Bab 21

1062 Words
Luke sampai di rumah hampir tengah malam. "Kau ke mana saja, Luke? Kenapa lama sekali?" Clara menyidaknya di ambang pintu. "Aku mampir ke supermarket dulu. Oma katanya mau roti gandum?" "Iya, tapi ini lama banget loh, Luke. Apa antri untuk bayarnya begitu panjang?" "Tadi agak macet di jalan, Oma," ucapnya lembutmu Luke memberikan alasan agar Omanya tidak khawatir. Ia bahkan menyunggingkan senyum kecil, meyakinkan seolah tidak terjadi apa-apa. "Ya udah kalau gitu, makasih ya." "Ini obat dan vitaminnya Oma, diminum ya." "Iya, nanti Oma minum. Ya udah istirahatlah." Clara mengusap-usap punggung Luke. Luke masuk ke kamar, mandi dan mengganti pakaian sebelum tidur. Beberapa saat kemudian, Luke mengenakan celana training hitam dan kaos putih sebagai atasannya. Ia memang biasa mengenakan pakaian santai dan nyaman untuk tidur, tidak peduli bagaimana modelnya. Drrt drrt Baru saja membaringkan tubuhnya ke atas kasur, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Ia buru-buru menjawabnya ketika mengetahui papanya yang menghubunginya. "Halo, Pa." Luke bangun, meletakkan bantal ke punggungnya untuk alasnya bersandar. "Kau sedang apa sekarang?" "Aku baru mau tidur." "Apa semuanya baik-baik saja di sana?" "Semuanya baik-baik saja, Pa. Papa mau bicara sama Oma?" "Tidak. Sekarang sudah tengah malam, biarkan saja dia istirahat." Luke hanya diam namun kepalanya mengangguk. "Isabella tidak ada di Italia. Aku rasa dia juga melarikan diri ke luar negeri. Apa kau tahu di mana dia?" Deg. Tiba-tiba d**a Luke berdetak, muncul perasaan gelisah bercampur takut ketika Papanya menyinggung soal Isabella. "Benarkah? A-aku tidak tahu di mana dia." Terdengar helaan napas kasar dari sang lawan bicara. "Kalau kau melihatnya di sana, segera laporkan Papa. Papa juga sudah kerahkan orang untuk mencari dia. Dia adalah kunci untuk melumpuhkan Lancaster. Ingat, Luke! jangan mengkhianati keluarga kau sendiri." "Baik, Pa." Telepon terputus. Luke menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Jari-jarinya meremas tepi selimut, seolah butuh pegangan agar pikirannya tak melayang terlalu jauh. Isabella. Nama itu saja cukup membuat dadanya terasa sesak. Ia menunduk, menatap lantai kamarnya yang sunyi. Bayangan wajah Isabella, dengan mata yang dulu selalu menatapnya penuh percaya, kini terasa seperti pisau yang mengiris pelan hatinya. Luke dilanda kebingungan dengan situasi rumit seperti ini. Papanya belum tahu bahwa Isabella tengah mengandung anaknya Luke. Luke yakin papanya tidak akan terima dengan kenyataan itu dan mungkin akan membunuh juga. Luke menunduk, menutup wajahnya. Hanya membayangkannya saja membuat hatinya gelisah tak karuan. *** Malam mulai larut saat mobil hitam berhenti di depan rumah megah milik keluarga Lancaster. Dua pria bertubuh besar, salah satunya Anton segera membuka pintu dan mempersilakan tamunya masuk. Simon Lorenzo melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Ia memandang ke sekeliling ruangan, desain interiornya bergaya klasik, pencahayaan redup. "Ikuti aku," kata Anton, membawa pria bertubuh tinggi besar itu menyusuri lorong panjang sebelum berhenti di depan sebuah pintu besar. Ia mengetuk dua kali sebelum membukanya. "Simon," sapa Alex dengan nada datar namun penuh wibawa. "Silakan duduk." Alex mengarahkan tangannya ke depan. Simon menarik kursi dan duduk, melempar pandangan penuh kepercayaan diri pada Alex. "Aku dengar kau ingin memperluas jalur distribusi barang kau lewat orang-orangku di Selatan," ucap Simon langsung ke inti. Alex meletakkan gelasnya, lalu menyilangkan tangannya. "Aku butuh jalur yang stabil dan kau satu-satunya yang menguasai wilayah selatan." Simon mengangguk pelan. "Bagaimana dengan keuntungannya? empat puluh persen?" "Empat puluh terlalu banyak," potong Alex. Suaranya tetap tenang, tapi tajam seperti belati. "Tiga puluh lima dan kau dapat lebih dari sekadar uang. Perlindungan, informasi dan akses ke pasar timur lewat tanganku." Simon menyandarkan punggungnya, berpikir sejenak sambil mengisap cerutunya. "Kalau barang kau bersih, tiga puluh lima mungkin cukup. Tapi aku ingin pengiriman pertama dikirim langsung ke pelabuhan utara. Aku yang kontrol orang-orang di sana." Alex bangkit dari kursinya, berjalan perlahan ke rak buku, lalu menarik salah satu laci tersembunyi. Ia melempar sebuah amplop tebal ke atas meja. "Ini sampel. Dua puluh gram, ambil dan uji. Jika hasilnya memuaskan, pengiriman dimulai lusa. Kau dapat bagian kau, aku dapat jalurku. Semua senang." Simon mengambil amplop itu, menimbang beratnya. Matanya menatap Alex sekali lagi. "Ini bukan jebakan?" Alex mendekat, berdiri di belakang kursinya sendiri dan menatap Simon langsung ke mata. "Kalau aku ingin menjebak kau, kau tak mungkin masih di sini." Sunyi mengisi ruangan selama beberapa detik. Simon tertawa kecil. Ia berdiri, mengulurkan tangan. "Jangan tersinggung, aku hanya bercanda. Baiklah. Tiga puluh lima." Alex menyambut jabat tangan itu tegas. "Sepakat. Senang bekerjasama dengan kau. Kau tak akan pernah menyesal." *** Keesokan paginya Luke perlahan membuka mata ketika merasakan pipinya diusap lembut. Orang yang pertama dilihatnya setelah membuka mata adalah Nicole, yang duduk di tepi ranjang. Rambut pendek Nicole dibuat bergelombang hari ini, wajahnya tampak teduh disinari cahaya matahari pagi yang menyelinap lewat tirai. "Nicole?" suara Luke terdengar serak dan berat. Ia bangun sambil mengucek matanya. “Akhirnya kau bangun juga,” ucap Nicole pelan, senyumnya lembut dan cantik. Luke mengerjapkan mata beberapa kali, masih setengah mengantuk. "Kau ngapain di sini?" Nicole tersenyum lebih lebar. “Aku mau pastikan kau sarapan. Kata Oma kau kelihatan sangat lelah semalam.” Dengan gerakan pelan, Nicole membelai rambut Luke ke samping, lalu jemarinya berhenti di rahang Luke, mengusap lembut sambil menyunggingkan senyum manis. Luke menyunggingkan senyum tipis lalu bergerak turun dari ranjang hingga Nicole menarik tangannya, tampak kekecewaan dari raut wajahnya. "Kau pergilah dulu, nanti aku nyusul. Aku mau mandi dulu." "Ok. Aku tunggu ya, jangan lama-lama." Nicole kembali ke dapur, membantu Clara menyiapkan sarapan. Nicole datang membawakan bubur untuk sarapan. "Oma," panggil Nicole. Clara yang sedang meletakkan sendok ke atas piring sontak menoleh. "Oma merasa ada yang berubah nggak sih dari Luke?" sambung Nicole. Clara mengerutkan kening. "Nggak. Memangnya dia kenapa?" Nicole mengigit bibir bawahnya lalu ikut duduk. "Dia jadi cuek gitu sama aku ... kayak ada jarak di antara kita, Oma." "Masa sih?" Clara menatap Nicole dengan tatapan iba. "Iya, Oma. Dia kelihatan cuek dan canggung gitu. Padahal dulu nggak begitu." suara Nicole bergetar di akhir kalimat, seolah menahan rasa sakit yang menyelinap diam-diam ke dalam dadanya. Clara tersenyum lembut, berusaha menenangkan. "Mungkin karena kalian udah beberapa bulan enggak ketemu jadi butuh penyesuaian kembali. Kau ajak saja dia jalan-jalan dan ngobrol santai sesekali." Nicole menarik sudut bibirnya, seperti sedang diberi jalan oleh neneknya Luke. "Jadi, Oma restui aku sama Luke 'kan?" Tubuh Nicole condong ke depan, matanya berbinar-binar seolah mendesak jawaban. "Maaf semuanya, aku terlambat." Luke datang tiba-tiba. "Luke~ ayo sarapan!" ajak Clara. Clara tidak sempat menjawab pertanyaan Nicole karena Luke tiba-tiba datang dan itu membuat Nicole kembali cemberut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD