Malamnya di kediaman Alonzo.
Luke pulang dan seperti biasa disambut oleh puluhan pelayan yang berjejer rapi dari teras hingga ke ruang utama, membungkuk memberikan hormat. “Selamat datang kembali Tuan Luke.”
“Tuan Luke, anda sudah ditunggu oleh Ayah Tuan di ruang keluarga,” kata seorang kepala pelayan,
Luke hanya mengangguk kemudian pergi ke ruang keluarga seorang diri.
Saat tiba di ruang keluarga, ia bisa melihat Bill, papanya sedang duduk bersantai mengenakan baju kimono tidur hitam sambil menikmati wine dan pijatan lembut dari para pelayan seksi.
“Oh Luke, kau sudah kembali. Kemarilah.” Bill menyadari kehadiran Luke lalu ia memberikan kode pada pelayan cantik itu untuk meninggalkan mereka berdua.
Bill langsung menyadari perubahan pada anaknya lantas ia berdiri, mengangkat dagu Luke, menggerakkannya ke kanan dan kiri. “Apa yang terjadi pada kau?”
“Ada perampok datang saat aku makan dengan Isabella. Jadi, aku melawannya.”
“Mengapa kau ikut campur? Apa mereka hendak melukai kau atau wanita itu?” Luke menggeleng.
“Oh, apa kau ingin jadi pahlawan? atau kau ingin memamerkan bakat berkelahi yang kau punya di depan anak Lancaster?”
Luke mendongak, mata mereka bertemu. Luke menatap papanya tanpa berkedip. “Aku dapat penawaran bagus darinya.” Luke mengalihkan topik pembicaraan.
Bill menaikkan alisnya sambil mencebik bibirnya kemudian kembali duduk santai bersilang kaki. “Apa itu?”
“Dia memintaku untuk menjadi bodyguardnya.”
Bill menyeringai kemudian bergerak mendekati Luke, menepuk bahunya. “Bagaimana bisa kau begitu cepat masuk ke dalam keluarga Lancaster. Kau memang anak yang dapat diandalkan.” Luke hanya diam. “Kau harus mendapatkan tawaran itu dan gali semua informasi mengenai Lancaster tapi kau harus tetap hati-hati. Kita harus membalas kematian mama kau.”
Luke menatap mata papanya yang penuh keseriusan. Saat menyinggung soal kematian mamanya di tangan keluarga Lancaster itu membuat hati Luke kembali bergejolak dan dendam amarah kembali menguasainya. Ia bahkan tidak bertemu dengan mamanya di saat-saat terakhirnya karena ia sedang di California dengan neneknya saat itu, mengingatnya saja membuat dendam dalam dirinya semakin besar.
Setelah mengobrol dengan papanya, Luke hendak masuk ke kamarnya. Ia berjalan di koridor panjang nan mewah yang semuanya dilapisi marmer putih dan lampu-lampu mewah terang benderang. Ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria kurus berambut curly kecoklatan yang berjalan dari arah berlawanan.
Lucas namanya, ia menyapa Luke seraya meninju kecil bisep Luke yang tertutup kemeja kotak-kotak, bercanda.
“Hai, Luke, my bro! Bagaimana dengan misi kau?”
“Kau habis dari mana? masih suka bermain dengan pelayan wanita itu?” matanya memicing ketika mencium bau parfum wanita yang menguat di sekitarnya.
Lucas mendengus kemudian tertawa kecil. “Begitulah caraku bersenang-senang. Aku yakin kau juga sama sepertiku ‘kan? Jangan pura-pura polos Luke.”
Luke mendengus seraya memutar bola matanya malas. “Ya, whatever.”
“Apa kau tahu, aku juga dapat misi dari Papa. Misi tentang bisnis besar.” Ia menyeringai seraya menaikturunkan alisnya, merasa berbangga diri.
“Papa memberikan kau misi? Dia mempercayai kau untuk menghandlenya?”
“Kenapa? Kenapa kau seperti tidak percaya padaku?” Lucas melipat tangan di depan d**a dengan alis menukik tajam, merasa kesal.
“Tidak. Tapi, aku tahu kau orang yang tempramen. Apa kau bisa menghandlenya?” Bukannya meremehkan, ia hanya mengkhawatirkan adiknya. Bagaimana bila dia membuat masalah dengan orang lain?
“Tentu saja aku bisa. Aku lebih lama tinggal bersama Papa, aku udah terbiasa tinggal di lingkungan seperti ini. Jadi jangan meremehkanku, Luke.” Lucas meninggalkan Luke dengan d**a naik turun sementara Luke cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Luke kembali melanjutkan langkah ke kamarnya. Ia menghidupkan lampu kamar yang terlihat gelap itu. Kamarnya tampak sangat luas dan bersih. Kecintaannya dengan warna monochrome membuat desain kamarnya didominasi warna hitam putih dimulai dari kasur, dinding, meja, lemari dan karpet semuanya serba hitam putih. Kamarnya terletak di lantai 3, selantai dengan kamar Lucas.
Ia berjalan lurus memasuki kamar dan berhenti di depan meja. Ia menatap ke foto orang-orang yang dipajangnya di dinding, foto musuhnya yang dicoret dengan tanda X. Isabella salah satunya namun ia belum mencoreng fotonya, ia menggantungnya baru-baru ini. Luke memberikan tanda X itu untuk musuh yang berhasil ia musnahkan.
Ia menatap foto Isabella lama, tatapannya tajam dan mengintimidasi. “Sebentar lagi giliran kau sayang.” Ia menyeringai seperti iblis.
***
Keesokan harinya
Isabella bersama Ayahnya, Anton dan Luke sudah berada di depan halaman rumah Isabella yang luas. Hari ini Ayahnya Isabella akan menguji Luke sebelum ia menjadi bodyguardnya Isabella.
“Siapa nama kau?” tanya Alex pada Luke yang berdiri di hadapannya, ekspresinya datar namun tegas. Luke tampak berdiri tegap dengan tangan di belakang tubuh. Ia mengenakan pakaian casual, celana jeans hitam dan kaos putih yang ngepas badan sehingga otot-otot kekarnya cukup terlihat. Rambut pirangnya sudah dicat hitam sehingga membuat penampilannya terlihat lebih segar.
“Perkenalkan saya Luke moretz. Saya cukup tertarik dengan tawaran menjadi bodyguardnya Isabella.”
Mata Alex memicing. “Saya sudah mendengar sedikit tentang kau dari Bella. Katanya kau pandai berkelahi tapi kau tidak memiliki pengalaman sebagai bodyguard sebelumnya. Apakah betul?”
Luke mengangguk sebagai jawaban.
“Ok, tidak apa-apa. Kalau begitu saya mau lihat kehebatan kau dulu.” Alex lalu mundur dan mempersilakan Anton, tangan kanannya untuk maju. “Silakan lawan dia.”
Mereka berjabat tangan dan membungkuk satu sama lain sebelum mengambil ancang-ancang. Sementara Isabella dan Ayahnya pergi menjauh ke pinggir.
Syat! Syat!
Luke langsung menyerang namun Anton dapat menghindari semua serangannya.
Bugh!
Luke terhuyung ke belakang ketika Anton berhasil menendang perutnya dengan sekali tendang. Isabella kaget, ia menutup mulutnya. Namun Luke tidak menyerah, ia kembali maju dan bergerak gesit menghindari serangan Anton.
Ia membungkuk lalu dengan cekatan menendang kaki Anton hingga anton jatuh, ia pun memanfaatkan situasi, mengukung Anton lalu memberikan bogeman mentah bertubi-tubi di wajahnya.
Bugh! Bugh!
“Cukup!” suara Alex membuat mereka berhenti. Luke membantu Anton berdiri.
“Kau cukup hebat walaupun kau belum berpengalaman. Kalau boleh tahu apa pekerjaan kau?"
“Saya businessman, mengurus perusahaan keluarga.”
“Oh, kalau kau menjadi bodyguard Isabella kau harus 24 jam mengawalnya dan kau harus tinggal di sini lalu bagaimana dengan pekerjaan kau?” Isabella ikut melihat Luke, menanti jawaban dari pria tampan itu.
“Saya bisa alihkan urusan bisnis pada keluarga saya, mereka bisa menghandlenya.”
“Ok. Untuk pertanyaan terakhir, apa kau bisa menggunakan senjata? semacam pistol?”
Isabella penasaran dengan jawaban yang satu ini, pasalnya di restoran kemarin ia sempat melihat pistol dibalik kemeja yang Luke kenakan. Luke membawa pistol kemarin tapi anehnya ia tidak menggunakannya saat berkelahi dengan para perampok, itu membuat Isabella penasaran.
"Saya tidak bisa."
Mata Isabella melotot ketika mendengarnya. Kalau Luke tidak bisa menggunakan pistol lantas untuk apa ia membawa pistol kemarin? Mulai ada rasa curiga yang tumbuh di hatinya namun ia tidak menunjukkannya terang-terangan.
“Ok, nanti kau bisa belajar dengan Anton.” Alex menepuk bahu Anton. “Dia juga yang mengajari Bella menembak.” Luke mengangguk. “Untuk sekarang saya belum bisa menjadikan kau bodyguard anak saya tapi jika kau berkembang dengan pesat setelah berlatih dengan Anton, saya akan mempertimbangkannya.”
“Baik Om, terima kasih.”
Alex mengangguk lalu berbisik ke Anton untuk mengurusnya sebelum meninggalkan halaman.
“Kau bisa ikut berlatih dengan nona Bella. Nona Bella berlatih setiap hari,” kata Anton.
Isabella tersenyum walaupun hatinya was-was. “Iya. Kau bisa ikut denganku mulai sekarang.” Isabella dan Luke saling memandang dan melempar senyum kecil. Namun tatapan itu tersirat akan keraguan.