Rasanya aneh, saat Sahara harus menghadiri pemakaman dirinya sendiri. Semasa hidup, dirinya tidak memiliki teman dan hanya terkurung di dalam mansion setiap harinya. Sifat posesif Liam juga berperan besar pada kehidupan Sahara yang selalu sendirian. Suaminya, tidak pernah mengizinkan Sahara untuk keluar dari rumah tanpa lelaki itu sehingga Sahara yang tidak ingin memicu amarah Liam, lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku atau juga mengerjakan hal lain seperti menyulam, melukis dan sebagainya. Walaupun terasa membosankan, tapi Sahara tidak keberatan. Liam selalu melimpahkan cinta untuknya dan selalu berdiri di sisinya di saat anggota keluarga lain menunjukkan sikap pengabaian terhadap Sahara. Baginya, itu saja sudah cukup.
Tapi di pemakamannya hari ini, banyak sekali orang yang datang. Tentu saja Sahara tidak mengenal mereka semua karena mereka adalah kolega ayah mertuanya dan juga Liam. Mereka hanya datang karena menghargai ikatan bisnis dengan keluarga Rodger tanpa benar-benar mengenal dan bersedih atas kematian gadis desa yang beruntung karena berhasil menjadi menantu pertama di keluarga Rodger. Yah..walaupun pada kenyataannya, yang dimakamkan hanya tubuh Sahara saja, karena saat ini jiwa Sahara yang ada di dalam tubuh Shanina justru tengah berdiri diam di sudut pemakamakan, memperhatikan dan menonton Liam yang sejak tadi menangis histeris dan menolak untuk memasukkan tubuh Sahara ke liang lahat.
"Terlihat sekali bahwa semua orang menganggapnya menyedihkan karena menangis sekeras itu untuk wanita kelas rendahan," gumam Sahara.
Hatinya terasa hampa melihat bagaimana lelaki yang paling dia cintai itu menangis begitu pedih di hari pemakamannya. Dia tidak salah memilih, Liam adalah lelaki yang paling mencintainya di dunia ini. Bahkan ketika menikah lagi dengan Shanina, Liam justru mendatangi dirinya di malam pertama lelaki itu dengan Shanin. Liam menolak untuk menyentuh Shanina dan terus datang padanya.
"Kau hebat, karena masih memiliki nyali untuk datang ke pemakaman koban yang kau bunuh, Sayang!"
Tubuh Sahara membeku saat sebuah tangan merangkul pinggangnya dengan intim. Dia bergerak menjauh, mengerutkan kening saat melihat Gray, sepupu Liam, tengah tersenyum menggoda ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sahara, defensif.
Tapi pertanyaannya itu justru membuat Gray mengerutkan keningnya, dalam. "Apa ini? Apa karena sekarang saingan cintamu sudah mati, lantas kau tidak membutuhkan kehadiranku lagi untuk menemani malam-malammu yang sepi itu?"
Sahara terkejut, tapi sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan keterkejutan yang dia rasakan. Di luar dugaan, Shanina ternyata memiliki hubungan dengan Gray di saat wanita itu mengaku hanya mencintai Liam. Sebenarnya, seberapa buruk perangai Shanina yang asli? Tapi yang terpenting sekarang adalah Sahara harus memutuskan hubungan jenis apapun yang ada di antara Shanina dan Gray
"Aku senang karena kau cepat mengerti. Seperti yang kau tahu, aku hanya mencintai Liam dan kau hanyalah seseorang yang aku butuhkan di saat aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan dari Liam. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Liam adalah milikku, hanya milikku. Dan aku tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan lelaki lain selain dirinya."
Gray menaikan sebelah alisnya, tersenyum menyeringai. "Kau bicara seolah sudah banyak hal yang kita lakukan, Shane."
Ucapannya membuat Sahara mematung. Apakah dia salah paham? Ataukah hubungan mereka tidak sejauh itu? Sial! Dia bisa saja melakukan kesalahan karena tidak pernah tahu apapun yang dilakukan oleh Shanina.
"Ya mungkin saja ciuman panas terasa berlebihan untuk dirimu yang mengejar cinta Liam sepanjang hidup. Tapi, Shane. Apa kau berpikir bahwa kau akan langsung mendapatkan cinta Liam setelah Sahara mati? Lelaki itu.." Gray menunjuk ke arah Liam yang memeluk makam baru milik Sahara. "Dia hanya akan menjadi pria setengah gila karena cintanya mati. Dan seperti biasa, kau hanya akan menerima kebenciannya. Bukankah aku jauh lebih baik daripada lelaki bodoh yang jatuh cinta pada wanita desa itu?"
Apa yang dikatakan oleh Gray adalah benar. Sekalipun dirinya mati, Liam tidak akan bisa menerima Shanina. Apalagi Liam beranggapan bahwa Shanina adalah pelaku pembunuhan terhadap Sahara. Justru yang ditakutkan Sahara sekarang adalah, bahwa Liam mungkin saja berpikir untuk ikut mati bersama dengannya.
"Itu bukan urusanmu," kata Sahara sambil berbalik badan untuk pergi dari sana. "Yang jelas, jangan pernah dekati aku lagi mulai sekarang! Karena aku tidak ingin memiliki hubungan atau alasan apapun bertemu denganmu."
Sahara melangkah meninggalkan area makam, tapi kemudian dia berbalik lagi ke arah Gray yang menatapnya penasaran. "Dan perlu kau tahu, bahwa kau bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Liam walau hanya seujung kuku." Menyeringai, Sahara kembali melangkah dan membuat stilletonya menimbulkan bunyi yang khas saat berbentuan dengan aspal.
*
"Bangkitlah! Ayah tahu kau terluka, tapi yang hidup harus tetap hidup. Ini adalah takdir karena Sahara tidak bisa hidup lama."
Liam berbalik cepat ketika mendengar ucapan itu dari ayahnya. Dia menatap tajam pada lelaki yang berbagi DNA dengannya. "Apa Ayah benar-benar mengatakan itu karena memikirkan aku? Aku ini.." Liam memukul dadanya berulang kali dengan menggebu-gebu. "Seluruh hati dan hidupku sudah aku berikan untuk Sahara semenjak pertama aku mengenal dia. Dan sekarang, aku tidak berpikir bahwa hidupku akan ada artinya. Aku tidak membutuhkan semua yang ada disini! Aku hanya ingin secepatnya menyusul Sahara-ku. Aku tidak ingin membuat dia kesepian dan sendirian, menunggu dalam gelap."
Mata ayahnya melotot tajam. "Jangan bicara sembarangan! Kau adalah pewaris yang nantinya akan menggantikan Ayah! Bagaimana bisa kau menjadi sangat lemah hanya karena kehilangan satu wanita?"
"SATU WANITA ITU ADALAH SEUMUR HIDUPKU! AKU..AKU BAHKAN TIDAK INGIN WAJAHNYA YANG CANTIK ITU HANCUR DI DALAM SANA!" Liam histeris. Kedua tangannya menutupi wajah dengan tangisan yang mengerikan. "Aku tidak akan bisa hidup. Tidak akan bisa. Aku harus membawanya kembali ke rumah ini. Aku tidak akan bisa tidur tanpa dirinya!"
"LIAM RODGER!"
Tubuh besarnya ambruk saat menerima pukulan dari ayahnya, tapi Liam masih sadar. Hanya hidungnya saja yang berdarah dan semua orang menatapnya dengan iba.
Ia bergerak bangun, menyeret langkahnya ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan aroma Sahara yang masih tertinggal. Dia membutuhkan aroma tubuh wanita itu agar bisa tenang, agar dirinya masih bisa berpikir bahwa Sahara masih ada di sana. Bersama dengannya, memeluknya dan membuat Liam mabuk akan aromanya.
Segera Liam berlari ke arah lemari pakaian istrinya, mengambil pakaian yang sering dikenakan oleh Sahara. Sekuat tenaga, hidungnya menghindu aroma dari sana, menikmati wangi tubuh Sahara yang menempel di pakaiannya.
"Sayang.. Cintaku.. Hidupku.. Bawa aku juga," rintihnya pilu.
Ini tidak cukup. Liam membutuhkan tubuh Sahara bersama dengannya disini. Haruskah dia membawa jasad Sahara diam-diam dan mengawetkannya? Dengan begitu, Sahara tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Sahara akan tetap ada di kamar ini, menunggunya seperti biasa.
"Mereka semua iblis! Padahal sudah jelas bahwa Sahara dibunuh, tapi Ayah bahkan tidak berniat untuk menyelidiki semuanya hanya karena tidak ingin membuat buruk citra perusahaan. Mereka kejam!"
Padahal Liam ingin menjebloskan Shanina yang sudah berani membunuh istrinya itu hingga ke dasar penjara paling gelap dan menakutkan yang ada di kota ini, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Wanita ja*ang itu pasti sedang bergembira sekarang karena sudah berhasil membunuh Sahara. Liam sangat marah memikirkan hal itu.
Karena dia tahu hanya Sahara yang menderita sendirian. Sahara-nya yang cantik dan penurut.
Tidak bisa begini! Liam harus segera menyusul Sahara agar istri tercintanya tidak sendirian di sana. Jika dia tetap hidup sendirian, Sahara pasti akan sangat membenci dirinya, bukan?
Segera Liam bangun dari posisinya. Kali ini dia membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur, mengeluarkan gunting yang selalu ada di sana.
Rumah sedang dalam keadaan kacau, jadi pasti tidak akan ada yang datang ke dalam kamarnya. Liam hanya perlu bertahan sebentar dan dia akan segera bertemu dengan Sahara. Jantungnya hagkan berdegup kencang membayangkan bisa berjumpa lagi dengan wanita tercintanya itu.
"Tunggu aku, Sayang! Aku akan segera datang dan menemanimu."
Dia membentangkan gunting di garis pergelangan tangannya. Matanya terpejam saat tangan kanannya mulai menggores pergelangan tangan kirinya.
BRAAAKK
Netra Liam membulat. Gunting yang semula ada di tangannya, kini sudah tergeletak di lantai. Darah di pergelangan tangannya keluar, tetapi tidak begitu banyak. Tidak ada luka yang berpotensi menyebabkan kematian baginya.
"Kau lagi! Apa yang kau lakukan?!" Liam berteriak pada wanita yang mengenakan pakaian tidur berwarna putih.
Napas wanita itu tampak tersengal, seolah baru saja berlari dari jarak yang jauh.
"Kau gila! KAU GILA, LIAM!"
Mendengar wanita itu berteriak, Liam bertambah muak. Siapa dia sampai berani meneriaki Liam seperti itu?!
"Aku tidak ingin melihatmu sekarang, jadi keluar! Apapun yang aku lakukan, itu bukan urusanmu. Sampai kapanpun juga, kau tidak akan pernah bisa memilikiku! Aku adalah milik Sahara dan aku akan menyusul dirinya yang pergi lebih dulu."
Shanina menggeleng, "Jangan bodoh! Sekalipun kau mati, kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya! Apa kau pikir, wanita itu akan dengan senang hati menyambutmu yang datang setelah mengakhiri hidupmu sendiri?! Dia hanya akan membenci dirimu!"
"TUTUP MULUTMU! PEMBUNUH SEPERTI DIRIMU TIDAK BERHAK MENGATAKAN APAPUN TENTANG SAHARA-KU!"
Tiba-tiba saja wanita itu menangis, berlutut dengan wajah basah sambil menatapnya. "Jangan lakukan itu! Kau bisa membenciku seumur hidupmu, tapi jangan pernah mengakhiri hidupmu sendiri. Kau harus tetap hidup, Liam! Aku mohon!"
Bahkan tangisannya membuat Liam begitu marah. Dia menyesal karena sudah menikahi wanita ini dan membuat Sahara menderita. Seharusnya sejak awal, dia membawa Sahara pergi saja dari rumah ini.
"Keluar atau aku akan membunuhmu! Aku tidak sudi mendengarkan apapun yang kau katakan!"
Wanita itu mengangguk hingga membuat Liam merasa lega. Tapi kemudian, dengan lancangnya, Shanina bergerak menggeledah kamar Liam.
"Apa yang sedang kau lakukan?! Berhenti selagi aku bicara baik-baik!"
Tapi kemudian Shanina mengambil gunting, pisau buah dan juga sebuah pistol yang Liam ingat menaruhnya di dalam lemari pakaian. Semua benda tajam yang ada di dalam ruangan itu, kini berpindah ke dalam pelukan Shanina.
"Aku akan pergi tapi aku akan memastikan kau tidak bisa membunuh dirimu sendiri." Setelah mengatakan itu, Shanina langsung berlari pergi.
Liam menggeram marah, "Sial! Wanita sial!" Entah kenapa tidak ada yang berhasil dia lakukan dengan benar.
**