Bab 6. Kecurigaan Sonya

1034 Words
“Manda, di mana Alan? Kenapa Alana hanya sekolah sendiri?" tanya Tama kepada mantan istri bosnya yang tidak mau lagi dipanggil nyonya karena sudah tidak menjadi istri Pandu lagi. “Alan sedang demam, Mas. Jadi dia tidak sekolah," jawab Amanda, "Mas, aku belum siap memberitahu Mas Pandu tentang semua ini," ucap Amanda pelan sambil menoleh pada gadis kecil yang sedang terbaring itu. "Saya tidak akan mengatakan apa pun kepada Bos sebelum dapat persetujuan darimu. Kamu tenang saja, saya akan mengurus semuanya, kalian akan baik-baik saja." Demi kebaikan orang-orang yang dicintai bosnya, Tama rela melakukan apa pun. Walaupun nantinya ia akan dibenci oleh Pandu. "Tapi, aku bingung Mas, ke mana lagi aku mencari uang sebanyak itu untuk membayar tagihan rumah sakit, aku menolak bantuan Pandu karena aku takut dia tahu semuanya." Amanda tertunduk. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain menolak bantuan yang benar-benar ia butuhkan supaya Pandu tidak mengetahui identitas anaknya. "Kamu tenang saja, Amanda, saya sudah mengurus administrasi Alana. Kamu cukup jaga Alana dan Alan dengan baik." Amanda menegakkan kepalanya, lalu menoleh pada laki-laki yang selama ini menjaganya. "Mas Tama, terima kasih banyak. Lagi-lagi aku merepotkanmu." "Bos Pandu yang sudah membayar semuanya, tapi kamu tenang saja. Rahasiamu tetap terjaga. Walau bagaimanapun keadaan hubungan kalian, kamu harus tetap berterima kasih padanya." Tama ingin Amanda tetap bersikap baik kepada mantan suaminya. Ia tidak mau wanita itu memusuhi ayah dari anak-anaknya walau tidak dipungkiri Pandu telah menyakiti Amanda. "Iya, Mas." Amanda segera mengirim pesan kepada mantan suaminya. Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Pandu. Matanya membulat sempurna saat ia mendapat pesan dari mantan istrinya. “Terimakasih sudah membantuku melunasi biaya pengobatan Alana. Meski pihak rumah sakit tidak mengatakan apa pun, tapi aku yakin itu kamu." Pandu membaca pesan dari mantan istrinya sambil tersenyum-senyum sendiri. Ternyata dia masih menyimpan nomor ponselku, ucap Pandu dalam hatinya. Lelaki itu terlihat bahagia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ia mengenang kebersamaannya dulu dengan Amanda. Namun, sedetik kemudian ia tersadar kalau Sonya sedang menunggunya di kantor. Pandu bergegas pergi ke kantor setelah mengganti pakaiannya yang berlumuran darah. Sesampainya di kantor, Pandu langsung menuju ke ruangannya untuk menemui tunangannya, Sonya. Dia membuka pintu ruangan itu perlahan. "Selamat siang Sonya," sapa Pandu kepada wanita yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. "Kenapa kamu lama sekali?" protes Sonya karena Pandu datang setelah satu jam menelponnya. "Aku pulang dulu untuk mandi karena baju saya penuh dengan darah anak kecil yang saya tabrak itu," jawab Pandu, dan Sonya hanya mengangguk tanda percaya. Pandu langsung duduk di kursi kebesarannya sedangkan Sonya duduk di sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja tunangannya. Pandu pura-pura sibuk dengan pekerjaannya karena ia tidak suka berbicara banyak dengan tunangannya itu. "Kenapa kamu sibuk sendiri?” Sonya kesal karena lama menunggu Pandu bercerita tentang apa yang dia alami. “Bagaimana keadaan anak itu? Apa orang tuanya menuntutmu?" Sonya penasaran dengan apa yang terjadi pada tunangannya, tapi lelaki itu terlihat santai walau baru saja mengalami musibah, hingga membuat Sonya curiga. "Dia selamat, tapi masih harus dirawat di rumah sakit," jawab Pandu tampa menatap Sonya. "Kamu tidak sedang berbohong 'kan?" Sonya bangun dari duduknya, lalu mendekati Pandu dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja tunangannya itu. “Kamu tidak terlihat seperti sedang mendapat musibah.“ "Tama yang mengaku menabrak anak itu,” jawab Pandu santai, “kalau aku yang mengaku dan orang tuanya tidak terima, lalu melapor ke polisi, itu akan merusak nama perusahaan ini." Pandu menoleh sebentar pada Sonya, lalu kembali sibuk dengan berkas-berkas yang sedang ia pelajari. Pandu terpaksa berbohong supaya tunangannya itu tidak banyak bertanya tentang Alana. Apalagi sampai tahu kalau bocah kecil yang ditabraknya itu adalah anak Amanda, mantan istrinya. "Kamu cerdas, Sayang. Tangan seorang Bos tidak boleh kotor. Biarkan saja Tama yang mengurus semuanya. Sebagai bawahan dia harus menuruti apa pun perintahmu." Sonya memuji Pandu karena ia melimpahkan kesalahannya kepada sang asisten. "Katakan padaku, ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Pandu, "aku sangat sibuk Sonya, aku tidak bisa menemanimu terlalu lama." "Pandu, kenapa kamu tidak pernah bersikap manis padaku?" Sonya cemberut. Sudah beberapa bulan lalu ia bertunangan dengan Pandu, tapi laki-laki itu tidak pernah bersikap selayaknya calon suami. "Aku sedang banyak pekerjaan," jawab Pandu, "aku tidak punya banyak waktu karena ada proyek baru yang akan dimulai bulan depan dan pastinya aku akan tambah sibuk." Untung saja ada proyek baru yang bisa ia jadikan alasan. Walau sebenarnya proyek itu sudah berjalan dari beberapa bulan lalu. Setidaknya dia tidak berbohong tentang hal itu. "Ya sudah, kamu kerja saja. Aku hanya ingin bersama dengan kekasihku. Aku akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai." Sonya duduk manis sembari memerhatikan Pandu yang sedang sibuk dengan berkasnya. "Terserah kamu," sahut Pandu ketus. Pandu terus fokus dengan pekerjaannya tanpa memedulikan keberadaan tunangannya. Namun, ketika ponselnya berbunyi, Pandu menatap layar ponselnya sembari tersenyum-senyum sendiri dan itu membuat Sonya kesal. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Sonya curiga pada Pandu. "Tidak apa-apa, aku hanya sedang menertawakan Tama. Dia dimarahi orang tua anak itu, tapi ujung-ujungnya ibu-ibu itu minta foto bersama karena Tama mirip artis, katanya." Pandu terpaksa berbohong. Mana mungkin ia mengatakan kalau yang mengirim pesan padanya adalah mantan istrinya. "Katanya sibuk. Menatap calon istrinya saja tidak sempat, tapi bisa-bisanya membalas pesan asisten yang tidak penting itu." Pandu mengembuskan napasnya perlahan. "Ya sudah kamu mau bicara apa?" Pandu melihat jam yang melingkar di tangannya. “Aku akan meluangkan sedikit waktu untukmu.“ Akhirnya Pandu mengalah. Ia tidak pernah bisa berdebat dengan perempuan seperti Sonya. Ia terpaksa berpura-pura baik supaya Sonya tidak mencurigainya lagi. Sonya menceritakan apa yang sudah dia alami dengan antusias. Dia berbicara panjang lebar, tetapi tidak ada respons sedikit pun dari Pandu. Hal itu membuat Sonya marah. Pandu terlihat sibuk dengan ponselnya, ada senyum setiap kali ia menatap layar benda pipih itu. Namun, saat Sonya bercerita tentang dirinya, Pandu terlihat tidak memedulikannya sama sekali. Wanita itu menjadi sangat kesal dan marah pada Pandu. Ia juga merampas ponsel dari tangan tunangannya. Dan itu membuat Pandu marah besar. "Kamu sangat tidak sopan Sonya." Pandu bangun dan berdiri sambil menatap tajam wanita seksi yang duduk di hadapannya. "Ingat Sonya! Aku menerima perjodohan ini bukan karena menyukaimu, tapi ini semua kehendak orang tua kita.” 'Kamu lihat saja nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku,' batin Sonya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD