Bab 7

1114 Words
“Awasi dia,” “Siap Don!” Alex menuruni tangga dengan cepat, mengendarai mobil seorang diri, balik ke rumah. Anton tidak ikut balik karena ia harus melakukan misi yang diperintahkan oleh Alex. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar sebelum bergerak menjauh, mencari taksi. Luke keluar setelahnya, tanpa memperhatikan sekitar, ia menaiki motornya. “Ikuti motor ducati hitam itu pak. Tapi jangan terlalu terang-terangan, pelan-pelan saja.” “Baik.” Anton mengikuti Luke diam-diam bersama taksi dengan jarak yang aman. Alex memberikan perintah untuk mengikuti Luke sampai ke rumah. Alex ingin Anton mencari tahu tentang latar belakang Luke dan keluarganya. Awalnya Luke tidak sadar sama sekali namun di pertengahan jalan, ia tak sengaja melirik kaca spion, matanya memicing curiga. Ia berusaha berkendara dengan santai namun tetap sesekali memantau. Ia pun memutar otaknya sehingga ia tetap bisa bersikap santai di saat seperti ini. Beberapa saat kemudian, ia tiba di sebuah rumah minimalis. Ia memarkirkan motornya di depan halaman kosong. Matanya melirik ke samping tapi tubuhnya tidak benar berbalik, ia merasa taksi tersebut berhenti tak jauh dari sana. Ia menyunggingkan senyum tipis kemudian melangkah santai, membuka rumah dengan kunci yang dibawanya. ‘Apa benar ini rumahnya?’ batin Anton sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kawasan. Ia masih duduk di kursi sebelah kemudi. ‘Tapi rumah itu kelihatan sepi. Apa dia tinggal sendiri?’ berbagai pertanyaan muncul di benaknya. “Hm, Pak. Bapak bisa tunggu sebentar di sini? Saya mau keluar sebentar.” “Tapi jangan lama-lama ya Pak.” “Baik Pak.” Anton melangkah mengendap-endap menuju rumah tersebut, berdiri di samping rumah dan sesekali mengintip ke dalam melalui jendela yang terbuka hordengnya. Ia tidak melihat Luke di ruang tamu. Rumah juga kelihatan sepi dan perabotan di dalam rumah masih terbilang sedikit seperti orang yang baru pindahan. Tidak ada yang dapat ia lakukan lantas ia kembali ke taksi sebelum ketahuan. “Jalan Pak.” Setelah taksi yang ditumpangi Anton pergi, Luke keluar dari kamar, mengintip dari balik jendela. ‘Ternyata mereka sudah curiga’ matanya memicing. ‘Aku harus lebih berhati-hati’ batinnya lalu menutup hordeng. Beruntung dari awal semuanya sudah direncanakan termasuk rumah kosong milik keluarga Alonzo di Palermo yang akan dijadikan tempat tinggal Luke sementara bila dia berada di wilayah Palermo. *** Anton telah tiba di rumah keluarga Lancaster dan ia langsung menemui Alex yang sedang berada di ruang pribadinya. Tok tok tok! “Masuk!” Anton membungkuk sopan setelah masuk. Alex hanya mengulurkan tangannya ke arah kursi di depannya, memberikan gesture agar Anton duduk sebab ia sedang menyesap rokoknya. Asap mengepul di sekitar Anton namun ia tampak tidak terganggu sama sekali. Anton masih menunggu Alex berbicara lebih dulu. Ia memperhatikan Alex yang sedang menekan puntung rokoknya yang tersisa sedikit ke dalam asbak kemudian merapikan jasnya. “Apa informasi yang kau dapat?” tanya Alex yang kini sedang bersandar di kursi kekuasaannya. “Saya sudah mengikutinya diam-diam sampai ke rumah dan sepertinya dia tinggal sendiri di sebuah rumah.” Alex mengangkat sebelah alisnya. “Apa kau yakin?” “Saya yakin dia hanya sendirian di sana. Rumahnya tampak sepi dan perabotan di rumahnya juga tidak banyak seperti orang baru pindahan.” Alex mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kalau benar begitu, berarti dia tidak berbohong. Dia mengatakan kalau dia tinggal sendiri di rumah.” Anton menganggukkan kepala. “Tapi tetap awasi dia, terutama saat dia pergi dengan Isabella. Dan satu lagi jangan bilang-bilang Isabella tentang hal ini karena dia anak yang tidak suka dipantau.” “Baik Don.” “Oke, kau boleh pergi sekarang.” Anton membungkuk sebelum keluar dari ruangan. Saat keluar, ia kebetulan berpapasan dengan Isabella. “Paman Anton!” “Ya?” Ia melirik pintu ruangan ayahnya sekilas sebelum kembali menatap Anton. “Paman Anton habis dari mana? Aku lihat tadi Ayah pulang sendiri.” “Ada urusan.” “Urusan yang disuruh Ayah ‘kan? Apa berhubungan dengan Luke?” “Bukan apa-apa. Saya permisi,” Anton pamit lebih dulu, enggan untuk menjawab. Isabella pun masuk ke ruangan Ayahnya tanpa mengetuk pintu dulu membuat Alex melebarkan matanya kaget. Isabella langsung duduk di hadapan Ayahnya, bersilang kaki. “Ayah, jangan main rahasia-rahasiaan denganku.” “Apa maksud kau?” “Apa yang Ayah tugaskan pada paman Anton? Pasti berhubungan dengan Luke ‘kan?” Alex tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kau ini ngomong apa sih? Ayah cuma ngomongin tentang masalah Luke dengan kepolisian, lagi pula sekarang dia sudah pulang, dia bebas dari hukuman.” “Benarkah, hanya itu?” Alex mengangguk. Mata Isabella memicing sambil mengerucutkan bibirnya. “Kenapa? Kau kelihatannya tidak percaya sama Ayah?” “Tidak, bukan begitu.” Isabella menghela napas kemudian mengalihkan pandangan, berusaha mencari alasan. Tidak tahu kenapa di satu sisi ia menaruh curiga pada Luke namun di sisi lainnya ada perasaan yang tidak bisa Isabella tolak terlebih setelah melakukan malam panas bersama saat itu. Ia juga bingung dengan perasaannya. “Apa kau takut Ayah menyakiti Luke?” Isabella mendongak. “Kau suka dengan Luke?” sambung Alex membuat d**a Isabella tiba-tiba berdebar. Mata Isabella berkedip-kedip gugup. “Hm, ti-tidak, aku tidak suka dengannya. A-aku cuma tidak mau ayah menyakitinya karena bagaimanapun juga dia telah menolongku.” Isabella berkata dengan nada terbata-bata. “Kalau dia tidak berulah, Ayah tidak akan menyakitinya. Kau tenang saja. Ayah juga sedang mempertimbangkan dia untuk menjadi bodyguard kau.” “Baiklah Ayah.” *** Malamnya, Isabella tidak bisa tidur lantas ia keluar jalan-jalan di depan rumah untuk mencari udara segar namun ada suatu hal yang membuat Isabella kaget, Luke tiba-tiba datang. “Luke, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Isabella seraya mengedarkan pandangannya sekitar, takut ada yang melihat mereka. “Aku tiba-tiba kepikiran kau.” Pipi Isabella bersemu, dadanya kembali berdebar. “Jadi, aku mau memeriksa keadaan kau. Kau baik-baik saja ‘kan? Tidak ada orang jahat yang datang ke sini ‘kan?” Isabella menyunggingkan senyum kecil. “Kau perhatian sekali. Apa kau suka padaku?” pertanyaan spontan itu membuat Luke tidak bisa menyembunyikan senyum, ia mengusap tengkuknya malu, tidak bisa berkata-kata. Isabella terkekeh. “Aku bercanda. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.” “Syukurlah. Aku jadi tenang sekarang. Aku tidak mau kau terluka.” Keduanya saling pandang dan tersenyum sampai akhirnya tangan Luke dengan berani membelai lembut pipi Isabella sambil bergerak mendekat mengikis jarak di antara mereka. Isabella tidak menolak, ia hanya mengedipkan-ngedipkan matanya dan ikut bergerak mendekat, reaksi dari tubuhnya seolah mendukungnya untuk melakukannya sampai akhirnya bibir mereka kembali bertemu, bukan ciuman paksa yang menuntut, melainkan ciuman lembut dan penuh gairah. Di bawah sinar rembulan yang malam ini begitu indah, kedua insan menyatukan perasaan mereka. Namun tanpa mereka ketahui, di samping rumah, Anton memantau mereka sedari tadi dengan ekspresi datar dan tatapan yang misterius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD