Gak perduli gue! Sekarang lu kasih minuman ini ke dia trus lu tinggalin dia setelah itu biar jadi urusan gue." jelas cowok tadi "Kakak mau apain temen saya?" tanya Ellen "Udah jangan banyak bacot lu! Lakuin aja apa yang gue suruh terus kalo enggak lu lakuin bisa gue cabut beasiswa lu." ancam pemuda itu yang tak lain ternyata dia adalah anak rektor kampus "Tolong jangan lakukan hal yang tidak baik ke Kiara ya." mohon Ellen "Diem atau ancaman itu berlaku mulai sekarang!" ancam pemuda itu lagi Ellen yang merasa takut mengiyakan saja. Ia tak mau beasiswanya dicabut. Susah payah dia mendapatkan beasiswa ini. Al yang mendengar percakapan mereka merasa tidak beres. Ia harus menyelamatkan gadis pashmina tadi. Ellen berjalan menemui Kiara yang sedang duduk di bangku taman villa. Ia tampak ragu untuk menyerahkan minuman tadi. Tetapi disisi lain ia tak mau mimpinya berakhir sampai disini. "Hai, Ra. Ini gue ada minuman buat lu. Gue tau lu pasti haus setelah acara tadi secara kita gak dikasi cemilan sama minuman." ucap Ellen "Mamacih Ellen baik." ucap Kiara gemas "Iya sama-sama. Udah minum yuk. ajak Ellen Kiara yang memang sedang haus menghabiskan minuman itu tak bersisa. Ellen yang mengetahui itu langsung melaksanakan tugasnya. "Gue ke toilet sebentar ya, Ra. Gue pengen pup tiba-tiba." ucap Ellen "Ya udah Sono lu pup dulu aja. Gue gak papa disini sendiri." ucap Kiara Al langsung menghampiri Kiara yang ada di taman. Ia harus menyelamatkan Kiara dari rencana jahat Brian. Yah laki-laki tadi adalah Brian Hutama. Anak rektor yang hobi balapan dan berbuat onar di kampus. "Permisi kamu bisa ikut saya sebentar?" tanya Al "Eh iya ada apa ya, Pak Al?" tanya Kiara "Bantu saya mengkoreksi nilai mahasiswa saya." ucap Al asal "hhhhmm baik Pak Al." ucap Kiara mengiyakan karna ia takut kalau menolak sungkan juga "Ayo ikut saya ke villa." balas Pak Al Mereka berjalan ke arah villa Al yang menyendiri diantara villa-villa lain yang berjejer dan diperuntukan untuk peserta diklat. Sesampai di Villa Kiara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasakan badannya panas. Al yang melihat itu mencoba menenangkan Kiara. Malam itu pun terjadilah hal yang tidak diinginkan. Ternyata minuman yang diberikan Brian adalah minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang. *** Al bangun terlebih dahulu dibanding Kiara. Ia terkaget disampingnya ada perempuan yang masih tidur memunggungi dirinya. Al lalu bergegas mandi. Sampai Al menyelesaikan aktivitasnya Kiara masih belom bangun. Akhirnya Al memilih memesan makanan dari resto yang ada di villa. Al memilih duduk di balkon kamar yang menghadap langsung kearah taman. "Aku tak menyangka akan melakukan hal bodoh seperti ini terlebih dengan mahasiswa ku sendiri." gumam Al Tak berselang lama Kiara terbangun. Ia tercengang dengan tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun terlebih ada seorang laki-laki yang duduk di balkon. "Aaaaa....aaaaaa." teriak Kiara mengagetkan Al Al berlari kearah ranjang dan mencoba menenangkan Kiara. Ia memeluk gadis mungil itu dan membekap mulutnya agar suara teriakan itu tidak terdengar oleh peserta yang lain. "Kamu bisa tenang gak? Saya gak akan mencelakai kamu dan kamu aman dengan saya." bisik Al Kiara masih terisak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Al. Tetapi kekuatannya tidak ada apa-apanya dengan kekuatan Al. "Tolong jangan seperti ini. Kalau kamu berusaha melepaskan diri dan teriak kamu akan digrebek oleh teman-temanmu dan panitia." terang Al dengan lembut Perlahan Kiara mulai tenang dan kesempatan itu digunakan Al untuk melepaskan pelukan mereka. "Sekarang kamu mandi dulu. saya akan menjelaskan apa yang terjadi denganmu semalam sehingga kita bisa seperti ini." terang Al Kiara hanya diam dan mengangguk. Ia tak berani menatap wajah Al. Ada rasa takut tersendiri dalam dirinya. Ia berusaha bangun tapi ia merasakan sakit di intinya. Al dengan inisiatif membopong Kiara ala bridal style. Kiara reflek mengalungkan tangannya ke leher Al. Seperkian detik pandangan mereka bertemu. "Kenapa aku harus berurusan dengan dosen kanebo ini Ya Allah." batin Kiara Al tersadar "Ngapain kamu liatin saya? Mandi lah saya tunggu di luar." ucap Al sembari menaruh Kiara dengan pelan diatas bath up yang ternyata sudah terisi air. Sepertinya Al tadi sudah mengisi air di bath up saat ia mandi. Setelah setengah jam Kiara mandi ia keluar hanya memakai handuk kimono. Al yang sedang melamun pun melihat kearah Kiara dan memperhatikan nya. Al berjalan mendekati Kiara dengan membawa sebuah paper bag. Entah berisi apa paper bag itu. Kiara berjalan mundur hingga mentok di pintu kamar mandi. Ia masih takut kalau Al akan melakukan hal yang tidak diinginkan. "Kau jangan kegeeran seperti itu. Pakailah ini karna pakaianmu masih kotor setelah itu kita sarapan dan membicarakan hal semalam." terang Al tepat lima senti didepan muka Kiara. Hal itu membuat jantung Kiara berdegup tak normal. "Bapak nyebelin." teriak Kiara yang langsung ngacir ke kamar mandi. Kiara tercengang dosen kanebo itu tahu ukuran baju bahkan dalamannya dan ini sangat pas di badannya. Sungguh gila memang. Kiara keluar dan tujuan dia adalah memarahi dosen kanebo itu. "Pak Al bagaimana bisa anda tahu ukuran baju saya?" tanya Kiara dengan keras Al yang sedang mengerjakan laporan hanya memandang sekilas Kiara lalu melanjutkan pekerjaannya. Kiara yang kesal langsung menutup laptop milik Al hingga berbunyi. Sungguh pasti laptop itu sudah rusak layarnya. "Kamu! seru Al yang berusaha menahan emosi "Apa? Bapak mau marahin saya setelah apa yang bapak lakukan ke saya semalam!" tantang Kiara penuh emosi "Ahh sudahlah saya tidak mau emosi saya meledak didepan kamu. Sebaiknya kita makan karena makanannya sudah dingin." terang Al yang sudah berhasil mengontrol emosi Mereka memakan makanannya dengan diam. Tak ada yang berani bersuara. Tapi keheningan itu terpecahkan oleh suara dering telfon milik Al. Suara itu terus mengganggu karena Al tidak mau mengangkat telfonnya. "Bapak bisa gak angkat telfonnya? Saya keganggu denger dering telfon bapak." omel Kiara "Iya...iya berisik banget sih kamu." balas Al ***telfon "Kamu lama banget sih Al angkat telfon dari mama. Kamu udah gak sayang lagi sama mama hah!" omel Mama Aida "Ma....saya kan lagi sibuk gak sempat tadi. So, kenapa mama telfon Al? tanya Al "Kamu inget ya Al dua Minggu lagi itu tujuh bulanan adik kamu Aisha dan mama harap kamu Dateng bawa pasangan." terang Mama Aida "Al kan ga punya pacar Ma." balas Al "Mama gak mau tahu ya. kamu harus bawa pacar atau mama akan umumkan pertunangan Kamu dengan Sonia." ancam Mama Aida btw Sonia ini adalah anak teman arisan Mama Aida. Dia sangat tergila-gila dengan Al. Bahkan dia rela menunggu Al selama sepuluh tahun. "Ga ada ya, Ma. Al kan sudah bilang kalau Al bisa mencari pasangan sendiri tanpa dijodoh-jodohkan seperti ini. Sekarang itu jaman modern, Ma." terang Al "Besok pasti kamu jadi bahan lagi sama tante-tante mu." Terang Mama Aida "Ok fine. Besok Al ajak pacar Al." putus Al Al sungguh gila bagaimana bisa mencari pacar dalam waktu dekat. Tapi dari pada mendengar mama nya ngomel terus dia iyakan saja. "Sudah dulu ya, Ma. Al ada tamu. Assalamualaikum." ucap Al "Waalaikumsalam." *** "Huuhhh selalu begini." gumam Al "Hhhmmm Pak Al kita jadi bicara kan?" tanya Kiara dengan takut "hhhmm." jawab Al singkat "Bapak niat mau bicara gak sih? Saya sudah direnggut kesuciannya sama bapak dan sekarang bapak kaya gini ke saya." pecah tangis Kiara "Kamu bikin tambah pusing tau gak!" bentak Al "Kalau kamu mau saya bicara sekarang kamu diam dan lihat video itu Ya Al sempat merekam percayakan yang Ellen dan pemuda itu. Beruntungnya otak cerdasnya bekerja dengan baik. Kiara telah melihat semua video itu. Ia tak menyangka Ellen teman yang baru ia kenal dan ia harapkan bisa menjadi sahabat baiknya tega berbuat seperti ini. Secara tidak langsung Ellen menghancurkan masa depannya. "Kamu sudah melihat semuanya kan. Oleh karena itu, saya menolong kamu. Kamu gadis baik tidak sepantasnya untuk pemuda seperti itu. Saya cukup tahu pemuda itu. Dia adalah anak rektor kampus mangkanya dia merasa berkuasa disini." terang Al "Tapi kenapa bapak yang malah menghancurkan saya!" seru Kiara "Saya tidak tega melihat kamu seperti semalam. Tapi memang itu cara satu-satunya untuk membuat kamu tidak kesakitan lagi. Saya punya penawaran bagus untuk kamu." terang Al "Penawaran apa yang anda maksud." balas Kiara "Saya akan menikahi kamu dan bertanggung jawab tapi ini bukan pernikahan pada umumnya. Pernikahan ini hanya hitam diatas putih. Pernikahan ini akan berlangsung selama dua tahun. Selama itu tidak boleh ada kata pisah dan masing-masing tidak boleh mempunyai pacar." jelas Al "Bapak sudah gila ya! seru Kiara penuh emosi "Ya sudah kalau kamu tidak mau saya juga tidak memaksa kamu. Tapi kalau suatu saat kamu hamil jangan salahkan saya dan jangan meminta pertanggungjawaban dari saya." balas Al Kiara terdiam mendengar penjelasan Al. Ia tidak mau hamil di luar nikah dan membuat Papa dan kedua kakaknya menanggung malu. Papanya pasti akan semak ih n membenci dirinya. Bisa bisa dia di usir dari rumah. "Gak gak aku gak mau Papa tambah benci sama aku. Belum lagi aku baru saja selesai datang bulan artinya hari ini adalah masa suburku." gumam Kiara "Bagaimana? Saya tidak punya waktu banyak Kiara Anindya Pramudyatama." Tanya Al "Bagaimana bisa dosen ini tahu nama lengkapku." batin Kiara "Kamu tidak usah heran bagaimana saya tahu nama lengkap kamu. Itu hal mudah untuk saya mengetahui semua informasi tentang kamu." jelas Al "Bapak menyebalkan sekali." dengus Kiara "Cepatlah beri jawaban sekarang." paksa Al lagi "Baik saya akan menerima pernikahan ini tapi saya ada beberapa poin yang harus disetujui oleh bapak dan tidak ada yang boleh tahu tentang perjanjian ini kecuali kita berdua. Dan saya juga mau perjanjian ini disahkan ke notaris." terang Kiara "Wow... ternyata kamu pintar juga ya. Tidak salah rupanya kamu menjadi salah satu keturunan Pramudyatama." balas Al "Saya memang pintar dari dulu ya. Memangnya bapak huh." balas Kiara dengan sengit "Dasar bocah menyebalkan." dengus Al "Bapak tuh yang nyebelin. Udah deh saya mau kembali ke villa sebelum ada yang curiga." putus Kiara "Kamu tetap disini. Dan untuk masalah teman-teman mu saya sudah bilang kalau semalam kamu dijemput kakakmu karena papamu sakit." terang Al membuat langkah Kiara terhenti "Dosen nyebelin anda itu." ucap Kiara dengan sebal "Tetap duduk disitu dan saya akan mengerjakan laporan saya. Kita kembali setelah mereka pergi." terang Al dengan mata tetap fokus mengahdap laptop "Mimpi apa gue bakalan dapet suami kaya dia." gumam Kiara Kiara yang bosan menunggu Al mengerjakan laporan. Dari tadi dia hanya mmenonton tv yang nyatanya tidak dia hiraukan siaran yang dia lihat. Waktu sebentar yang dibilang Al nyatanya ini sudah dua jam lebih tapi tidak kunjung usai. Kiara sudah mengantuk dan dia tidak sengaja ketiduran di sofa panjang yang terletak didepan kasur Dering ponsel Kiara mengganggu konsentrasi Al. Kiara sama sekali tidak terganggu dengan suara ponselnya. Al mendekat kearah ponsel Kiara. Ternyata yang menelfon adalah kakak Kiara. Apa Al akan mengangkat telfonnya atau justru membangunkan Kaira yah????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD