“Ayah kecewa dengan kau Isabella. Apa kau tidak ingat dengan nasehat Ayah? Apa selama ini kau menganggap nasehat ayah hanya sebuah angin lalu, huh?!”
Pagi ini Isabella disidak oleh Ayahnya di ruangan ayahnya. Ayahnya sudah mengetahui tentang ciuman semalam dari Anton dan Alex sangat murka. Alex sudah sering kali menasehati Isabella untuk tidak mudah dekat dengan pria asing apalagi jatuh cinta.
“Kenapa Ayah menyuruh paman Anton untuk memantauku diam-diam? Aku ‘kan sudah bilang kalau aku tidak suka dipantau!” tutur Isabella tak terima seraya melirik tajam Anton yang berdiri di belakang Alex sedang menundukkan pandangannya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Isabella! Kau tetap salah. Mulai sekarang jauhi Luke, Ayah tidak mau lihat kau dekat dengan dia lagi.”
“Tapi Yah—“
“Tidak ada tapi-tapian dan mulai sekarang kalau kau mau kemana-mana, kau cuma boleh pergi dengan Anton. Mengerti?!” tanpa sadar suara Alex meninggi. Ia terpaksa meneriaki anaknya bukan karena tidak sayang tapi ini demi kebaikan anaknya juga. Ia mau anaknya menjadi putri terhormat dan tidak mudah takluk pada laki-laki.
Tanpa berkata-kata, Isabella keluar dari ruangan Ayahnya dengan berlinang air mata.
Dada Alex terlihat naik turun, menatap ke depan dengan tatapan tajam. Ia kemudian berbalik. “Mulai sekarang kau harus mengawal Isabella kemanapun dia pergi, walaupun dia menolak. Jangan biarkan dia dekat dengan Luke.”
“Baik Don.”
“Kalau begitu kau boleh keluar.”
Setelah Anton keluar, Alex duduk di kursinya, menyisir ke belakang helai poni yang jatuh ke dahinya dengan jarinya. Matanya tak sengaja melirik sebuah bingkai foto kecil di atas meja. Ia mengambil bingkai foto tersebut, menatap lama foto dirinya yang sedang menggendong seorang anak perempuan yang tersenyum ceria di foto tersebut.
“Maafkan Ayah, ayah lakuin ini demi kebaikan kau. Tolong jangan benci sama Ayah.” Ia pun memeluk bingkai foto tersebut, setetes kristal bening keluar dari pelupuk matanya.
Sementara itu Isabella sedang menangis sesenggukan di kamarnya. Ia berbaring tengkurap di atas kasur, membenamkan wajahnya ke bantal. Hatinya sakit. Ia sakit hati karena ia terlanjur jatuh cinta dengan Luke, namun ayahnya dengan keras menolak. Kenyataan pahit yang membuat hatinya tergores.
“Hiks ... huhuuu ...”
Drrt drrt!
Ponsel Isabella yang berada di atas meja bergetar, Isabella tidak memperdulikannya, hati dan pikirannya sedang kalut. Dia tidak peduli apapun sekarang.
***
Sementara itu Luke di rumah kosong milik Papanya. Luke masih berada di sana sejak kemarin. Ia sudah memberitahukan papanya soal penguntitan kemarin dan papanya juga menyarankan Luke untuk tetap tinggal di sana dulu selama beberapa hari.
“Kenapa tidak diangkat?” Luke menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan dahi mengernyit. “Apa dia belum bangun?” ia melirik jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 10 pagi.
“Tidak mungkin dia belum bangun jam segini.” Ia pun mencoba menghubunginya beberapa kali lagi namun hasilnya sama saja. Isabella tidak menjawabnya.
Luke menghela napas lalu menyimpan ponselnya, memilih untuk melanjutkan sarapannya. Sambil mengunyah dahinya berkerut, bola matanya bergerak-gerak pelan seolah sedang berpikir.
‘Tidak biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya aku harus ke sana nanti.'
Setelah sarapan, ia memakai jaket kulit coklat dan menyisir rambutnya. Ia menyisir rambut pendeknya ke belakang, menunjukkan jidat paripurnanya. Kali ini ia tidak membawa pistol, ia tidak ingin membuat Isabella semakin curiga.
20 menit kemudian, ia telah sampai di rumah Isabella. Dari kejauhan, ia bisa melihat Anton sedang duduk bersantai di depan rumah sambil membaca koran.
“Selamat siang Om Anton,” sapa Luke ramah.
Anton mendongak sekilas lalu menutup korannya. Ia berdiri, berjalan santai ke hadapan Luke. “Ada perlu apa kau kemari?”
“Aku ingin bertemu dengan Isabella dan ingin berlatih menembak juga dengan kau. Aku tahu latihan menembak setiap jam 2 siang, aku akan menunggu di sini. Aku tidak masalah menunggu lama.”
“Mulai sekarang kau tidak perlu ikut latihan menembak lagi dengan saya dan kau juga tidak diperbolehkan bertemu dengan nona Isabella lagi.”
Luke mengernyitkan dahinya dan spontan memiringkan kepalanya. “Hah, maksudnya? Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Isabella lagi? Aku salah apa?”
“Kau mencium nona Isabella, kau berbuat macam-macam dengannya.” Anton menunjuk wajah Luke dengan telunjuknya. Mata Luke terbelalak mendengarnya. “Kalian tidak seharusnya jatuh cinta. Ayah nona Isabella sudah tahu semuanya dan kalian dilarang untuk bertemu mulai sekarang!”
“Tidak. Ini tidak seperti yang dibayangkan. Aku tidak berbuat macam-macam dengannya, aku tidak menyakitinya.” Luke berusaha menjelaskan.
“Keputusan Ayah nona Isabella sudah bulat. Lebih baik sekarang kau pergi.”
“Tidak, tidak. Aku harus bertemu dengan Isabella dulu, aku harus bicara dengannya.” Luke berusaha untuk menerobos masuk namun Anton dengan sigap merentangkan tangannya, menghadang jalan masuk.
“Kau tidak bisa masuk, jangan memaksa!”
Luke bersikeras untuk menyingkirkan Anton namun Anton cukup kuat, ia mendorong d**a Luke hingga ia jatuh tersungkur.
Anton melangkah ke depan Luke lalu mencengkram kerah kaos yang dikenakan Luke. “Jangan membuat saya hilang kesabaran!”
Bugh! Bugh!
Anton melayangkan beberapa bogeman mentah ke wajah Luke hingga darah memercik keluar dari sudut bibirnya namun Luke tidak memberikan perlawanan.
“Pergi!” bentak Anton lalu masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan keras.
Luke menatap nanar pintu yang sudah tertutup itu, tangannya tergerak mengusap darah di sudut bibirnya. ‘Sialan, siapa yang telah memberitahu tentang ciuman semalam pada Ayah Isabella? Apa si Anton, pria b******n itu?’
Ia berdiri dengan kaki gemetar, membersihkan pakaian yang terkena debu dan pasir lalu memilih untuk pulang.
Luke pulang ke rumah Papanya dan menceritakan semuanya.
Plak!
Belum sembuh perih disudut bibirnya, ia harus merasakan kepedihan lain di wajahnya. Papanya menamparnya dengan keras sesaat setelah ia mengakhiri ceritanya. Luke menyentuh pipinya yang memanas, sudut bibirnya terangkat hingga membentuk kerutan di hidungnya, meringis.
“Bodoh kau! Siapa yang suruh kau cium dia?! Siapa suruh kau jatuh cinta sama dia?!”
“Aku nggak jatuh cinta sama dia Pa.”
“Kalau nggak jatuh cinta, kenapa kau cium dia?!”
“Itu adalah trik agar aku bisa lebih dekat dengannya. Aku ingin mengambil hatinya agar kelak dia lebih berpihak padaku daripada ayahnya.”
“Tapi sekarang buktinya apa? Seseorang melihat itu dan melaporkannya pada ayahnya. Tamat sudah riwayat kau. Dasar anak bodoh!” Bill murka, ia menendang tong sampah plastik yang berada di ruangannya hingga sampah di dalamnya berserakan.
Luke menunduk sambil menahan perih. “Maafkan aku, Pa.”
Bill mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil duduk di kursi utamanya, bersender sambil menatap ke langit-langit, mengeluarkan napas berat.
“Kau harus mengambil simpati mereka kembali.”
Luke mendongak ketika Papanya kembali berbicara. Alisnya berkerut. “Dengan cara? Aku akan lakukan apapun, Pa.”
Bill hanya diam, mengangkat tangan ke atas meja seraya menautkan jari-jarinya, tatapannya lurus ke depan sambil mengangkat sudut bibirnya, menyeringai. "Aku punya rencana."