Sejak saat itu, Rara jadi semakin dekat dengan Rangga.
Rara sering datang ke kantor Rangga hanya untuk meminjam novel atau hanya sekedar membacanya saja.
Rara pun berniat untuk datang ke kantor sang ayah. Rara ingin makan siang dengan ayahnya.
Dia bersenandung ria dan memutar-mutar kunci mobil di tangannya.
"Bunda, Rara ke kantor ayah dulu ya?"
"Kamu hati-hati ya sayang bawa mobilnya. Jangan lupa titipan bunda juga,"
"Iya, Bun. Bunda juga hati-hati ya ke butiknya."
"Ya, sayang.."
"Ya udah, assalamualaikum bunda…"
"Waalaikumsalam.."
Rara pun mulai melajukan mobilnya menuju kantor sang ayah.
Tak lupa ia membawa puding kesukaannya, kali ini Rara membawa puding rasa lecy.
Hingga tiba di depan gedung pencakar langit.
Rara pun keluar dari dalam mobilnya, dan beberapa orang yang berlalu lalang menyapanya dengan senyuman, Rara pun membalas mereka dengan senyuman hangat.
Rara memasuki lift dan menuju lantai paling atas dimana sang ayah berada.
Hingga pintu lift terbuka, Rara pun keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruang kerja sang ayah.
Namun, samar-samar terdengar jika sang ayah sedang berbincang dengan seseorang.
Rara pun menunggu sejenak, hingga suara decitan pintu terdengar, menampakkan seorang laki-laki seumuran dengan sang kakak keluar dari ruang kerja sang ayah.
Rara memicing melihat orang itu, dan dia pun mendekatinya.
Laki-laki tampan itu menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung Rara.
"Kamu bukannya yang di supermarket itu ya?" Tanya Rara langsung.
"Apa?" Tanya laki-laki itu bingung.
"Iya, kamu yang bayarin puding aku kan waktu di supermarket? Masa kamu lupa sih?"
Laki-laki itu terlihat berpikir sejenak dan dia pun teringat dengan waktu itu.
"Ah, iya. Terus bagaimana?"
"Ya.. nggak gimana-gimana sih," jawab Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hingga suara Reyhan membuat mereka menoleh.
"Rara?"
Rara dan laki-laki itu pun menoleh ke arah suara.
"Ayah.." senyum Rara mengembang melihat sang ayah mendekatinya.
Laki-laki itu terkejut mendengar panggilan dari gadis itu pada atasannya.
"Kamu kenal Firman?"
"Firman?" Ulang Rara dengan bingung.
"Iya, ini Firman namanya, sayang." Jelas Reyhan pada putrinya.
"Oh, kak Firman..",
Firman pun tersenyum tipis menanggapinya,
"Ah, Firman.. perkenalkan, ini putri saya, Rara."
"Rara.." Rara mengulurkan tangannya dan Firman pun menerimanya.
"Firman.."
Mereka pun melepaskan tautan tangannya.
"Ayah, kak Firman ini yang bayarin puding Rara pas di supermarket itu loh, yah.."
"Jadi, yang waktu itu kamu ceritakan itu nak Firman?"
Rara pun mengangguk yakin,
"Wah.. terima kasih ya nak, Firman. Akhirnya kalian bertemu kembali, Rara udah janji tuh kalau ketemu mau gantian traktir." Kata Reyhan dengan terkekeh.
"Ihh, ayah… jangan buka rahasia dong." Ucap Rara dengan mencebikkan bibirnya.
"Sudah-sudah, ayo kamu masuk ke ruangan ayah. Firman juga mau kembali kerja, jangan ganggu."
"Ayah berlebihan deh.."
Reyhan tak menanggapi ucapan putrinya. Firman pun berpamitan untuk pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Jadi, apa kau menyukainya?"
"Menyukai siapa, yah?" Tanya Rara pada sang ayah.
"Firman.."
"Mana ada, biasa aja, ayah."
Reyhan tersenyum penuh arti.menatap putri kesayangannya.
"Sayang, ayah ada kerjaan sebentar. Kamu nggak apa-apa kan di tinggal disini?"
"Nggak apa-apa, yah. Rara bisa sambil baca novelnya kak Rangga, nih.." tunjuk Rara pada novel di genggamannya.
Sang ayah mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan.
Di sisi lain, Rangga sedang gelisah karena gadis yang biasa datang menemuinya kini tak menampakkan diri disana.
"Kemana sih dia? Kenapa nggak datang." Gumam Rangga dengan gelisah.
Rangga pun mengambil benda pipih di samping laptopnya, dia menggeser layar kemudian mencari kontak seseorang.
Dia pun menghubungi kontak itu, kontak gadis yang ia tunggu.
Sekali tidak di angkat, kedua kali baru di angkat.
"Assalamualaikum, kak Rangga…"
Rangga terdiam sejenak mendengar suara gadis itu.
"Waalaikumsalam, Ra.. kamu nggak kesini?"
"Eh.. oh itu, Rara ke kantor ayah, tiba-tiba Rara kangen makan siang sama ayah, kak. Hehe…"
"Oh ya udah kalau begitu, kakak pikir kamu kena macet."
"Nggak kok, aman..",
"Oke, ya udah. Kak Rangga tutup ya telponnya, jangan lupa makan siang. Assalamualaikum.."
"Iya.. Waalaikumsalam, kak." Sambungan mereka pun terputus.
Dan akhirnya Rangga bernapas lega setelah mendengar kabar Rara,
"Padahal aku rindu, eh.." Rangga tersadar dengan gumamannya.
Dia pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada aja aku ini,"
"Kenapa lu? Suka sama Rara?" Rangga terlonjak kaget saat mendengar suara lain di ruang kerjanya.
Orang itu terbahak melihat reaksi Rangga.
"Sialan, sejak kapan lu di sini hah?" Sewot Rangga membuat orang itu terkekeh.
"Apaan sih? Lebay, gue di sini sejak lu gelisah, nge-khawatirin orang, eh taunya lu nge-khawatirin Rara." Jelas orang itu membuat Rangga memalingkan wajahnya karena malu.
"Udah ngaku aja deh, lu kalau suka." Godanya lagi.
"Iya, iya, gue suka.. puas!" Jawab Rangga dengan ketus.
Orang itu terkekeh dibuatnya.
"Lu ngapain di kantor gue?" Tanya Rangga terheran.
"Gue numpang lewat aja, kenapa? Nggak boleh?"
"Ck, biasanya kan lu sibuk. Jarang ada waktu cuti.."
"Ehm, sekarang gue lagi pengin ambil cuti. Btw, sejak kapan?"
Rangga menaikkan pandangan menatap Dendi. Ya, Dendi adalah sahabat Rangga dan Anton sejak mereka SMA dulu.
"Sejak kapan apanya?" Ulang Rangga.
"Lu suka sama Rara sejak kapan?"
Rangga menahan senyum, membuat Dendi mual seketika.
"Jijik gue liat lu kaya anak ABG baru rasain jatuh cinta." Rangga pun terkekeh mendengar ejekan Dendi.
"Gue nggak tau sejak kapan rasa ini ada, tapi gue suka aja sama dia."
Dendi pun mengangguk,
"Anton tau?"
Rangga pun menggeleng kecil,
"Jangan dulu tau deh, gue nggak enak. Malu juga, hehe.." cengir Rangga.
"Ya udah sih, nggak apa-apa."
***
Reyhan Wijaya menemui manager pribadinya, dia ingin membicarakan masalah pribadi.
Hatinya merasa sangat cocok dengan niat yang ingin dia lanjutkan. Senyumnya mengembang sepanjang lorong kantor.
Dia pun menemui Arman, managernya.
"Arman.."
"Ya, pak.."
Reyhan menutup pintu dengan rapat.
"Arman, kita harus bicara. Ini masalah penting dan pribadi,"
"Oke, apa itu Rey?"
Ya, Arman dan Reyhan selalu berbicara dengan gaya non formal jika sedang berdua. Karena mereka sudah berteman sejak lama, hanya beda nasib.
Reyhan duduk di hadapan Arman.
"Arman, aku ingin berbicara serius, aku rasa ini keputusan yang tepat. Aku menyukai putramu,"
"Apa maksudmu? Jangan berbelit, Rey..", sewot Arman.
"Sudah tua masih saja suka sewot dan mutus omongan orang." Jawab Reyhan tak kalah sewot. Dan mereka berdua pun terkekeh.
"Oke, lanjutkan.."
"Begini, aku sudah lihat bagaimana giatnya anakmu dan ternyata putri ku juga mengenal anakmu, bagaimana kalau… " ucapan Reyhan terjeda, menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.
"Bagaimana kalau kita jodohkan mereka?"
Bersambung...