2. Motif Tersembunyi

1662 Words
Galih telah kembali untuk sementara di rumah orang tuanya. Januar dan Rahayu ingin memastikan pernikahan Galih dan Mona berjalan dengan baik. "Gila ya, tujuh tahun hilang, ternyata masuk hotel prodeo, terus tahunya nikah bulan depan," kata Tristan, sepupu Galih sekaligus teman SMA lelaki itu. Tristan sudah biasa menginap dan tinggal di rumah Galih. Orang tuanya yang sama-sama dokter, kerap membuat Tristan merasa kesepian sewaktu sekolah hingga memutuskan sering main ke rumah Galih. "Kau akan datang bukan?" tanya Galih hanya tersenyum mendengar celotehan Tristan yang frontal. Bahkan tidak segan mengungkit masalahnya yang pernah masuk penjara. Tristan mendesah. "Kau juga mendadak nikah. Bulan depan aku sudah harus residen," jawabnya membahas tentang Pendidikan Dokter Spesialis yang mesti diikutinya sesuai arahan orang tuanya. "Tapi katanya dia ... janda?" Tristan bertanya hati-hati. Meski Galih telah mengetahui dan terbiasa dengan sifat bar-barnya dalam berkata sesuatu, tapi tak jarang dirinya merasa Galih cukup seram jika marah. "Suaminya meninggal setelah seminggu menikah," jawab Galih menuntaskan rasa penasaran Tristan. Ia kemudian mengambil sebatang rokok, lalu membakar ujungnya. Tristan terdiam. Pria itu awalnya berpikir bahwa calon istri Galih adalah wanita yang bercerai dari suaminya, karena menikah muda. "Lalu apa alasanmu setuju menikah dengannya?" tanya Tristan masih tidak habis pikir bahwa Galih tidak mempermasalahkan dinikahkan dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. "Dia cantik. Sepertinya akan menjadi istri yang baik," jawab Galih mulai menyesap rokok yang diselipkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia tidak berbohong ketika mengatakan bahwa Mona adalah wanita yang cantik. Namun memang itu saja faktor untuk menikahi seseorang? Tristan mendengkus pelan. Meski reputasi Galih dulu tidak seburuk dirinya mengenai wanita, tetapi Tristan sangat mengenal tipikal wanita idaman Galih. "Aku bertemu dengan Intan sebulan yang lalu pada acara pernikahan seniorku," ujar Tristan bangkir berdiri. Bersiap kembali ke rumah sakit, setelah menghabiskan waktu istirahatnya mengunjungi Galih yang sedang bersantai di kafe. Galih memicingkan matanya memandang ke arah Tristan. Ia masih setia menghirup tembakau bercampur nikotin yang terkandung dalam rokok di tangannya. Tristan seolah membeku pada tempatnya mendapati tatapan dingin dan tajam Galih kepadanya. Ia tadi tidak sadar membahas tentang Intan, wanita seolah menjadi luka abadi dalam hati Galih. Konon, cinta yang paling amat menyakitkan adalah cinta yang tak tergantikan. "Segera lah kembali ke rumah sakit. Aku juga sebentar lagi mau pulang," balas Galih memalingkan wajahnya. "Oh baiklah. Hubungi aku kalau kau sudah akan kembali ke Kota Tembagau," ucap Tristan mengambil kunci mobilnya di atas meja, lalu menepuk bahu Galih sekilas sebelum beranjak keluar dari kafe. Sedangkan Galih menghabiskan sisa rokok di tangannya. Ia kemudian ikut beranjak, lalu membayar minumannya dengan Tristan. Tanpa pergi ke lain tempat, Galih langsung pulang ke rumah orang tuanya. "Kau darimana lagi? Nanti malam kita akan kedatangan Mona dan Ibunya," ujar Rahayu melihat Galih baru kembali. "Mereka ke sini?" Galih terkejut karena tidak mendengar kabar kedatangan Mona dan Ibu wanita itu. "Biasa, pihak wanita akan membeli kain untuk dibagikan ke keluarga perempuan mereka," balas Rahayu menjadikan Galih hanya mengangguk singkat. Galih tidak paham akan adat atau kebiasaan orang-orang dalam pernikahan. Ia juga tidak mau pusing memikirkannya. Memaklumi bahwa keluarga Mona berasal dari kota yang lebih kecil dari Jakarta, sehingga adat juga masih dipegang teguh. "Baiklah. Ibu, aku ke kamar dulu," pamit Galih kepada Rahayu. "Iya Sayang. Istirahatlah, sebab kita akan makan malam bersama Mona nanti," ujar Rahayu yang terdengar antusias. Galih hanya terdiam, lalu mulai melangkah menuju kamarnya. "Galih, Ayah mau bicara." Januar duduk di sofa tengah ketika melihat anak laki-lakinya itu melintas. Galih kemudian berhenti dan duduk di hadapan Januar. "Ya?" "Kau yakin hanya ingin tinggal berdua dengan Mona?" Januar masih sulit memikirkan permintaan Galih kepadanya, sebagai salah satu bersedia menikah dengan Mona. "Tentu saja. Pak Handoko juga telah setuju," balas Galih yang telah mendiskusikannya terlebih dahulu kepada ayah Mona. Meski nantinya Galih akan tinggal di Kota Tembagau, tetapi dirinya tidak akan satu atap dengan mertuanya alias orang tua Mona. "Lalu apa yang akan kau kerjakan? Mau ayah beri modal usaha?" Januar tentu tidak ingin membuat menantunya nanti kelaparan, karena anaknya tidak memiliki pekerjaan atau usaha. Galih tersenyum tipis. "Ayah lupa siapa aku?" Januar menghela napas. "Kadang Ayah merasa ragu dan tidak percaya dengan apa yang kau katakan." "Ayah tidak perlu khawatir. Mona ... tidak akan kekurangan hal dalam finansial," balas Galih mulai bangkit dan beranjak menuju kamarnya, seperti rencana semula. "Pastikan ... Mona tidak tahu. Atau dia bisa batal mau menikah denganmu," ujar Januar tidak ingin sampai pernikahan Galih sampai batal. Susah payah, dirinya mengusahakan Galih mau menikah. ♡♡♡ Mona hanya banyak diam selagi ibu dan tantenya sibuk memilih kain kebaya untuk dijahit nanti. Tangannya sudah penuh dari belanjaan toko sebelumnya dan ia tak melihat ujung dari belanjaan hari ini. Selalu saja ibunya berkata, masih ada yang kurang. "Ibu, ini bukan pernikahan pertamaku." Kaila, saudara Masita—Ibu Mona berkacak pinggang. "Mona, aku sudah menikah tiga kali bukan? Seluruh pestanya tetap meriah," ujarnya seolah tidak malu dengan fakta bahwa dirinya telah menikah sebanyak tiga kali. Masita mendekati putrinya itu dan memegang pundak Mona. "Ini mungkin bukan yang pertama, tetapi akan menjadi terakhir ... selamanya." Mona hanya terdiam mendengarnya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menang tentang filosofis yang ada dalam keluarganya. Oleh karena itu, dibanding pusing memikirkan persiapan pernikahan yang sudah pasti akan diurus oleh ibunya, Mona memilih menguatkan mentalnya. Ia mungkin sudah pernah menikah, namun tidak berjalan dengan baik. Bahkan berakhir menyedihkan. Setelah membeli kain dan pernak-pernik untuk membuat gaun pesta, Kaila langsung mengantar Masita dan Mona menuju kediaman Januar. Ia sendiri tidak bisa bergabung, karena memiliki banyak pekerjaan sebagai pemilik salah satu toko kue. "Nikmati makan malam kalian dan Mona ... cobalah mengobrol dengan Galih juga nantinya," ujar Kaila menurunkan kaca mobilnya setelah Masita dan Mona keluar dari sana. Mona hanya tersenyum, lalu melambaikan tangannya sebagai tanda pamit. Setelah mobil yang dikendarai Kaila menghilang dari pandangannya, ibunya mulai mengajaknya untuk menuju gerbang rumah Galih. Mona bisa melihat bagaimana besar dan megahnya rumah Galih. Bahkan mungkin dua kali dari ukuran rumahnya di Kota Tembagau. Setelah berbicara kepada satpam rumah, mereka lalu diantar langsung hingga ke depan pintu depan rumah. "Ibu Masita, Mona?" Rahayu yang membuka pintu langsung bersorak bahagia melihat kedatangan calon besan dan menantunya. "Ayo masuk." Rahayu langsung mengarahkan Masita dan Mona untuk menuju meja makan. Sejumlah hidangan yang dimasak dengan bantuan koki kemudian telah tersaji di atas meja. Bahkan Mona merasa sangsi bahwa makanan tersebut bisa habis nantinya. Ia kemudian mulai duduk di sebelah ibunya, sedangkan Rahayu mulai pergi memanggil suami dan anaknya. "Selamat datang ke rumah sederhana kami," ujar Januar memasuki ruang makan dan duduk di hadapan Masita. "Pak Januar ini bisa saja merendah. Rumah sebesar ini kok disebut sederhana," balas Masita lalu mendapat kekehan dari Januar. Galih juga mulai ikut bergabung dan duduk di hadapan Mona. Mata keduanya lalu bertemu dalam keheningan, sebelum Rahayu datang dengan berbagai pertanyaan seputar aktivitas Masita dan Mona seharian. "Ayo Ibu Masita di makan, Mona juga," ajak Januar dengan senyuman lebar. "Iya makasih loh undangan jamuannya," balas Masita melirik Mona sekilas. Rahayu yang memilih duduk di sebelah calon menantunya, lalu mulai mendekatkan berbagai makanan ke hadapan Mona. Mona merasa sedikit sungkan, bukan kepada Januar atau Rahayu, tetapi Galih. Meski lelaki itu hanya menatapnya datar saat mengambil makanan. Setelah sekian lama, Mona merasakan kecanggungan berada di dekat seorang pria kembali. "Oh Bu, kamar mandinya mana ya?" tanya Mona setelah menghabiskan makanannya. "Galih, antar Mona," ujar Rahayu menyuruh anaknya itu menunjukkan kamar mandi kepada Mona. Galih hanya mengangguk singkat, lalu mulai bangkit dari kursi. Mona juga mulai mengikuti lelaki itu dari belakang. Setelah beberapa langkah, Mona baru menyadari betapa luasnya rumah Galih. Bahkan untuk menuju kamar mandi saja, dirinya membutuhkan tenaga. "Di sini," tunjuk Galih pada sebuah pintu yang dalam keadaan tertutup. "Makasih," balas Mona segera masuk. Mona hanya membutuhkan lima menit di dalam kamar mandi, sebelum akhirnya keluar dari berniat kembali ke ruang makan. Namun dirinya dikejutkan oleh Galih yang menunggunya di luar. Bersandar pada dinding sambil menatap layar ponsel. "Kau mau ambil udara segar?" ajak Galih melihat Mona sudah berdiri di hadapannya. Mona hanya bisa mengangguk pelan. Tidak mungkin dirinya menolak perkataan lelaki yang rumahnya ditempatinya makan malam. Mona kembali terperangah bahwa halaman belakang rumah Galih tidak kalah luas dari halaman belakang. Terdapat gazebo dan air mancur di sana. Ia kemudian duduk di dalam gaezo berbentuk lingkaran. Begitu pula dengan Galih. "Aku sudah mengatakan kepada Ayahku bahwa kita akan hidup terpisah dari rumah orang tuamu. Sesuai syaratmu dulu," ujar Galih membuka obrolan. Mona meneguk salivanya, karena hidup terpisah dari orang tuanya adalah syarat yang diajukannya kepada Galih untuk menerima pernikahan tersebut. Mona dan Galih memang belum pernah bertemu, sebelum lamaran dilakukan. Namun kedua sudah pernah berkomunikasi sekali, lebih tepatnya Galih yang menghubungi Mona bahwa dirinya akan melamar wanita itu. Lamaran yang bahkan telah disetujui oleh Handoko, sebelum memberitahukannya kepada Mona. "Lalu kau sendiri, kenapa mau dinikahkan denganku? Bukankah ... kau masih pria lajang?" Mona sangat tahu bahwa statusnya dan Galih jelas berbeda. Apalagi lelaki seperti Galih juga pasti ingin menikahi dengan seorang gadis. Galih menatap dalam Mona. "Karena permintaan Ayahku dan ... perintah Ayahmu?" balasnya acuh tak acuh dan mulai merogoh sekotak rokok dalam saku celananya. Mona tahu bahwa Galih dititipkan kepada ayahnya, tetapi bukan berarti lelaki itu harus menuruti perkataan ayahnya bukan? Galih mulai membakar rokok dengan pematik yang juga berada dalam sakunya. "Aku tahu pernikahan ini hanya kamuflase untukmu agar bisa lepas dari pengawasan ayahmu," ucapnya membuat Mona terkesiap. Motif wanita itu tertangkap mudah oleh Galih. "Tetapi sepertinya perhitunganmu salah, karena sekarang kau berada dalam pengawasanku," lanjut Galih mulai mengembuskan asap dari hidung juga mulutnya. Raut wajah Mona menjadi tegang. Ia kemudian menutup hidungnya dengan tangan, karena terpaan asap rokok Galih tang dibawa angin. "Satu, jangan pernah merokok di dekatku. Penambahan syarat dalam pernikahan ini," ujar Mona bangkit dari bangku gazebo lalu beranjak pergi meninggalkan Galih seorang diri. Galih tersenyum kecil melihat kepergian Mona. "Dia menambahkan syarat sesuka hatinya," katanya mulai melihat sifat lain dari Mona. Namun bukan berarti dirinya akan menurut begitu saja. Apalagi setelah menikahi wanita itu nantinya. ♡♡♡ Pertama kali buat cerita after married, semoga suka ya ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD