Bab 20

1200 Words
Malamnya, di sebuah kamar apartemen. "Hoek ... hoekk ..." Sudah beberapa kali Isabella bolak-balik ke kamar mandi. Perutnya terasa mual dan kepalanya pusing. Efek hamil muda, ia masih sering muntah-muntah di pagi maupun malam hari. Ia terhuyung keluar dari kamar mandi, wajahnya pucat. Napasnya terengah. Ia duduk di pinggir ranjang, mengerang pelan sambil memegangi perutnya. “Aku tidak bisa begini terus,” gumamnya lemah. Ia melirik jam di dinding. Hampir pukul sepuluh malam. Dengan sisa tenaga, Isabella mengambil dompet dan mantel yang cukup tebal, lalu keluar dari apartemen. Udara malam terasa dingin hingga menusuk tulang. Isabella berjalan pelan ke apotek terdekat, menahan rasa mual yang datang lagi. Sesampainya di apotek, Isabella masuk sambil menutup mulutnya. Di saat yang sama, seorang pria tinggi dengan jaket hitam sedang berbicara dengan apoteker, berdiri di sebelahnya. Pria itu memakai tudung jaketnya sehingga Isabella tidak dapat melihat dengan jelas rupa pria tersebut. “Obat untuk asma dan vitamin untuk orang tua, tolong yang dosisnya ringan,” kata pria itu. Isabella merasa familiar dengan suara itu. Pria itu lantas menoleh, seolah merasakan ada yang sedang menatapnya. Begitu mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti sejenak. “Isabella,” Suara Luke terdengar penuh kejutan, raut wajahnya menunjukkan segalanya. Isabella hanya diam namun matanya membulat. “Kau pucat sekali. Kau ke sini dengan siapa?” tanya Luke seraya melirik ke belakang Isabella namun tidak ada siapa-siapa bersamanya. Isabella ingin menjawab, tapi tiba-tiba pandangannya kabur. Lututnya lemas, rasa mual makin kuat menghantam perutnya. “Luke,” bisiknya lirih sebelum tubuhnya ambruk ke depan. “Isabella! Ada apa dengan kau?!” Luke sigap menangkap tubuh Isabella sebelum membentur lantai. Petugas apotek berteriak kaget, buru-buru membantu. “Tidak apa-apa saya bisa sendiri, maaf saya tidak jadi beli, saya harus bawa dia ke rumah sakit,” ucap Luke pada petugas apotek yang berjaga. Dengan hati-hati, Luke menggendong Isabella keluar dari apotek menuju mobilnya yang terparkir di depan apotek. Tangannya gemetar. Dadanya berdegup kencang, merasa khawatir. Ia bahkan menghiraukan tatapan orang-orang yang kelihatan bingung sekaligus bercampur khawatir. Dalam mobil, Luke berbalik, menatap wajah Isabella yang pucat dan berkeringat sekali lagi. Ada rasa takut yang menghunjam jantungnya. “Apa yang terjadi pada kau, Bella?” gumamnya pelan, sebelum melajukan mobil menuju rumah sakit secepat mungkin. Sesampainya di rumah sakit, Luke turun sambil menggendong Isabella. Para perawat langsung berlarian mendekat, menyiapkan brankar rumah sakit. “Dia pingsan tiba-tiba. Tolong periksa keadaannya,” kata Luke dengan suara bergetar. Isabella digiring ke ruang emergency. Luke berdiri terpaku di depan pintu, tangan mengepal, rahangnya mengeras dan dia hanya bisa pasrah menunggu. Ia mengambil duduk di kursi tunggu, pandangan matanya tak lepas dari pintu kaca yang tertutup hordeng tersebut. Luke menghela napas, 'Semoga kandungannya baik-baik saja,' ucapnya dalam hati. Drtt drtt! Ponselnya tiba-tiba bergetar. Clara memanggilnya. Ia membasahi bibirnya gugup, ia bingung harus berkata apa, dia tidak mungkin berkata jujur. tmTapi, kalau dia tidak angkat, itu akan membuat Omanya makin khawatir dan curiga. "Halo, Oma." "Halo, Kau di mana Luke? Kenapa lama sekali? Kau pergi ke apotek yang dekat dengan rumah 'kan?" "Hm ... apotek dekat rumah tutup, Oma. Jadi aku pergi ke apotek lain yang agak jauh dari rumah. Sebentar lagi aku akan pulang. Oma kenapa menelpon?" Bola mata Luke bergerak-gerak gugup. "Oh gitu. Kalau kau belum mau pulang, Oma mau titip sesuatu." "Oma mau nitip apa? nanti aku belikan." "Oma lagi pengen roti gandum. Beliin Oma roti gandum ya." "Ohh, iya baik Oma. Nanti aku belikan. Ada yang lain?" "Tidak, itu saja. Hati-hati ya pulangnya, jangan ngebut-ngebut!" "Iya, Oma." Bersamaan dengan sambungan telepon berakhir, seorang dokter keluar dari ruang emergency. Luke langsung berdiri menghampiri dokter tersebut setelah menyimpan ponselnya. "Dok, bagaimana keadaan pasien?" "Apa anda tahu pasien sedang hamil muda?" tanya dokter itu. "Iya, saya tahu." "Pasien sedang mengalami fase mual dan muntah saat hamil muda atau disebut morning sickness. Morning sickness tidak hanya terjadi di pagi hari dan bisa disebabkan oleh beberapa faktor terutama hormon dan stres. Tapi bapak tidak perlu khawatir karena ini normal dialami ibu hamil muda terutama pada trimester pertama." Luke mengangguk paham, ia pun baru mendengar istilah itu. "Lalu bagaimana cara mengatasinya, Dok?" "Istirahat yang cukup, kelola stress, makan dan minuman yang bergizi serta minum obat anti mual dan vitamin bisa mengurangi gejalanya. Saya sudah resepkan obat, nanti minta dengan perawat yang berjaga." "Baik Dok." "Ya sudah kalau begitu saya permisi." "Terima kasih Dok." Seorang perawat keluar dari ruangan. "Sus, apa saya boleh melihat pasien?" "Oh, iya silakan Pak." "Terima kasih." Luke memasuki ruangan, mendapati Isabella masih berbaring dengan mata terpejam. Ia bergerak mendekat, memandang wajah pucat yang damai itu lekat-lekat. Luke menghela napas pelan, seolah baru bisa bernapas lega setelah beberapa menit gelisah. Ia mendudukkan diri di kursi di samping ranjang Isabella, kedua tangannya bertaut gelisah di pangkuannya. Tak lama kemudian, kelopak mata Isabella tampak bergerak, membuka. Sedikit kebingungan terpancar di sorot matanya saat pertama kali melihat sekeliling hingga pandangannya jatuh pada Luke. “Luke?” suaranya parau, lirih. Luke tersenyum tipis, berusaha bersikap biasa. “Hei … kau sudah bangun?” Isabella tampak berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Ia mengerjap beberapa kali, lalu menghela napas. “Apa yang terjadi padaku? Aku ... Aku pingsan, ya?” Luke mengangguk. “Di apotek. Kau pingsan. Kau kelihatan sangat pucat. Aku langsung bawa kau ke sini.” Isabella mendongak, menatap langit-langit dengan mata berkilau. “Aku hanya mau beli obat. Perutku mual sekali,” gumamnya. “Aku tahu. Dokter bilang kau kena morning sickness. Itu normal terjadi pada wanita hamil muda, katanya,” ujar Luke lembut. “Kau harus lebih jaga diri. Jangan memaksakan diri sendirian.” Isabella terdiam. Wajahnya menegang seketika mendengar nada khawatir Luke. Entah kenapa ia benci ketika Luke khawatir atau peduli padanya karena ia tahu itu semua palsu. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, seolah membangun jarak. “Terima kasih sudah menolongku,” katanya pelan. “Tapi … aku baik-baik saja sekarang.” Luke menatapnya dalam. “Aku bisa mengantar kau pulang nanti, kalau kau mau.” Isabella menggeleng. “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” “Isabella, kau barusan pingsan. Jangan keras kepala.” “Aku tidak keras kepala. Aku hanya … butuh sendiri.” balas Isabella, suaranya sedikit meninggi, menahan amarah. Luke terdiam, matanya berkabut oleh rasa khawatir sekaligus kecewa. Ia mencoba meraih tangan Isabella, tapi gadis itu cepat-cepat menarik tangannya ke bawah selimut. “Aku tidak apa-apa,” ujar Isabella pelan namun terkesan dingin. “Dan aku tidak mau merepotkan kau.” Luke hanya diam, Isabella berusaha bangkit perlahan. Perawat yang melihatnya segera menghampiri. “Nona, anda masih harus istirahat sebentar. Mau saya bantu?” Isabella menggeleng. “Tidak perlu, sus. saya mau pulang.” “Baiklah, hati-hati nona dan ini resep dari dokter yang harus anda tebus. Anda bisa menebusnya di apotek mana saja dan jangan lupa diminum obatnya. Semoga lekas sembuh." Perawat itu memberikan secarik kertas resep obat dari dokter. "Terima kasih sus." Isabella menerima kertas tersebut lalu berjalan pelan keluar ruangan tanpa menoleh ke arah Luke. Luke hanya bisa memandangi punggung Isabella yang semakin menjauh, entah kenapa hatinya terasa sesak. Ada jarak yang makin lebar di antara mereka. Namun, memang itulah yang seharusnya terjadi, walaupun di dalam lubuk hatinya ada sedikit harapan yang mengatakan bila ingin melihat Isabella dan calon bayinya baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD