Episode 1-Gerbang Dosa yang Mulai Terbuka
Di pesta resepsi pernikahan Athan dan Liona, tentu saja tak ada satu pun orang yang memedulikan hati Atasya. Dirinya yang adalah kekasih sebenarnya justru diabaikan begitu saja. Setelah dihancurkan dengan kemunculan foto Athan dan Liona yang menggambarkan kemesraan mereka di atas ranjang dengan balutan selimut, Atasya malah dipaksa untuk merangkap sebagai adik ipar tiri mantan kekasihnya itu sendiri. Mirisnya, meski banyak yang bilang berpacaran selama bertahun-tahun pun belum tentu akan berjodoh, bagaimana bisa yang menjadi istri Athan, selaku kekasih yang selama enam tahun menjalin asmara dengan Atasya adalah kakak tiri Atasya sendiri? Mengapa harus Liona, kakak tiri beda ibu yang juga sangat ia benci?
Ah, pada akhirnya Atasya hanya bisa sekadar bertanya sebagai bentuk ratapan hatinya. Namun meski terkesan pasrah dan terpaksa menerima semuanya, hati Atasya tetap merasa perih. Rasa dari luka tak berdarah yang membuat dirinya sudah tidak mampu untuk berdiri lebih lama di antara para tamu, sembari menyaksikan Athan dan Liona yang tengah menjadi raja dan ratu. Kemudian, dengan cepat, Atasya meninggalkan ruangan resepsi di salah satu hotel tersebut. Ia berjalan tergopoh-gopoh untuk mencari tempat persembunyian demi bisa menumpahkan air matanya.
Di sisi lain, Athan, pria berusia tiga puluh tahun ini, kini tengah sibuk mengamati seluruh ruangan. Dengan perasaan sedih sekaligus bersalah ia mencari keberadaan Atasya, satu-satunya wanita yang ia cinta. Andai saja foto itu tidak beredar, mungkin yang ada di sampingnya saat ini adalah Atasya, bukannya Liona. Demi apa pun, ia sendiri tidak mampu menerima kenyataan yang sedang menimpanya.
Perihal foto, benar, kejadian di balik foto itu memang ada. Namun demi Tuhan! Athan merasa dirinya tidak pernah melakukan hal bodoh dengan Liona. Lebih tepatnya tiga bulan yang lalu, pagi hari setelah menghadiri pesta ulang tahun temannya di sebuah villa di Pulau Dewata, di mana Liona juga turut hadir di sana, Athan justru mendapati dirinya berada di sebuah kamar bersama Liona. Pada saat itu Liona mengatakan bahwa tak ada yang terjadi, tetapi sekarang ... foto mesranya bersama Liona yang tidak Athan ketahui justru menjadi viral. Athan yang juga seorang chef sekaligus selebriti yang memiliki channel YouTube dengan subscriber jutaan, harus menerima jatuhnya nama baik yang selama ini ia jaga.
"A-athan," ucap Liona sembari menepuk punggung pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. "Kamu masih enggak nyaman, ya?"
Athan menatap Liona lalu menganggukkan kepala. "Jujur iya, aku enggak nyaman dengan situasi saat ini, Liona," jawabnya.
Liona menggertakkan giginya, sementara kedua telapak tangannya tengah mengepal begitu erat. "Setidaknya tersenyumlah, Athan. Aku tahu ini sulit bagi kamu, tapi kita sekarang sudah menjadi pasangan suami-istri. Aku mohon jangan menunjukkan wajah masam seperti itu."
"Liona ...." Athan menghela napas sembari menatap paras Liona yang begitu cantik dengan riasan pengantin cukup natural tetapi segar. "Aku mau ke toilet sebentar, mau menenangkan diri."
"Oh ... o-oke, tapi jangan lama-lama ya? Hari ini ... kita adalah sepasang pengantin. Kamu jangan membuat aku seperti enggak punya pasangan."
"Aku tahu. Aku masih ingat pada kesepakatan kita."
"Athan, aku harap ... ah, enggak. Cepatlah kembali."
Athan tersenyum tipis lalu memutar badannya dan bergegas untuk meninggalkan tempat pelaminan. Dan sekaligus meninggalkan wanita yang sepakat untuk menikah tanpa cinta dengan dirinya. Athan pikir Liona juga merasa dirugikan dengan kenyataan yang menimpanya termasuk wanita itu sendiri. Meski Liona berkata bahwa rasa cinta bisa tumbuh secara perlahan termasuk karena kebiasaan, Athan tetap tak yakin apakah dirinya mampu menumbuhkan perasaan yang selama enam tahun hanya ia curahkan pada Atasya saja. Ia sungguh mencintai Atasya, dan fakta tersebut membuatnya benar-benar terpuruk lantaran keinginannya untuk menikahi Atasya malah gagal total.
Sinis, Liona menatap Athan yang sudah berjalan menjauh. Batinnya menggerutu sebal karena sikap acuh pria itu. Padahal keinginannya untuk menjadi mempelai bagi Athan sudah tercapai, tetapi merebut hati pacar adiknya tersebut tampaknya masih sangat sulit.
"Lihat saja, Athan, enggak sampai tiga bulan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Kamu memang enggak boleh bersama Atasya, bahkan sekadar hatimu saja tetap enggak boleh. Daripada Atasya yang lahir dari rahim wanita simpanan, tentu saja aku jauh lebih baik, 'kan? Aku sudah merencanakan banyak hal untuk merebut dirimu dari anak sialan itu, dan aku enggak mau gagal. Aku yakin, aku bisa membuat kamu jatuh cinta padaku," gumam Liona setelah akhirnya fokusnya dibuyarkan oleh kedatangan teman-temannya. Dan ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk terus mengawasi Athan.
Sementara itu, di ruang ganti pengantin, Atasya sedang meringkuk sambil merintih kesakitan. Ia benar-benar menangis. Meski sudah menjauh dari ruang pesta resepsi, benak Atasya masih saja memikirkan bagaimana Athan dan Liona berdiri penuh kebahagiaan di pelaminan. Ia juga ingat betapa bahagianya Priyana dan Dewi, kedua orang tua kandungnya dalam menyambut tamu yang datang. Bukankah Atasya terlalu berlebihan jika ia malah merasa paling menderita ketika semua anggota keluarganya dan bahkan para tamu undangan tengah berbahagia?
"Athan, ugh ... aku masih mencintaimu kamu. Tapi kenapa kamu malah mengkhianati aku? Kenapa harus Liona yang menjadi pasanganmu sekarang? Kenapa, Athan? Apa aku kurang cantik? Aku memang enggak pintar, aku juga enggak pintar masak seperti dirimu, tapi apa harus begini? Enam tahun, Athan! Enam tahun lho!" ratap Atasya lagi setelah beberapa kali mengatakan kalimat-kalimat yang sama. Ia sibuk pada suara tangisnya sendiri sampai tak fokus pada hal lain yang ada di sekelilingnya. Ruang ganti yang kosong menjadi tempat yang ia pikir akan membuatnya merasa aman untuk sekadar mencurahkan isi hatinya.
Namun ... pria itu malah datang. Adalah Athan Bagaskara, pria berusia tiga puluh tahun yang justru muncul di ruang ganti padahal sudah tak perlu berganti pakaian lagi sampai pesta berakhir nanti. Padahal masih banyak tamu undangan, tetapi ia yang pamit untuk ke toilet malah melipir ke sini. Karena sejatinya, yang Athan cari memang bukan air, melainkan Atasya. Wanita yang mungkin akan membuatnya merasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Atasya," ucap Athan sembari terus berjalan ke arah sang mantan kekasih.
Detik itu juga, Atasya langsung mengangkat kepalanya. Dengan wajah yang masih bersimbah air mata, ia menatap Athan dengan perasaan syok.
"Kamu? Untuk apa kamu ke sini, Athan?!" Sesaat setelah bangkit Atasya berkata demikian. "Lebih baik kamu kembali dan melangsungkan pernikahanmu dengan Liona! Jangan ke sini, jangan mengejek aku. Aku enggak mau, aku enggak akan membiarkan kamu merasa lucu dan tertawa keras di atas penderitaanku sekarang!"
"Atasya, dengar!" Athan sudah mencengkeram kedua lengan Atasya. "Aku enggak pernah berselingkuh. Dan demi apa pun aku enggak pernah tidur dengan Liona! Bahkan sekalipun aku sedang mabuk, aku enggak akan lupa apa pun yang pernah aku lakukan. Aku dijebak. Itu sudah pasti!"
"Bohong! Kamu bohong! Foto itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kamu berselingkuh dengan Liona, Athan! Kamu enggak perlu berkilah lagi. Dan sekarang kamu hanya bersikap sebagai kakak ipar aku, tapi kamu juga enggak berhak berbohong dan mengejekku seperti ini, Athan! Kamu bahkan menikahi Liona! Itu artinya kamu dan dia-"
"Enggak, Atasya!" tegas Athan. "Enggak, Sayang. Aku dan Liona dijebak. Belakangan ini namaku semakin dikenal dan restoranku melejit. Akan banyak orang yang enggak suka sama aku, Atasya. Aku menikahi Liona karena ayah kalian menuntutku harus bertanggung jawab, atau kalau enggak, aku bakal dipenjara karena pelecehan dan segala macam. Orang tuaku sendiri memintaku untuk menerima keinginan Om Priyana, karena ayahku pun bakal dituntut jika aku enggak bisa kasih pertanggungjawaban dengan menikahi Liona. Aku enggak punya pilihan lain, Atasya. Demi Tuhan! Aku enggak pernah berselingkuh."
Atasya segera mengusap air matanya. "Percuma, sekarang semuanya telah menjadi percuma. Kamu adalah kakak iparku, kamu bukan lagi ... kekasih yang bisa aku cintai, Athan. Oleh sebab itu, kembalilah dan jadilah mempelai yang paling dikagumi saat ini."
"Enggak. Aku masih ingin bersama kamu, Atasya. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku enggak bisa tenang tanpa kamu!"
Athan tak lagi mampu menahan air mata yang sudah mendesak keluar. Ia yang bukan pria cengeng kini sampai merintih karena semua yang terjadi saat ini. Melihat Athan yang jarang menangis sampai sesenggukan, tentu saja Atasya merasa tidak tega. Sepertinya pria itu juga mengucapkan semua fakta, bukan hanya sekadar kebohongan saja.
"Beri aku waktu, dan aku akan kembali padamu, Atasya," ucap Athan.
"Enggak mungkin. Seandainya kamu bercerai dengan Liona suatu saat nanti, aku juga enggak bisa menikah dengan orang yang pernah menjadi kakak ipar aku. Jadi cukup, Athan, biarkan aku yang kesakitan sendiri. Biarkan aku yang—"
"Aku mencintaimu, Atasya. Sangat mencintaimu."
Cepat, Athan menarik paksa tubuh Atasya. Ia mendekap erat wanita itu dan ia pastikan tak ada orang yang bisa melihat, lantaran ia sudah mengunci pintu dengan rapat. Sisa rasa di hati Atasya yang masih begitu besar membuatnya terlena sampai tak berdaya untuk melepaskan dirinya. Dekapan itu seolah mampu mengobati seluruh rasa sakit yang belakangan ini ia derita. Akal sehat Atasya sampai tak berjalan dengan benar, bahkan ketika Athan tiba-tiba mengecupnya dengan begitu dalam. Hal yang seharusnya romantis itu malah terasa begitu pekat dan sendu.
Keduanya saling melepas rindu tanpa memedulikan pesta resepsi yang masih berlangsung meriah. Mereka tak sadar bahwa pintu dosa baru saja terbuka dan akan menyeret mereka lebih dalam lagi menuju hubungan yang tidak seharusnya.
***