Tiga Minggu kemudian
Luke telah resmi menjadi bodyguardnya Isabella setelah aksi heroiknya melawan gerombolan geng motor yang membahayakan nyawa Isabella dan ia sudah bekerja dengan keluarga Lancaster selama 2 Minggu dan belum ada muncul kecurigaan dari keluarga Lancaster terhadapnya. Selama Luke di sisi Isabella, tidak ada yang bisa melukai Isabella.
Pagi ini, suasana di rumah Lancaster aman dan damai seperti biasa, seluruh pelayan bekerja seperti biasa, Anton sedang menikmati kopi hitamnya seraya membaca koran bersama Luke yang sudah resmi tinggal di sana sementara Ayah Isabella sedang tidak ada di rumah, ia pergi ke Mexico karena ada masalah dengan produsen penyedia bahan baku bisnisnya.
Lain hal dengan Isabella yang tampak terduduk lemas di kamar mandi. Tangannya memegang sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan tanda dua garis. Hatinya mencelos, matanya basah berair.
“Ti-tidak mungkin,” bisiknya lirih dengan tatapan kosong, napasnya memburu seolah tak percaya dengan kenyataan tersebut. Ia kembali mengingat malam panasnya bersama Luke bulan lalu.
‘Apa aku harus memberitahu Luke sekarang? Apa dia akan menerimanya? tapi bagaimana dengan ayah?’ hatinya mulai bimbang dan cemas. Ia sudah melakukan kesalahan, janin dalam perutnya seharusnya tidak pernah ada. Itu tidak boleh terjadi, ayahnya mengecam hubungan mereka. Hubungan mereka hanya sebatas bodyguard dan majikan, tidak lebih. Tidak seharusnya dia tidur dengan orang asing.
Dadanya kembang kempis, ia mencoba berdiri dengan kaki gemetar dan tangan yang berpegang erat pada keramik wastafel, menatap pantulan dirinya yang kusut dan sayu di cermin. Beberapa hari belakangan ini ia sering merasa mual namun ia tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Tangannya tergerak mengusap perut datarnya. “Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menggugurkannya?”
“Aku ke toilet dulu,” Luke meletakkan kopinya kembali ke atas meja. Anton melirik sekilas dan mengangguk.
Luke berjalan cepat memasuki rumah, jalan di koridor sepi sambil menoleh ke belakang sesekali. Saat berpapasan dengan seorang pelayan ia menundukkan kepala sambil menyunggingkan senyum, berusaha untuk tidak membuat orang lain curiga. Ia berjalan mengendap-endap mendekati sebuah ruangan, ruangan pribadi Ayah Isabella, ia mencoba untuk membuka ruangan itu, siapa tahu ada informasi penting di sana.
“Luke!” seseorang menepuk pundaknya saat tangannya berada di atas gagang pintu. Luke segera berbalik. “Apa yang kau lakukan di sini?” Isabella, orang yang menepuknya, menatapnya dengan sebelah alis naik dan dahi berkerut penuh tanya.
Luke tersenyum kaku. “Aku mau ke toilet, Nona.” Sejak menjadi bodyguard Isabella, Luke memanggil Isabella dengan tambahan nona di depan namanya agar terkesan lebih menghormati.
“Terus ngapain berdiri di depan pintu ruangan pribadi Ayahku?”
“O-oh ini ruangan ayah kau. Aku pikir ini toilet. Maaf, aku belum lama tinggal di sini. Maksudku rumah kau sangat besar dan banyak pintu seperti ini di rumah ini, jadi aku belum terlalu hapal, maafkan aku nona.”
“Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Kalau mau ke toilet, yang di ujung sana saja,” ujar Isabella sembari menunjuk jauh ke ujung.
Luke mengangguk paham mengikuti arah pandang Isabella lalu kembali menatap Isabella. “Hm, ngomong-ngomong apa kau sakit, nona? kau kelihatan pucat.” Luke mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Isabella tidak curiga lebih jauh.
Isabella seketika mengusap dahinya yang agak berdenyut. “Tidak, aku hanya pusing sedikit.” Isabella tampaknya masih ragu untuk jujur tentang kehamilannya. Isabella menyunggingkan senyum tipis.
“Kau pasti kecapean, kau harus banyak istirahat nona.”
“Yah kurasa begitu. Apa kau sudah sarapan?”
“Sudah. Bagaimana dengan, nona?”
“Aku belum, nanti temani aku makan ya. Datang ke ruang makan setelah ini.”
“Baik. Kalau begitu, aku ke toilet dulu.” Isabella hanya mengangguk. Sorot matanya tak lepas dari tubuh kokoh yang menjulang tinggi di depannya itu walaupun sudah bergerak meninggalkannya.
***
“Kau nggak mau makan lagi?” tanya Isabella ketika sedang menyendokkan makanan ke piring, ia mendapati tatapan Luke lurus ke hidangan.
“Oh, tidak. Aku sudah kenyang nona.”
Isabella mengerti, ia makan dengan pelan dengan tatapan kosong seperti orang yang tidak selera makan.
“Hari ini nona mau ke mana? Aku sudah siap mengawal nona kemanapun,” celetuk Luke memecah keheningan.
“Hari ini aku ingin istirahat saja di rumah, aku lagi tidak enak badan.”
“Semoga cepat sembuh nona.”
“Hm, terima kasih.” Isabella meneguk air mineralnya hingga tinggal setengah lalu menyudahi makannya padahal makanannya belum habis.
Ia melirik Luke. “Luke,” panggil Isabella hingga yang dipanggil menoleh. Isabella menatap Luke serius. “Bagaimana reaksi kau bila ada wanita yang dekat dengan kau menyatakan cinta pada kau?”
Luke membulatkan matanya, alisnya terangkat. “Tiba-tiba sekali bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu jawaban kau. Apa kau tidak masalah bila wanita menyatakan cinta duluan?”
“Hm, aku tidak masalah dengan itu. Tidak ada yang salah, mau wanita atau pria yang menyatakan cinta duluan. Kalau aku pribadi bila ada yang menyatakan cinta padaku, aku akan jujur. Bila aku juga suka, aku akan menerimanya. Bila tidak, aku akan menolaknya.”
Isabella mengangguk paham. Ia mengambil napas panjang sebelum berbicara. “Kalau begitu. aku suka pada kau.” Mata Luke seketika terbelalak kemudian berkedip-kedip cepat. “Aku suka sama kau sejak pertama kali kita bertemu.”
Tangan Isabella tergerak meraih pipi Luke, mengarahkan ke hadapannya. “Kau masih ingat malam itu ‘kan? Kita menghabiskan waktu sepanjang malam, mengungkapkan perasaan kita pada malam itu.”
Netra hazel Luke bergerak-gerak seolah sedang mencari sesuatu di mata amber Isabella yang tak kalah menawan. Isabella mengusap pipi Luke lembut seraya menyunggingkan senyum. “Bagaimana dengan kau? Bagaimana perasaan kau padaku?” tanya isabella to the point ketika tak kunjung mendapatkan respon dari sang lawan bicara.
Sekian detik kemudian, Luke memegang tangan Isabella yang berada di pipinya lalu menghela napas, membuat sudut bibir Isabella turun seolah tahu jawaban atas respon tubuh yang Luke tunjukkan.
“Maafkan aku nona, tapi kita tidak bisa.” Luke menurunkan tangan Isabella yang ada di pipinya perlahan. Mata Isabella berkaca-kaca, hatinya tergores. “Maaf, Aku harus pergi, aku ada urusan,” sambung Luke seraya berdiri, meninggalkan Isabella yang patah hati.
Sekali berkedip, cairan bening itu meluncur mulus di pipinya namun tidak berlarut-larut, ia langsung menghapus kasar air matanya lalu pergi keluar, menyusul Luke. Ia ingin mengakui kehamilannya saja dan minta pertanggungjawaban.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Luke sudah pergi dengan motornya lalu ia bergegas mengambil kunci mobil, pergi tanpa berpamitan pada Anton, menyusul Luke. Isabella mengikuti Luke diam-diam dengan jarak aman. Ia tidak tahu Luke akan pergi ke mana, yang pasti ia harus mengakui semuanya sekarang. Sampai akhirnya Luke berhenti di sebuah tempat yang terletak di daerah yang sepi.
Dari dalam mobil, Isabella bisa melihat tempat yang didatangi Luke adalah gedung tua yang terletak di pinggiran kota, kelihatan seperti basecamp genk motor pasalnya ada beberapa motor-motor besar yang telah dimodifikasi terparkir di depan sana.
“Mau apa dia ke tempat seperti ini? Jadi ini yang dimaksud dengan urusannya?” gumam Isabella dengan dahi mengernyit.
Isabella keluar dari mobil, berjalan mengendap-endap mendekati gudang tua itu. Di sepanjang dinding ia bisa melihat coretan grafiti dan poster-poster yang ditempel acak persis seperti basecamp genk motor. Bau bensin dan asap rokok makin menguar saat tiba di depan pintu masuk yang sedikit terbuka, membuatnya mual.
Baru saja ingin mengintip, tiba-tiba pintu terbuka, muncul lah seorang pria seram berotot yang memiliki tato naga di lengan kirinya.
Isabella melotot, ia melarikan diri namun belum sempat lari, tangannya sudah ditarik paksa oleh pria itu. “Mau ke mana kau, gadis cantik?”
“Aakh! Lepaskan aku!” Isabella memberontak, berusaha melepaskan diri namun pria itu terlalu kuat, pria itu menyeretnya ke dalam.
“Semuanya! Kita kedatangan tamu!” seru pria itu hingga orang-orang di dalam termasuk Luke menoleh.
Mata Luke terbelalak, ia tak sadar bila Isabella mengikutinya, sepertinya karena banyak yang dipikirkannya saat mengendarai tadi, ia jadi tidak fokus.
“Isabella,” bisiknya pelan dengan jantung yang berdetak tak seperti biasanya.