Pandu hanya bisa bergumam setelah tunangannya pergi. Ia tidak mungkin memberi tahu Sonya kalau ia akan mengejar cintanya kembali.
Ia akan melakukannya diam-diam, bahkan Pandu berencana untuk mulai menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan Amanda tanpa sepengetahuan keluarganya.
Walaupun berkali-kali Amanda mengatakan kalau dirinya sudah bersuami lagi, tapi Pandu seakan tidak peduli dengan status mantan istrinya saat ini.
“Amanda jauh lebih baik dari wanita mana pun. Hanya satu kesalahannya yaitu mengkhianatiku, tapi aku hanya membencinya di mulut saja. Jauh di lubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu, Manda.”
Pandu menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. 'Yang kamu lakukan padaku sangat fatal, tapi kenapa rasa cintaku padamu tidak berkurang sedikit pun,' batin Pandu.
Jika mengingat masa lalunya, Pandu begitu sakit mengetahui kalau wanita yang sangat ia cintai itu mengkhianati cintanya. Tapi sungguh aneh, walau berpisah hampir enam tahun, dia masih sangat mencintai mantan istrinya.
Pandu kembali menegakkan duduknya, lalu menoleh ke belakang. “Kamu itu wanita yang sangat merepotkan Sonya,” ucap Pandu saat melihat barang-barang tunangannya masih berada di dalam mobil.
Dengan sangat terpaksa Pandu mengantarkan barang-barang itu ke dalam rumah Sonya. Padahal ia ingin sekali pulang secepatnya. Setiap kali melihat wajah tunangannya membuat Pandu pusing karena ada saja yang membuat dirinya kesal.
Pandu mengetuk pintu rumah tunangannya sambil memanggil nama wanita itu, tapi sudah berkali-kali ia mengetuk bahkan berteriak, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Lelaki itu menendang pintu rumah Sonya dengan kesal. Lalu menaruh semua kantung belanjaan tunangannya di depan pintu. Kemudian ia pergi dan secepatnya meninggalkan rumah itu.
“Apa yang dilihat oleh Ibu, dari wanita itu? Kenapa dia sangat ingin aku menikahkan aku dengan Sonya?” gumam Pandu sambil mengendarai mobilnya menuju kantor.
Sonya membuka pintu rumahnya setelah tidak terdengar lagi suara Pandu. “Bukannya berusaha merayuku, tapi malah pergi begitu saja.”
Wanita itu mengembuskan napasnya dengan kasar lalu memanggil pelayannya untuk membawa barang belanjaannya ke dalam.
“Dia itu memang tunanganmu Sonya, tapi kamu harus ingat kalau laki-laki itu terpaksa bertunangan denganmu karena bisnis bukan karena cinta.” Sonya mengingatkan dirinya sendiri atas situasi di antara dirinya dan Pandu sambil menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Sonya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Kemudian, menelpon orang suruhannya yang bekerja di rumah Pandu.
"Datanglah kemari, ada yang ingin aku tanyakan padamu." Sonya menelpon salah satu pelayan Pandu yang menjadi mata-matanya.
Sonya merasa ada rahasia besar yang disembunyikan Pandu darinya. Ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan laki-laki yang ia cintai.
Penghalang terbesarnya sudah ia singkirkan enam tahun lalu, tapi sampai detik ini ia tidak bisa membuat Pandu jatuh cinta padanya.
"Baik, Nona. Setelah pekerjaan saya selesai, saya akan datang ke rumah Anda."
"Baiklah aku tunggu, tapi jangan sampai tidak datang karena ada misi penting untukmu."
"Saya pasti datang, Nona."
"Oke, kalau begitu aku tunggu." Setelah menghubungi orang kepercayaannya tersebut, Sonya kemudian melemparkan ponselnya di atas ranjang dengan rasa kesal.
Pikirannya berkejaran dengan semua kenyataan yang ada, dia mencoba untuk menghubungkan dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain.
“Aku yakin Pandu tidak sedang berbicara dengan Tama. Jika dia hanya menjawab pesan singkat dari sang asisten saja tidak mungkin dia tampak seceria itu,” gumam Sonya, “atau jangan-jangan Pandu dan Tama ada hubungan lain selain ikatan bos dan bawahan?”
Sonya berpikir kalau Tama dan Pandu ada hubungan spesial karena selama ini ia tidak pernah mengetahui tunangannya itu dekat dengan seorang wanita.
Wanita itu semakin yakin ada sesuatu yang Pandu sembunyikan darinya dan keluarga. Ia akan terus menyelidiki calon suaminya sampai dia menemukan sebuah bukti kuat. Wanita itu berharap apa yang ia pikirkan itu tidak terbukti.
Tidak berapa lama kemudian ponselnya kembali bergetar, Sonya mengangkat ponsel tersebut, kemudian dia berbincang dengan seseorang yang berada di seberang telepon.
"Halo Nona Sonya, saya sudah berada di depan rumah Anda."
Sonya bergegas membuka pintu rumahnya, kemudian mempersilahkan orang suruhannya itu untuk duduk.
"Apa yang bisa saya lakukan, Nona?" tanya perempuan tersebut kepada Sonya.
"Apakah Pandu pernah membawa seorang wanita ke rumahnya?”
“Selama saya bekerja di sana, saya tidak pernah melihat Tuan membawa seorang wanita ke rumah itu.”
'Semoga saja dugaanku salah,' batin Sonya.
Jika Pandu dan Tama ada hubungan spesial itu akan sangat sulit baginya untuk mendapatkan cinta dari tunangannya karena saingannya beda gender.
Sonya mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri untuk membuang semua pemikirannya tentang Pandu dan Tama.
“Sebenarnya bukan ini yang ingin aku tanyakan.” Sonya membuang napas dengan kasar, lalu kembali berbicara. “Apa benar kemarin malam Pandu pulang dengan pakaian bernoda darah?"
Sonya berbicara sambil menatap lekat orang suruhannya itu.
Sonya sengaja menaruh orang tersebut untuk berpura-pura menjadi pelayan di rumah Pandu agar dia bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh tunangannya selama ini.
“Saya tidak tahu kalau Tuan pulang, Nona. Tapi, saya akan coba tanyakan kepada pelayan yang lain.”
"Aku menugaskanmu di rumah itu untuk memantau apa yang dilakukan Pandu dan memberitahukan setiap informasi penting tentang calon suamiku. Bukan hanya untuk menjadi tukang bersih-bersih." Sonya merasa kesal dengan jawaban orang suruhannya.
“Maafkan saya, Nona. Saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi.” Pelayan itu tidak bisa membantah ataupun beralasan kalau dirinya di sana bukan hanya sebagai mata-mata saja, tapi sebagai pelayan juga.
"Cepatlah pulang ke rumah Pandu dan segera cari informasi yang aku butuhkan." Sonya sangat kesal kepada pelayan itu. "Kerja mudah seperti itu saja tidak becus!"
"Baik, Nona." Pelayan itu pun menundukkan kepalanya sebelum pergi dari hadapan sang bos. "Saya berjanji akan segera mendapatkan informasi yang Nona butuhkan."
Sonya menganggukkan kepala sambil mengibaskan tangan mengusir orang suruhannya.
Sementara Pandu baru saja sampai kantor. Ia memasuki ruangannya dan langsung menelpon sang asisten.
“Tam, bagaimana keadaan Alana?” tanya Pandu, “Dia baik-baik saja kan? Tidak ada luka yang serius kan?”
Sejak kecelakaan itu Pandu tidak bisa tidak memikirkan anak perempuan yang ditabraknya. Ada perasaan yang berbeda sejak menatap wajah Alana, terlebih anak itu anak dari mantan istrinya yang ia yakini sebagai anak kandungnya.
“Dia baik-baik saja, Bos,” jawab Tama, “tapi kalau untuk luka dalamnya saya belum mendapat informasi dari Nyonya Amanda. Saya sudah berpesan agar dia memberitahukan kepada saya jika ada hal serius yang terjadi pada anaknya.”
“Memangnya sekarang kamu di mana?” tanya Pandu lagi. Dia tidak tahu kalau asistennya sudah berada di kantor.
“Ada di ruangan saya, Bos,” jawab sang asisten sambil menatap layar komputernya.
“Kenapa kamu ke kantor?” tanya Pandu sambil menegakkan duduknya.
“Nyonya Amanda meminta saya untuk pergi karena ia takut suaminya datang dan menjadi salah paham ketika melihat saya.” Tama berbohong pada bosnya. Ia sudah tidak tahu seberapa banyak kebohongan yang ia lakukan demi Amanda dan anak-anaknya.
'Dia begitu menjaga perasaan suaminya, tapi dia tidak menjaga perasaanku waktu masih menjadi istriku,' ucap Pandu dalam hatinya.
“Bos, apakah Anda masih di sana?” tanya Tama ketika tidak lagi terdengar suara sang bos setelah beberapa menit.
“Kalau ada kabar tentang Alana beri tahu aku.” Pandu langsung menutup ponselnya. Ia tidak suka saat mendengar tentang suami mantan istrinya.
Pandu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi ia abaikan demi Sonya, tapi ia tidak bisa fokus, selalu teringat dengan mantan istrinya.
“Bagaimana caranya aku menyingkirkan suami Amanda?”