“Keluar,” suruh Aris pada Willona. Ia berdiri di ambang pintu kamar sambil berkacak pinggang. Willona melirik Nayla sebentar, lalu menatap Aris waspada. d**a pria itu naik-turun tak beraturan, jelas ia tidak menyukai kedekatan Willona dengan Nayla. “Keluar dari kamar gua!” bentak Aris keras, kali ini ia menarik tangan Willona hingga tubuh gadis itu berdiri dari duduknya. Plak! Plak! Dua pukulan keras mendarat di kedua pipi Aris. Wajahnya memerah. Rasa panas di wajahnya menciptakan emosi luar biasa. “Aku jijik sama kamu! Setelah kamu menghamili dia, merusak hidupnya, apa kamu pikir aku masih percaya sama kamu gitu aja, hah? Enggak!” Willona mengatakannya tepat di wajah Aris, di hadapan Nayla. Rasa sayangnya selama ini menguap begitu saja. Terlebih, gadis itu sudah mengetahui semu

