"Nak, Mama enggak bisa kasih kamu apa-apa. Tapi Mama harap kamu mau menerima hadiah kecil dari Mama sebagai hadiah pernikahan kamu," ucap Dewi, ibu tiri Liona sekaligus wanita simpanan Priyana yang kini sudah resmi dinikahi oleh pria itu selama kurang lebih dua puluh tahun setelah Aina Mahista, istri pertama Priyana meninggal dunia.
Liona yang sebelumnya terpaksa menghentikan langkah di tengah-tengah ruangan acara yang sudah sepi tersebut, kini sibuk menatap hadiah yang terbungkus kotak kecil berbentuk persegi panjang. Ia yakin benda yang berada di dalam kotak itu adalah sebuah kalung. Entah emas atau berlian, ia belum mampu memastikannya. Lagi pula, ia tidak tertarik untuk mengetahui sekaligus memilikinya.
Detik berikutnya, Liona melipat kedua lengannya dan memasang ekspresi yang angkuh. "Enggak mau deh, Tante. Lebih baik Tante kasih saja ke Atasya. Dia terluka berat tuh gara-gara pacarnya menikah sama aku. Hati Atasya pasti sehancur hati mama aku, saat mama aku tahu kalau Papa menikah rahasia dengan Tante. Sakit tahu, Tante. Jadi, sebagai anak yang sudah memiliki pengalaman, aku sih menyarankan supaya Tante menenangkan Atasya saja biar dia enggak gila, apalagi sampai sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal kayak mama aku," ucapnya sarkastik.
Dewi menelan saliva dengan susah-payah. Dan tak ada satu pun kata yang bisa ia ucapkan untuk menyahuti ucapan Liona, apalagi ketika anak tirinya itu malah langsung mengambil langkah hingga menyenggol hadiah yang ia pegang sampai terjatuh. Yah, memangnya apa lagi yang bisa Dewi lakukan? Pada dasarnya ia memang telah menjadi pihak yang bersalah.
Andaikan saja Dewi tahu jika Priyana sudah memiliki istri, tentu ia tidak akan menerima lamaran dari pria itu. Ia yang hanya seorang gadis desa sudah ditipu mentah-mentah. Priyana bukan pria bujang yang sedang menghabiskan waktu liburan sekaligus merencanakan proyek besar di kampung Dewi, yang pada zaman itu masih sangat asri dan indah. Nyatanya Priyana adalah pria yang telah memiliki istri dan anak berusia dua tahun, saat datang untuk mengajak Dewi menikah.
Malangnya, Dewi baru mengetahui kenyataan itu saat Atasya baru berusia dua tahun. Kedatangan Aina yang langsung melabrak hingga menampar pipi Dewi dengan sangat keras, telah membuka rahasia besar yang disimpan rapat oleh suaminya. Kepergian Priyana ke kota yang ia pikir hanya demi mengurus pekerjaan, ternyata Priyana gunakan untuk pulang ke rumah sang istri pertama.
Pada saat itu, sebenarnya Dewi sudah meminta sebuah perceraian dan melarang Priyana untuk kembali datang. Biarlah hanya dirinya yang membesarkan Atasya sendirian. Namun dua tahun setelah hidup berpisah, Priyana justru kembali datang dengan membawa seorang anak perempuan. Priyana memohon untuk rujuk pada Dewi setelah mengabarkan bahwa Aina sudah meninggal. Kalau saja tidak kasihan pada Liona, anak perempuan yang kala itu baru berusia kurang lebih tujuh tahun, yang sudah ditinggal oleh sang ibu kandung, Dewi akan memilih menolak permintaan Priyana.
Namun pengorbanan Dewi yang sebenarnya termasuk korban kebohongan Priyana, nyatanya tidak dibalas dengan baik oleh Liona. Bahkan ketika saat ini Liona sudah berusia dua puluh tujuh tahun pun, Liona masih saja menolak keberadaan Dewi yang baginya adalah wanita selingkuhan ayahnya sekaligus penyebab kematian ibu kandungnya. Selama dua puluh tahunan, Dewi harus menanggung kebencian yang diberikan oleh anak tirinya itu, tetapi apa boleh buat. Jika berada di posisi Liona, tentu ia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh anak itu.
Namun yang membuat Dewi turut terluka adalah ketika Atasya, putri kandungnya malah menerima karma atas pernikahan terlarangnya dengan Priyana.
Dewi menghela napas kemudian berkata, "Baik. Enggak apa-apa. Seenggaknya, Atasya belum sampai menjadi istri Athan. Dia pasti bisa sembuh."
Kemudian wanita berusia lima puluh tahun tersebut memutuskan untuk angkat kaki dari tempat itu.
Setelah prosesi pesta resepsi terakhir, pasangan pengantin memang berencana untuk menginap di hotel. Termasuk kedua orang tua mereka, agar tidak terlalu kerepotan bolak-balik antara rumah ke hotel. Mungkin hanya Atasya saja yang sejak awal memilih untuk pulang. Dan keputusan Atasya tentu saja membuat Liona senang. Bagaimana tidak, jika di malam pertamanya dengan Athan tak akan lagi mendapatkan gangguan dari wanita lain, yakni adik tirinya sendiri sekaligus mantan pacar pria yang telah menjadi suaminya tersebut.
Liona menyeringai sembari menatap pintu kamar pengantin yang sudah sekaligus ia sewa satu paket dengan ruang pesta. Detik berikutnya, ia memasukkan sebuah kartu untuk bisa memasuki kamar pengantinnya itu. Baru saja masuk, Liona sudah disambut dengan berbagai dekorasi yang telah disusun dengan begitu menawan. Rangkaian bunga dan sejumlah ornamen ucapan Happy Wedding telah disuguhkan untuk dirinya dan Athan.
Liona berangsur duduk di tepian ranjang empuk kamar hotel itu. Sembari menyeringai ia berkata, "Athan, kini kamu sudah menjadi milikku dan kamu harus jatuh cinta padaku, sampai membuat Atasya tak sanggup lagi menahan rasa sakit karena melihat pria yang dicintainya telah menjadi suamiku."
Suara dering ponsel yang sejak tadi Liona pegang sukses membuat lamunan menyenangkan yang baru saja Liona lakukan menjadi buyar. Dengan cepat, ia melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya tersebut. Adalah Fandy, seseorang yang selama ini sangat membantunya untuk bisa mendapatkan Athan.
"Halo, Fandy," ucap Liona sesaat setelah menerima panggilan masuk tersebut sekaligus telah menempelkan layar ponsel di telinga kanannya. "Ada apa? Ceroboh banget sih?! Kamu kan tahu kalau malam ini bisa menjadi momen malam pertama aku sama Athan! Jangan asal telepon dong!"
Terdengar suara cekikikan yang sedang Fandy lakukan. "Alah, nyatanya kamu juga masih bisa mengangkat panggilan dariku, 'kan? Lagi pula aku juga yakin kalau Athan belum mau menyentuh kamu. Kalian kan bersepakat untuk menikah tanpa cinta," sahutnya.
"Hei, ayolah! Aku cantik dan aku menawan daripada Atasya, Fandy. Athan pasti enggak akan sanggup menolak pesonaku. Dia akan tergoda padaku! Dan kami pasti akan melakukannya!"
"Hahaha! Hei, Liona. Tapi, bagaimana jika dia tahu kalau kamu sudah enggak gadis lagi? Dan salah satunya kamu pernah melakukannya denganku juga, hahaha."
"Aku yakin Athan juga sudah enggak perjaka. Dia pasti pernah melakukannya dengan Atasya. Semua akan baik-baik saja, termasuk jika kamu tetap tutup mulut, Fandy. Apalagi sekarang, kamu sudah bisa dengan bebas mendekati adikku, jadi kamu juga harus tetap menjaga nama baikmu di depan adik bodohku itu, 'kan?"
"Oh, tentu saja, Nona. Aku akan membangun citra yang baik di hadapan Atasya. Tapi, Liona, ini hanya kemungkinan saja, Liona. Mengingat adikmu yang begitu lugu, aku rasa masih ada kemungkinan bahwa selama enam tahun mereka berpacaran, mereka enggak pernah melakukan 'hal itu'."
"Kalau memang enggak pernah melakukannya, Athan enggak akan paham mengenai wanita yang pernah melakukan 'hal itu'. Ah sudahlah, kamu sangat menggangguku, Fandy. Aku enggak mau jika Athan tiba-tiba datang, malah menaruh curiga padaku. Aku sudah berusaha untuk membuatnya percaya bahwa aku juga korban, jadi aku enggak boleh ketahuan jika sedang bersandiwara."
"Baiklah, Liona sayang. Happy wedding untukmu dan aku harap kamu bisa hidup berbahagia, tapi jangan lupakan aku juga. Sewaktu-waktu aku masih bisa merindukan sentuhanmu, Sayang! Hahaha!"
Liona langsung menutup panggilan tersebut tanpa mengatakan kata pamit yang santun. Ia tidak mau ketahuan, meskipun sejujurnya ia yakin bahwa dirinya tetap membutuhkan Fandy. Apalagi jika Athan masih saja enggan menyentuh dirinya, sudah pasti Fandy akan menjadi pelariannya.
***