Hal itu semakin membuat hati Nathania menjadi panas dan tak terkendali. Ia beranjak dari sofanya dan mendekat ke arah meja kerja Deehan sambil menyingkirkan laptop yang di pegangi Deehan saat ini. “Kamu membelanya?—kenapa kamu pergi menjenguknya, Deehan?!” keluh Nathania dengan nada suara manjanya. “Aku hanya berbicara fakta saja—dia memang bukan pembuat onar—dan yah! Aku pergi menjenguknya! Memangnya kenapa? Salah? Bukannya pergelangan kakinya terkilir karena Aku, kan?” jelas Deehan yang kehilangan kesabaran dengan sikap kekanak-kanakan Nathania. “Siapa yang bilang kakinya terkilir karena salah mu? Apa mahasiswi magang itu yang mengatakannya agar kamu merasa bersalah dan datang melihatnya?” balas Nathania kesal. Deehan kembali menghela napas kasarnya mendengar perkataan yang terlontar

