Amanda bersimpuh di depan suami dan mertuanya sambil berderai air mata. Seberapa keras pun usahanya untuk mengelak dari tuduhan itu, Pandu dan ibunya tidak akan percaya karena bukti perselingkuhan sudah di depan mata.
“Kamu tidak bisa mengelak lagi Amanda. Kamu dan kekasihmu itu sudah memanfaatkan cinta anak saya yang begitu besar padamu.“ Nyonya Vena sangat marah mengetahui kebenaran tentang menantunya.
Pandu lebih banyak diam, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya hancur berkeping-keping. Wanita yang sangat ia cintai itu ternyata telah membunuh perasaannya perlahan.
"Bu percayalah padaku. Aku tidak pernah berselingkuh."
Amanda bersimpuh di hadapan sang suami dan mertuanya untuk memohon pengampunan perbuatan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
“Coba lihat foto ini! Apa kamu lupa kapan terakhir kamu melakukannya?“ Nyonya Vena menunjukkan foto Amanda dan seorang lelaki yang sedang melakukan hal-hal yang sangat memalukan. “Ini sangat menjijikan.“
Pandu tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Bayangan kelakuan istrinya dengan laki-laki lain benar-benar menghancurkan harga dirinya, hingga perceraian itu tidak dapat dielakkan lagi.
Kini ia bertemu lagi dengan mantan istrinya. Wanita yang telah menghancurkan dirinya. Setelah enam tahun perceraiannya, ternyata Pandu masih belum bisa melupakan cintanya kepada sang mantan istri.
Entah kenapa ia begitu bahagia saat bertemu lagi dengan mantan istrinya. Jiwanya terasa hidup kembali, padahal sudah jelas ia menceraikan Amanda karena isu perselingkuhan yang dilakukan istrinya.
'Aku masih sangat mencintaimu, Manda,' batin Pandu.
“Pandu. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Seruan Sonya membuyarkan lamunan Pandu tentang bayangan masa lalunya.
“A-aku … aku masih terbayang anak kecil yang tertabrak itu. Tubuhnya terpental jauh. Sungguh keajaiban jika dia bisa selamat.“ Pandu mengembuskan napasnya dengan kasar. “Aku merasa sangat bersalah.“
“Bagaimana kalau sekarang kita temui dia?“ usul Sonya yang ditolak mentah-mentah oleh Pandu.
“Apa kamu mau mereka tahu kalau aku yang menabrak anak itu dan akhirnya aku dipenjara karena telah mencelakainya dan malah menuduh orang lain?“ cecar Pandu, ia terlihat marah. Kemarahannya membuat Sonya percaya dengan kejadian itu.
“Kamu benar. Sebaiknya kamu jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan anak kecil itu atau orang tuanya.“
Sonya sedikit merasa bersalah karena sejak tadi sudah berburuk sangka pada Pandu, padahal tunangannya itu sedang dalam masalah sulit.
“Walau sudah ada orang lain yang mengakui perbuatanku, tapi rasa bersalah itu tidak akan mudah hilang,” kata Pandu, “kamu tahu aku tidak bisa berbohong. Aku khawatir tiba-tiba berkata jujur kalau akulah yang menabrak anak mereka. Karena itulah aku menyuruh Tama untuk tetap menemani anak itu sampai sadarkan diri.”
“Sebenarnya Tama itu sedang disuruh menemani anak kecil itu atau disuruh ke kantor untuk meeting?“ tanya Sonya sambil mengangkat satu sudut bibirnya. “Kamu tidak pandai berbohong.“
“Ya tadi aku memang menyuruh Tama untuk ke kantor, tapi dia bilang anak itu kritis. Jadi, aku harus ke kantor sekarang juga karena satu jam lagi ada meeting. Tama harus menjaga anak itu kalau tidak mereka akan menuntutnya,” ujar Pandu.
Sonya memicingkan matanya melihat gerak-gerik tunangannya itu. “Apa kamu tidak sedang berbohong?”
“Kamu jangan selalu mencurigaiku. Pekerjaanku banyak, aku tidak ada waktu untuk meladenimu.“
"Aku tidak akan curiga seandainya kamu jujur padaku. Aku tahu kalau kamu mengajakku shopping hanya untuk mengalihkan perhatianku saja kan?"
"Terserah kamu saja Sonya. Aku hanya berusaha untuk percaya lagi kepada seorang wanita, tapi kamu tidak memberikan kesempatan itu kepadaku.“
Pandu benar-benar marah kepada Sonya, tapi bukan karena Sonya tidak mempercayainya, melainkan karena ia kesal dengan kelakuan wanita itu.
“Pandu, aku hanya—”
“Selesaikan secepatnya belanjamu, aku harus kembali ke kantor.” Pandu memotong ucapan Sonya sambil memberikan kartu berwarna hitam kepada tunangannya itu.
“Tidak usah, aku bayar sendiri.” Sonya menolak Pandu membayar belanjaannya.
Pandu kembali memasukkan kartu hitam itu ke dalam dompetnya. “Aku tunggu di luar,” ucapnya sembari melangkah keluar dari toko itu.
Tidak lama kemudian Sonya keluar dari toko itu dengan wajah cemberut. Seharusnya ia sudah tahu kalau Pandu tidak akan bersikap manis padanya, tapi dia terlalu berharap lebih kepada tunangannya itu.
'Aku rasa dia bukan trauma karena kegagalan pernikahan akibat diselingkuhi istrinya, tapi aku yakin ada alasan lain. Dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Pandu seutuhnya,' ucap Sonya dalam hati.
“Apa kamu mau berdiri terus di situ?“ tanya Pandu kepada wanita yang menenteng banyak paper bag berwarna hitam.
“Apa kamu tidak bisa sedikit saja bersikap manis padaku?“ Sonya menghentakkan kakinya sembari cemberut.
“Aku sudah melakukannya. Aku sudah berusaha bersikap baik padamu, tapi kamu selalu mencurigaiku.“ Pandu segera masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu Sonya.
'Astaga! Pria itu sangat keterlaluan. Seharusnya dia membukakan pintu dulu untukku. Walau bagaimanapun aku ini tunangannya,' gumam Sonya dalam hati, lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu itu dengan keras.
“Kalau kamu tidak suka dengan sikapku, aku akan membatalkan pertunangan kita.”
Kali ini Pandu berani mengancam Sonya, ia tidak peduli apa pun yang akan diadukan pada ibunya tentang sikapnya nanti.
“Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja, Pandu. Orang tua kita sudah sepakat dengan pernikahan kita.”
Walau ia bisa mempengaruhi calon mertuanya, tapi Sonya juga takut kalau Pandu benar-benar akan meninggalkannya.
“Kalau begitu bersikap baiklah supaya aku terkesan padamu.” Pandu menoleh pada wanita di sampingnya. “Berapa uang yang kamu gunakan untuk belanja tadi?"
Sonya diam. Dia enggan berkata-kata meskipun saat ini Pandu sedang mengajaknya berbicara.
"Jangan bersikap seperti itu!” ucap Pandu, “bersikaplah sewajarnya supaya aku bisa mencintaimu lebih cepat.”
'Memangnya sikap yang mana yang tidak wajar?' Sonya hanya bergumam dalam hati. Ia tidak mau berdebat lagi dengan calon suaminya.
Setelah sampai di depan rumah Sonya, secepat kilat Pandu mengambil ponselnya. Dia membuka m-banking lalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening tunangannya.
"Aku telah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu. Aku tidak mau disebut laki-laki yang tidak bertanggung jawab."
Sonya bingung. Dia mengernyitkan dahinya, lalu menoleh pada Pandu.
Dan betapa terkejutnya Sonya, ketika dia melihat nominal yang dikirim ke rekeningnya.
"Tumben kamu baik? Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini?"
"Ya Tuhan, kamu ini benar-benar sangat membingungkan. Aku baik kamu curiga, aku melamun kamu marah, aku melihat ponsel dan tersenyum sendiri kamu mengatakan aku selingkuh. Lalu, aku harus bagaimana?"
Pandu mencoba bersikap baik supaya wanita itu tidak selalu mencampuri urusannya, tapi rupanya wanita itu tidak mudah untuk dikelabui.
Sonya turun dari mobil tanpa berkata-kata sepatah kata pun. Wanita itu meninggalkan belanjaannya di dalam mobil Pandu.
"Berurusan dengan perempuan memang memusingkan," gumam Pandu, “aku akan membatalkan pertunangan kita dan aku akan mengejar cinta mantan istriku.”