Pandu kembali menghubungi asistennya. “Tam, tolong kamu handle meeting sore ini. Aku mau pulang, kepalaku pusing.”
“Baik, Bos,” sahut Tama, “kalau begitu saya antar Anda pulang terlebih dulu.” Tama melirik arloji di pergelangan tangannya. “Masih ada waktu dua jam sebelum meeting.”
“Baiklah. Aku juga takut mencelakai orang lagi kalau aku yang menyetir sendiri.” Pandu menutup panggilan teleponnya dan kembali menyandarkan tubuhnya sambil memutar-mutar kursi kebesarannya.
Tidak sampai dua menit, Tama sudah berada di ruangan Pandu karena ruang kerja mereka ada di satu lantai yang sama.
Tama berdiri di depan meja kerja sang bos. “Mari, Bos.”
Pandu bangun dan melangkah lebih dulu keluar dari ruang kerjanya.
Tama mengikuti langkah panjang sang bos sambil bergumam dalam hati. 'Bos pasti sedang memikirkan Alana dan Manda. Walau bagaimanapun dia ayah kandung dari Alana, pasti ada ikatan batin di antara mereka.'
“Apa Anda ingin menjenguk Alana terlebih dulu, Bos?” tanya Tama saat membukakan pintu untuk bosnya.
“Sebenarnya aku ingin bertemu dengannya, tapi Sonya sedang marah padaku dan mencurigaiku. Aku khawatir dia mengikuti kita.”
Pandu tidak mau keegoisannya akan mencelakai Alana kalau Sonya tahu anak yang ditabraknya putri Amanda.
“Baiklah.” Tama melajukan kendaraannya menuju kediaman sang bos dengan kecepatan sedang.
“Tam, setelah urusan kantor selesai, kamu jenguk dulu Alana dan pastikan keadaannya baik-baik saja!” perintah Pandu saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
“Baik, Bos. Sepulang dari kantor saya akan mampir ke rumah sakit.”
Tidak perlu disuruh pun Tama memang akan menjenguk Alana. Anak sang bos yang sudah ia anggap keponakannya sendiri.
“Tam, katakan pada orang rumah untuk tidak menggangguku sampai besok pagi, aku ingin istirahat,” ucap Pandu sambil memijat batang hidungnya, “aku benar-benar butuh ketenangan. Dan nanti malam kamu pulang saja ke rumahmu.”
“Baik, Bos.”
Sesampainya di rumah Pandu, Tama langsung memberikan instruksi kepada para pelayan di rumah itu untuk tidak mengganggu tuannya kalau bukan sang tuan sendiri yang memanggil.
“Nanti malam saya akan pulang ke rumah, Pak Jo tidak perlu menunggu saya pulang.” Tama menepuk bahu kepala pelayan itu sebelum pergi. “Bos, sedang tidak baik-baik saja, jangan ganggu dia, tapi tetap pantau ya.”
“Baik, Tuan.” Pak Jo menunduk hormat pada asisten majikannya sebelum laki-laki berjas hitam itu pergi.
Tama bergegas kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang terabaikan akibat kecelakaan itu.
Sementara di dalam kamar, ternyata Pandu tidak tidur. Ia mencari tahu tentang mantan istrinya di sosial media, tapi tidak menemukannya karena Amanda tidak menggunakan semua itu agar Pandu dan keluarganya tidak mengetahui tentang kehidupannya selama ini.
Hingga malam, Pandu tidak berhenti mencari tahu keberadaan mantan istrinya tanpa sepengetahuan Tama karena ia yakin sang asisten akan melarangnya untuk mendekati Amanda lagi.
“Aku menyerah. Sepertinya dia memang menutup diri setelah pisah denganku,” ucap Pandu sambil menutup laptopnya. “terpaksa besok aku harus meminta bantuan Tama. Walau mungkin dia akan menasihatiku, tapi aku yakin dia akan tetap membantuku,” gumamnya.
Pandu merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata supaya bisa sedikit melupakan mantan Amanda dan Alana, tapi ia tidak bisa melupakan kecelakaan tadi siang. Bayangan wajah Alana terus memenuhi pikirannya.
"Bagaimana kabar Alana saat ini?" gumam Pandu. Ia tidak bisa menahan diri sampai besok pagi untuk mengetahui kabar Alana.
"Sepertinya aku harus segera menghubungi Tama dan mengajaknya untuk menjenguk Alana di rumah sakit. Aku harus tahu kabar anak itu dan aku harus memastikan kalau kondisinya baik-baik saja supaya tidak terus terbayang-bayang dan dihantui rasa bersalah."
Pandu bangun dan terduduk, lalu mengambil ponsel yang ia taruh di atas nakas. Kemudian menghubungi asistennya.
Tama terkejut tiba-tiba sang bos menghubunginya selarut ini. Ia segera pergi ke luar ruangan supaya obrolannya tidak menggangu Alana yang sedang terlelap. "Selamat malam, Bos. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kenapa kamu bicara sangat pelan? Kamu sedang di mana?" Tanya Pandu.
"Maaf Bos saya baru bangun tidur." Tama beralasan.
"Maafkan aku mengganggumu tengah malam seperti ini." Pandu baru sadar kalau ini waktunya beristirahat, Tama juga butuh waktu untuk itu.
"Tidak apa-apa, Bos," jawab Tama, "apa ada yang bisa saya bantu, Bos?"
"Aku ingin mengajakmu ke rumah sakit untuk menjenguk Alana. Entah kenapa aku begitu ingin menemuinya." Pandu benar-benar tidak bisa lagi menunggu sampai hari esok.
"Sebaiknya jangan malam ini, Bos. Nanti saya bicarakan dulu dengan Nyonya Amanda supaya Anda tidak bertemu dengan suaminya." Tama berusaha memberikan pengertian kepada bosnya.
"Tapi aku ingin bertemu Alana sekarang juga?" Pandu tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan anak itu.
"Saya akan coba menghubungi Nyonya Amanda terlebih dulu. Apa Anda bisa menemui Alana sekarang juga atau tidak." Tama berusaha mencari alasan untuk mencegah bosnya datang.
"Baiklah, aku tunggu kabarmu secepatnya."
"Baik, Bos."
Tama menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil menatap anak kecil yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di tangannya.
"Apa yang harus saya katakan?" gumam Tama.
Beberapa detik kemudian ia mendapatkan ide untuk mencegah Pandu datang ke rumah sakit karena dirinya saat ini sedang menunggui Alana. Ia tidak mau bosnya tahu kedekatannya dengan mantan istri sang bos.
"Halo, Tuan. Maafkan saya karena memberi kabar yang mungkin tidak Anda sukai," kata Tama, "Nyonya Amanda mengatakan kalau saat ini yang sedang berada di rumah sakit adalah suami Nyonya Amanda, ayah kandung dari anak itu, Bos."
Tama terpaksa menyakiti hati bosnya supaya lelaki itu tidak mengganggu Amanda lagi.
"Tapi aku sangat ingin bertemu dengan Alana," ucap Pandu terdengar sedih.
"Alana baik-baik saja, Bos. Nyonya Amanda bilang saat ini dia sedang tertidur pulas.”
"Baiklah, setidaknya aku tahu Alana baik-baik saja. Terima kasih bantuannya, Tam," ucap Pandu, "maafkan aku sudah mengganggu waktu istirahatmu."
"Tidak apa-apa, Bos, saya siap membantu Anda kapan pun Anda butuh," jawab Tama, "besok pagi-pagi sekali, saya akan menjemput Anda, dan kita akan menemui Alana sebelum pergi ke kantor supaya Anda bisa bekerja dengan tenang setelah melihat kondisinya."
“Baiklah. Semoga aku bisa tidur dengan tenang,” ucap Pandu sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah menutup teleponnya Tama mendekati Alana dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Ia menatap anak kecil itu penuh iba.
"Kasihan Alana, di usia sekecil ini dia harus kehilangan kasih sayang ayahnya hanya karena sebuah kesalahpahaman." Tama mengusap lembut tangan anak itu.
Ingin rasanya ia mengatakan kebenaran tentang Alana supaya anak itu mendapat kasih sayang orang tuanya secara utuh, tapi ia tidak berhak melakukannya sebelum dapat persetujuan Amanda. Yang ia lakukan juga demi kebaikan anak dan mantan istri bosnya.
Tama berdiri, lalu mencium kening Alana sebelum kembali duduk di sofa. Ia tidak mau mengganggu istirahat anak itu. "Cepatlah sembuh Alana, Paman sangat merindukan senyum keceriaanmu itu.”
“Ayah … apa kamu ayahku?” gumam Alana.