Bab 6

1057 Words
Sore ini, Rara sedang menunggu Firman di sebuah cafe dekat dengan kantor ayahnya. Rara merasa gugup, dia pun berkali-kali menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya.   Hingga suara pintu berdenging menandakan seseorang masuk, Rara menangkap sosok itu, sosok yang ia tunggu.   Firman..   Dia menunjukkan wajah datar, lalu berubah dengan senyum manis yang mengembang membuat dahi Rara mengernyit, tapi tak lama kemudian dia membalas senyuman itu.   "Assalamualaikum, Rara.."   "Waalaikumsalam, kak.."   "Udah lama ya?"   "Nggak juga kok, aku baru sepuluh menitan disini." jawab Rara seadanya.   Firman pun mengangguk, dia memanggil pelayan cafe dan dia memesan minuman dan juga dessert.   Dia pun tak lupa memesankan puding untuk Rara.   "Puding?" ucap Rara.   "Iya, kenapa? kamu nggak suka ya?"   "Bukan, aku suka kok. Malah itu kesukaanku, cuma kenapa kakak pesan puding?" tanya Rara dengan terheran.   "Oh, itu.. karena aku ingat pas pertama kita ketemu kamu beli puding,"   "Ish iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran coba,"   Firman pun terkekeh,   "Oh ya, Ra… mengenai soal perjodohan itu," ucap Firman dengan ragu.   Rara pun tersenyum,   "Itu kita serahkan saja sama yang kuasa kak, kita jalani aja dulu. Kalau jodoh nggak akan kemana, kan.. kita pendekatan dulu, aja kak."   Firman pun mengangguk menyetujui keputusan Rara, hanya saja hatinya yang sedikit menolak dengan keputusan Rara.   Dan mereka pun mulai bertukar nomor telepon dan berbicara hal-hal konyol yang membuat mereka tertawa.   Hingga tak terasa waktu sudah mendekati waktu maghrib, mereka pun memutuskan untuk mencari masjid terdekat dan melakukan sholat maghrib berjamaah.   Setelah itu, mereka pun pulang, Firman merasa tak tega, ia mengawal mobil Rara dengan mobilnya, tak terasa dua puluh menit kemudian mereka sampai di depan bangunan mewah rumah keluarga Wijaya.   Dari dalam mobil Firman tertegun memandang rumah mewah itu, bahkan tiga kali lipat lebih besar dari ukuran rumah kedua orang tuanya.   Firman tersentak saat mendengar suara ketukan di kaca mobilnya. Dia pun menurunkan kaca mobilnya,   "Ada apa, Ra?"   "Kak Firman nggak mau masuk dulu?" Tawar Rara.   Firman tersenyum manis,   "Nggak, Ra. Makasih deh, kamu masuk aja. Udah malam ni,", ujar Firman pada Rara.   "Ya udah, kak Firman hati-hati di jalan ya, Rara masuk ya, kak? Assalamualaikum.."   "Iya, Ra. Waalaikumsalam.." Firman pun mulai meninggalkan area perumahan keluarga Wijaya.   Rara berjalan masuk ke dalam rumahnya, tak lupa ia mengucapkan salam.   "Assalamualaikum.." teriak Rara, namun dia terkejut mendengar jawaban para laki-laki serempak.   Rara berjalan menuju ruang tamu dan matanya memicing, ternyata ada anggota GGS disana, Ganteng ganteng sialan, wkwkwk.   "Rara, kamu baru pulang?" tanya Anton membuat Rara mengalihkan pandangannya.   Rara pun mengangguk dan tersenyum manis.   "Nggak kak, Rara udah pulang dari tadi."   Anton menatap sang adik bingung,   "Bukannya kamu dari luar ya?",   "Emang,"   "Kok kamu bilang nggak?",   "Ya, kakak sih.. pertanyaannya yang nggak berfaedah, orang udah tau jawabannya juga." cicit Rara membuat Anton tergelak, kedua temannya menahan tawa.   Anton hanya mendengus kesal, pandangan Rara tertuju pada dua laki-laki di depan sang kakak.   "Kak Dandi, tumben main kesini.."   "Iya, Ra. Ini mumpung lagi libur,"   "Nanti kapan-kapan Rara main ke rumah sakit, boleh?"   "Ish, nggak usah aneh-aneh, Ra." tegur Anton pada adik kecilnya.   "Iih, kak… Rara kan mau tau kegiatan kak Dandi di rumah sakit," cibir Rara, lalu pandangannya berpindah pada sosok tampan yang sehari ini tidak ia temui.   Rara berjalan mendekat, mengucek dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Matanya memicing, melihat sosok yang biasa ia lihat memakai celana bahan dengan setelan jas. Kini ia memakai celana jeans berwarna biru dengan kaos polos berwarna putih, memperlihatkan otot-otot kekarnya.   Rara meneguk ludahnya susah payah saat melihat urat-urat menonjol di lengan lelaki itu.   Lalu dia menaikkan pandangan, dan tatapan mereka bertemu.   "Kak Rangga.." cicit Rara pelan,   Rangga menatapnya datar.   "Dari mana, Ra?" ucap Rangga membuat Rara kembali menatapnya.   "Rara, dari … " ucapan Rara terpotong saat sang bunda datang dengan nampan berisi air minum dan beberapa cemilan.   "Eh, anak bunda.. baru pulang ya?"   "Iya, Bun.." Rara menatap sang bunda yang menaruh minuman di meja.   "Gimana sama Firman?" tanya bunda langsung dan dapat di dengar oleh tiga manusia di dekat mereka.   Wajah Rara merona karena malu,   "Iih bunda… jangan disini, tanyanya. Malu ihh.." ucap Rara sambil berlalu dari ruang tamu.   Sang bunda hanya terkekeh melihat tingkah putri kecilnya.   Berbeda dengan laki-laki yang memakai kaos polos berwarna putih, tatapan kembali dingin, namun hawanya terasa panas.   Dandi yang menyadari itu langsung menepuk pundak sahabatnya.   "Silahkan diminum ya, cemilannya juga jangan lupa di makan." ucap bunda memecahkan keheningan.   Dan di angguki oleh tiga orang disana, setelah itu Hana berpamitan pada mereka karena ingin menyusul putri kecilnya.   "Ton, siapa yang di maksud tante Hana tadi?" tanya Dandi penasaran pada Anton.   Anton terlihat menghela napasnya berat. Dia menyugar rambutnya kebelakang.   "Rara di jodohkan.." lirih Anton membuat Rangga dan Dandi terbelalak lebar.   "Apa? di jodohkan? lo bercanda, Ton?" cecar Rangga membuat Anton menaikkan sebelah alisnya.   Berbeda dengan Dandi yang ingin sekali menelan Rangga hidup-hidup, kenapa dia bodohnya nggak ketulungan? bukankah itu sama saja dengan membuka kartu?   "Ehem.. maksud gue, kok bisa Rara di jodohkan?" tanya Rangga lagi dengan berusaha untuk bersikap normal.   "Gue nggak tau, kata bokap sih si Firman itu anaknya baik, taat agama, dan ayah bisa pastikan kalau Firman bisa bimbing Rara ke jalan yang benar."   Nyali Rangga menciut seketika, dia benar-benar merasa akan kalah, dia bahkan tidak pernah menunaikan kewajibannya dengan tepat waktu. Dia menyadari hal itu, dia manusia yang biasa saja jika disangkutkan dengan urusan soal agama.   "Tapi, gue nggak yakin, gue nggak tau kenapa ragu, gue nggak bisa lepasin adek gue ke orang asing, tapi kalian tau kan, gue paling nggak bisa nentang keputusan bokap, begitu juga orang lain." terang Anton membuat Rangga merasa ada sedikit harapan darinya, meskipun harus menentang Reyhan sekalipun.   Dia pun akan mencoba untuk memantapkan hatinya, dia benar-benar yakin akan keputusannya. Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan Rara.   Meskipun semua orang tahu, jika Reyhan adalah orang yang sangat kejam, dia akan melakukan apapun pada orang yang berani menyentuh apapun yang ia cap sebagai miliknya tanpa izin darinya.   Rangga pun tahu, jika Reyhan bisa berbuat apapun, bahkan untuk mengurung lawannya yang berbuat curang di bawah tanah, dia bahkan berani untuk menghilangkan nyawanya, jika sang lawan sudah bersikap keterlaluan.   "Ya udahlah, kalau jodoh ya nggak akan kemana juga, biarin aja Rara yang nentuin. Kalau dia nggak cocok juga pasti bakal nolak," ucap Dandi sambil melirik Rangga yang terlihat sedang berpikir keras, Dandi adalah satu-satunya orang yang mengetahui jika Rangga mulai menyukai Rara.   Hanya saja, dia masih gengsi untuk mengakuinya.   Bersambung...    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD