Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Mikha menjalani penelitiannya di Capitaland. Dimana saat ini Nino masih berada di Jepang mengurusi beberapa pekerjaannya. Mikha bersama Earlene tiba di Capitaland, dimana Sein telah menunggunya tepat di loby perusahaan.
Mikha melihat Sein yang telah berdiri menunggunya lalu mendatanginya bersama dengan Earlene.
"Tn. Sein?" sapa Mikha bersemangat.
"Nona Mik---"
"Mikha saja, jangan terlalu formal dengan ku---ini teman ku Earlene yang akan melakukan penelitian juga dengan ku disini" jelas Mikha.
Sein mengangguk mengerti lalu mengantarkan Mikha dan Earlene menuju sebuah ruangan.
Mikha melihat sekitar dan mendapati para staff yang begitu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Earlene dibuat takjub dengan kondisi di dalam Capitaland yang begitu megah.
Mikha dan Earlene terkejut saat Sein memberitahunya kalau keduanya memiliki ruangan untuk menjalankan penelitiannya.
"Apa mahasiswi seperti ku akan memiliki ruangan di Capitaland?" tanya Mikha bingung.
"Ya. Tn. Noah memintanya untuk kalian bisa lebih fokus dengan penelitiannya---bukannya penelitiannya juga sangat mempengaruhi image Capitaland, kan?" ungkap Sein.
Mendengar perkataan Sein membuat Mikha serta Earlene mengangguk mengerti dan berterima kasih padanya.
"Aku juga sudah berpesan pada setiap staff yang berada dilantai ini, jika membutuhkan bantuan mereka dapat memakai tenaga mu" lanjut Sein.
"Ah.. iya. Aku juga sudah berjanji pada Tn. Noah untuk membantu staff disini selama penelitian ku---terima kasih sekali lagi, Tn. Sein" balas Mikha.
Sein meninggalkan Mikha dan juga Earlene di dalam ruangan tersebut. Ruangan yang tidak cukup luas namun begitu rapi dan cocok untuk dirinya serta Earlene.
"Wow! Ini sangat luar biasa, Mikha!" ucap Earlene takjub.
"Oh iya, siapa Tn. Noah yang kamu maksudkan?" tanya Earlene penasaran.
Mikha menjelaskan pada Earlene kalau Tn. Noah-lah yang membantu proposalnya bisa diterima di Capitaland.
"Baiklah, Aku akan mengucapkan terima kasih ku padanya kalau sempat bertemu" ucap Earlene.
"Hey.. kamu pikir dia seorang manager yang sulit untuk ditemui" sela Mikha.
"Dia hanya seorang staff juga disini?" tanya Earlene penasaran lalu di balas anggukan oleh Mikha.
Setelah menyelesaikan percakapannya, Mikha dan Earlene membuka laptop masing-masing lalu mempelajari isi penelitiannya. Keduanya tampak serius dengan pembahasannya dengan beberapa karya seni yang akan menjadi objek penelitiannya selama di Capitaland.
Waktu terus saja berlalu, matahari semakin terik menyinari ruangan Mikha serta Earlene. Dimana keduanya masih tampak serius dengan layar laptop masing-masing. Lalu suara deringan telepon mengejutkan Mikha.
"Astaga.. Aku tidak menyadari kalau ruangan ini juga memiliki telepon" ucap Mikha menatap kearah telepon tersebut.
"Halo?" lanjut Mikha menerima panggilan tersebut.
"Ini, Aku Noah. Bagaimana ruangan mu?" tanya Noah.
"Terima kasih, Tn. Noah. Hm, Aku dan Earlene saat ini sudah melakukan penelitiannya, tapi kita masih memilih beberapa objek yang akan menjadi penelitiannya" jelas Mikha bersemangat.
"Oh iya, kamu dan teman mu bisa ke lantai sepuluh untuk makan siang nanti. Para staff juga akan makan siang disana---mungkin tadi Sein lupa mengatakannya pada kalian" ungkap Noah.
"Hm.. iya. Terima kasih" balas Mikha ramah.
"Baiklah, silahkan lanjut pekerjaan mu" tutup Noah.
Mikha dan Noah mengakhiri panggilannya.
Seperti perkataan Noah, Mikha dan Earlene menuju lantai sepuluh untuk makan siang bersama. Mikha melihat sekitarnya dan mendapati para staff yang begitu tertib untuk mengantri makan siangnya.
Salah seorang staff menegur Mikha dan juga Earlene.
"Apa kalian mahasiswi yang melakukan penelitian di galeri Capitaland?" tanya dengan nada penasaran.
Mikha dan Earlene saling melirik kemudian mengangguk bersama.
"Wow!" balas staff itu.
"Sebelumnya di Capitaland memang menerima mahasiswi yang akan melakukan penelitian, tapi tidak pernah menawarkan Capital Art Gallery untuk melakukan penelitian disana" lanjutnya.
"Hei.. kamu terlalu banyak bicara---ayo cepat maju!" sela staff lainnya.
Mikha dan Earlene yang berada tepat di belakang staff tadi maju selangkah hingga keduanya tiba untuk mengambil makan siangnya.
Mikha menatap sekeliling mencari Noah namun tidak melihatnya di pantry tersebut.
"Kamu mencari siapa?" tegur Earlene.
"Tn. Noah---kenapa dia belum makan siang juga yah?" balas Mikha.
"Mungkin saja masih ada kerjaan---ayo makan saja!" pinta Earlene.
Mikha dan Earlene menyelesaikan makan siangnya dan meninggalkan pantry. Mikha yang masih belum melihat Noah seharian ini tampak mencarinya.
"Sebelum kembali keruangan , kita keruangan Tn. Noah dulu. Kita belum mengucapkan terima kasih langsung padanya" pinta Mikha.
Mikha dan Earlene memencet tombol lift untuk ke lantai dua belas tepat dimana ruangan Noah berada. Lift terbuka dan menampakkan sosok Deehan dan juga Theo. Mata Mikha melebar saat melihat kedua orang tersebut.
"Mikha, kenapa tidak masuk?" tegur Earlene yang masuk lebih dulu ke dalam lift.
Earlene juga menyapa Deehan dan Theo dengan sopan. Dimana Earlene mengira kalau kedua lelaki tersebut adalah staff dari Capitaland.
"Teman mu bertanya, kenapa tidak masuk?" ucap Deehan dengan wajah dingin yang datarnya.
Mendengar perkataan Deehan membuat Mikha memutar bola matanya lalu masuk ke dalam lift.
"Lantai berapa ruangan Tn. Noah itu, Mikha?" tanya Earlene.
Mikha menatap kearah Deehan setelah melihat lift tersebut juga ingin naik menuju lantai dua belas.
"Tampaknya, proposal penelitian mu itu telah di setujui" ucap Deehan tiba-tiba.
Namun Mikha hanya diam dan mengabaikan Deehan, mengingat dirinya yang saat ini adalah seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di kantornya.
Lift kembali membuka Deehan Theo lebih dulu keluar lalu disusul oleh Mikha serta Earlene.
"Uh.. menyebalkan sekali!" batin Mikha menggerutu.
Mikha dan Earlene berjalan menuju ruangan Noah. Ia mengetuknya beberapa kali hingga ia membukanya, namun tidak mendapati Noah di dalamnya.
"Tn. Noah sedang tidak ada diruangan" ucap Theo.
"Kemana dia?" tanya Mikha.
"Sedang ada urusan" balas Theo singkat.
"Kenapa tidak bilang dari tadi saat berada di dalam lift" batin Mikha kembali.
"Baiklah, terima kasih" ucap Mikha.
Mikha dan Earlene kembali keruangannya yang berada di lantai tujuh.
***
Ezra terlihat sudah mendapatkan kembali kesadarannya. Ezra meminta pihak rumah sakit untuk menghubungi Deehan dan memberitahu kalau dirinya sudah siuman. Mendengar kabar tersebut Deehan dan juga Theo menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Ezra.
Nana bersama seorang perawat masuk ke dalam kamar rawat Ezra untuk memeriksa kembali kondisi tubuhnya.
Kecantikan Nana saat itu membuat penglihatan Ezra seketika menjadi begitu sangat jelas. Disaat yang bersamaan Deehan dan Theo juga baru saja tiba.
"Ezra!" ucap Deehan mendekat.
"Syukurlah kamu sudah sadarkan diri" lanjut Deehan lega.
"Hm.. iya" balas Ezra.
"Bagaimana kondisi lengannya?" tanya Deehan pada Nana.
"Lengannya masih harus di gips, mungkin harus menunggu sekitar dua minggu agar gipsnya bisa di buka" jelas Nana.
Ezra terus saja menatap Nana membuat Nana sedikit risih dan segera ingin meninggalkan kamarnya.
"Apa kamu dokter yang mengoperasiku?" tanya Ezra mencegat langkah Nana.
"Iya" balas Nana singkat.
Ezra mengangguk lalu berterima kasih pada Nana.
Nana meninggalkan kamar rawat Ezra.
"Hm.. maaf sudah membuat mu mengkhawatirkan ku" ungkap Ezra pada Deehan.
Deehan hanya menghela napas kasar menatap Ezra.
"Apa kamu memberitahu kedua orang tua ku?" tanya Ezra kembali.
"Mungkin ayah ku sudah menghubunginya tadi saat tau kamu sudah sadar" balas Deehan jujur.
Ezra menghela napas panjang lalu mengangguk. Dimana hubungan Ezra dan kedua orang tuanya sedang memburuk.
Deehan meminta Ezra untuk tidak terlalu banyak berpikir dan hanya fokus untuk kesembuhan lengannya saja.
Kedatangan Ezra ke Singapura hanya ingin mengunjungi Deehan saja, namun siapa sangka kejadian na'as menimpanya hingga membuatnya terbaring tak berdaya saat ini di rumah sakit.
"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Ezra.
Deehan memberitahu Ezra tentang kecelakaan patung yang hampir menimpanya saat acara anniversary Capitaland saat itu. Namun hingga saat ini Deehan masih belum menemukan apapun akan hal tersebut.
Pintu kemudian kembali terbuka dan menampakkan sosok Deefan dan beberapa pengawalnya. Pandangan Ezra tercekat, ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya namun Deefan memintanya untuk tetap berbaring dan tidak perlu menyapanya.
"Maaf Tn. Deefan, sudah merepotkan Anda mengunjungi ku di sini" ucap Ezra sopan.
"Tidak apa. Bagaimana kondisi mu?" tanya Deefan.
"Sudah baik. Hanya saja tangan ku masih harus di gips selama dua minggu" jelas Ezra jujur.
"Aku sudah menghubungi Hans dan Sophia, Aku memintanya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan mu selama disini" ungkap Deefan.
"Terima kasih, Tn. Deefan" balas Ezra.
"Oh iya, Deehan.. tadi Noah memberitahu ku kalau Tn. Edward kesal dengan mu---apa yang terjadi?" tanya Deefan pada anaknya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Aku akan mengurusnya" balas Deehan acuh.
Deefan menatap putranya, menghela napas lalu menatap kea rah Ezra kembali.
"Baiklah.. Aku tidak bisa berlama-lama. Hm, Ezra kamu jaga kesehatan mu baik-baik" ucap Deefan.
"Terima kasih, hati-hati saat kamu kembali.. Tn. Deefan" balas Ezra mengantar kepergian Deefan.
Kepergian Deefan membuat suasana hati Deehan buruk kembali. Deehan meminta Theo untuk mengantur jadwal pertemuannya kembali dengan Tn. Edward.
***
Nana dan Jarvis kembali bertemu di sebuah restoran romantis yang banyak dikunjungi para pasangan di Singapura. Nana tampak menikmati pertemuannya dengan Jarvis.
"Bagaimana pekerjaan mu di Capitaland?" tanya Nana.
"Yah.. begitulah. Capitaland adalah perusahaan besar, jadi setiap staffnya selalu di sibukkan dengan berbagai tanggung jawab" jelas Jarvis.
Nana menyetujui perkataan Jarvis, ia juga memberitahu Jarvis kalau ayahnya masih belum kembali dari Jepang.
Jarvis memberitahu Nana kalau dirinya sama sekali tidak mengenali ayah Nana saat pertemuannya dengan Deefan serta jajaran manager dua tahun yang lalu sebelum dirinya resmi menjadi seorang staff di Capitaland.
Keduanya saling tukar cerita keseharian mengenai pekerjaan masing-masing. Nana juga memberitahu Jarvis kalau beberapa hari ini ia sangat sibuk dengan beberapa pasiennya. Jarvis dengan tenang mendengarkan keluhan Nana sambil menikmati makan malamnya.
Nana tersentak saat Jarvis tiba-tiba saja memegangi punggung tangannya. Disaat Nana ingin menarik tangannya, Jarvis mencegat dengan melemparkan tatapan yang membuat Nana sulit menarik diri. Tatapan itu bahkan membuat Nana larut di dalamnya.
Jarvis dengan penuh percaya diri memberitahu Nana tentang ketertarikannya. Perkataan itu tentu saja mengejutkan Nana.
"Jarvis, Ak—Aku.."
"Nana, Aku mengatakan ini bukan untuk menambah beban pikiran mu. Aku hanya ingin memberitahu mu saja tentang perasaan ku selama ini yang ku pendam sejak dulu" jelas Jarvis.
Jarvis memberitahu Nana kalau sejak keduanya masih berada di bangku perkuliahan, dirinya sudah tertarik dengan kecantikan Nana saat itu. Namun Jarvis tidak percaya diri untuk mengutarakan perasaannya.
Nana hanya bisa mendengarkan Jarvis. Ia tidak tau apa yang harus katakana pada Jarvis. Semuanya terlalu tiba-tiba baginya.
"Aku tidak tau harus berbuat apa" ucap Nana jujur.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya---Rasanya Aku sudah lega bisa mengatakan hal itu pada mu walaupun kita baru kembali dipertemukan kembali" jelas Jarvis.
Jarvis meminta Nana untuk melanjutkan kembali makan malamnya. Karena tak ingin Nana yang canggung dengannya setelah ia mengutarakan perasaannya, Jarvis mengalihkan topik hingga membuat Nana kembali nyaman dengannya.
Jarvis mengambil topik beberapa masa kenangannya saat masih duduk di bangku perkuliahan beberapa tahun yang lalu.
Tak di pungkiri kalau kecantikan Nana memang belum berubah sejak masih kuliah dulu. Bahkan ia masih terlihat sama.
Setelah keduanya menyelesaikan makan malanya, Jarvis mengantar Nana pulang kerumah.
Nana berterima kasih pada Jarvis dan mengantar kepergiannya sebelum ia masuk ke dalam rumahnya.
Disaat yang hampir bersamaan, Mikha juga baru kembali setelah melakukan penelitiannya hari ini. Dimana Nana sendiri tidak mengetahui kalau adiknya sedang melakukan penelitiannya di Capitaland tempat ayahnya dan Jarvis bekerja.
"Kamu baru pulang juga?" tanya Nana saat melihat adiknya baru saja keluar dari mobil.
"Hm----ah, capek sekali rasanya" balas Mikha sembari merenggangkan ototnya.
"Bagaimana penelitiannya?" tanya Nana kembali.
"Sangat melelahkan" balas Mikha.
Naura yang sejak tadi menunggu kepulangan putrinya menyambutnya di depan pintu.
"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Naura.
"Tadi, Aku sudah makan dengan Earlene.. bu" balas Mikha.
"Nana juga tadi sudah makan, bu" lanjut Nana.
Mendengar perkataan dari kedua putrinya membuat Naura lega dan tidak lagi mengkhawatirkannya.
Mikha dan Nana menuju kamar masing-masing yang berada di lantai dua, sedangkan Naura kembali duduk diruang keluarganya melanjutkan drama yang di tontonnya.
Mikha menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang miliknya, begitupun dengan Nana. Dimana Nana masih mengingat perkataan Jarvis yang mengutarakan perasaan padanya. Cukup lama Nana terdiam sembari menatap langit-langit kamarnya hingga ia menarik diri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah membersihkan dirinya, perhatian Nana teralihkan saat mendengar suara deringan pesan dari ponselnya. Dimana pesan tersebut dikirimkan Jarvis untuknya.
"Selamat istirahat, jangan terlalu memikirkan perkataan ku yang tadi. Aku menyayangi mu, Nana" tulis Jarvis pada pesannya.
Nana menyimpan kembali ponselnya dan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis untuknya. Pikirannya masih belum pulih dan tidak tau respon apa yang akan diberikan pada Jarvis.
Nana kembali meraih ponselnya setelah menyelesaikan ritual malamnya, ia menatap pesan yang dikirimkan Jarvis padanya. Dengan segala pemikiran yang ada, Nana memutuskan untuk membalas pesan Jarvis.
"Hm.. iya. Selamat istirahat" tulisnya singkat.
Nana meletakkan ponselnya diatas nakas dan mengambil waktu istirahatnya untuk terlelap.
***