“Apa itu?” tanya Lucas saat hendak keluar dan mendapati seorang pelayan sedang membawa paket kotak besar di tangannya. Ia penasaran, jadi ia bertanya.
“Ada paket untuk Don Bill tapi pengirimnya tidak jelas siapa. Saya rencananya akan memeriksanya terlebih dahulu.”
Lucas mengernyitkan dahi, memiringkan kepalanya mengamati setiap sudut paket tersebut. “Biar aku saja yang bawa.”
“Jangan Tuan Lucas. Paket ini harus diperiksa dulu, siapa tahu ini barang berbahaya.”
“Kau meragukan aku?” Lucas memelototi pelayannya sampai pelayan itu menyerahkan paket tersebut pada Lucas dengan tangan gemetar.
“Maafkan saya Tuan.”
Lucas hanya diam, berbalik kembali ke dalam rumah. Ia membawa paket itu ke ruang utama, di mana ada Luke yang sedang duduk santai memainkan ponselnya. Luke akan pergi nanti malam ke California jadi siang ini dia masih berada di rumah.
Luke tidak bersuara namun matanya melirik sekilas.
“Apa isi kotak ini?" gumam Lucas seraya membuka tali yang mengikat kotak tersebut. Setelah tali terlepas, ia mengetuk-ngetuk kotak tersebut seraya mendekatkan telinganya ke kotak.
"Apa yang sedang kau lakukan?" sikap Lucas menganggu Luke.
"Aku sedang mendengar isi dalam kotak ini, siapa tahu ada hewan berbahaya di dalam sini."
"Kalau kau takut, kenapa kau buka? lagipula itu paket dari siapa?"
"Aku tidak takut, hanya waspada. Kalau kau berani, buka saja sendiri." Lucas mendorong kotak tersebut ke depan Luke. Ia melirik Luke sinis dengan ekor matanya. "Tadi ada kurir paket yang antar tapi tidak ada nama pengirimnya dan paket itu ditujukan untuk Papa."
"Kalau begitu buang saja. Bisa jadi dari orang iseng." Luke berkata santai lalu kembali menyandar ke sandaran sofa sambil memainkan ponselnya.
Lucas mendengus. "Tidak bisa diharapkan," gumamnya pelan. Akhirnya Lucas memberanikan diri untuk membukanya sendiri.
"F*ck! sialan!" Lucas buru-buru menutup kembali kotak tersebut, memencet hidung seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.
"Hoek!" Lucas memasang ekspresi ingin muntah, wajahnya memerah.
"Kau ini kenapa?" Luke memandang Lucas dengan dahi berkerut.
Lucas mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya. "Apa kau tidak mencium bau busuk?" Luke hanya menggeleng.
"Paket sialan ini berisi daging busuk." Lucas menunjuk-nunjuk kotak tersebut dengan mata melotot.
"Benarkah?"
"Kalau tidak percaya, kau periksa saja sendiri. Dasar sialan! sepertinya dari keluarga Lancaster," ujar Lucas lalu berdiri. "Jangan diapa-apakan, aku akan panggil pelayan untuk membereskannya," kata Lucas lalu pergi sambil menutupi hidungnya.
Karena penasaran, Luke mendekati kotak tersebut, membukanya perlahan. Aroma busuk menguar hingga menusuk indera penciumannya namun ia hanya mengalihkan pandangannya, tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti Lucas lalu ia mengangkat kerah kaos yang ia kenakan untuk menutupi bagian hidung dan mulutnya.
Daging yang sudah kehitaman itu terlihat dikerubungi lalat dan belatung. Mata Luke bergerak-gerak melihat isi dalam kotak, tak hanya daging busuk, ternyata ada secarik kertas yang terselip di sana.
Ia berusaha untuk meraih kertas setengah basah itu, ada tulisan di sana. 'Lain kali aku akan mengirimkan daging anak kau kalau kau berani menyakiti anakku. Harap berhati-hati dengan tindakan kau, Bill.' ia membacanya dalam hati. Ia menatap tajam lurus ke depan tanpa berkedip. 'Ternyata benar ini kiriman dari keluarga Lancaster.'
"Ya! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membukanya?!" Lucas mengejutkannya hingga kertas kecil yang dipegangnya terlepas dari tangannya.
Lucas menutup kembali kotak tersebut.
"Sudah aku bilang jangan diapa-apakan, malah kau buka. Jadi bau 'kan seisi ruangan ini." Lucas menghembuskan napas kasar.
"Sorry."
"Whatever." Lucas memutar bola matanya malas. "Cepat kau buang paket ini jauh-jauh lalu bersihkan ruangan ini!" perintah Lucas pada seorang pelayan yang datang bersamanya lalu pergi meninggalkannya setelah memberi perintah. Sementara Luke memungut kertas kecil tersebut lalu ikut pergi.
Ia hendak pergi menemui papanya di ruangannya. Ia menapaki anak tangga dua sekaligus menuju lantai atas, langsung ke pintu besar kayu mahoni yang dicat hitam.
Tok tok tok!
Ia mengetuk keras dan tak sabaran.
“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam.
Luke mendorong pintu, masuk ke ruangan. Bill tampak sedang duduk membelakanginya namun saat langkah kaki mendekat, ia memutar kursinya. Matanya langsung menatap Luke.
“Ada apa kau kemari?” tanya Bill.
Luke maju beberapa langkah. Ia meletakkan kertas basah itu di atas meja. “Ada kiriman daging busuk dan pesan ini dari keluarga Lancaster.”
Bill mencondongkan tubuhnya. Ia mengambil kertas yang terkena cairan busuk itu, membukanya perlahan. Saat matanya membaca kalimat demi kalimat, raut wajahnya berubah. Rahangnya mengeras dan matanya melotot penuh amarah. Dengan satu gerakan kasar, ia melempar kertas yang sudah diremasnya itu ke tong sampah di dekatnya.
Brak!
Bill berdiri dari kursinya, menggebrak meja seraya menatap tajam lurus ke depan. "Tidak bisa dibiarkan! Apa dia pikir nyali kita akan ciut hanya dengan ancaman bodoh itu?!" Bill mendengus, menggertakan giginya penuh emosi. Sementara Luke terdiam, menatap ayahnya dengan rahang menegang.
Don Bill mengembuskan napas keras, berusaha mengendalikan amarahnya. Ia kembali duduk, namun sorot matanya masih membakar.
“Kita akan urus Lancaster nanti. Tapi kau .…” Ia menunjuk wajah Luke. “Kau, jangan pernah lagi bertindak semau kau. Satu langkah kau yang salah bisa menghancurkan keluarga ini.”
Luke balas menatap ayahnya, matanya sedikit bergetar. “Baik, Pa.”
"Sekarang, siapkan orang-orang kita. Kita akan mengadakan pertemuan mendadak sore ini untuk membahas ini," perintah Bill.
"Baik, Pa." Luke pun keluar dari ruangan papanya, langsung mengerjakan perintah papanya.
***
Di sebuah ruangan tertutup hanya ada Bill dan orang-orang kepercayaannya berkumpul untuk membahas rencana penyerangan balik ke Lancaster dan menyusun strategi. Luke dan Lucas termasuk di dalamnya.
"Baru saja ada kiriman dari keluarga Lancaster yang berisi sebuah ancaman. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus melakukan serangan balik, menegaskan pada mereka bila kita bukan lah lawan yang bisa diremehkan," ungkap Don Bill penuh keseriusan, menatap ke orang-orangnya yang duduk melingkar di sebuah meja bundar.
Suasana ruangan hening sejenak setelah suara Bill menggema. Semua orang terdiam, menimbang serius kata-katanya.
Carlo, kaki tangan kepercayaan Bill akhirnya berbicara. "Apa perlu kita serang gudang penyimpanan senjata mereka?" perkataannya membuat semua pasang mata tertuju padanya.
"Apa kau sudah tahu di mana tempat gudang itu berada?" tanya Bill.
"Aku mengenal satu pria saat terakhir kali aku pergi ke Palermo. Pria itu bernama Rocco, mantan anak buah Lancaster yang kecewa karena pernah diperlakukan seperti sampah. Dia bisa beri kita peta detail gudang dan titik penjagaan namun katanya penjagaan di sana begitu ketat."
Mata Bill menyipit, penuh ketertarikan. “Kalau Rocco bisa dipercaya, itu bisa jadi kunci kemenangan kita.”
"Aku akan mengajaknya bicara lagi lain kali."
Bill menyeringai seraya menatap Carlo dengan mata menyipit tajam. "Ajak dia bergabung dengan kita, kita harus mendapatkannya."
Sementara mereka berdiskusi, Luke tampak menyimak sedari tadi. Mulutnya bungkam namun bola matanya melirik jeli ke sekitar seolah sedang merekam seluruh diskusi.