Part 19: Bertemu masa lalu

1334 Words
1 hari yang lalu.. Adrian calling.. "Nay, aku boleh minta tolong gak? Besok aku ada seminar di Hotel Grand Centro, aku gak bisa dateng karena Fachri sakit, bisa kamu gantiin aku?" "Bisa dri, Fachri sakit apa?" "Fachri demam, aku kasian kalau suruh Salsa jagain Fachri, dia mesti bed rest total karena beberapa hari yang lalu Nge-flek" "Astaghfirullah, Kamu percayakan saja sama aku dri, salam buat Salsa dan semoga Fachri cepat sembuh, insyallah selesai acara, aku bawa anak-anak nengokin Fachri" "Makasih ya Nay" "Sama-sama dri" *** Saat ini Nayla tengah berada di Hotel Grand Centro untuk menggantikan Adrian mengisi seminar. Ia bergabung dengan beberapa pemateri dari rekan sejawatnya. Dia bertemu dengan para senior dan teman seangkatannya. "Lho bukannya yang ngisi seminar dr. Adrian?" tanya Prof. Soedarsono yang berada di samping Nayla. Profesor tersebut adalah dosen sekaligus guru besar Nayla dan Adrian saat kuliah. "Ah iya prof, anak dr. Adrian tengah sakit jadi saya yang menggantikan beliau" jawab Nayla. "Oh begitu, Nayla, saya sebenarnya ingin kamu membantu saya mengajar di kampus,Kebetulan saya membutuhkan asisten dosen,Kamu kira-kira bersedia tidak?" Nayla bingung di satu sisi tidak enak hati untuk menolak namun di sisi lain ia memikirkan suami dan anak-anaknya " Bagaimana ya Prof?" Sepertinya profesor Soedarsono mengerti kebimbangan Nayla " Kamu tidak perlu datang ke kampus setiap hari, hanya hari Selasa dan Kamis saja, jadi kamu masih tetap bisa mengurus anak-anak kalau itu yang kamu ragukan, saya tau beberapa bulan ini kamu juga sudah tidak praktek di klinik karena mengurus anak-anak" "Iya prof, saya ingin fokus mengurus anak-anak, tapi insyallah saya bisa mengajar jika hanya dua hari dalam seminggu" kata Nayla. "Terima kasih ya Nayla" "Sama-sama prof" jawab Nayla. bagaimanapun Nayla ingin membantu jika memang ia dibutuhkan. Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat untuk sesamanya. Apalagi menurut Nayla ia harus berbagi ilmu pada orang lain. Hari ini seminar berjalan dengan lancar. Peserta aktif bertanya-jawab dengan para pemateri. Apalagi pesertanya dari kalangan mahasiswa. Saat Nayla yang memberikan materi para mahasiswa mendadak riuh. Bagaimanapun Nayla adalah dokter cantik yang mempunyai banyak fans. Semua sudah tau kalau mantan suami Nayla meninggal karena saat itu beberapa media menyorot berita duka tersebut. Tapi belum banyak orang yang mengetahui kalau Nayla sudah menikah lagi. Jadi banyak orang yang salah paham kalau Nayla masih berstatus janda. Beberapa kali banyak mahasiswa nyeleneh yang bertanya padanya. "Dok masih buka lowongan untuk mengisi hati dokter gak?" "Meskipun dokter janda tapi saya tetap suka karena janda lebih menggoda" "Dok saya mau deh jadi suami dokter" dan masih banyak lagi. Nayla pusing dan bingung menanggapinya. Paling Nayla hanya membalas dengan senyuman. Seminar usai satu jam lalu, saat ini Nayla sedang menunggu Fauzan menjemputnya. Nayla sedang duduk di sofa pojok dekat lobby. "Nayla" sapa seorang laki-laki. suara itu tampak tidak asing di telinga Nayla. Ia seketika menengok ke sumber suara dan matanya membulat melihat sosok laki-laki di depannya. "Rayhan__" sapa Nayla canggung. Sudah lama ia tidak bertemu dengan sahabat masa lalunya. "Aku memang gak salah lihat, ini kamu Nay, udah lama banget ya" "Iya, kamu apa kabar? Gimana selama ini di London?" Tanya Nayla sembari tersenyum simpul. "Aku baik tapi hatiku tidak" aku Rayhan jujur Deg.. Hati Nayla tiba-tiba tidak siap mendengar perkataan Rayhan. "Aku terlambat mendapatkan hati kamu, dua kali aku kalah, aku lucu ya masih mengharapkan kamu padahal jelas-jelas aku sudah tidak bisa memilikimu" "Kenapa waktu itu kamu pergi?" Sejujurnya Nayla masih bertanya-tanya perihal Rayhan yang tiba-tiba mendadak pergi. "Mamaku sakit Nay, dan papaku ngancem kalau aku gak fokus belajar bisnis dia bakalan mempersulit kamu juga bakalan stop biayain pengobatan mama, aku bingung banget saat itu" Nayla bingung apa yang dikatakan Rayhan "Mempersulit aku? Apa maksudnya?" "Kamu tau kalau mama dan kamu adalah orang yang terpenting buat aku, aku dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit Nay, antara memilih kamu atau mamaku, di satu sisi aku gak mau ninggalin kamu tapi disisi lain aku gak mau kehilangan mama" "Kamu tau kan kalau mamaku istri kedua papaku, mama sakit-sakitan sejak aku baru masuk kuliah,maaf saat itu aku gak cerita keadaan mamaku yang sebenarnya, papa ngancem kalau aku masih kekeh kuliah kedokteran dan gak mau nerusin bisnisnya papa bakalan buat kamu dan keluargamu sulit. Aku anak laki-laki satu-satunya yang diharapkan mengurus bisnisnya. Kamu tau kan kalau dari dulu aku ingin jadi dokter tapi apa daya aku harus mengubur cita-citaku" kata Rayhan menatap Nayla sendu. Ada banyak kesedihan di mata Rayhan yang Nayla lihat. Setahu Nayla Rayhan sosok yang tidak pernah menampakkan kesedihan dan selalu terlihat bahagia. Nayla terhenyak mendengar semua yang Rayhan ceritakan." Lalu bagaimana dengan mamamu Ray?" "Mama meninggal 2 tahun yang lalu" "im so sorry Ray" "It's oke Nay, memang sudah takdirnya, lagian kasihan mama sakit terus-terusan" Rayhan terlihat menghela nafas berat ada banyak duka yang tersimpan" sebenarnya aku ingin sekali menghubungi kamu setiap saat, tapi papa ngancem aku, aku jujur muak banget sama ancaman papaku, aku serasa jadi manusia paling lemah, mama selalu menguatkan aku dan mama tau kalau aku sayang sama kamu, aku cuma bisa tau keadaan kamu dari Adrian, setelah aku memutuskan kuliah bisnis di London papa memblokir semua kontak dengan teman-temanku alasannya agar aku fokus" "Aku gak tau kalau masalah kamu sangat berat Ray, maaf aku sempat mikir negatif tentang kamu yang tiba-tiba pergi" aku Nayla jujur. "Papa gak setuju aku menjalin hubungan sama kamu, sebenarnya saat SMA aku sudah dijodohkan dengan anak sahabatnya tapi aku gak mau, karena selain aku gak cocok sama dia secara personal, juga sudah ada orang yang aku cintai yaitu kamu" Rayhan menatap Nayla seakan ia ingin menumpahkan kerinduan selama 5 tahun ini. "Maaf ya Ray, walaupun kamu bilang jujur sama aku tapi kamu tau aku sudah menikah" "Ya aku tau, saat aku memutuskan pulang dari London aku sebenarnya ingin melamar kamu, tapi mas Ridwan maju duluan, saat tau kamu mau nikah, kamu tau gimana perasaanku? Hancur Nay, tapi aku gak bisa apa-apa karena itu pilihan kamu" "Semoga kamu segera menemukan seseorang yang mencintai dan menyayangimu Ray, aku berdoa untuk kebahagian kamu" kata Nayla tulus. "Kebahagiaan aku ada di kamu" "Jangan bilang gitu, kebahagian kamu bukan aku,aku yakin sebentar lagi kamu akan dipertemukan jodohmu" "Ya semoga saja" "Jadi kamu udah berapa lama di Indonesia?" "Aku balik Setelah mamaku meninggal 2 tahun yang lalu, aku udah gak peduli ancaman dari papaku, aku pergi meninggalkan semuanya di London dan membuka bisnis di Jakarta, kamu tau saat pertama kali aku pulang, aku ingin sekali menemui kamu tapi saat aku menunggu kamu didepan Klinik tapi kamu pergi dengan mantan suamimu, aku melihat kalau kamu bahagia maka dari itu aku memutuskan untuk mundur" "Rayhan lupakan aku dan masa lalu kita, temukan kebahagiaan, aku juga sudah bahagia dengan mas Fauzan, kamu pasti mendapatkan orang yang mencintai dan menyayangi kamu" ucap Nayla menatap Rayhan lekat. "Kamu benar, tapi untuk saat ini aku hanya mau memikirkan bisnis yang baru aku bangun di Jakarta, mungkin kalau aku sudah settle down aku bakalan menemukan pasangan hidupku" jawab Rayhan. Ehem.. Nayla dikejutkan dengan suara deheman sang suami. "Mas, udah lama sampainya?" Tanya Nayla menyambut kedatangan Fauzan "Baru saja kok" kata Fauzan bohong. Sebenarnya Fauzan sudah sejak tadi mengamati bahkan mencuri dengar pembicaraan sang istri dan mantannya. "Mas,kenalin ini Rayhan" Nayla mengenalkan sosok laki-laki tampan dihadapan sang suami "Fauzan, suaminya Nayla" "Rayhan, cinta pertama Nayla" Nayla seketika melotot mendengar ucapan Rayhan. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu didepan sang suami. Meskipun kenyataannya memang benar kalau Rayhan cinta pertama Nayla. "Saya bercanda kok mas, jangan khawatir meskipun saat ini saya belum move on tapi saya gak akan merebut Nayla dari mas, mungkin kalau mas membuat Nayla sedih baru saya akan maju yang pertama" kata Rayhan sambil menatap Fauzan. "Hal itu tidak akan pernah terjadi, saya mencintai dan menyayangi Nayla sampai kapanpun,jadi kebahagian Nayla adalah segalanya buat saya" kata Fauzan tajam. Nayla yang melihat adanya ketegangan diantara keduanya memutuskan untuk mengajak pergi sang suami. "Ayo mas kita pulang aja, kasihan anak-anak" ajak Nayla pada Fauzan. Fauzan pasrah saja saat tangan Nayla menggenggam tangannya. "Duluan ya Ray" ucap Nayla meninggalkan Rayhan yang mematung melihat kepergian dua orang didepannya. Aku masih mencintaimu sampai kapanpun Nay. Batin Rayhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD