Bab 7. Bayangan Masa Lalu

1088 Words
Kesabaran Pandu sudah habis. Ia terpaksa mengingatkan Sonya tentang kebenaran hubungan di antara mereka. Perjodohannya dengan Sonya tidak lepas dari perjodohan bisnis. Sonya tahu kalau sebenarnya Pandu tidak mencintainya, tapi ia berpikir kalau laki-laki itu akan bisa dengan mudah ditaklukkan setelah Amanda tidak ada. Tapi kenyataanya setelah enam tahun perceraiannya, Pandu masih belum ingin menikah lagi. "Menyebalkan!" Sonya marah karena perlakuan Pandu padanya. Wanita itu pun berdiri dan menatap tajam sang kekasih. Bukannya takut setelah mendapat kemarahan dari Pandu, tapi Sonya malah menantang Pandu. Ia yakin kalau tunangannya itu akan menuruti semua ucapan ibunya. Dan karena itulah ia akan terus mendekati calon mertuanya. "Kenapa kamu yang marah? Seharusnya aku yang marah karena kamu telah bersikap keterlaluan." Pandu menadahkan tangannya. "Kembalikan ponselku!" Pandu heran kepada wanita yang ada di hadapannya. Sudah berbuat salah bukannya minta maaf, tapi malah marah-marah. 'Dia memang sangat berbeda dengan Amanda. Sangat jauh berbeda,' batin Pandu. Sonya mengembalikan ponsel Pandu yang dirampas olehnya. "Kamu sangat menyebalkan, Pandu!" Pandu tidak mau lagi menanggapi ucapan Sonya. Ia memasukkan benda pipih itu pada saku jas. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Sejak tadi aku bicara panjang lebar, tapi kamu sama sekali tidak peduli! Kamu malah melihat layar ponselmu sambil tersenyum-senyum sendiri! Sebenarnya kamu sedang berkirim pesan dengan siapa?!" “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang,” kata Pandu, “aku sudah menjawabnya dengan jelas, kalau aku sedang berkirim pesan dengan Tama." "Bohong! Kamu pasti sedang berkirim pesan dengan perempuan lain kan? Sudah jelas terlihat dari ekpresi wajahmu! Aku ini tunanganmu, tapi kenapa kamu lebih peduli kepada perempuan lain daripada aku?!" Sonya mulai meracau dan Pandu menjadi serba salah. "Kamu ini bicara apa Sonya? Aku tidak sedang berkirim pesan dengan perempuan mana pun." "Aku tidak percaya padamu!" hardik Sonya. Pandu terdiam. Ia tidak boleh terus-menerus membuat Sonya marah karena wanita itu pasti akan mengadu pada ibunya yang akan memaksa menikahi wanita itu secepatnya. Dan ia tidak mau itu terjadi. Terlebih ia sudah bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya. Walau terkadang luka itu masih terasa jika mengingat tentang perselingkuhan yang dilakukan istrinya. Namun semua itu tidak bisa menghapus rasa cintanya kepada Amanda. Pandu berdiri dari duduknya kemudian mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya. "Maafkan aku. Aku sedang banyak masalah. Ayo kita keluar, aku juga butuh hiburan.” Pandu terpaksa mengalah supaya Sonya bisa lebih tenang. “Belanjalah sepuasnya supaya hatimu senang dan tidak berburuk sangka terus kepadaku." Pandu mulai bersikap sedikit romantis supaya Sonya tidak mencurigainya terus, tapi ternyata wanita itu malah semakin curiga. "Serius? Kamu mau mengajakku belanja?" Sonya tidak percaya dengan perubahan sikap tunangannya yang tiba-tiba baik, tapi ia menyukainya dan berharap Pandu akan baik seterusnya. Pandu mengangguk sembari tersenyum. "Ayo kita berangkat sekarang, sebelum aku berubah pikiran." Pandu keluar dari ruangan sang CEO diikuti oleh Sonya dari belakang. Walau merasa bahagia tiba-tiba Pandu mengajaknya shopping, tapi Sonya yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan tunangannya. 'Sekarang kamu hanya berpura-pura baik, tapi suatu saat nanti kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, Pandu,' batin Sonya. 'Walau sangat sulit untuk berpura-pura baik padanya, tapi aku harus tetap melakukannya supaya Sonya tidak curiga,' ucap Pandu dalam hatinya. Pandu dan Sonya tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mereka memasuki sebuah toko busana dengan merek terkenal. "Pilihlah apa yang kamu suka." Pandu duduk di sofa berwarna hitam. “Aku akan menunggumu di sini.“ "Apa kamu tidak mau membantuku memilih pakaian yang cocok untukku?“ tanya Sonya. “Aku paling tidak suka melakukan pekerjaan perempuan,” sahut Pandu. Sebenarnya bukan tidak suka, ia hanya terkenang saat melakukan semua itu bersama dengan Amanda dulu. “Apa kamu teringat dengan mantan istrimu?“ tanya Sonya sembari menarik satu sudut bibirnya ke atas, mencibir sang kekasih, “tidak semua wanita seperti dia. Terlihat alim dan manis, tapi ternyata ular berkepala dua.“ Ucapan Sonya membuat Pandu tidak senang. Entah kenapa walau ia yakin Amanda berselingkuh, tapi Pandu tidak bisa mengubur rasa cintanya terhadap sang mantan istri. “Jangan banyak bicara,” kata Pandu, “saya akan membantumu memilih.“ Lelaki yang memakai setelan jas berwarna navy itu bangun dari duduknya. Pandu mengikuti Sonya dari belakang. 'Aku menyesal mengajaknya berbelanja. Seharusnya aku berikan uangnya saja,' batin Pandu. "Bagaimana menurutmu?" tanya Sonya kepada Pandu sambil menempelkan dres dengan motif bunga-bunga kecil pada tubuhnya. “Apa ini cocok untukku?“ Pandu melihat dres yang dipegang Sonya, kemudian mengacungkan jempolnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sonya mengambil baju lain, lalu kembali meminta pendapat Pandu, tapi lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan Sonya karena dia sedang sibuk dengan ponselnya. 'Tidak salah lagi. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Aku yakin dia sedang menutupi sesuatu dengan bersikap semanis ini padaku,' ucap Sonya dalam hatinya. "Aku bertanya padanya, tapi dia justru asik dengan ponselnya. Sebenarnya dia sedang chatting dengan siapa sih?" gumam Sonya kesal. Pandu belum menyadari kalau Sonya sejak tadi memerhatikannya. Ia terus saja menatap layar ponselnya. "Kamu bisa tidak serius padaku? Tadi kamu yang mengajakku shopping, sekarang kamu justru sibuk dengan ponselmu sendiri." Sonya melemparkan dres yang ada di tangannya pada Pandu. "Maafkan aku, Sonya. Aku sedang menghubungi Tama untuk segera ke kantor karena satu jam lagi ada meeting. Dia harus datang untuk menggantikanku.“ Pandu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Pandu kembali menemani Sonya memilih pakaian yang ada di toko itu, tapi pikirannya menerawang jauh pada bayang-bayang Amanda di masa lalu. Dia teringat kembali ketika ibunya menunjukkan foto-foto istrinya bersama seorang laki-laki. Pertengkaran besar tidak bisa dihindari. Pandu tidak bisa menahan emosinya karena bukti yang ada sangat jelas. "Bagaimana mungkin perempuan seperti dia masih dipertahankan menjadi seorang istri, sudah jelas-jelas dia berselingkuh!“ hardik Nyonya Vena, ibu kandung Pandu. Pandu melihat satu persatu foto-foto yang ada di tangan ibunya. Napasnya memburu tidak bisa mengendalikan amarahnya saat melihat kemesraan Amanda dengan laki-laki lain. Ia sakit hati dikhianati oleh wanita yang sangat dicintainya. "Kamu ceraikan istrimu secepatnya karena dia sudah menginjak-injak martabat keluarga Bagaskara. Sudah miskin tidak tahu diri. Ibu tidak sudi memiliki menantu tukang selingkuh." “Mas, kumohon dengarkan aku! Aku akan membuktikan kalau foto-foto itu bukan aku.“ Amanda merangkul lengan Pandu sambil menangis. “Kumohon percayalah padaku.“ Pandu menepis tangan istrinya. Cintanya kepada sang istri memang sangat besar, tapi hatinya saat ini sudah benar-benar hancur melihat foto-foto tidak senonoh sang istri dengan selingkuhannya. “Kamu tidak bisa mengelak lagi. Bukti perselingkuhanmu sudah terbongkar.“ Nyonya Vena mengambil foto-foto itu dari tangan Pandu, lalu melemparkannya ke wajah sang menantu. “Aku bersumpah tidak pernah melakukan itu, Bu. Itu bukan aku. Aku yakin ada seseorang yang ingin menghancurkan aku dan Mas Pandu.“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD