Bab Awal Perjalanan hidup Zivana
Matahari yang sangat terik tak mematahkan semangat Zivana Lauren wanita Cantik dengan gaya rambut kuncir kuda, memakai Celana Hitam dan jas hitam membawa sebuah map berisi lamaran kerja.
Sesekali ia berhenti sejenak mengusap Keringat yang ada di keningnya sambil menghela nafas panjang melepas lelah.
"Sudah empat perusahaan tapi tetap nggak ada lowongan kerja Hhhhhh, mau kemana lagi aku mencari kerja ?" ucapnya penuh frustasi sambil mengerutkan.dahi melihat kanan kiri barang kali ada kertas lowongan kerja di tempel di tembok jalanan.
"Waahhhh, besar sekali perusahaan itu !!!!"
Ucapnya penuh kekaguman saat menatap perusahaan Pratama grup di sebrang jalan.
Zivana memberanikan diri melangkah menyebrang jalan untul melamar di pratama grup walaupun ia tak paham betul dengan dunia bisnis. Zivana Lulusan kemaren di universitas jurusan bisnis tapi masih belum.pernah terjun langsung di dunia bisnis.
"tit____tit_____tit____
Suara klakson rombongan mobil berhenti tepat setelah zivana hendak masuk perusahaan.Semua Pengawal dan pegawai berbaris rapi menyambut orang yang ada di balik mobil mewah tersebut, Hingga ia memundurkan langkah satu langkah menatap pintu mobil yang sudah terbuka pelan.
"Ganteng, berwibawa dan cool banget" gumamnya dalam hati hingga ia tersentak saat semua pegawai menyapanya.
"Selamat siang Tuan kevin" Serempak semuanya yang hanya di beri tatapan tajam Kevin yang berjalan di ikuti para pengawalnya hingga tatapan kevin menemukannya.
"Siapa dia ?"
Ucap Kevin berhenti sejenak menatap Zivana yang semakin erat menggenggam map hingga buku buku kukunya memutih karna entah mengapa tatapan kevin seperti ketakutan baginya.
"Entahlah bos, apakah harus saya urus dia ?"
tanya asisten pribadinya dengan cepat.
"Tidak perlu, Nggak penting"
ketusnya sambil berjalan kembali menuju pintu lift menuju ruangannya.
Setelah suasana kembali normal, Zivana masuk untuk menanyakan lowongan kerja. Perdebatanpun di mulai karna kecantikan Zivana membuat petugas pendaftaran enggan melayani karna takut ia menggoda CEO perusahaan yaitu kevin pratama, karna di usia 30 tahun
Kevin masih melajang dan tak ada kabar mempunyai pasangan walaupun banyak wanita yang mengincarnya.
"Kamu dengar enggak !! nggak ada lowongan kerja di sini.." Ketusnya sambil menatap Zivana dengan sinis.
Tanpa ia sadari perbuatannya memancing amarah Kevin yang menghandle semua pekerjanya.
" Bram"
panggilnya lantang hingga seorang lelaki yang setia menemaninya menoleh cepat.
" Iya bos!!" jawabnya cepat tanpa ragu.
" Bawa wanita itu ke sini dan pecat petugas itu !!" gertaknya yang tak mengalihkan pandangannya di layar monitor.
" Tapi bos, dia sudah 2 tahun kerja di sini !!"
" Siap bos !!" imbuhnya setelah tatapan tajam kevin mengarah padanya.
Bram mempercepat langkahnya seakan ada harimau lapar yang mengintai pergerakannya.
Kevin memang dingin tapi juga tidak mentolerir tindakan semena- mena pegawainya.
Ruangan dengan Nuansa putih bersih, sofa abu- abu mewah
" Kamu, ikut aku !!!"
lantang bram menunjuk Zivana yang masih berdiri mematung di hadapan petugas wanita yang membungkam mulutnya sendiri karna menyadari ada yang tidak beres.
"Aku, tuan"
ucapnya tak percaya.
"iya kamu, dan kamu silakan kemasi barangmu"
lantangnya hingga petugas wanita itu hanya bisa menunduk lesu mengemasi barangnya cepat.
Zivana mengikuti arahan Bram menuju lift pribadi sambil mendengar bisik- bisik para staf karyawan yang menatapnya penuh pertanyaan.
Tapi ia berusaha tak menghiraukan pandangan tersebut dan mempercepat langkahnya mengikuti Bram yang hampir memasuki lift.
"kenapa jantungku berdebar kencang, apakah CEO tampan itu seperti rumor yang beredar. Dingin dan kejam?" Gumamnya dalam hati.
"Silakan__"Ucap ramah Bram sambil membuka pintu dan berjalan lebih dulu di ikuti Zivana.
"Wah indah sekali,sederhana dan mewah" kagum Zivana sambil mengedarkan pandangan di semua sudut ruangan.
Ruangan dengan cat tembok putih salju cerah gorden coklat mengkilat menjulang yang sangat luas di sampingnya terdapat Sofa abu-abu yang memanjang terlihat empuk dan nyaman di buat rebahan.
Mata Zivana terbelalak berhenti di satu titik yaitu Kevin yang sejak tadi menatapnya penuh mengintimidasi.
" Bos ini dia orangnya" ucap Bram sambil memajukan Zivana cepat seperti mengangkat karung yang ringan. Jantung Zivana berdetak kencang seperti ingin lari dari tempatnya.
"Perkenalkan namamu"
ucap Kevin sambil menyandarkan tubuhnya di bantalan kursi kerjanya. Ia menatapnya tanpa ekspresi sedangkan Zivana yang belum pernah bekerja sama sekali dan latihan interview di kampusnya sama sedikit ragu mengawali perkenalan.
"Brakkkkkkk"
Suara keras meja yang di pukul Kevin dengan keras karna zivana tak kunjung memulai.
" Kamu bisa bicara nggak, hah !!"
gertaknya kasar membuat Zivana terlonjak karna terkejut.
" Bi__bisa kak, ehhhh tuan" ucapnya cepat walaupun tergagap.
" Nama saya Zivana Lauren"
"Saya ke sini mau melamar kerja tu__tuan"
imbuhnya sambil menundukkan wajah menahan air mata yang hampir terjatuh.
" Zivana Lauren"
Ucap Kevin mengulangi namanya sambil berjalan menghampirinya memegang dagu zivana lalu mengangkatnya cepat hingga ia mendongak tepat menatap Kevin.
"Kamu mau kerja atau mau menangis di sini hah"
tanyanya kasar tanpa ekspresi sambil mengusap kasar air mata zivana yang tak sengaja jatuh dengan satu kedipan mata.
Kevin bersandar di meja kerja yang ada di belakangnya sambil menyelipkan sebatang rokok di sela-sela bibirnya.
Bram dengan cepat menyalakan korek api hingga Kevin menyambutnya.
Senyum miring terukir di sudut bibir Kevin menatap Zivana yang terlihat polos di matanya.
" Baru pertama kali kerja"..
Tanyanya cepat dan berbalik duduk kursi kebesarannya.
"Iya,_tuan"
jawabnya cepat.
"Kamu besok jadi asisten pribadi saya, berangkat pagi jam 07.00 wib Kalau telat sedikit potong gaji"
Ucapnya ringan hingga Bram menatapnya terkejut.
"Bos" lantangnya bingung hanya perkenalan saja Zivana bisa langsung jadi asisten pribadinya. Padahal banyak wanita yang lebih berpengalaman dan seksi berebut ingin di posisi ini tidak di lirik kevin sama sekali.
"Bram" lantangnya sambil menatap tajam Bram hingga ia menggangguk cepat bergegas mengambil berkas untuk kontrak Zivana.
"Tuan apakah aku di terima kerja di sini" Ucapnya pelan tak percaya bahwa ia di terima dengan sangat mudah.
"Lihat kontraknya baru tanda tangan, jangan sampai kamu menyesal menjadi asisten pribadiku" Ucap kevin menatapnya dingin.
Zivana menatapnya seakan tak mengerti apa yang Kevin ucapkan.
"Kenapa menjadi asisten pribadinya, aku harus menyesal?"
ucapnya sambil membuka dokumen yang di sodorkan Bram.
"Hmmm" dengusnya pelan.
Ia membuka pelan berkas tersebut dan bola matanya nampak naik turun ke kanan ke kiri membaca setiap kata yang tertulis di kertas putih tersebut.
Tiba-tiba ia mendongak cepat menatap kevin dengan ekspresi banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
"Apa maksud kontrak kerja ini tuan?"
"Kenapa di sini tertulis harus serumah dengan tuan?"
Tanya Zivana yang tak bisa menerima kontrak terakhir.