Seminggu kemudian
Sudah seminggu sejak Alex memberikan teguran pada Isabella agar menjauhi Luke dan sejak saat itu pula mereka tidak pernah lagi bertemu. Isabella sibuk mengurus butiknya sementara Luke tidak ada kabar.
“Mbak, mau rendanya sampai ke bawah?” tanya Isabella yang sedang mengobrol bersama seorang pelanggan yang ingin membuat gaun pengantin khusus untuk pernikahannya nanti. Dia datang bersama calon suaminya.
“Iya mbak sama dikasih manik-manik cantik yang bersinar gitu juga Mbak.”
“Oke siap. Jadi mau model yang seperti ini?” Isabella memastikan kembali seraya menunjuk katalog outfit pernikahan. Wanita tersebut ingin menambah sedikit detail di baju pengantinnya, tentu saja wanita tersebut juga harus mengeluarkan uang lebih karena menambah permintaan.
“Iya Mbak.”
Isabella tersenyum ramah. “Oke, kalau gitu kita ukur dulu ya Mbak.” Isabella mengambil meteran yang tergantung di sebuah mannequin, ia memperbaiki kacamata minus yang ia kenakan sebelum mengukur tubuh wanita kurus dengan tinggi kurang lebih 165 cm itu.
10 menit kemudian
Isabella selesai mencatat ukuran badan wanita tersebut.
“Kira-kira berapa lama ya Mbak prosesnya?”
Bola mata Isabella mengarah ke atas seraya mengetuk pena yang dipegangnya ke dagunya seolah sedang berpikir. “Hmm 1-2 bulan deh Mbak, bisa cepat, bisa lambat dari estimasi tergantung persediaan bahan dan tingkat kesulitan pola. Nanti kalau udah siap, pasti akan segera dikabarkan.”
Wanita itu mengangguk paham.
“Oke, kalau gitu ini atas nama siapa tadi ya? dan saya boleh minta nomor hp yang aktif dan alamat?”
Wanita itu lalu memberikan informasi yang Isabella minta.
“Oke, ditunggu ya Mbak.”
“Iya Mbak. Terima kasih sudah mengunjungi Bella fashion,” ucapnya ramah disertai senyum manis.
“Sama-sama Mbak.”
Isabella sibuk melayani beberapa pengunjung yang datang sampai tak terasa jam telah menunjukkan pukul 2 siang, perutnya keroncongan.
“Jasmine, Rebecca! Aku mau keluar sebentar. Kalian jaga butik ya. Kalau ada orang jahat segera hubungi aku atau langsung hubungi polisi setempat.”
“Baik Mbak Isabella.”
Isabella menyunggingkan senyum kecil sebelum keluar dari butik.
Anton yang sedang duduk di depan butik seketika berdiri ketika Isabella keluar.
“Paman Anton, temani aku makan ya.”
“Baik nona.” Anton dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Isabella. Isabella duduk di depan seperti biasa, dia tidak pernah mau duduk di belakang. Dia sudah menganggap Anton sebagai bagian dari keluarganya bukan supir atau bodyguardnya.
“Mau ke restoran Italia atau restoran Meksiko di sekitar sini?”
“Hm, aku lagi ingin makan makanan Meksiko.”
“Aku tahu tempat yang enak.”
“Kita pernah mengunjunginya?”
“Pernah sekali, tapi sudah lama.”
“Oke, aku percaya padamu.” Anton melirik Isabella sekilas, ia menyunggingkan senyum kecil tapi Isabella tidak menyadarinya.
Beberapa saat kemudian, Anton menginjak rem mendadak ketika gerombolan geng motor menghalangi jalannya.
“Astaga, siapa mereka?” tanya Isabella panik.
“Nona tetap di sini, jangan keluar.” Anton melepas seatbelt sambil menatap tajam ke depan. Ia juga memeriksa pistol di saku celananya sebelum keluar.
“Hati-hati paman Anton.” d**a Isabella berdebar kencang, ia menggigit bibirnya kuat. Ia ingin membantu namun ia belum pernah menggunakan pistol yang biasa dibawanya.
Bugh!
Baru saja keluar dari mobil, Anton langsung dihantam tendangan kuat di dadanya hingga membuatnya terhuyung ke belakang, belum siap menghadapi serangan.
Dari balik helm-helm hitam para geng motor, terdengar suara tawa mengejek. Salah satu dari mereka, berbadan paling besar, melangkah mendekat sambil memutar rantai besi panjang di tangannya.
“Serahkan wanita itu atau kupatahkan tanganmu!” pria itu melirik ke dalam mobil yang ditumpangi Anton dan Isabella, mengincar Isabella.
“Siapa kalian?! Katakan siapa yang menyuruh kalian?”
Pria itu menyeringai, tidak mengindahkan perkataan Anton. Rantai itu melayang cepat ke arah kepala Anton. Namun dengan sigap, Anton menangkisnya, meski terdengar suara desis kesakitan saat rantai itu membelit pergelangan tangannya.
Anton menarik paksa rantai itu mendekat, membuat si pria besar terhuyung. Tanpa buang waktu, Anton menghantam rahang pria itu dengan sikunya.
Namun belum sempat Anton menarik napas lega, dua anggota geng motor lain langsung menyerangnya dari belakang.
Bruk! Bugh!
Satu pukulan keras menghantam punggung Anton. Ia jatuh berlutut, sementara satu pria lain menendang perutnya. Ia pun dihajar beramai-ramai, bahkan ia belum sempat mengeluarkan pistolnya.
Di dalam mobil, Isabella menggenggam kuat pistol dibalik cardigan maroonnya, nafasnya memburu. “Bagaimana ini?” gumamnya, suara bergetar. Keringat memercik di dahinya.
“Aku harus keluar. Tapi aku belum pernah menembak manusia,” bisiknya.
Sementara di luar, dua orang pria geng motor menarik tangan Anton ke belakang, menguncinya. Pria lainnya tampak mengeluarkan sebuah pisau dari saku jaketnya lalu memutar pisaunya tepat di depan wajah Anton. “Selesai kau, Paman Tua!”
Isabella menahan napas. Dalam hitungan detik, ia memberanikan diri membuka pintu mobil.
Dor!
Suara letusan senjata memecah keheningan di sebuah jalan sepi. Semua orang menoleh.
Pria yang memegang pisau perlahan roboh ke tanah. Darah mengucur dari luka tembak di kakinya.
Isabella berdiri di samping pintu mobil, tangan masih gemetar memegang pistol. Matanya membulat, seolah ia sendiri tak percaya baru saja menarik pelatuk.
“Menjauh dari paman Anton!” teriaknya, suara serak namun tegas.
Tiba-tiba terdengar suara motor meraung dari arah yang sama, membuat semua orang menoleh. Salah seorang geng motor menyadari Isabella lengah, ia langsung menendang pistol dalam genggaman Isabella hingga terlempar jauh.
Isabella kaget, belum sempat melarikan diri, dua orang pria dengan cepat memegangi tangannya. "Akhh! lepaskan aku!"
“Berhenti! Jangan sakiti mereka!”
“Luke,” gumam Isabella pada orang yang baru saja datang.
Auranya gelap. Matanya tajam seperti pisau. Ia berdiri santai dengan tangan di belakang seolah menyembunyikan sesuatu.
Pria berbadan paling besar terkekeh lalu meludah. “Siapa kau? Mau cari mati, huh?!”
Dor!
Peluru Luke menembus bahu pria sombong tadi. Dia menjerit, terjatuh, mencengkeram bahu kanannya yang berlumuran darah. Kejadian itu begitu cepat
Geng motor panik, bos mereka telah ditaklukkan, satu anggota lainnya pun telah dilumpuhkan oleh Isabella. Mereka yang memegangi Anton dan Isabella tidak bisa berkutik. Luke menodong ke arah mereka, sekali mereka bergerak tamat riwayat mereka.
“Pergi dari sini sebelum aku habisi kalian satu persatu!”
Luke masih baik hati, ia membiarkan mereka pergi.
Luke berjalan cepat ke Isabella. Napas Isabella memburu, tangannya gemetar. Air mata jatuh membasahi pipinya.
Luke meraih pipinya perlahan. “Sst … jangan menangis, kau aman sekarang.”
Isabella menangis, menunduk. Luke menariknya ke dalam pelukannya.
Anton berdiri dengan susah payah, kakinya gemetar. Ia menatap Luke dan Isabella yang berpelukan namun ia tidak melarangnya. Ia meringis, menyentuh luka di wajahnya.
“Kau selalu datang di saat aku butuh,” Isabella mendongak menatap dalam orang yang lebih tinggi sedikit darinya.
Luke juga menatapnya. “Dan akan terus begitu … selamanya.”
“Maafkan saya,” suara Anton menginterupsi keduanya.
“Paman Anton!” Isabella menghampiri Anton. “Apa kau baik-baik saja?”
“Maafkan saya nona, saya sudah lalai melindungi kau. Kau hampir saja terluka.”
“Aku baik-baik saja. Jangan terlalu terbebani. Lebih baik sekarang kita pulang.” Isabella kemudian melirik Luke. “Kau mau ikut dengan kami?”
“Tidak. Aku ada urusan.”
“Kalau begitu hati-hati. Terima kasih sudah menolong kami.”
Luke mengangguk. “Kalian juga hati-hati. Lain kali jangan melewati jalan sepi walaupun di siang hari karena kejahatan ada di mana saja.”
Isabella memandang motor Luke yang sudah melesat pergi dengan tatapan mata teduh dan hati yang tenang. Perasaan itu masih ada di hatinya dan mungkin akan terus tumbuh.