Seperti biasanya Mikha dan Earlene melanjutkan penelitiannya dimana keduanya telah memilih beberapa objek yang akan ditelitinya. Hari ini Mikha dan Earlene memiliki jadwal untuk mendatangi Capital Art Gallery. Keduanya tampak begitu bersemangat, dimana ia dapat melihat karya seni yang menyejukkan matanya.
Mikha dan Earlene menuju Capital Art Gallery. Earlene memberitahu Mikha kalau dirinya belum pernah menginjakan kaki di galeri tersebut, sedangkan Mikha sudah pernah mengunjungi sekali saat anniversary Capitaland beberapa minggu yang lalu.
Mikha memarkirkan mobilnya di bantu petugas valet, lalu berjalan masuk bersama dengan Earlene.
Para pengawal galeri sempat meminta Mikha dan Earlene berhenti untuk memperlihatkan identitasnya. Mikha memperlihatkan id card yang telah di berikan Capitaland padanya. Pengawal itu mempersilahkan Mikha serta Earlene masuk ke dalam galeri.
Betapa takjubnya Earlene saat pertama kali masuk ke dalam galeri tersebut ia di sambut oleh Guernica, lukisan yang di lukis oleh seniman terbaik dunia Pablo Picasso pada tahun 1937. Lukisan yang selama ini ia hanya melihatnya di internet, namun kali ini lukisan tersebut berada tepat di hadapannya.
"Wow!!" ucapnya takjub.
"Mikha! Kamu harus memotret ku di depan lukisan ini!" lanjutnya menyodorkan ponsel miliknya pada Mikha.
"Earlene ingat tujuan kita kesini, okay.." ungkap Mikha.
Mendengar perkataan Mikha membuat Earlene tersadar dan hanya fokus dengan objek penelitiannya.
Mikha dan Earlene kembali berjalan dan menemukan patung Discobolous yang menjadi objek penelitiannya kali ini. Patung yang dipahat dengan begitu sempurna pada tahun 460-450 sebelum masehi.
Mikha memotret patung tersebut setelah ia menatap seluruh sisi dari patung tersebut. Lalu di saat yang bersamaan keduanya mendengar sepenggal percakapan yang semakin dekat kearahnya.
Mikha terkejut saat mendapati Deehan yang sedang berbincang dengan seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya.
Deehan seketika terdiam dan tidak melanjutkan percakapannya membuat lelaki yang ada di hadapannya itu bingung. Lalu mengikuti arah pandangan Deehan yang tertuju pada Mikha.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Deehan dengan nada berbisik.
"Hm.. Aku sedang melakukan penelitian ku?" balas Mikha jujur.
"Apa Anda mengenalnya Tn. Deehan?" tanya Tn. Edwar pada Deehan.
"Ah.. iya. Dia mahasiswi jurusan seni yang sedang melakukan penelitian di Capitaland" balas Deehan.
Mikha dan Earlene menyapa Edward dengan sopan.
"Wow.. selera mu juga sangat bagus Nona.." ungkap Edward memuji Mikha serta Earlene yang terlihat tertarik dengan pahatan Discobolous .
"Apa Anda juga mengagumi karya seni rupa ini?" tanya Mikha bersemangat.
"Iya, tentu saja" balas Edward membenarkan.
Melihat Edward yang tertarik dengan seni rupa membuat jiwa mahasiswi terbaik Mikha keluar begitu saja. Tanpa mendapat arahan dari Deehan, Mikha menjelaskan maksud dari patung tersebut pada Edward. Siapa yang sangka kalau penjelasan Mikha membuat Edward begitu tertarik membuat Deehan memuji kepintaran Mikha.
"Wow.. Aku sangat menyukai mu, nona.." ungkap Edward yang puas dengan penjelasan Mikha.
"Sepertinya Capitaland tidak sia-sia telah menerima mu melakukan penelitian disini" lanjut Edward.
"Dia sangat pintar, Tn. Deehan" tutup Edward.
Mikha terlihat puas dengan pujian yang di lontarkan Edward padanya.
"Oh iya, sepertinya Aku sudah harus pergi dengan urusan ku yang selanjutnya---hm, siapa nama mu.. Nona?" tanya Edward kembali pada Mikha.
"Mikha---Mikha Caleystra Ruby" balas Mikha sembari menjabat tangan Edward.
"Aku berharap kita bisa bertemu dan berbincang mengenai beberapa karya pahatan lagi" ucap Edward sebelum ia benar-benar meninggalkan galeri.
Theo mengantar Edward menuju bandara dimana Edward memiliki keberangkatan ke Paris siang ini. Edward dan Theo berjalan menuju pintu keluar galeri meninggalkan Deehan, Mikha serta Earlene.
Deehan dan Mikha saling bertukar pandangan cukup lama hingga Earlene mengacaukannya.
"Sepertinya kamu sangat mudah mengambil hati Tn. Edward" ungkap Deehan jujur.
"Aku hanya menjelaskan maksud dari patung itu saja padanya" balas Mikha santai dan kembali fokus dengan penelitiannya.
"Hm.. Mikha, Aku akan kesana sebentar untuk melihat beberapa objek lainnya" sela Earlene meninggalkan Mikha dan juga Deehan.
Mikha dikejutkan dengan pertanyaan Deehan yang tiba-tiba saja menyebutkan nama ayahnya.
"Apa Tn. Nino tau kamu melakukan penelitian di kantor?"
"Mana mungkin? Kalau ayah ku tau, dia pasti akan memarahi ku---bagaimana tidak? Tapi, Aku tidak memiliki pilihan lain selain---"
Mikha tersadar bahwa ia baru saja lepas kendali dengan pertanyaan Deehan.
"Selain apa?" tanya Deehan penasaran.
"Hm, tidak. Tidak apa" balas Mikha.
"Kenapa kamu bisa tau kalau Aku anak dari Nino?" lanjut Mikha.
"Aku pernah tidak sengaja melihat foto mu di dalam ruangan milik Tn. Nino" balas Deehan jujur.
"Jadi sejak awal kamu tau kalau Aku anak dari Nino, tapi kamu malah mencurigai ku ingin mencelakakan mu di acara anniversary itu?" ungkap Mikha tidak menyangka.
"Hei.. Aku baru tau yang sebenarnya itu sejak beberapa hari yang lalu karena tak sengaja teringat hal itu" jelas Deehan membela diri.
Mikha kemudian terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Deehan.
"Lalu apa kamu yakin kalau Tn. Nino tidak akan mengetahui tindakan mu?" tanya Deehan kembali.
"Sepertinya Aku akan jujur padanya, kalau dia sudah kembali dari Jepang" balas Mikha sembari mengidikkan bahunya.
Lalu percakapan keduanya terhenti saat Earlene telah kembali dengan catatan penelitiannya.
"Apa sudah selesai?" tanya Mikha yang dibalas anggukan oleh Earlene.
Mikha dan Earlene berpamitan pada Deehan untuk meninggalkan galeri lebih dulu. Namun tiba-tiba saja Deehan meminta tumpangan Mikha untuk kembali bersama ke kantor.
Deehan memberitahu Mikha kalau Theo memakai mobilnya untuk mengantarkan Tn. Edward ke bandara.
"Apa tidak keberatan kalau Aku saja yang membawa mobil mu?" ungkap Deehan.
Tidak berpikir panjang, Mikha memberikan kunci mobilnya pada Deehan. Dimana Deehan yang duduk di kursi pemudi lalu Mikha yang duduk tepat di sebelahnya sedangkan Earlene berada di kursi belakang.
Deehan melajukan mobilnya dan sesekali melirik kearah Mikha.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Deehan.
"Sud---"
"Belum, Tn. Deehan" sela Earlene mendahului.
Deehan mengulas senyum tipis melirik wajah Mikha yang terlihat kesal karena Earlene.
"Ada restoran yang sangat enak di sekitar sini, kita akan makan siang disana" ucap Deehan.
"Oh iya, kenapa Aku tidak pernah melihat mu makan siang di pantry kantor?" tanya Mikha tiba-tiba.
Deehan terdiam mencerna pertanyaan Mikha, dimana pada dasarnya pantry Capitaland bukan tempat makan yang di perbolehkan Deefan bagi Deehan serta Noah untuk makan siang disana.
"Aku biasa makan siang disana, hanya saja beberapa hari ini Aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku" jelas Deehan berbohong.
Deehan memutuskan percakapan dimana mereka yang telah tiba di restoran tersebut dan meminta Mikha serta Earlene untuk turun dari mobil.
Ketiganya memasuki restoran dan duduk di kursi pojok bagian kanan. Tampaknya beberapa pelayan di restoran tersebut telah mengenali Deehan.
Deehan menyebutkan pesanannya begitupun Mikha yang memesan menu yang sama dengannya sedang Earlene memilih menunya sendiri.
"Hm.. tidak perlu menambahkan bawang putih di dalamnya----"
"Kenapa kamu tau Aku tidak memakan bawang putih?" sela Mikha heran.
"Aku memesan untuk pesanan ku sendiri---Aku tidak tau kalau kamu juga tidak memakannya" jelas Deehan.
Mikha menatap malu pada dirinya sendiri.
"Hm.. samakan saja punya ku dengannya" pinta Mikha pada pelayan restoran.
Mikha kembali melirik Deehan yang sedang menahan dirinya untuk tidak menertawakan sikapnya.
***
Deehan, Mikha serta Earlene tiba di capitaland setelah melakukan penelitiannya bersamaan dengan Deehan yang juga memiliki pertemuannya dengan Tn. Edward selaku investor capitaland. Deehan menatap Mikha lama hingga perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
Mikha dan Earlene menuju lantai tujuh dimana ruangannya berada. Namun belum sampai di ruangannya beberapa staff meminta bantuan Mikha, seperti dengan janjinya pada Noah kalau ia juga akan membantu para staff mengerjakan pekerjaannya.
Staff tersebut meminta Mikha untuk membawa beberapa vas dari tanah liat itu ke galeri mini capitaland yang berada di lantai sepuluh gedung tersebut.
Mikha memberikan map penelitiannya pada Earlen lalu mengambil vas tersebut untuk di bawanya ke lantai sepuluh capitaland.
Pintu lift terbuka dan menampakkan Deehan serta Sein yang sudah berada di dalam lift tersebut. Mikha melangkah masuk sambil memeluk vas tersebut.
Tak ada percakapan antara Mikha serta Deehan di dalam lift. Hanya saja Deehan yang sesekali melirik tipis kearah Mikha. Suara dentingan lift menyadarkan Deehan, Mikha keluar dari lift dan meninggalkan Deehan serta Sein yang akan menuju lantai dua belas dimana ruangannya berada.
Seperti permintaan staff sebelumnya, Mikha memberikan vas tanah liat tersebut pada staff galeri yang berada di lantai sepuluh lalu kembali menuju ruangannya.
Disaat yang berbeda, Deehan juga telah tiba diruangannya. Ia menyandarkan punggung lelahnya pada kursi kerjanya, dimana tanpa ia sadari pikirannya sejak tadi terarah pada Mikha. Tak tau pasti apa yang sebenarnya ia rasakan, namun ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang terikat dengan Mikha.
"Apa nona Mikha memang putri Tn. Nino?" tanya Sein.
"Iya.. Aku sudah memastikannya. Tapi kenapa dia tidak ingin ayahnya tau kalau di sedang melakukan penelitian disini?" ucap Deehan penasaran.
"Apa Aku harus mencari taunya?" lanjut Sein yang di balas anggukan oleh Deehan.
***
Nana menggeser pintu kamar rawat pasiennya di ikuti perawat yang berada di sisi kanannya. Ezra masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan gips yang melekat di sebelah tangannya.
"Bagaimana kabar mu, Tn. Ezra?" tanya Nana ramah.
"Sangat baik Dr. Nana" balas Ezra memperlebar senyumannya.
Ezra sering kali menggoda Nana saat akan memeriksa kondisi kesehatannya. Memang sudah seperti sifat Ezra yang selalu menggoda wanita pada umumnya, namun baginya Ezra hanya salah satu dari beberapa pasiennya yang sering melakukan hal tersebut pada dokter wanita.
"Apa tak ada yang menjaga mu disini?" tanya Nana melihat kamar rawat Ezra yang cukup luas namun tak ada satupun orang yang menjaganya.
"Kalau kamu ingin menjadi penjaga ku boleh juga.." balas Ezra sembari menggoda Nana.
Nana hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Ezra. Lalu ia kembali meninggalkan kamar rawat tersebut setelah memasukkan antibiotik kedalam selang infus milik Ezra.
Di saat yang bersamaan ketika Nana hendak keluar dari kamar rawat Ezra, Deehan serta Theo juga baru saja datang hingga keduanya saling tukar pandang saat berada diambang pintu kamar rawat Ezra.
"Itu dia penjagaku sudah datang" ucap Ezra sembari tertawa menatap kearah Deehan.
Deehan terlihat menyapa Nana dengan wajah sopan dan mempersilahkannya keluar sembari berterima kasih padanya.
"Hey.. dokter itu cantik, kan?" tanya Ezra pada Deehan.
"Urus saja tangan mu---jangan urus yang lain lagi!" balas Deehan.
"Tapi dia benar-benar cantik, Deehan. Apa kau tidak merasa seperti itu?" tanya Ezra kembali.
Deehan hanya menggeleng dan sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu.
"Kenapa kau dan Theo sudah kesini? Apa kau tak memiliki pekerjaan lagi?" tanya Ezra.
Deehan menjelaskan kalau saat ini pikirannya begitu kalut, dimana ia merasa kalau hubungannya dengan Deefan sudah terlalu berjarak karena sikap Deefan pada Noah. Mendengar perkataan Deehan, dimana Ezra yang sudah sangat mengenal permasalahan keluarga antara ayah dan anak itu membuatnya mengerti.
Ezra mencoba menghibur Deehan dengan mengajak untuk minum bersama. Namun yang Ezra dapat hanya tatapan sinis dari Deehan. Dimana Deehan yang tidak menyetujui hal tersebut mengingat kondisi Ezra yang belum sepenuhnya pulih.
"Padahal tujuan ku datang kesini karena ingin minum sampai pingsan dengan mu" ucap Ezra sembari tertawa.
"Setelah tangan mu pulih baru kita akan melakukannya bertiga bersama Theo" balas Deehan.
Theo hanya bisa mengangguk mendengarkan ucapan Deehan.
***
Nana menyeruput matcha smoothies miliknya ditemani dengan beberapa rekan dokternya yang saat ini berada di dalam ruangannya. Percakapan yang biasa di lakukan para dokter, dimana terkadang mereka membahas para pasiennya. Hal itu terbukti dengan Nana yang juga tengah membahas Ezra. Mengingat baru saja ia mendatangi kamar rawatnya untuk melakukan pemeriksaan, namun yang ia dapat hanya rayuan serta bualan saja dari Ezra.
Beberapa rekan dokter yang juga bersamanya di dalam ruangan kerjanya terlihat tertawa dengan keluhannya pada pasiennya sendiri. Dimana hanya Nana yang selalu mendapat perlakuan seperti itu dari pasiennya.
"Mungkin hanya kamu saja dokter yang cantik dirumah sakit ini.." ledek rekannya.
Nana tertawa kecil sambil melemparkan gulungan tissue itu kearah rekannya. Dan melajutkan lagi dengan semua keluhannya pada Ezra yang terus saja menggodanya saat melakukan pemeriksaan.
"Aku sangat penasaran bagaimana wajah pasien itu yang selalu menggoda mu.." ucap Anastasia sembari tertawa.
Lalu Joanna memberikan ide pada Nana serta Anastasia yang penasaran dengan pasien yang diceritakan Nana pada semuanya.
"Bagaimana kalau besok kamu saja yang menggantikan Nana untuk memeriksa pasien itu?" ucap Joanna bersemangat.
Mendengar ide dari Joanna membuat semuanya tertawa dan menyetujuinya. Bahkan Nana juga tak dapat menahan tawanya melihat respon dari rekan dokternya yang juga ikut penasaran dengan pertanyaan Anastasia yang ingin mengetahui wajah dari pasien tersebut.
*****