Bab 22

1324 Words
Nicole kembali datang saat malam. Luke sudah berjanji menemaninya minum malam ini dan Nicole berpikir malam ini adalah waktu yang tepat. Ia akan mengutarakan perasaannya yang selama ini ia pendam. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Luke ketika Nicole tak kunjung berkedip menatapnya. Luke menunduk, memperhatikan outfitnya. Ia mengenakan kaos putih tipis dibalut jaket kulit hitam dan celana jeans hitam sebagai bawahan. Rambutnya yang basah disisir ke belakang menyisakan beberapa helai poni yang terjuntai di jidatnya yang menawan. "Tidak. Kau sangat luar biasa malam ini, Luke. Kau sangat tampan." Clara yang duduk di sebelah Nicole sontak melirik Nicole seraya menyunggingkan senyum mencibir. Namun Nicole mengetahuinya. "Oma~ kenapa Oma senyumnya begitu?" Nicole merengek manja, merasa malu. Clara terkekeh. "Tidak. Oma cuma pengen menggoda kau saja." Nicole mengerucutkan bibirnya, tangannya masih bergelayut manja di lengan Clara. "Udah ... Sekarang kalian berangkat gih." "Ya udah, aku dan Luke berangkat ya Oma." "Kami berangkat ya, Oma," timpal Luke. "Luke bawa mobilnya hati-hati dan jaga Nicole dengan baik." "Baik, Oma." Nicole melirik Luke yang sudah berdiri di sampingnya, meliriknya dengan mata penuh cinta kemudian dengan cepat mengandeng lengan Luke seperti sepasang kekasih. "Eh?" Luke kaget namun Nicole terus menggandengnya manja hingga keluar rumah, tidak peduli dengan tatapan kaget Luke. 20 menit kemudian mereka tiba di sebuah club malam. Dari luar bahkan sudah terdengar musik yang berdentum keras membuat tubuh tak tahan untuk bergoyang. Luke memarkir mobilnya dulu lalu membuka pintu untuk Nicole. Gadis itu turun dengan wajah berseri, tampak antusias meski udara malam cukup dingin. Mereka berjalan masuk. Nicole masih menggandeng lengan Luke erat-erat seakan tak mau melepaskan. Begitu masuk ke dalam club, hawa panas tubuh manusia yang menari, bau alkohol, dan aroma parfum mahal langsung menyergap, menusuk indera penciuman. Lampu neon bergantian menyinari ruangan dengan warna-warni menyilaukan. Nicole menarik Luke ke bar. “Ayo minum, Luke. Malam ini kita harus senang-senang!” serunya sambil berteriak agar suaranya mengalahkan kencangnya musik. Luke tersenyum kecil. “Baiklah. Tapi jangan kebanyakan. Besok, kau harus kerja 'kan?” "Tenang saja," ucap Nicole lalu mengacungkan dua jari pada bartender. “Dua gelas tequila, please!” Bartender segera menyiapkan dua gelas kecil berisi cairan bening. Nicole mengambil gelasnya, menatap Luke penuh arti, lalu meneguk habis dalam sekali tegukan. Luke meminum miliknya, lebih pelan, lalu mengerutkan wajah. “Pelan-pelan saja, Nicole.” Namun Nicole sudah memesan untuk ronde 2 dan menghabiskannya sekali teguk. Wajahnya mulai merah. Matanya berbinar-binar seperti ada bintang di matanya. “Luke,” panggil Nicole dengan suara sedikit sengau karena alkohol. Ia mendekat, menatap Luke lekat-lekat dengan mata setengah sayu. Luke menoleh, "Hm?" bergumam dengan suara yang sangat lembut. Nicole melayangkan tangannya ke pipi Luke, tanpa izin mengusapnya lembut membuat Luke melebarkan matanya namun ia tidak bergerak. "Kau mau dengar suatu rahasia nggak?" Luke mengerutkan keningnya, "Rahasia?" "Kau tahu nggak ... kalau aku udah lama suka sama kau." Luke terdiam, menatap Nicole yang kini begitu dekat. Musik di sekeliling seolah lenyap di telinganya. Luke begitu kaget sampai ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Nicole melanjutkan, suaranya pelan namun jelas, “Aku … aku selalu suka dengan sikap perhatian kau. Aku suka cara kau menjagaku. Aku cinta kau, Luke.” Luke menarik napas panjang. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh hingga tangan Nicole di pipinya terlepas lalu menatap mata gadis itu lekat-lekat. “Nicole,” katanya lembut, meski terdengar tegas. “Kau mabuk. Aku nggak mau kau bilang hal-hal yang mungkin nanti kau sesali.” Nicole menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku nggak mabuk! Aku serius. Aku cinta sama kau, Luke. Kau nggak percaya sama aku?” Luke menghela napas berat. “Nicole, aku senang kau jujur. Tapi, maaf aku nggak bisa membalas perasaan kau. Aku nggak cinta sama kau.” Nicole membeku. Senyum yang sedari tadi merekah di wajahnya perlahan memudar. Ia menatap Luke, seolah tak percaya apa yang baru didengarnya. “Maaf kalau ini menyakiti kau. Aku sayang sama kau, tapi sebagai teman, hanya teman,” sambung Luke, berusaha selembut mungkin. Nicole tertawa kecil, getir. “Jadi … aku cuma teman bagi kau?” Luke menunduk, menahan rasa bersalah. “Aku nggak mau membohongi kau.” Air mata Nicole akhirnya jatuh. Ia cepat-cepat menghapusnya, lalu berpaling, berusaha tertawa lagi meski suaranya bergetar. "Ya, nggak apa-apa. Aku cuma ingin kau tahu aja. Aku udah lega sekarang karena aku udah tahu jawabannya." Luke memandang Nicole iba lalu meraih tangannya, tapi gadis itu menariknya. “Aku … aku mau pulang,” katanya pelan. Suaranya bergetar. “Biar aku antar,” tawar Luke. Nicole menggeleng. “Aku mau sendiri dulu.” Luke menatapnya, bimbang. Namun akhirnya mengangguk. “Kalau kau butuh aku, hubungi aku.” Nicole hanya tersenyum samar lalu beranjak pergi di antara kerumunan, meninggalkan Luke yang hanya bisa menatap punggungnya menjauh di bawah sorot lampu club yang bersinar kelap-kelip. Luke lagi-lagi menghela napas panjang, merasa bersalah. Ia kembali duduk menghadap ke depan, menunduk memegangi dahinya yang terasa berdenyut dengan kedua tangannya kemudian meremas rambutnya frustasi. Ia merasa bersalah pada Nicole namun kalau dia tidak jujur, dia takut akan membuat luka di hati Nicole semakin besar. "Tolong dua gelas tequila lagi," kata Luke pada bartender beberapa saat kemudian. Ia memutuskan untuk mabuk sekalian, hatinya kacau sekarang. Setelah dua gelas habis, pandangan Luke jadi berkunang-kunang, kepalanya berputar sampai dia melihat orang-orang seperti memiliki kembaran. Mata sayunya hampir sepenuhnya tertutup dan akhirnya ia tumbang, pingsan di atas meja bartender. 1 jam kemudian, ia terbangun. Kepalanya masih terasa berat, ia melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 2 pagi. Ia tiba-tiba kepikiran Clara, neneknya pasti khawatir padanya. Ia harus pulang. Dengan sisa energi, Luke mencoba berdiri dengan lutut gemeter, berjalan sempoyongan keluar club. Namun saat berada di luar. "Akh! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" "Jangan jual mahal gitu dong cantik. Kau mau uang berapa?" "Aku bukan wanita seperti itu. Pergi sana kau lelaki hidung belang." Luke menghentikan langkahnya, menajamkan indra pendengarannya, ia merasa cukup familiar dengan suara wanita tersebut. Ia mencoba untuk membuka mata lebar-lebar kemudian pergi ke sumber suara berasal. Ada sebuah gang sempit tak jauh dari club. Gang itu tampak gelap dan sepi hanya ada satu lampu gantung dengan cahaya remang-remang mengantung di sana. "Tidak usah jual mahal, dasar j*lang murahan!" "Akh!" Isabella mengaduh kesakitan ketika rambutnya ditarik. "Isabella," gumam Luke pelan. Ia menyadari bila Isabella berada di gang tersebut, sedang digoda oleh dua pria asing. "Lepaskan dia, dasar br*ngsek!" Luke menendang perut salah satu pria hingga tersungkur. Isabella sontak menutup mulutnya, kaget. Pria yang ditendang Luke terkapar sambil mengerang kesakitan, memegangi perutnya. Temannya langsung melotot marah pada Luke. “Sialan kau! mau sok jagoan, hah?!” Pria kedua langsung melayangkan tinju ke arah Luke, tapi Luke menepisnya dengan cepat, meskipun badannya masih goyah karena pengaruh alkohol. Ia mencengkeram kerah pria itu, mendorongnya keras ke dinding gang, membenturkan kepalanya. Pria itu mengaduh kesakitan, terhuyung-huyung lalu roboh ke tanah. Isabella hanya bisa terpaku. Dadanya naik turun, matanya berkilat menyiratkan ketakutan. Ia tak berhenti menatap Luke yang masih berdiri terengah-engah. Pria pertama berusaha bangkit, tapi Luke kembali menendangnya, lebih keras kali ini. “Kalau kalian berani menyentuhnya, akan kubunuh kalian! Pergi!” bentak Luke, suaranya serak namun penuh ancaman. Kedua pria itu akhirnya memutuskan kabur, terhuyung keluar gang sambil memaki pelan. "Kau tidak apa-apa?" tanya Luke seraya memegang dadanya, napasnya masih terengah-engah. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih." Isabella hendak pergi namun Luke lebih cepat meraih pergelangan tangannya, menahannya. "Apa yang kau lakukan di sini selarut ini? kau tidak tahu sekarang jam berapa? Kau tidak memikirkan kandungan kau, huh?" Luke tiba-tiba marah namun sorot matanya memancarkan kekhawatiran. Isabella mendorong bahu Luke yang mendekat. "Apa urusannya dengan kau? Terserah aku mau melakukan apa saja, ini hidupku. Lagi pula ini anakku. Dia hanya memiliki orangtua tunggal yaitu aku." Luke tersulut emosi mendengarnya. Dengan gerakan cepat, Luke mendorong tubuh Isabella ke dinding, menekan leher Isabella dengan sikunya hingga Isabella tercekat, wajahnya mendongak, meringis. Mereka saling pandang dengan mata berkilat, berkaca-kaca seolah memendam emosi yang tak bisa diungkapkan. "Kau ingin bunuh aku? bunuh saja aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD