PART 4. WELCOME TO CAPITALAND

2001 Words
Mikha menepati janjinya dengan menunggu Noah di café seberang Capitaland. Mikha menunggu hampir dua jam namun Noah tak kunjung datang. Mikha yang kesal karena menunggu sudah terlalu lama memutuskan untuk kembali mendatangi Capitaland. Kali ini ia tidak perlu hati-hati mengingat ayahnya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang selama seminggu. Mikha berjalan masuk ke dalam Capitaland, mencegat seorang staff agar mencarikan nama Noah untuknya. Staff itu terkejut dengan sikap tak sopan Mikha saat menyebutkan nama Noah. Namun staff itu berpikiran kalau Mikha memang benar teman dari Noah, melihat sikapnya yang merasa akrab dengan Noah. Staff itu meminta Mikha menunggu dan akan menghubungi Noah. "Mohon tunggu sebentar, Nona. Aku akan memberitahu Tn. Noah lebih dulu" ucap staff tersebut sembari membawa Mikha duduk di loby kantor. Sekitar dua puluh menit Mikha kembali menunggu namun Noah tak kunjung datang melihatnya. "Apa dia membohongi ku?" batin Mikha merasa kesal. Namun Mikha tidak menyerah setelah ia menjanjikan keputusan proposal itu pada Earlene. Setengah jam terlewatkan, kesabaran Mikha hampir habis. Lalu seseorang tiba di hadapannya membuat Mikha mengangkat kepalanya mendongak melihat seseorang tersebut. Setelan yang tampak begitu rapi seperti tampilan Noah kemarin, namun siapa yang sangka kalau orang yang mendatangi Mikha adalah Deehan, bukan Noah. Mikha sudah dipuncak amarahnya, dimana ia semakin kesal karena dirinya harus bertemu lagi dengan Deehan. "Kenapa kamu terus muncul di hadapan ku? Apa staff disini memiliki waktu lowong yang sangat banyak?" ucap Mikha kesal. Theo yang mendengar hal itu tak menyangka dan berniat untuk menegur Mikha, namun aksinya di cegat oleh Deehan. Justru Deehan meminta Theo untuk meninggalkannya lebih dulu. "Harusnya Aku yang mengatakan hal itu pada mu---kenapa Ak uterus melihat mu berkeliaran disini?" balas Deehan. "Aku memiliki urusan!" jelas Mikha. "Urusan apa?" tanya Deehan penasaran. "Kenapa kamu perlu tau?" Deehan menghela napas kasar karena lagi dan lagi ia harus menahan diri di depan Mikha. "Oh iya.. kamu kan juga staff disini, tolong carikan Aku staff atas nama Noah---katakan padanya, kalau dia membuat janji harus di tepati!" pinta Mikha. Deehan terkejut mendengar Mikha yang mengenali Noah ditambah lagi Mikha yang tidak mengenali identitas Noah sebagai wakil presdir Capitaland. "Kenapa Aku harus menuruti permintaan mu?" ucap Deehan. "Ih kamu ini! Ah, Aku tau.. jabatan mu pasti lebih di bawah oleh Noah, kan? Makanya kamu tidak berani memanggilkannya---Aku sudah menduga!" jelas Mikha yang semakin membuat Deehan kesal. Disaat Mikha dan Deehan sedang adu mulut, Noah tiba-tiba muncul tepat di belakang Deehan. "Itu dia orangnya!" batin Mikha saat melihat Noah telah tiba. Mikha mengabaikan Deehan dan berjalan menuju Noah. Deehan berbalik dan mendapati Noah. Deehan berjalan meninggalkan Noah dan juga Mikha. "Apa kamu membohongi ku?" ucap Mikha dengan nada kesal. Deehan memperkecil langkahnya agar dapat mendengar percakapan keduanya. "Hm iya, maaf. Tadi Aku ada urusan, maaf sudah membuat menunggu lama" balas Noah. "Lalu bagaimana proposalnya?" tanya Mikha menuju inti. "Atasan sudah menyetujuinya tapi dengan satu permintaan---" "Apa itu?" sela Mikha bersamaan dengan pandangannya yang tak sengaja bertemu dengan mata Deehan saat akan memasuki lift. "Atasan Aku tidak menerima sepasang kekasih untuk melakukan penelitian disini" ungkap Noah. "Sepasang kekasih? Apa maksud mu?" tanya Mikha tak paham. "Sepertinya proposal yang kamu ajukan bukan proposal milik mu---hm, kamu membohongi ku. Aku memeriksa proposal itu dan melihat nama Earlene disana, bukan nama Mikha Caleystra seperti yang kamu sebutkan kem---" "Ah iya, jujur Aku tidak bermaksud membohongi mu.." Mikha menjelaskan semuanya pada Noah. Ia juga tidak memiliki pilihan lain selain membuka identitasnya di depan Noah, dimana Mikha menyebutkan dirinya sebagai putri bungsu dari Nino Azel Ruby. Mikha juga memberitahu Noah kalau proposal tersebut milik sahabatnya dan dia harus membantunya untuk mendapatkan sebuah perusahaan menjadi tempat penelitiannya. "Lalu kenapa kamu tidak meminta bantuan Tn. Nino?" tanya Noah penasaran. Lagi dan lagi Mikha tidak memiliki pilihan. Ia menjelaskan pada Noah, alasan ia menyembunyikan hal ini pada ayahnya. Noah mengukir senyum disudut bibirnya mendengar pengakuan Mikha. "Baiklah, Aku mengerti" balas Noah. Mikha dapat bernapas lega karena Noah tak lagi menyinggung soal ayahnya. "Jadi bagaimana? Proposalnya di terima?" tanya Mikha bersemangat. "Aku sudah katakana pada mu, atasan ku tidak menerima sepasang---" "Sepasang kekasih apa? Earlene dan Gama bukan sepasang kekasih!" sela Mikha. "Atasan ku bisa menerima kalau itu sesama perempuan dan lelaki" jelas Noah. Mikha menghela napas kasar. Ia merasa, dirinya sudah mengerahkan semua kemampuannya demi proposal penelitian milik Earlene. "Kalau proposal itu milik teman mu, lalu proposal mu dimana?" tanya Noah penasaran. "Aku dan temanku sudah menemukan tempat penelitian---" "Bagaimana kalau kamu bertukar saja? Aku rasa proposalnya akan diterima kalau kamu dan teman mu yang melakukan penelitian disini, bagaimana?" sela Noah. Noah menatap Mikha yang sedang memikirkan sarannya. Dimana sejak awal Noah berpikiran kalau Mikha-lah yang akan melakukan penelitian di Capitaland, namun saat ia memeriksa proposalnya dirinya mendapati nama orang lain yang tertera di dalamnya. Karena sejak awal dirinya sudah tertarik pada Mikha, Noah memutuskan untuk memikirkan cara agar Mikha-lah yang akan melakukan penelitian di Capitaland. "Bagaimana, Mikha?" lanjut Noah kembali. "Hm.. baiklah. Aku akan coba membicarakannya pada teman ku lagi" balas Mikha. "Apa sekarang giliran ku menunggu keputusan mu?" "Bukan seperti itu—hm, Aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Aku harus menanyakan pada mereka" jelas Mikha. "Baiklah, Aku akan menunggu kabar dari mu" ungkap Noah lega. Mikha kembali termenung sambil menatap layar ponselnya, dimana hanya tersisa dua hari lagi. "Apa kamu bisa memberi ku waktu---Aku akan menghubungi teman ku sekarang, dalam dua hari ini Aku sudah harus memulai penlitian ku" jelas Mikha bingung. Noah mengingat jadwal pertemuannya dan meminta Mikha untuk menunggu di dalam ruangannya. Noah meminta Sein untuk menyingkirkan papan nama miliknya, dimana di dalam papan nama tersebut tertulis jabatannya sebagai wakil presdir Capitaland. "Apa staff biasa seperti mu juga memiliki ruangan tersendiri?" tanya Mikha polos. "Ah iya, tentu saja. Capitaland adalah perusahaan yang besar, kan? Dia mampu membuatkan seluruh staffnya dengan ruangan tersendiri" jelas Noah dengan alasannya. Mikha mengangguk mengikuti Noah menuju ruangannya. Beberapa staff yang tak sengaja melewatinya menujukkan sikap sopan padanya, namun Mikha yang acuh tidak merasa janggal dengan hal tersebut. "Wow luas sekali ruangannya" ungkap Mikha. "Hm.. yeah. Tapi, ini bukan ruangan ku tersendiri. Aku memiliki rekan kerja juga" balas Noah berbohong. "Ah pantas saja luas, kamu bersama staff lainnya disini?" tanya Mikha dengan kepolosannya. "Hm.. iya---" Disaat yang bersamaan Sein masuk ke dalam ruangan Noah. "Oh iya, ini rekan kerja ku" lanjut Noah. Sein yang bingung terkejut dengan perkataan Noah. "Tn. Sein tolong temani Nona Mikha selagi Aku mengerjakan pekerjaan ku" pinta Noah pada Sein. "Ah iya baik, Tn. Noah" balas Sein. "Aku akan pergi sebentar kamu hubungi saja teman mu, okay" ungkap Noah. Kepergian Noah membuat Mikha dengan cepat menghubungi Earlene, Gama serta Veronika. *** Suara sirene memenuhi ruangan IGD rumah sakit Elizabeth, dimana baru saja terjadi kecelakaan mobil yang membuat pengendara dan pengemudi tersebut terluka. Nana yang saat itu memiliki jadwal di rumah sakit harus menangani pasien tersebut. Dengan ditemani oleh Anastasia, keduanya mengambil alih pasien tersebut. Salah seorang pasien lelaki dengan umur berkisar tiga puluh tahunan menjadi salah satu korban tersebut. Pasien itu memiliki luka sobek pada bagian lengannya saat mengalami benturan di dalam mobil tersebut. "Permisi tuan, apa kami bisa menghubungi keluarga mu?" tanya Nana. Lelaki itu hanya menggeleng. "Kami akan melakukan operasi, kami harus meminta persetujuan keluarga mu" lanjut Nana menjelaskan SOP dari rumah sakitnya. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah kontak lalu meminta Nana menghubunginya. Nana meraih ponsel tersebut lalu menghubunginya. "Permisi, kami dari rumah sakit Elizabeth. Apa Anda keluarga dari pemilik ponsel ini?" ucap Nana dalam panggilannya. "Ah, iya. Kenapa ponselnya berada disana? Apa yang terjadi?" "Keluarga Anda baru saja mengalami kecelakaan dan lengannya terluka parah. Kami pihak rumah sakit ingin melakukan operasi, namun harus meminta persetujuan dari keluarga---" "Aku akan kesana sekarang!" Mendengar hal tersebut, Nana memberikan kembali ponsel lelaki itu lalu menyiapkan berkas persetujuan operasi dari rumah sakit. Tidak menunggu lama keluarga dari lelaki tersebut tiba di rumah sakit Elizabeth. "Apa Anda keluarganya?" tanya Nana. "Hm.. Aku temannya. Keluarga berada di London" jelasnya. "Silahkan isi formulirnya dan ditandatangani" pinta Nana. Lelaki itu menuliskan nama Deehan Alterio Kelsey pada formulir persetujuan tersebut lalu menandatanganinya kemudian memberikannya kembali pada Nana. "Ezra, apa yang terjadi?" tanya Deehan panik. Namun Ezra sudah kehilangan kesadarannya. Deehan meminta dokter segera melakukan penanganan pada Ezra. Nana membawa Ezra ke dalam ruang operasi dengan beberapa perawat lainnya. Sedangkan Deehan menunggu Ezra tepat di depan ruangan operasi. Theo yang baru saja tiba setelah mengurus kecelakan tersebut pada pihak yang berwajib datang dan menemui Deehan. "Apa mobil Ezra yang menabrak?" tanya Deehan. "Tidak, tuan. Pemilik mobil lainnya yang menabrak mobil milik Tn. Ezra, pemilik itu telah di periksa karena mengemudi dalam keadaan mabuk" balas Theo. Deehan memijit pelipisnya, dimana hari ini tampak begitu memusingkan baginya. "Apa kita harus memberitahu keluarga Tn. Ezra?" lanjut Theo. "Nanti saja. Tunggu lah disini sampai operasinya selesai. Aku akan kembali ke kantor untuk memberitahu ayah ku" jelas Deehan. Theo mengikuti perintah Deehan dan menunggu di depan ruang operasi. Deehan kembali ke kantor dan bergegas menuju ruangan ayahnya untuk memberitahu kecelakaan yang menimpa Ezra. Namun langkahnya terhenti saat mendapati Mikha berada di dalam ruangan Noah. Deehan kemudian masuk dan mengejutkan Mikha. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Deehan. "Tn. Deehan.." sapa Sein. "Apa yang dia lakukan disini?" tanya Deehan pada Sein. "Nona Mikha sedang menunggu Tn. Noah" balas Sein. Deehan menjatuhkan kembali pandangannya kearah Mikha sebelum ia menutup kembali pintu ruangan Noah dan bergegas menuju ruangan ayahnya. Deehan memberitahu ayahnya. Deefan terkejut mendengar kecelakaan Ezra. "Apa kamu sudah memberitahu Hans dan Sophia?" tanya Deefan. "Belum.. Ezra masih menjalani operasi. Aku akan memberitahunya setelah operasinya selesai" jelas Deehan. "Aku juga sudah meminta Theo untuk menunggu, karena Aku memiliki pertemuan dengan Tn. Edward sebentar lagi" lanjut Deehan. "Ah.. iya, pergilah. Hubungi Aku kalau operasinya selesai, Aku akan pergi melihatnya" pinta Deefan. Deehan berpamitan pada ayahnya dengan kembali menuju ruangannya. Deehan kembali melewati ruangan Noah dan mendapati Noah telah kembali dan sedang berbincang dengan Mikha. Di saat yang bersamaan, Mikha juga mendapati Deehan yang tengah berjalan melewati runagan Noah. Kedua pasang mata itu saling terpaut hingga Deehan hilang dari pandangan Mikha. "Jadi bagaimana keputusannya?" tanya Noah. "Hm.. Aku dan teman ku setuju untuk saling bertukar pasangan demi penelitiannya selesai" jelas Mikha. Noah mengulas senyum tipis mendengar jawaban Mikha yang membuatnya puas. "Baiklah.. lusa kamu sudah bisa melakukan penelitian mu" ucap Noah. "Kamu akan memilih Capital Art Gallery, kan?" lanjut Noah. Mikha terlihat girang mendengar Noah memperbolehkannya melakukan penelitian di Capital Art Gallery. Dimana belum ada satupun orang yang pernah melakukan penelitian di galeri tersebut. "Apa boleh?" tanya Mikha memperjelas. "Tentu saja, asal kalian berdua juga siap menyalurkan tenaga di Capitaland" ungkap Noah. "Iya, tentu saja. Aku dan Earlene akan membantu staff disini yang meminta bantuan" balas Mikha bersemangat. "Baiklah.. Aku rasa hari ini sudah cukup" ucap Noah mengakhiri percakapannya dengan Mikha. "Terima kasih banyak, Tn. Noah" balas Mikha dengan nada yang terdengar lebih sopan dari sebelumnya. Noah tertawa melihat tingkah Mikha yang secepat itu berubah padanya. "Aku rasa, Aku sudah harus bersikap formal dengan mu" lanjut Mikha terkekeh. Noah lagi dan lagi tertawa dengan sikap lucu Mikha. Noah mengantar kepergian Mikha hingga di ambang pintu ruangannya. "Apa ada yang terjadi setelah kepergian ku?" tanya Noah. "Tadi Tn. Deehan datang dan menanyakan apa yang dilakukan Nona Mikha diruangan Anda" jelas Sein. "Lalu?" "Aku hanya menjawab, kalau Nona Mikha sedang menunggu Anda" lanjut Sein. Noah mengangguk mengerti dan kembali duduk di kursi kerjanya sambil menyandarkan punggung lelahnya. *** Mikha pulang kerumahnya membawa kabar membahagiakan pada Earlene, setelahnya sampai dirumah Mikha menghubungi Earlene. Di dalam panggilannya suara jeritan Earlene begitu nyaring membuat telinga Mikha sakit. Earlene terus saja mengucapkan terima kasih pada Mikha yang telah membantunya hingga proposal penelitiannya di terima di Capitaland. Earlene juga mengatakan kalau ia sangat tidak sabra untuk memulai penelitiannya di Capital Art Gallery. Galeri seni yang begitu banyak peminta untuk melakukan penelitian disana. Keduanya begitu senang karena hal tersebut hingga Naura yang tak sengaja mendengar teriakan Mikha di dalam kamarnya. "Mikha? Kamu kenapa?" tanya Naura khawatir. "Tidak. Tidak ada apa-apa, Aku hanya senang saja---Aku sedang menelpon dengan Earlene, ibu.." jelas Mikha. Naura hanya menggeleng melihat tingkah putrinya, lalu menutup kembali pintu kamar Mikha. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD