Bab 4

1127 Words
Setelah pengujian, Isabella mengajak Luke keliling rumah sebelum jadwal latihan menembak siang nanti. Mereka hanya jalan-jalan di luar rumah. Mereka sampai di taman belakang rumah yang luas. Tamannya cukup asri, banyak pepohonan dan tanaman hias yang menyegarkan tumbuh di sana. Taman belakang rumah Isabella juga dilengkapi dengan kolam ikan dan area santai. Mereka mengambil duduk di kursi ayunan berhadapan di area santai. “Sekarang aku ajak keliling rumah dulu. Setelah resmi jadi bodyguardku, kau akan tinggal di sini juga.” Luke mengangguk paham. “Kapan-kapan aku akan ajak kau ke butik milikku juga.” “Kau punya butik?” “Ya, tidak jauh dari sini.” “Kau terlalu baik padaku.” Isabella menaikkan sudut bibirnya sedikit. “Hm, ngomong-ngomong apa kau punya pacar?” Isabella menekuk badannya, lebih condong ke arah Luke. Ia menatap Luke dengan tatapan penasaran. Luke menggeleng. “Tidak. Aku tidak pernah pacaran.” Pupil Isabella membesar. “Benarkah? Orang tampan dan keren seperti kau tidak pernah pacaran?” “Ya, begitulah kenyataannya. Aku pernah dekat dengan beberapa wanita tapi tidak berakhir dengan sebuah hubungan romantis.” “Oh, sepertinya standar kau cukup tinggi ya?” Isabella memicingkan mata. Luke tersenyum malu. “Tidak juga. Kalau menurutku cocok, aku pasti akan langsung menyukainya. Bagaimana dengan kau?” Isabella diam sejenak namun matanya tak lepas dari Luke, tak berkedip. “Jika aku suka seseorang, aku tak malu untuk menunjukkannya,” katanya dengan tatapan tak lepas dari Luke. “Permisi, nona Isabella!” seorang kepala pelayan datang menginterupsi hingga keduanya memutus kontak. Isabella menoleh. “Ya?” “Makan siang sudah siap. Ayah nona sudah menunggu di meja makan.” “Baiklah.” Isabella berdiri, meraih pergelangan tangan Luke. Seolah mengerti situasi, pelayan itu lantas berkata. “Apa nona ingat pesan dari Ayahnya nona? Tidak sembarang orang bisa memasuki rumah apalagi makan bersama keluarga.” Isabella terpaksa melepas tangan Luke kemudian melirik Luke kasihan. “Oh, tidak apa-apa, kalau begitu aku pulang dulu. Aku akan kembali nanti siang. Latihan menembaknya jam 2 siang ‘kan?” Isabella mengangguk, “Hati-hati ya,” ucapnya seraya mengusap lengan Luke. Luke menyunggingkan senyum tipis lalu pergi meninggalkan kediaman Isabella sementara Isabella kembali masuk ke rumah diikuti dengan kepala pelayan tersebut. Di ruang makan mewah bergaya eropa klasik. Mejanya berbentuk persegi panjang berbahan granit putih dengan corak keemasan dan ujungnya dilapisi emas 24k serta kursi mewah yang dilapisi emas layaknya kursi kerajaan tampak ayahnya sudah duduk seorang diri. “Kenapa Ayah tidak membiarkan Luke makan bersama kita?” suaranya terdengar seperti sedang protes. Alex sontak melirik tajam putrinya. “Sudah berapa kali Ayah bilang jangan terlalu akrab sama orang asing terlebih pria. Dia belum resmi menjadi bodyguard kau, jadi dia bukan siapa-siapa sekarang,” jelas Alex. Isabella terdiam, ia tidak bisa berkelit karena yang dibilang Ayahnya itu benar. Tapi sayangnya dia sudah terlanjur jatuh hati pada pria itu dan sudah menganggapnya sebagai orang terdekatnya. *** Jam 2 siang, Isabella sudah berada di ruang latihan menembak bersama Luke dan Anton. “Ok, karena Luke belum pernah belajar menembak. Saya akan mencontohkannya dulu. Posisinya harus seperti ini, lurus menghadap ke depan.” Anton memperagakan postur tubuh dan tangan sebelum menembak. Luke memperhatikannya dengan saksama. Dor! Peluru tepat mengenai bagian tengah papan, tepat sasaran. Menembak seperti seorang ahli. Luke tampak terkesima, mulutnya menganga tanpa sadar dan itu membuat Isabella yang sedari memperhatikannya terkekeh pelan. “Giliran kau.” Anton mempersilakan Luke. Luke berdiri di tempat Anton tadi, berusaha mengikuti posisi yang diajarkan Anton namun ia masih tampak kaku. Anton pun turun tangan. “Tangan harus lurus, jangan bengkok.” Anton memperbaiki posisi tangan Luke. Isabella memperhatikan dengan saksama sambil melipat tangan di depan d**a. Dor! Luke menembak namun sayang meleset, peluru tidak mengenai papan sasaran. “Sayang sekali, tapi kau bisa coba lagi nanti, terus lah berlatih. jangan menyerah." "Baik." Dor! Percobaan kedua, Luke menembak papan namun tidak tepat di tengah dan hampir di pinggir papan, hampir keluar dari papan sasaran. “Cukup bagus, kau mulai mengerti. Pelan-pelan saja, relax.” ‘Sepertinya dia memang tidak bisa menggunakan pistol sebelumnya tapi kenapa dia membawa pistol tempo hari? Apa dia membawanya hanya untuk gaya-gayaan? atau untuk melindungi diri dari penjahat?’ Isabella sibuk dengan pikirannya. “Nona Isabella,” “Nona Isabella.” “Nona Lancaster!” Isabella terperanjat ketika Anton meninggikan suaranya. “Maaf nona tapi sekarang giliran anda.” “O-oh ya. Baiklah.” Isabella terbata-bata, bola matanya bergerak-gerak gugup namun ia langsung maju mengambil posisi. Dor! Anton tersenyum ketika melihat Isabella berhasil menembak bagian tengah untuk pertama kali mencoba hari ini. “Sudah aku bilang kau semakin baik nona." “Terima kasih Paman Anton.” Kata Isabella namun Luke hanya diam dengan ekspresi datar, memantau dari kejauhan. Dor! Percobaan kedua, Isabella juga mengenai bagian tengah, itu membuat sudut bibir Isabella naik membentuk senyuman bangga. Setelah kurang lebih 1 jam, mereka akhirnya beristirahat. Anton meninggalkan mereka berdua. Mereka mengambil duduk di lantai semen. “Kau sudah lama belajar menembak?” Luke membuka pembicaraan. “Iya cukup lama dan aku hanya belajar dengan paman Anton. Kau akan lebih baik setelah banyak berlatih.” Luke mengangguk paham. “Hm, ngomong-ngomong paman Anton kelihatan sangat dekat dengan keluarga kau.” “Iya, tentu saja. Dia sudah lama bekerja dengan keluargaku. Dia sangat setia pada kami, Ayahku bahkan sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga besar Lancaster.” Luke masih menatap Isabella dari samping mendengar penjelasan Isabella dengan baik namun tiba-tiba Isabella menoleh, keduanya bertemu pandang lagi dan lagi. “Maaf soal tadi ya, aku tidak berniat mengusir kau.” Isabella menyinggung soal tadi pagi. Luke menyunggingkan senyum tipis. “Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku juga bukan siapa-siapa kalian sekarang, aku hanya orang asing.” Isabella tertegun, ia menelan ludahnya, matanya berkedip-kedip pelan. Perkataan Luke mirip dengan perkataan Ayahnya. “Hm, kalau kau bekerja di sini nanti dan kau melakukan pekerjaan dengan baik, kau pasti akan menjadi seperti paman Anton, kau akan diterima dengan baik.” Isabella kembali menatap ke depan. “Ayahku tidak semenyeramkan itu, apalagi aku adalah anak satu-satunya, dia sangat menyayangiku.” “Hm, kalau boleh tahu, ibu kau di mana?” Raut wajah Isabella tiba-tiba, ia menurunkan pandangannya. “Ibuku meninggal saat melahirkanku.” “Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud—“ “Tidak apa-apa. Itu sudah cukup lama walaupun masih menyakitkan karena aku tidak bisa melihat ibuku secara langsung.” Isabella menghela napas panjang. “Bagaimana dengan kau?” Luke mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Isabella. “Ibuku juga sudah meninggal, karena dibunuh oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Aku tidak akan memaafkannya seumur hidupku. Aku bersumpah untuk membalasnya suatu saat nanti.” Tatapan Luke yang dalam dan tajam ditambah kata-katanya yang tegas dan menusuk membuat Isabella terintimidasi seolah kata-kata itu ditunjukkan padanya, tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan hatinya sesak entah mengapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD