Lampu redup menggantung di atap gudang kosong. Hujan gerimis membasahi tanah hingga menciptakan aroma yang khas. Gudang tempat di mana Isabella memergoki Luke bersama kawanannya malam ini tampak ramai walaupun di luar hujan dan gelap. Asap rokok mengepul di udara, bercampur bau bensin. Para anggota duduk di sofa robek sambil main kartu dan meneguk wine, sesekali tertawa keras.
Ada beberapa anak buah Bill yang berbadan besar berkumpul di sana termasuk Lucas. Luke tidak terlihat, sepertinya dia sudah berangkat ke California, sehingga ia tidak ikut bersama anggota lainnya untuk melakukan penyerangan balasan ke Lancaster. Bill juga tidak ikut, ia tetap di Sisilia, menjaga tahtanya. Total ada 4 orang di sana. Di satu sisi terlihat seorang pria yang hanya mengenakan celana dalam, diikat di sebuah tiang dengan kondisi yang mengenaskan, paha kiri dan dadanya berlumuran darah, bekas sayatan. Bibirnya ditutup oleh kain agar tidak teriak.
"Triple kill! aku menang lagi!" Lucas bersorak keras sambil berdiri menepuk dadanya kencang, wajahnya angkuh dan percaya diri. Sudah ketiga kalinya, ia memenangkan permainan kartu itu.
"Ayo main lagi," ajak Carlo yang sedang menyusun kartu.
"Tidak." Lucas kembali duduk, "Aku sudah bosan." meraih botol kaca yang berisi alkohol lalu meneguknya rakus hingga cairan berwarna merah keunguan itu mengalir ke dagu hingga membasahi kemeja putihnya. Yang lainnya hanya menurut Karena bagaimanapun juga Lucas adalah anak Bill, bos yang sangat mereka hormati. Bill juga memberikan tanggungjawab pada Lucas untuk mengurus semuanya.
"Bagaimana kalau kita bermain dengan dia lagi?" ujar Lucas setelah beberapa saat seraya melirik ke arah pria tawanan mereka, salah satu anak buah Lancaster yang berhasil mereka tangkap saat tiba di Palermo pagi tadi.
Carlo mengangkat alis, sejenak menatap Lucas seolah memastikan ia tak salah dengar. Namun sorot mata Lucas sudah cukup menjadi jawabannya.
“Ide bagus,” gumam Carlo akhirnya, meletakkan kartu ke meja. Ia berdiri, menghampiri pria yang terikat di tiang diikuti dengan lainnya.
Tawanan itu menggeliat pelan, matanya setengah terbuka, wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah. Darah segar di dadanya tampak masih mengucur pelan, membentuk jalur merah di kulitnya yang putih. Hujan di luar kian deras, suara tetesan air memukul seng atap seperti genderang perang.
Lucas berdiri, langkahnya sedikit terhuyung karena pengaruh alkohol. Ia menghampiri tawanan sambil meneguk sisa minumannya, lalu menatap lelaki malang itu dengan senyum miring kemudian menarik paksa kain yang membekap mulut pria tersebut agar pria itu bisa berbicara.
“Kau pasti tahu 'kan di mana gudang penyimpanan senjata Lancaster berada?” tanya Lucas pelan, suaranya rendah namun menakutkan.
Pria itu melipat bibirnya, seperti enggan berbicara kemudian menggelengkan kepalanya.
“Jadi kau tidak mau bicara ya?” Carlo bertanya, suaranya datar. Ia meraih pisau lipat dari saku jaket kulitnya, memainkan mata pisaunya hingga berkilau di bawah lampu kuning redup.
Lucas menyeringai. “Aku bosan dengan permainan kartu. Kita perlu hiburan lain.” Ia melirik ke arah Carlo. “Potong saja jarinya satu. Biar dia lebih gampang diajak bicara.”
Carlo mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum miring. "Ide bagus."
"Aku tidak akan pernah memberitahukannya pada kalian sampai kapanpun! walaupun taruhannya harus mati sekalipun."
Rahang Lucas mengeras, terdengar suara gemeletuk yang khas saat gigi gerahamnya bergesek. Ia sontak mencengkram kuat pipi pria itu. "Wow, kau memang anak buah yang loyal. Jadi itu artinya kau sudah siap untuk mati?"
Mata pria itu melotot, ia hanya diam, tidak merespon. Lucas muak melihatnya lantas ia menarik tangannya kasar, bekas cengkraman Lucas tercetak jelas di kulit putih pria itu.
"Sebelum itu, ayo kita siksa dia agar dia tahu bagaimana rasanya sebuah loyalitas." Tangan Carlo sudah terulur ke jari pria itu, hendak memotong jari anak buah Lancaster dengan sebuah benda tajam.
Lucas menyeringai, mempersilakan Carlo untuk mengeksekusinya.
"Aaakkhh!" Teriakannya menggema ke seluruh ruangan bersamaan dengan jari telunjuk kanannya jatuh ke lantai, darah menetes mengotori lantai putih.
Tubuhnya bergetar hebat, napasnya memburu, keringat memercik dari dahinya.
Carlo menyeringai seperti seorang psycho, menatap pisau yang ia gunakan, darah masih menetes dari mata pisaunya.
Lucas kembali mendekati si tawanan, mengangkat dagunya. “Kau tahu apa yang paling aku benci?” Ia menatap mata pria itu, nadanya lembut namun mencekam. “Aku benci orang yang memilih mati sia-sia demi orang lain yang mungkin tak peduli kalau kau tidak kembali." suaranya menurun menjadi bisikan.
Pria itu terisak pelan, menahan rasa sakit yang luar biasa. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Namun matanya masih menyiratkan perlawanan. Darah dari jarinya masih menetes membentuk genangan kecil di lantai.
"Berikan aku pisau itu," pinta Lucas seraya menadahkan tangannya pada Carlo. Carlo langsung memberikannya.
Lucas kembali mendekat, menyentuh pipi si pria dengan mata pisau yang berlumuran darah. “Aku beri kau satu kesempatan terakhir,” katanya pelan. “Di mana gudang senjata Lancaster?”
Pria itu memejamkan mata, giginya gemeretak menahan sakit. Bibirnya bergetar. Dia akhirnya membuka mata, menatap Lucas penuh kebencian.
“Tidak akan! Bunuh saja aku dan kau akan pergi ke neraka.”
Lucas menggeram kesal, lalu tersenyum sinis. “Baiklah kalau itu keputusan kau. Jangan pernah menyesalinya.”
Sebelum pria itu sempat bereaksi, Lucas menancapkan pisau ke dadanya hingga darah memuncrat, sedikit mengenai wajah Lucas. Mata pria itu terbelalak, lalu redup perlahan. Tubuhnya melemah, darah mengalir deras membasahi tubuh polosnya.
Lucas menghapus kasar percikan darah di wajahnya. "Bersihkan semua ini. Kita akan kirim mayatnya ke kediaman Lancaster malam ini." Lucas memberi perintah pada lainnya lalu keluar dari gudang, mencari udara segar.
***
Pagi ini di kediaman Lancaster dihebohkan dengan adanya penemuan sebuah peti mati yang terletak di depan pagar rumah.
"Biar saya saja yang buka Don," Anton menawarkan diri. Anton, Alex dan kepala pelayan sudah berada di depan pagar tinggi menjulang setelah kepala pelayan melaporkan penemuannya pagi ini pada mereka.
Alex mengangguk, mempersilakan Anton dengan gesture dari dagunya.
Perlahan, Anton membuka peti tersebut. Matanya terbelalak, ia melangkah mundur ketika mengetahui salah satu rekannya terbaring mengenaskan di dalam sana.
Alex bergerak mendekat, ia melihat salah satu anak buahnya yang bernama Zidane terbujur kaku di dalam peti dengan pisau yang masih menancap di dadanya.
'Next, your turn.'
Tulisan itu tercetak jelas di perut Zidane, kelihatannya diukir dengan pisau.
Tangan Alex mengepal, rahangnya mengeras bahkan wajahnya memerah menahan amarah yang membuncah. "Tidak bisa dibiarkan." Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, menahan kesedihan.
"Alonzo mengambil langkah yang salah," timpal Anton dengan sorot mata dingin.
Alex menghirup napas panjang, mencoba meredam amarah yang mendidih dalam dadanya. "Kau!" Alex menunjuk kepala pelayan. "Urus pemakamannya dengan layak."
"Baik Don."
"Dan kau Anton, kumpulkan orang-orang. Kita rapat siang ini. Perang baru saja dimulai."
"Baik Don."