Ada hal baru yang dilakukan Sahara setelah menemui titik kosong dalam pencarian terkait siapa yang membunuh tubuh aslinya. Dia menggeledah kamar Shanina, yang kini menjadi kamarnya sendiri. Jika memang wanita itu yang melakukan pembunuhan terhadapnya maka setidaknya akan ada sedikit bukti yang mengarah terhadap tindakan seperti itu, bukan?
Dari lemari pakaian, laci bahkan hingga brankas yang berhasil dibuka dengan membaca catatan harian Shanina, semuanya dia buka demi mencari keberadaan bukti yang sangat diinginkannya itu. Hanya saja, tidak ada apapun.
Entah Shanina yang terlalu pandai menyembunyikan bukti atau memang karena bukan Shanina pelakunya, yang Sahara temukan hanya beberapa dokumen penting, foto Liam semenjak remaja hingga sekarang yang tertata rapi di dalam album. Bahkan hal itu pun sudah tidak lagi mengejutkan Sahara karena dia tahu seberapa gila Shanina dalam mencintai suaminya.
"Sebenarnya siapa? Dimana bukti racun itu?" gumam Sahara sambil berbaring di tempat tidur.
Lalu sebuah suara ramai terdengar dari luar, menarik atensi Sahara sehingga dia bangun dari posisinya. Dengan mengenakan coat tipis yang dia ambil dari gantungan di dalam kamarnya.
Dari selasar tangga, dia menyaksikan ada ibu mertuanya yang sedang menggandeng seorang wanita berambut panjang sebahu. Di sampingnya ada Liona yang mengekori.
Pemandangan itu entah kenapa tidak terasa asing di pandangan Sahara. Seolah dirinya diingatkan pada pertemuan pertama saat Shanina dibawa ke rumah ini sebagai calon istri Liam.
Lalu tatapan matanya bertemu dengan tatapan Claudia. Dari senyum ibu mertuanya itu, Sahara langsung menyadari jika tebakannya benar. Ah! Jadi kini giliran Shanina yang akan disingkirkan karena tidak berhasil menjalankan misi untuk memiliki keturunan. Dan perempuan itu adalah perempuan yang akan menjadi istri Liam selanjutnya?
"Betapa menjijikannya," gumam Sahara dengan tawa getir.
Alih-alih pergi dari sana seperti yang pernah dia lakukan dulu saat menjadi Sahara dan hanya menangis di dalam kamar, kali ini dengan kesadaran penuh, Sahara turun melewati anak tangga dan mengejar langkah orang-orang itu ke arah ruang keluarga.
"Sepertinya ada tamu," ujarnya saat berdiri sambil menyilangkan kedua tangan.
Orang-orang itu langsung menoleh padanya dengan jenis tatapan yang berbeda.
"Padahal seharusnya kau tidak perlu keluar walaupun keadaan sedikit lebih ramai," kata Claudia. Wanita itu tidak berniat untuk menyembunyikan sikap akrabnya pada seorang wanita yang tersenyum malu-malu. "Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin membuat dirimu sakit hati."
Mata Sahara memindai semua orang di sana lalu dia mengulas senyum manis di wajahnya. "Memang hal apa yang bisa menyakiti aku, Bu?"
Claudia menatap ke arah wanita itu dan memenangi tangannya kemudian. "Karena sudah begini, ada baiknya jika kau memperkenalkan dirimu secara langsung padanya. Karena ke depannya kalian harus berhubungan akrab dan saling membantu dalam membuat Liam pulih dari perasaan terpuruknya."
Lalu wanita itu berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Sahara.
"Perkenalkan! Namaku adalah Mona. Dulu, aku pernah berpacaran dengan Liam walaupun hanya sebentar dan sekarang aku akan menjadi istrinya. "
Sebuah perkenalan yang mengejutkan dan disambut tawa keras oleh Sahara dengan sengaja. Semua orang menatapnya kebingungan, karena mungkin mereka berpikir bahwa Shanina yang dikenal sangat mencintai Liam, akan menjadi gila saat ada wanita lain yang akan menjadi istri dari suaminya.
"Istri? Kau bilang istri? Atas perintah siapa?" Matanya berubah tajam saat melirik ke arah Claudia. "Liam sudah pernah terpaksa menikah denganku karena dia tidak memiliki pilihan lain dan semua orang yang ada disini tahu bagaimana aku diperlakukan oleh Liam. Apakah sanggung menanggungnya? Atau kau dengan naifnya berpikir bahwa karena kau pernah menjalani hubungan dengan Liam, maka kau akan menerima perlakuan berbeda darinya?"
Mona tampak terkejut menerima sambutan tidak hangat dari Sahara, wanita itu tertegun tanpa bisa melakukan apapun. Dan karena itu juga, Claudia yang kemudian turun tangan menghadapi Shanina.
"Siapa yang akan tahu, bukan? Dari awal, permulaan kalian sudah berbeda. Liam sejak dulu membencimu karena kau banyak sekali mengganggunya. Sedangkan Mona adalah wanita yang sedikitnya pernah disukai oleh Liam. Bukankah di saat seperti ini, Liam akan lebih memilih bersama dengan wanita yang pernah dia sukai daripada wanita yang sejak awal dia benci."
Tatapan datar Sahara itu kini tertuju pada Claudia dan Liona yang sepertinya sejak tadi berharap pertengkaran hebat akan terjadi. Mungkin wanita itu berpikir bahwa Shanina akan langsung menjambak rambut Mona hingga Mona menangis.
"Ya kalau begitu, kita tinggal mengetahui kenyataannya saja, bukan? Lagipula tidak akan ada yang berubah sekalipun Liam bersikap sedikit baik pada wanita ini atau bahkan menikahnya, karena pada akhirnya di hati Liam hanya ada wanita itu. Wanita yang mungkin sekarang tubuhnya sudah lebur menjadi tanah karena digigiti oleh cacing di dalam kuburannya." Dengan senyum santai, Sahara menepuk bahu wanita itu. "Aku tahu kau memiliki kepercayaan diri yang tinggi berkat dorongan dari Ibu, karena dulu aku juga merasakan hal yang sama sampai akhirnya aku menikah dan menjadi istri kedua Liam. Tapi perlu kau ingat, bahwa semua itu hanya perasaan semu. Kau pada akhirnya akan memiliki nasib yang sama denganku. Dengan Shanina ini."
Lalu setelahnya, Sahara berbalik badan dan berjalan meninggalkan orang-orang itu. Di saat itulah senyumnya langsung lenyap, berganti dengan tatapan tajam karena hatinya terbakar melihat wanita lain yang disodorkan kepada Liam setelah kematiannya.
*
"Benar, sudah lama kalian tidak bertemu, bukan? Ibu dengar, dulu kalian terpaksa harus mengakhiri hubungan karena Mona yang melanjutkan studi ke luar negeri. Ibu bahkan tidak bisa membayangkan betapa sedihnya anak Ibu saat itu."
Liam menatap pada ibu dan wanita yang dibawa ke rumahnya ini. Seseorang yang pernah Liam kenal saat mereka berada di sekolah menengah atas yang sama. Dulu, dirinya pernah menjalin hubungan dengan wanita bernama Mona ini, hanya satu bulan. Karena Mona menyatakan cintanya di depan banyak orang dan Liam terpaksa menerima itu karena takut Mona aman terluka.
Kini, wanita itu tiba-tiba saja muncul di depan matanya dengan tampilan yang dewasa. Dan entah kenapa, cara berpakaian wanita ini berbeda dari apa yang pernah Liam ingat. Justru saat ini, penampilannya yang hanya mengenakan dress sederhana berwarna biru dengan riasan tipis di wajahnya, terasa mirip seperti Sahara.
"Aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Aku pernah mendengar kabar tentang pernikahanmu yang pertama dan aku terluka karena kau bahkan tidak mengundangku."
Helaan napas Liam terdengar, bersamaan dengan tangannya yang menarik lepas dasi di lehernya.
"Aku tidak ingin padamu sehingga aku tidak bisa mengundangmu, tentu saja."
Jawaban itu membuat senyum yang semula selalu muncul di wajah wanita itu, langsung lenyap dan berganti dengan tatapan terkejut.
"Liam, jangan bersikap dingin begitu! Bagaimanapun, Mona sudah datang dari jauh setelah mendengar kabar duka yang menimpa dirimu."
"Aku tidak butuh itu, Ibu. Aku hanya butuh tenang untuk saat ini."
Dari caranya ibunya membawa wanita itu datang kesini, Liam sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh ibunya selanjutnya dan saat ini dia sama sekali tidak berpikir untuk menuruti lagi apa yang diinginkan oleh ibunya.
"Dan, Ibu... Aku hanya ingin menegaskan bahwa aku tidak berniat untuk memiliki istri yang lain. Justru sebaiknya, aku sedang menimbang untuk menceraikan wanita itu. Karena itu, tolong jangan melakukan hal yang tidak berguna. Jika Ibu memang menyayangiku, maka hentikan apapun yang sedang Ibu rencakan karena aku tidak tertarik."
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Liam berbalik badan. Bahkan ketika ibunya meminta agar Liam meluangkan waktu berbicara dengan Mona atau mengantar Mona pulang, Liam tidak menghiraukannya. Dia hanya terus berjalan ke arah atas, ke arah kamarnya berada.
Tetapi kemudian matanya mendapati sosok yang paling tidak ingin dia lihat di rumah ini dan sepertinya wanita itu sudah mendengarkan semua yang Liam ucapkan pada ibunya dan wanita itu.
"Sepertinya kau kelelahan. Apa kau ingin aku membawakan sesuatu untukmu? Aku bisa menyiapkan teh atau makanan jika kau--"
"Tutup mulutmu! Bukankah kau sudah mendengar bahwa aku berniat untuk menceraikanmu?"
Entah sejak kapan, tapi tatapan menyebalkan yang selalu Liam lihat di mata wanita itu, sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya tatapan terluka seolah semua yang dilakukan Liam sudah menusuk dalam ke hatinya. Padahal selama ini, mau sejahat apapun yang dikatakan oleh Liam, wanita itu hanya akan terus merengek dan mencoba untuk menggodanya.
"Jadi, bisakah aku berbuat selayaknya istrimu di waktu yang tersisa?"
Liam terkejut. "Apa?" Dirinya berpikir bahwa kali ini juga Shanina akan berteriak atau menangis histeris saat mendengar bahwa dirinya akan diceraikan. Tapi respon seperti apa kali ini?
"Aku akan Terima kau ceraikan, asalkan kau memberikan aku hak untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang istri. Aku hanya ingin membuat kenangan indah sebelum kita bercerai."
Ucapan yang disuarakan wanita itu dengan tatapan memelas, justru membuat Liam semakin menaruu curiga. Dia berpikir bahwa ini hanyalah trik yang dilakukan oleh Shanina untuk menjerat dirinya. Mungkin saja dalam prosesnya itu, Shanina akan mencoba mengambil keuntungan darinya atau berusaha membuat Liam melakukan sesuatu yang akan membuat wanita itu hamil. Karena sejak awal, tujuan yang dimiliki oleh wanita itu dengan datang kesini dan menjadi istri keduanya adalah untuk melahirkan keturunan Liam yang tidak bisa diberikan oleh Sahara.
"Tidak ada alasan aku harus mengabulkan itu! Jadi jangan lakukan apapun dan tunggu saja dengan tenang sampai aku benar-benar menceraikan dirimu. Jika kau melakukan sesuatu yang membuat aku kesal, maka aku tidak akan hanya menceraikan dirimu, melainkan akan aku hancurkan semua yang menjadi milikmu!"
Mengabaikan tatapan terluka yang sama seperti sebelumnya, Liam kini berjalan cepat ke arah kamarnya sendiri. Di dalam sana, dia kembali hancur bersama semua barang milik Sahara yang ada di ruangan itu.
Banyak waktu dia habiskan menangisi istrinya sambil memeluk semua barang peninggalan wanita itu. Tapi kemudian Liam menyadari bahwa sampai kapanpun, istrinya tercinta tidak akan pernah kembali.
**