5. Kebencian

1365 Words
Ada yang mengejutkan bagi Sahara, setelah satu minggu tubuh aslinya mati. Liam yang hampir kehilangan kewarasannya, berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Padahal selama satu minggu ini, lelaki itu bahkan tampak seperti mayat hidup yang hanya menyantap makanan untuk bertahan hidup lebih lama, tidak terlihat ada gairah hidup sama sekali. "Kau akan kemana?" Sahara adalah satu-satunya yang sudah terbangun di rumah besar itu, memergoki Liam yang turun terburu-buru ke lantai bawah sambil membawa tas kerjanya. Lelaki itu melirik tajam, menatap seolah Sahara adalah sesuatu yang menjijikan. Terang saja, karena di maat Liam, Sahara saat ini adalah Shanina, satu-satunya yang dicurigai membunuh Sahara yang asli. "Apa kau masokis? Padahal aku sudah pernah hampir membunuhmu dan sekarang pun, aku sangat ingin membunuhmu lagi. Tapi kenapa kau malah terus muncul di hadapanku?" Tanya Liam dingin. Dengan coat berwarna coklat dan sepatu berwarna senada, mata hazelnya meredup, kosong dan tidak hidup. Liam memakai sepatunya, tanpa bantuan pelayan. Bahkan gelas yang ditaruh di dekat lelaki itu yang masih mengepulkan asap, tidak menarik perhatiannya. Sahara, menatap lelaki manja yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuannya dulu, kini dengan kasual melakukan semuanya sendiri. "Kau sedang 'sakit', apa kau yakin bisa pergi bekerja?" Tanyanya kemudian. Liam mendengus tawa, "Lalu apa urusannya denganmu? Bukankah ini yang kau inginkan saat kau membunuh istriku? Seharusnya kau sudah menduga jika aku akan menjadi seperti ini." "Aku juga istrimu! Dan bukan aku yang--" Mata Sahara melotot saat tangan besar Liam mencekik lehernya, lagi. Otot-otot yang muncul di tangan lelaki itu membuktikan bahwa Liam menggunakan semua kekuatannya untuk benar-benar membunuh tubuh Shanina. "Sedetikpun aku tidak pernah menganggap dirimu sebagai istriku! Sahara adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, dia satu-satunya istriku dan kau telah membunuhnya." "Ohookk! Le..paskan!" Sahara meronta, air matanya keluar begitu saja menerima rangsangan sakit dari lehernya. Dia tidak bisa bernapas, dirinya hampir mati. Lalu Liam menjatuhkan tubuhnya, membuat Sahara terbatuk di lantai sambil memegangi lehernya yang mungkin akan membiru. Lelaki itu menunduk, berbisik tepat di depan wajahnya. "Kau harus tahu betapa menjijikkannya dirimu. Setiap kali aku melihatmu muncul di hadapanku, yang aku inginkan hanyalah membunuhmu dan memotong-motong setiap bagian tubuhmu. Jadi, bersembunyilah! Larilah sejauh yang kau bisa agar aku tidak menemukanmu." Tangan Sahara terkepal. Sejak awal ini sama sekali bukan keajaiban. Dirinya yang mati malah masuk ke dalam tubuh Shanina, wanita yang sangat dibenci oleh Liam. Bukankah ini adalah hukuman karena selama ini Sahara yang hanya seorang gadis desa hidup dengan tanpa tahu malu dan tanpa punya perasaan? Tinggal di mansion besar dan menjadi menantu pertama di keluarga Rodger yang terkenal, sama sekali bukan hal yang seharusnya dia dapatkan. Mungkin Tuhan juga berpendapat demikian sehingga dia yang dulu sangat amat dicintai oleh Liam hingga diperlakukan seperti boneka kaca yang akan langsung hancur jika disentuh, kini harus berhadapan dengan tatapan penuh kebencian dari lelaki itu. "Bukan aku pembunuhnya! Aku tidak membunuh wanita itu!" Seru Sahara saat tubuh Liam berbalik dan berniat meninggalkannya. Liam memang berhenti, tapi tidak membalikkan badan ke arahnya. "Apa kau pikir aku akan percaya?" Tanya lelaki itu. Sudah Sahara duga, sekalipun terbukti jika bukan Shanina yang membunuh dirinya, bukan berarti Liam akan memperlakukan Shanina dengan baik. Bukan berarti kemarahannya akan mereda. Sejak awal, tidak penting siapa yang membunuh Sahara, Liam hanyaa membutuhkan seseorang untuk menjadi target kebenciannya dan juga pelampiasan rasa sakitnya setelah kehilangan Sahara dan Shanina adalah orang yang paling tepat. "Hanya dengan kau masuk ke dalam rumah ini, kau sudah menyakiti Sahara. Entah kau atau bukan yang membunuhnya, fakta bahwa Sahara menderita sampai dirinya mati karena kehadiran dirimu di rumah ini, tidak akan berubah." Kepala Sahara mendongak, matanya menatap sendu pada lelaki itu. "Jangan terlalu membenci diriku, Liam. Karena aku bukan Shanina yang dulu, karena kau akan menyesal jika melakukan itu." Tawa Liam yang terurai di rumah yang masih sepi itu, membuat Sahara terkejut dan merinding. Lelaki itu kemudian menoleh dari balik bahunya, seringai tajam muncul di wajah tampannya itu. "Bahkan jika kau mati lalu hidup lagi, kau tetaplah wanita yang aku benci sepenuh hati. Jadi, jangan mengatakan sesuatu yang lucu. Kau hanyalah w************n yang bahkan tidak punya harga diri. Merangkak masuk ke dalam rumah ini sekalipun tahu bahwa dirimu akan dibenci olehku." Padahal ini bukan tubuhnya, padahal dirinya bukan Shanina, tetapi hatinya terasa sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Liam. Apakah dulu Shanina selalu merasakan kesakitan yang sama seperti ini? Apakah wanita itu selalu mengutuk Sahara sepanjang hidupnya karena terus-menerus merasakan sakit hati yang separah ini? Bahkan ketika Liam pergi meninggalkannya yang masih tersungkur di lantai, sakitnya belum mereda. Sahara menangis, walaupun dia tahu kebencian itu bukan ditujukan padanya. * "Sepertinya kau melalui hari yang berat. Benar begitu?" Ekor matanya melirik pada Gray yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya yang tengah menghabiskan waktu di taman sendirian dengan secangkir teh hijau yang sudah dia pastikan berkali-kali keamaannya. Sahara tidak takut jika dirinya akan mati lagi, tapi tidak jika itu dengan racun yang sama. Rasa sakit yang dia rasakan di penghujung hidupnya bahkan masih dia ingat dan masih menjadi mimpi buruknya setiap malam. "Itu bukan urusanmu," ujarnya ketus. Tapi bukan Gray namanya, jika merasa tersinggung hanya dengan sepatah dua patah kata yang diucapkan oleh Sahara. Lelaki itu justru ikut duduk tanpa meminta izin darinya. "Shane, apakah kau tidak menyadari betapa cantiknya dirimu? Kau bahkan jauh lebih cantik daripada istri boneka Liam yang mati itu." Tangan Sahara yang semula hendak menambahkan balok gula ke dalam cangkir tehnya, terhenti saat mendengaar ucapan Gray. "Apa maksud kau mengatakan itu? Apa aku terlihat ingin sekali dipuji saat ini?" Gray tertawa menanggapi pertanyaannya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah ini hal yang wajar dilakukan oleh lelaki yang menyukaimu? Memujimu dan menaikan harga dirimu setelah kau terus ditolak oleh Liam." Sahara terkejut. Sungguh dia baru mengetahui bahwa Gray selama ini menyukai Shanina. "Aku tidak butuh pujian darimu." Lelaki itu mengesah berat. "Apakah ini rasanya menjadi satu-satunya yang mencintai? Kau memanfaatkan aku untuk membuat Liam cemburu saat itu. Apa kau ingat? Betapa terkejutnya aku saat kau tiba-tiba saja menciumku ketika Liam lewat di hadapan kita! Yah..walaupun itu memang tidak berhasil karena Liam bahkan tidak menoleh sekalipun ke arah kita yang sedang berciuman panas di depannya." Mata Sahara menatap tajam pada Gray yang mulai berhenti bicara. Lelaki itu menyengir hingga menampilkan deretan gigi putih bersihnya. "Berhenti bicara omong kosong dan pergilah!" usir Sahara. Kepalanya pusing karena terlalu banyak hal yang harus dia proses di dalam kepalanya. Fakta bahwa Shanina berusaha begitu keras untuk bisa mendapatkan perhatian Liam, bahkan sampai melakukan hal yang gila bersama dengan sepupu suaminya sendiri. "Berpalinglah padaku, Shane! Aku akan memperlakukan dirimu dengan baik dan memberikan apapun yang kau inginkan. Tidak ada yang kau dapatkan sekalipun kau membunuh wanita itu. Liam hanya lebih membenci dirimu daripada sebelumnya. Aku tidak tahan melihat kau yang terus-menerus menderita karena perlakuan dingin Liam padamu!" Sepertinya, Gray benar-benar tulus mencintai Shanina jika dilihat dari bagaimana putus asanya lelaki itu berusaha meyakinkan Shanina. Tapi jika Shanina asli saja menolaknya dengan dingin, apalagi kini yang ada di dalam tubuhnya adalah Sahara? Sahara mencintai Liam, walaupun sekarang Liam memperlakukan dirinya dengan kejam karena melihatnya sebagai Shanina. Justru karena Liam begitu membenci Shanina, membuat Sahara tidak meragukan perasaan suaminya itu sedikitpun. "Bukankah kau sudah tahu apa yang akan jadi jawaban dariku? Kau tahu paling tahu, bahwa perasaanku terhadap Liam tidak akan pernah berubah.. " Sahara mengepalkan tangannya. "Hanya karena dia memperlakukan aku dengan buruk. Lagi pula, sekalipun aku menyerah pada Liam, aku tetap tidak akan datang padamu. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu." Sama halnya ketika Sahara dapat merasakan sakit hati karena efek tubuh Shanina saat Liam berlaku kasar padanya, seharusnya dia juga bisa merasakan perasaan berdebar atau tersentuh saat mendengar ucapan Gray, jika memang Shanina sedikit saja menyukai Gray. Tapi tidak ada perasaan itu. Di dalam hatinya, Sahara tidak merasakan apapun. "Kau tidak akan tahu karena kau belum mencobanya," kata Gray tidak menyerah. Melihat hal itu, Sahara bangun dari duduknya sekalipun teh di dalam gelasnya masih tersisa. "Sayangnya, aku tidak ada keinginan untuk mencoba. Ah, anggap saja ciuman yang selalu kau bahas itu sebagai percobaan dan ternyata aku tetap tidak merasakan apapun padamu. Jadi, bukankah kau sudah mendapatkan jawaban yang kau inginkan?" Gray tertegun, lelaki itu seolah baru saja dihantam besi tepat di atas kepalanya. Sedangkan Sahara berjalan menjauh meninggalkan taman, membiarkan Gray terpekur dengan perasaannya sendiri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD