Bab 5

1029 Words
Saat makan malam telah usai di rumah keluarga Wijaya. Reyhan mengatakan untuk tidak pergi, karena dia ingin membicarakan sesuatu. "Jadi, apa yang mau ayah katakan?" tanya Anton memecah keheningan. "Begini, ayah rasa… sudah saatnya adik kamu ada yang jaga." "Maksud ayah gimana? Rara kan udah gede, yah.." ujar Rara. "Begini, Ra… ayah berniat untuk menjodohkan kamu dengan Firman." Mata Rara dan Anton terbelalak lebar, begitu pula dengan Hana. "Ayah, apa-apaan ini? bukankah sudah bunda bilang, di dalam keluarga kita tidak akan ada yang namanya perjodohan?" ujar Hana menentang suaminya. "Aku juga nggak setuju kalau adek di jodohkan.." sambung Anton. "Tapi, Firman itu anak yang baik, Bun, Anton.. ayah tidak sembarang memilih." "Ayah, tapi … " "Sudahlah, Bun.. Firman anaknya baik, dan sopan. Apa lagi dia taat dengan agama, bisa membimbing Rara ke jalan yang benar." Rara hanya terdiam mendengar penjelasan sang ayah. Dalam hati ia senang, tapi ada sedikit rasa yang mengganjal pula di hatinya, entah apakah itu Rara tidak tahu. "Sebaiknya, biar Rara yang menentukan pilihannya sendiri, kamu gimana, sayang?" tanya bunda membuat lamunan Rara buyar. "Oh.. itu, apa nggak sebaiknya Rara dan kak Firman pendekatan dulu, yah? biar kita saling mengenal begitu?" Semua orang terdiam, lalu Reyhan mengangguk dan tersenyum. "Ya, sayang.. ayah tidak akan memaksa kalau nanti kamu menolak," Senyum Rara pun mengembang. Begitu juga di tempat lain, Arman sedang duduk di ruang keluarga, dia memanggil putra tunggalnya untuk ikut duduk. "Ada apa sih, pa? aku mau keluar, teman-temanku udah pada nunggu, nih." sewot Firman pada sang papa. "Ck ubah cara sikapmu, Firman. Bicaralah yang sopan pada orang tuamu!" Tegas Arman pada putranya. Firman hanya memutar bola mata jengah. "Sebenarnya papa mau ngomong apa? kalau nggak penting aku pergi nih," Arman hanya menggelengkan kepalanya, "Begini, Firman.. pak Wijaya menginginkanmu menjadi menantunya." Firman mengernyitkan dahinya, terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Kalau aku tolak, sayang juga. Anaknya cantik," Batin Firman. Firman pun tersenyum lebar, "Baik, pa. Papa atur aja lah, aku ikut papa aja." Arman pun tersenyum tipis dan mengangguk, dalam hati ia meragukan keputusan putranya. Dia sangat paham sifat dan watak putra semata wayangnya itu. Setelah itu Firman berpamitan untuk pergi.    *** Di sebuah club malam, Rangga dan Dandi sedang duduk dan mencuci mata. Dandi tidak menyukai alkohol, karena dia adalah seorang dokter. Dia hanya suka berada di tempat itu, menurutnya itu bisa membuat otaknya lebih fresh. Berbeda dengan Rangga, dia sudah berkali-kali menenggak anggur di hadapannya. Namun, semua itu tak mudah membuatnya mabuk, karena Rangga manusia yang bebal dan kenal terhadap berbagai jenis minuman beralkohol. "Udah bro, nanti lo mabuk. Gue males kalau nyeret lo, berat." Sewot Dandi pada Rangga. "Lo kaya nggak tau gue aja, gue kan sulit mabuk." "Ck, serah situ aja deh. Jadi, gimana rencana selanjutnya?" "Rencana apa?" tanya Rangga dengan wajah polos. "Ck, bodoh." "Lo yang bodoh, bukan gue." jawab Rangga ngotot. "Ya deh, situ haha.." Rangga memutar bola mata jengah. "Rencana lo buat deketin Rara, gimana?" "Gye nggak tau, gue takut dia nggak suka sama gue." ucap Rangga kembali menenggak minumannya. "Iya juga sih, gue juga nggak mau liat lo tiba-tiba patah hati, kasian tau." ejek Dandi membuat Rangga mendengus. "Besok gue ke rumah dia, mau antar berkas. Lo mau ikut?" "Gue ada waktunya malam, gimana?" "Lo tau sendiri, siang kita sibuk, malih." sewot Rangga membuat Dandi terkekeh. Dandi tersentak saat ada tangan mulus menyentuh dadanya dari belakang. "Woi, jangan sentuh gue sama tangan kotor Lo, Maemunah!" Rangga tergelak mendengar umpatan Dandi, Dandi adalah manusia paling anti dari kehidupan kotor. Kecuali, ngintip lah dikit nggak apa-apa, ye kan? Wkwkwk.. "Jangan munafik, babe… aku bisa kasih cuma-cuma kalau kamu mau." ucap wanita penghibur dengan nada menggoda pada Dandi. Dandi bergidik ngeri melihat penampilan wanita itu, memakai pakaian kurang bahan, walaupun Dandi suka tapi dia tak ingin melakukan 'itu' sebelum dia menikah.  Berbeda dengan Rangga dan Anton, mereka sering melakukan 'itu' dulu, sebelum menemukan jalan yang benar, ckckc. "Sebaiknya kau menjauh, bitch.." ucap Rangga dengan tatapan tajamnya, membuat wanita itu beringsut mundur. "Sombong sekali kalian," gerutunya sambil berlalu. "Huh.. syukurlah, gue selamat dari godaan wanita ular. Sebaiknya kita pulang sekarang," Rangga pun mengangguk, lalu samar-samar dia mendengar ucapan seseorang. "Lo tau nggak, gue bakal jadi orang kaya." "Apaan? Ngimpi lo?" sahut temannya. "Nggak, gue mau di jodohin dong sama anak bos bokap." Lalu suara itu semakin samar dan semakin tak terdengar. "Kenapa sih?" "Nggak…"  Lalu Rangga dan Dandi pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area club malam. *** Rara menatap langit-langit kamar, dia belum bisa memejamkan matanya. Dia merasa senang, tapi entah mengapa hatinya seolah ragu. Dia pun bergerak mengubah posisinya menjadi duduk. Mengacak rambutnya frustasi, tiba-tiba lampu di rumahnya padam membuatnya berteriak seketika. "Bunda, ayah… kakak!!" teriak histeris Rara, secepat kilat pintu kamar itu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki dengan membawa center di tangannya. Laki-laki itu memeluk tubuh Rara dengan sayang. "Udah, nggak apa-apa.. ada kakak, Ra.." ya, laki-laki itu adalah Anton, kakaknya. Rara memeluk erat tubuh sang kakak. "Rara takut, kak." cicit Rara dengan sesenggukan. Anton dengan sabar mengusap lembut punggungnya. "Udah, nggak usah takut.. kakak disini," "Takut monster hiks.. hiks.." Anton menahan senyum, sudah seumur ini tapi adiknya masih percaya dengan hal konyol itu. Tapi, itu bukanlah masalah, karena Anton memang menyayangi adiknya itu. Anton mengecup lembut kening Rara. "Tidur ya? udah malam ni," ucap Anton lembut. "Temani Rara, Rara nggak mau tidur sendiri." cicit Rara dengan mengusekkan kepalanya di d**a bidang sang kakak. "Ya, sayang.." Anton pun naik ke ranjang, dan menepuk kasur di sebelahnya, Rara pun mendekat, merebahkan tubuhnya, menjadikan lengan sang kakak bantalannya. "Tidurlah, dear.. kakak akan menemanimu," "Hmm, jangan pergi sebelum listrik menyala." "Iya, iya, bawel.." Anton pun mengusap lembut punggung Rara, mengecup lembut kepala sang adik. "Ck, nanti kalau kamu sudah menikah, kita tidak bisa lagi bermesraan seperti ini," cicit Anton pada Rara. "Rara nggak mau bahas itu. Rara mau tidur," Rara memeluk pinggang Anton erat. Anton pun terdiam, tak ingin menanggapi ucapan sang adik. Karena jauh di lubuk hatinya, ia menentang keras ucapan sang ayah. Dia ingin adik kesayangannya itu bahagia dengan pilihannya sendiri, bukan karena perjodohan. Ia takut jika Rara tidak bahagia nantinya, tapi semua kembali lagi pada sang adik, semua keputusan berada di tangan Rara.   Bersambung...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD