Perasaan Sahara sedang buruk setelah pembicaraannya dengan Liam sore tadi. Walaupun memang dia sedikit senang melihat Liam menolak dengan tegas wanita bernama Mona itu, tapi sebagai Shanina, dirinya juga turut ditolak. Bahkan lebih sadis daripada penolakan yang dilakukan pada Mona.
"Apakah aku harus menerobos masuk ke kamarnya dan mengatakan semuanya pada lelaki keras kepala itu?" gumam Sahara.
Dia menatap pemandangan luar dari balkon kamarnya. Jaraknya dengan kamar Liam yang juga pernah ditempati olehnya sangat jauh, sehingga bahkan setelah keluar dari kamar dan berdiri di sini pun, tidak ada kemungkinan baginya untuk bisa melihat Liam. Tapi setidaknya, dirinya masih bisa menghirup udara malam yang membuatnya segar. Mansion yang berdiri di tengah halaman luas dengan jalanan masuk panjang. Mansion ini dikelilingi oleh hutan buatan yang melingkari Mansion, sehingga udara yang menyusup masuk terasa sejuk dan membuatnya nyaman.
Tapi lalu matanya melihat ke arah seorang wanita yang keluar dari pintu Mansion, masuk ke dalam mobil yang terparkir di sana. Kening Sahara berkerut melihat Liona yang keluar lagi dari dalam mobil dan tampak menghubungi seseorang.
Karena gerakan wanita itu cukup mencurigakan, Sahara memutuskan untuk turun. Bukan ke arah depan, melainkan ke arah garasi mobil dimana mobil milik Shanina berada. Dia berniat untuk mengikuti kemana Liona pergi selarut ini sendirian, tanpa suaminya.
Dia diam di dalam mobil yang masih berada di dalam garasi, sebelum kemudian menekan tuas yang ada di sisi garasi dengan roda mobilnya sehingga pintu garasi terbuka setelah mobil milik Liona berjalan ke arah gerbang masuk.
Sahara tahu bahwa selama ini Liona masih tetap pergi ke banyak tempat walaupun sudah menikah dan memiliki suami. Suaminya juga sama seperti dirinya, yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk berlatih di klub penari walaupun tidak banyak kesempatan mereka untuk tampil.
"Kemana dia mau pergi?" tanya Sahara entah pada siapa.
Dirinya tidak banyak beraktivitas di luar rumah, selain saat bersama dengan Liam. Sehingga sejujurnya, Sahara merasa takut dirinya akan tersesat jika mendatangi tempat yang bahkan tidak pernah dia datangi. Tapi kemudian saat kendaraannya melambat ketika melihat mobil Liona yang berhenti di sebuah bangunan yang tanpa jendela dan dijaga oleh dua orang lelaki kekar, muncul history kunjungan di dalam aplikasi maps mobilnya, yang menunjukkan bahwa Shanina juga pernah datang ke sini.
Sahara segera turun, menyerahkan mobilnya pada valet yang ada di sana. Ketika dia masuk dengan menutupi wajahnya menggunakan topi, dia terkejut mendengar suara musik keras dan bau alkohol yang bahkan tercium dari pintu masuk.
Yang membuatnya terkejut juga karena ini bukan sekedar club malam biasa, karena di beberapa sudut dia bisa melihat sesama jenis yang saling mencumbu dan bersentuhan fisik secara liar. Sahara merasa mual. Dia tidak sanggup berada di tempat ini, tapi dia harus memastikan apa yang dilakukan oleh Liona di tempat ini.
Tapi bukan Liona yang dia temukan di tengah hiruk pikuk tempat ini, justru seseorang yang bahkan tidak dia kenal.
"Shane? Ternyata benar kau!"
Seorang lelaki berpenampilan sedikit unik tersenyum penuh percaya diri saat menatapnya. "Ternyata kau munafik juga! Kau berkata bahwa kau tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi, tapi ternyata kau kembali. Kenapa? Apakah suami yang sangat kau cintai itu tidak bisa memuaskanmu? Atau...kau masih ingin mengorek tentang apa yang dilakukan oleh adik iparmu terakhir kali? Sudah kubilang, aku tidak bisa mengatakan apapun karena aku terikat dengan kontrak. Lagipula yang terjadi justru menguntungkan dirimu, bukan?"
Kening Sahara berkerut dalam. Ternyata lelaki ini mengetahui sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh Shanina.
"Kau bukan orang yang akan diam terikat dengan kontrak, bukan?" pancing Sahara. Karena di matanya, lelaki di depannya ini terlihat tidak bisa dipercaya sedikitpun.
Dan ternyata, tebakannya benar. Lelaki itu tertawa, mencondongkan tubuhnya ke arah Sahara kemudian.
"Tapi adikmu membayarku dengan sangat mahal. Apa kau tahu, bahwa dia lebih penakut daripada yang kau duga? dan aku mengetahui banyak sekali rahasia yang bisa membuatnya jatuh dalam hidup dan mati. Karena itu, hanya dengan tersenyum dan mengedipkan mata saja, sejumlah uang akan langsung masuk ke dalam rekening ku. Bukankah aku beruntung karena berurusan dengan orang yang tepat?"
Sahara tersenyum. "Kalau begitu, tidak akan ada masalah jika akh tahu, bukan? Karena memberikan satu rahasianya padaku, tidak akan membuatmu berada dalam bahaya. Kau juga tahu bukan, aku dan dia ada di kubu yang sama? Aku bertanya karena tidak ingin terlihat bodoh karena hanya aku yang tidak tahu."
Lelaki yang bahkan sampai detik ini tidak Sahara tahu namanya itu, tersenyum penuh arti sambil terlihat berpikir. Lalu tiba-tiba saja dia mendekat dan menepuk pundak Sahara. "Aku akan mengirimkannya melalui pesan, karena kita tidak bisa berbicara sekarang. Ada seseorang yang sedang menungguku."
Dan karena Sahara tidak ingin terlihat terlalu mencurigakan, maka dia akhirnya mengangguk saja dan membiarkan lelaki itu pergi meninggalkannya.
Sahara kembali menurunkan topi yang dia pakai, lalu mengedarkan pandangan ke arah sepenjuru ruangan gelap yang ramai dan hampir penuh itu.
Mustahil bisa menemukan Liona dengan mudah di tempat ini, maka dari itu untuk hari ini, dia akan menyerah.
Hanya saja, dia tidak pernah menduga jika saat dirinya keluar dari tempat itu, dia malah menemukan sosok yang dia cari di sebuah gang di samping bangunan, sedang dikelilingi oleh dua lelaki yang menggerayangi tubuhnya.
*
Liam baru saja akan masuk ke dalam kamarnya setelah dia menghabiskan satu botol anggur dari dalam rak koleksi anggur terbaiknya, saat matanya menangkap mobil milik Shanina yang baru saja memasuki halaman rumah dan kemudian menghilang ke dalam garasi.
"Dia bertingkah seolah sangat mencintai aku, padahal dia bahkan masih berkeliaran sepanjang malam. Betapa murahnya," gumamnya sinis.
Ia berbalik badan dan masuk ke dalam kamar, melemparkan botol kosongnya sembarangan dan kemudian langsung menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Sejak Sahara meninggal, Liam kesulitan untuk bisa tidur dengan nyenyak. Dia harus mwmasyikan dirinya mabuk sampai kemudian tidak sadarkan diri. Jika tidak seperti itu, maka dia akan terjaga sepanjang malam dan teringat pada pelukan hangat Sahara untuknya.
"Harusnya wanita itu saja yang mati. Seharusnya Sahara masih tetap ada disini."
Membayangkan orang yang sudah membunuh istrinya justru masiu sehat dan beraktivitas dengan normal, membuat amarah Liam yang terpengaruh alkohol membuncah keluar.
Dia bangkit dari posisinya, dengah gontai berjalan keluar dari kamar. Tujuannya adalah kamar tempat wanita itu berada, dia ingin memastikan bahwa wanita itu juga bisa mati sama seperti Sahara.
Lorong rumahnya sepi saat dini hari seperti hari ini sehingga tidak akan ada yang tahu sekalipun Liam membunuh wanita itu. Dia mengetuk pintu, berulang kali dengan tempo berdekatan sampai kemudian pintu di depannya terbuka.
"Liam? Apa yang kau lakukan--"
Bahkan suara wanita itu terasa muak di telinganya sehingga Liam langsung mencekik leher kurus itu dengan satu tangannya. Mendorong masuk ke dalam kamar dan Liam sengaja menutup pintu kamar wanita itu agar tidak ada yang menghentikan aksinya untuk melenyapkan wanita menjijikan ini dari muka bumi.
"A..pa yang ka..u laku..kan?"
Semangkin menderita ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu, semakin membuat Liam merasa tidak sabar untuk benar-benar merenggut nyawa wanita ini. Dia mencengkeram lebih erat lehernya, dengan senyum di wajahnya yang menikmati penderitaan yang dirasakan oleh Shanina.
"Apakah kau juga merasakan kepuasan seperti ini saat membunuh Sahara? Apakah kau merasa lega setelah Satu-satunya orang yang menghalangimu mati?"
"Ohook! Le-paskan!"
Tanpa Liam duga, kuku wanita itu menancap kuat di pergelangan tangannya sehingga secara reflek Liam melepaskan cengkeraman tangannya dari leher wanita itu.
Dia mengumpat kasar, amarahnya belum reda sehingga dia berusaha untuk kembali menjerat wanita itu.
Tapi mungkin karena tubuhnya memang sudah terpengaruh alkohol sehingga kekuatannya lenyap, wanita itu mendorong tubuhnya dengan mudah hingga keluar kamar dan kemudian membanting pintu tepat di depan wajah Liam.
"BUKA! JA*ANG! BUKA PINTUNYA!"
Dengan kesetanan dan membabi buta, Liam memukul pintu depannya hingga menimbulkan suara keras. Dia juga berusaha untuk mendobrak pintu itu walaupun sia-sia saja karena kekuatannya belum terkumpul. Hingga kemudian beberapa pelayan mendatanginya dan menangkap tubuh Liam yang hampir saja terjatuh ke bawah karena limbung ke arah pembatas tangga.
"Kami akan mengantar Tuan Muda ke kamar," ujar salah seorang pelayan yang datang padanya.
Tapi Liam justru menampik bantuan itu. "Jika kau memang ingin membantu, maka dobrak pintu kamar wanita ja*ang itu sekarang juga! Hanya itu bantuan yang aku perlukan saat ini."
Sialnya, tidak ada yang mau mendengar permintaannya dengan sungguh-sungguh, karena para pelayan itu justru membawa tubuhnya yang tidak berdaya ke arah kamar. Sedangkan Liam sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan dan yang bisa di lakukan hanya tertidur sambil menangisi kerinduannya pada Sahara.
**