Bab 11

1339 Words
Tak jauh berbeda dengan respon Luke, Isabella juga kaget melihat Luke berada di antara orang-orang berandal itu namun yang paling membuatnya kaget adalah orang-orang yang pernah menyerangnya dan Anton saat itu sekarang sedang berkumpul bersama di sini. Itu artinya Luke mengenalnya ‘kan? Siapa sebenarnya Luke? Isabella diam membisu, hatinya remuk tak berbentuk, wajahnya memerah menahan amarah. “Lepaskan dia!” suara beratnya menggema membuat pria yang menahan Isabella reflek melepaskannya. Luke bergerak mendekati Isabella. Plak! Isabella menampar Luke dengan keras, dadanya naik turun dan matanya memerah menahan tangis. “Dasar pengkhianat!” Luke terdiam, rahangnya mengeras. Ia kembali menoleh tanpa menunjukkan rasa sakit seolah tamparan keras itu bukan apa-apa lalu mencengkram tangan Isabella sampai membuat Isabella mendesis kesakitan. “Jangan sentuh aku!” bentak Isabella, menarik tangannya paksa lalu mundur beberapa langkah. Napasnya tersengal. “Kau … kau membohongi aku selama ini! Siapa kau sebenarnya, hah? Siapa?!” “Ikat tangannya!” Perintah Luke dengan wajah dingin tanpa rasa kasihan. Dua orang bergegas menangkap Isabella lalu mengikat tangannya dengan rantai panjang. “Apa-apaan ini?! Aaakkhh! Lepaskan aku dasar kau pria b*****t!” Setelah tangan Isabella terikat, Luke berdiri di hadapannya, memegang tangan Isabella yang mengepal kuat. Mereka saling bertatapan namun kali ini bukan tatapan tulus atau cinta melainkan tatapan bengis dan penuh dendam seolah mereka sudah melupakan semua kenangan mereka terutmalam penuh cinta dan gairah yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Urat di leher Isabella terlihat menonjol menandakan betapa emosinya dia. Luke menoleh ke samping. “Aku urus dia dulu. Aku akan kembali.” Luke menarik rantai panjang yang mengikat tangan Isabella seolah sedang menarik hewan peliharaan. “Aakhh!” Isabella memekik kesakitan, ikatannya tampak erat hingga membuat pergelangan tangannya memerah. Luke mengambil kunci mobil Isabella lalu mendorongnya masuk ke dalam jok belakang mobil. “Kau mau bawa aku ke mana, hah?! Jawab aku?!” bentak Isabella seraya berusaha melepaskan rantai yang mengikat tangannya. “Aku akan membawa kau ke suatu tempat di mana kau akan mengetahui siapa aku sebenarnya,” balas Luke menatap lurus ke depan seraya mengeluarkan seringainya yang khas. “Pria b*****t, seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan kau!” Ia menendang-nendak bagian belakang kursi kemudi, meluapkan emosinya yang membuncah. Luke mendengus, “Kau terlalu lugu nona Lancaster. Bagaimana bisa kau masih mempercayaiku setelah kau mengetahui aku membawa pistol ke mana-mana. Apa wajar warga sipil melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, huh?” Ia terkekeh sendiri mengingat keluguan Isabella. Seperti tidak ada belas kasihan pada Isabella, ia justru mengejek dan meremehkannya. Isabella menatap Luke dengan mata penuh air mata, tetapi suaranya tetap keras. “Aku memang bodoh. Aku bodoh telah jatuh cinta pada pria b******k seperti kau. Aku pikir semua perlakuan lembut kau padaku tulus ternyata semua itu palsu.” Luke memalingkan wajahnya sejenak, rahangnya mengeras. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas cepat di matanya, namun ia segera menekannya. Ia menggenggam setir kuat-kuat, urat-urat di tangannya menegang. “Seharusnya kau tidak pernah mencoba masuk lebih jauh,” katanya lirih, meski nada suaranya tetap dingin. Isabella menggeleng cepat. “Kau ... Kau adalah pria paling kejam yang pernah aku temui!” Mobil melaju kencang melewati jalanan gelap. Lampu-lampu kota bergantian menerangi wajah Isabella yang penuh amarah dan luka. Beberapa jam kemudian Tiba-tiba Luke menginjak rem mendadak, membuat Isabella terlempar sedikit ke depan. Mobil berhenti di sebuah rumah megah yang pagarnya menjulang tinggi di pinggir kota. Luke memutar tubuhnya menghadap Isabella. Wajahnya lebih dekat, sorot matanya menusuk, gelap, dan dingin. “Kita sudah sampai di tempat tujuan.” Isabella menoleh keluar jendela memandang pagar besi tinggi itu terbuka otomatis. Luke kembali menjalankan mobil memasuki halaman rumah yang luas itu. “Di mana ini?” gumam Isabella. “Kau akan tahu sebentar lagi.” Luke keluar dari mobil, menutup pintu mobil dengan kencang membuat Isabella menutup mata rapat, terkejut. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Luke menarik Isabella paksa lalu mendorongnya masuk ke rumah megah itu. Seperti biasa para pelayan menyambutnya di pintu masuk, Luke terus berjalan dengan wajah terangkat sampai ia bertemu papanya di ruang utama. Bill bangkit dari tempatnya, mengangkat sebelah alisnya dengan bibir terangkat, menyeringai. “Wah, sepertinya kita kedatangan tamu spesial.” Ia tersenyum namun senyumnya lebih seperti senyum jahat nan licik. Ia mendekati Isabella hendak mengusap wajah cantik itu namun Isabella langsung memalingkan wajah, menolaknya. “Kau pasti tahu siapa aku ‘kan?” Isabella akhirnya mengetahui bila Luke adalah anak Bill Alonzo. Luke adalah bagian dari keluarga Alonzo. Rahang Isabella mengeras, matanya kembali berair. Isabella hanya diam, hatinya hancur sehancurnya. Ia bahkan tidak bisa memikirkan hari esok, entah ia besok masih hidup atau hanya tinggal nama. Bill melirik Luke sekilas. “Dan apa kau mengenal Luke? Dia bodyguard kau ‘kan? Bukankah dia cukup baik dalam bersandiwara?” Isabella masih diam. Bill menepuk bahu Luke. “Anak pertamaku yang bisa diandalkan.” “Jadi kalian sudah merencanakan ini dari awal, bahkan sampai menyembunyikan identitasnya? Kalian sungguh kejam.” Isabella akhirnya bersuara. “Tentu saja. Kami sudah memikirkan semuanya dari awal.” “Aku dikirim untuk mendekati kau, untuk menghancurkan keluarga Lancaster dari dalam.” Bill tersenyum. “Tepat sekali. Ingat! Ayah kau telah merenggut nyawa istriku. Jadi jangan pernah menganggap keluarga kau suci.” Isabella menunduk, Bill kemudian menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Isabella. “Bagaimana ya reaksi Alex setelah mengetahui kabar mengejutkan ini? Haruskah aku memberitahunya sekarang?” Kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya ketika ayahnya disebut. “Tolong jangan beritahu Ayah.” Bill mendengus lalu menepuk tangannya dua kali, memanggil pelayan. “Bawa dia ke tahanan bawah tanah!” perintah Bill dan langsung dikerjakan oleh kedua pelayan yang datang. Mereka menyeret Isabella ke tahanan ruang bawah tanah. Luke menatap punggung kecil yang semakin menjauh itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Bill mendekat pada Luke, menepuk pundaknya. “Jangan menjadi lemah hanya karena seorang wanita, Luke. Ingat tujuan kita.” Luke menarik napas panjang. “Aku ingat.” “Sudah terlalu lama kau berada di dekat gadis itu. Jangan biarkan perasaan kau menghalangi misi kita,” ujar Bill sambil menatap tajam mata anaknya. Namun, Luke tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, seolah mencoba menenangkan gemuruh perasaan yang berkecamuk di dadanya. Isabella dilempar ke dalam sel tahanan yang dingin dan lembab. Pintu besi berderit keras menutup di belakangnya. Suara kunci berputar menggema di antara dinding-dinding batu. Ia terduduk di lantai, lututnya gemetar, pipinya masih basah. Ruangan itu remang, hanya diterangi lampu redup yang berkedip-kedip. Dingin menembus kulitnya hingga ke tulang. Dalam keheningan, suara langkah kaki mendekat. Perlahan pintu besi terbuka sedikit. Luke muncul, berdiri di ambang pintu. Isabella mendongak dengan mata penuh kebencian. “Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat kau!” namun setelah itu ia memegangi dadanya, napasnya terasa pendek. Peluh keringat memercik dari dahinya mengalir hingga ke lehernya, kakinya gemetar, tak sanggup berdiri sampai ia harus berpegang pada besi tahanan. “Kau kenapa? Apa kau sakit?” Isabella menatap Luke dengan tatapan sayu namun tajam. “Tidak usah pura-pura peduli padaku.” “Aku cuma bertanya, bukan peduli.” Isabella sontak mencengkram kerah kemeja yang Luke kenakan, menariknya mendekat padanya. “Aku bersumpah akan membunuhmu suatu saat nanti,” ucapnya penuh penekanan. Luke hanya memasang wajah datar, bahkan setelah Isabella melepas cengkramannya, ia hanya mengusap, merapikan kemejanya dengan santai. “Aku akan menelpon dokter untuk memeriksa keadaan kau,” ujar Luke setelahnya. Isabella hanya diam, tubuhnya terlalu lemas sampai ia terduduk di lantai yang dingin itu, bersandar ke tembok sementara Luke keluar sambil menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian, Dokter kepercayaan keluarga Alonzo datang untuk memeriksa Isabella. Isabella diam pasrah saat diperiksa. Dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan. Sedangkan Luke berdiri di sampingnya, memperhatikan sambil melipat tangan di depan d**a. “Bagaimana keadaannya?” tanya Luke. “Dia kelelahan, daya tahan tubuhnya menurun.” Luke mengangguk paham. “Apa belakangan ini anda sering mual?” Dokter itu bertanya pada Isabella. Isabella mengangguk lemah. “Apa anda sedang hamil?” tanya Dokter itu lagi. Isabella lagi-lagi hanya mengangguk. Mata Luke seketika terbelalak. Isabella melirik Luke sekilas sebelum akhirnya menutup matanya perlahan. Ia hanya begitu lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD